<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325</id><updated>2012-01-09T22:58:13.325+07:00</updated><category term='TuangPikir'/><category term='Makan Dulu'/><category term='Fiksi Mini'/><category term='HanyaKata'/><category term='Acara TV'/><category term='Surat'/><category term='Lagu'/><category term='Cerita'/><category term='Film'/><category term='Serial TV'/><category term='Kamu'/><category term='Memasak'/><category term='Aku dan Hidup'/><category term='Natemi-Windarto'/><title type='text'>Sepuluh Jari</title><subtitle type='html'>dance the words, draw a world,
dance the tears, draw a happy grin</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>121</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-8040313308324362041</id><published>2011-11-14T07:54:00.004+07:00</published><updated>2011-11-28T09:56:24.888+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Isyarat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku menikmati wajahmu yang terpantul sempurna oleh lantai keramik beranda rumah, diam-diam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi belia ini bernama Minggu, kita kembali duduk berdua, dengan kau di ujung timur dan aku di ujung barat. Sesekali kubuang pandang pada para rumput gajah dan tanaman hias Ibu yang masih segar terkecup embun pagi. Bukan apa-apa, aku hanya tak ingin kau dapati sedang memandangi pahatan yang Tuhan kerjakan pada parasmu. Pekerjaan yang menurutku sempurna, tegas, damai, dan menyenangkan. Kau masih ditemani ranselmu, kali ini tak seraksasa ransel tempo hari, mungkin kau menggantinya. Bibirmu bergerak tenang, bercerita tentang apa saja yang kau ketahui dengan baik dan belum pernah kuketahui sama sekali. Kau selalu menoleh ke arahku&amp;nbsp; sembari mengulas senyum setiap satu kalimatmu selesai, dan setiap kali itu pula, konsentrasiku mendadak bubar jalan. Aku terlalu sibuk mendidik mata supaya mereka tak terlalu berbinar riang, menatapmu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seekor kucing belang tiga melintas di depan pagar. &lt;i&gt;Ah&lt;/i&gt;, sepertinya dia sedang menyeringai nakal, menertawakan muka gugupku. Sialan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Entah apa yang membawamu kemari. Seingatku, belum pernah kita bertukar alamat rumah. Seingatku pula, kita hanya sesekali terlibat obrolan santai di tempat kerja dan beberapa kali berpapasan tak sengaja, tanpa rencana. Kesadaranku belum genap, jiwaku tercengang lalu terasa ringan hingga melayang kesana-kemari, dan otakku sepertinya baru saja pingsan, mendapatimu bertamu ke rumah, memaksaku mati gaya. Kau datang seolah ini merupakan kunjungan ke sekian kali. Bahasa tubuhmu cukup santai dan tenang. Sedangkan aku hilang diantara rimba pertanyaan monolog. Doaku, semoga ini adalah kenyataan. Namun sayang, mekanisme tubuh yang sedang kurang tertib membuatku lebih percaya bahwa pagi ini&amp;nbsp; dan semua yang terjadi di dalamnya, hanya mimpi belaka.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mataku mengerjap, kau masih disana. Kukerjapkan lagi dan kau tetap disana. &lt;i&gt;Oh&lt;/i&gt;, baiklah aku&amp;nbsp; memang tak sedang bermimpi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Waktu memulihkan semuanya, memungkinkanku menata dan mengembalikan seluruh komponen kesadaran kembali kepada tempatnya. Kita terus berbaur mencicipi kemewahan pagi. Aku mulai mampu mengacuhkan ketaktahuanku. Sementara partikel-partikel oksigen sedikit demi sedikit telah berdifusi ke dalam tubuh, membantu menjadikanku lebih waras dan normal. Aku bertanya ini dan itu dan kau menjawab pertanyaanku bagai guru taman kanak-kanak yang sedang membantu muridnya belajar hal baru. Aku melempar canda, kau melepas tawa. Sesekali gugup melintas dan aku mengabaikannya dengan baik. Sepintas kulihat Ibu sedang mengintip kita dari celah tirai ruang tamu. Sekilas pula, di batas timur, matahari mulai sibuk bertugas menghangatkan bumi, dan lihatlah, tampaknya ia tak sengaja melukis jejak cahaya jingga di wajahmu. Kau berpendar, ruang antara kita terisi biasan lembut cahaya, menjadikan semua berkerlip indah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi terasa semakin megah dan kau bagaikan makhluk surga yang baru saja diturunkan ke bumi. Aku begitu ingin mengawetkan waktu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari ini bernama Minggu, ketika akhirnya kau berpamitan dan kita bertukar senyuman. Aku membiarkan mataku mengikutimu hingga kau lenyap di balik tikungan, hingga bunyi deru motormu benar-benar tak lagi terdengar dan aroma asap knalpotmu lesap terlumat udara. Aku ingin episode pagi ini terekam sempurna, tak terpenggal, bahkan untuk sepersekian detik pun. Mungkin saja dapat kuputar kembali nanti, jika rindu mulai benyali hinggap, menjahili imunitas jiwaku. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Rindu? &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Ah, bahkan aku tak tahu apakah nanti aku akan merindukanmu"&lt;/i&gt;, otakku angkat bicara. Kulihat hatiku diam, tampaknya ia sedang khidmat, mendengarkan isyarat semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pesan singkat masuk, mengedipkan layar telepon genggamku, dua jam setelah kau pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;i&gt;Terima kasih sudah mengijinkanku menemuimu, di rumah. Semoga kelak, kita punya waktu untuk kembali bertemu&lt;/i&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada namamu di akhir kalimat. Aku menyublim ke awan, kembali bertanya pada semesta, apakah ia sedang menyiapkan hadiah untukku, melalui wujudmu.&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;(Serial : &lt;a href="http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/01/senyawa.html"&gt;Senyawa&lt;/a&gt; - &lt;a href="http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/03/katalis.html"&gt;Katalis&lt;/a&gt;)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-8040313308324362041?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/01/senyawa.html' length='0'/><link rel='enclosure' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/03/katalis.html' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/8040313308324362041/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/11/isyarat.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/8040313308324362041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/8040313308324362041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/11/isyarat.html' title='Isyarat'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-5423863633906756691</id><published>2011-09-20T12:11:00.000+07:00</published><updated>2011-09-20T12:11:57.160+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TuangPikir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Jejaring Sosial, Dunia yang Berevolusi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dunia berubah. Tepatnya, diubah. Kita semua telah mengubahnya dengan penuh sukacita dan mungkin tanpa kesadaran yang genap. Dunia kita tampaknya sudah bukan lagi berupa dimensi ruang, dengan tanah sebagai tempat berpijak dan langit luas sebagai tempat menengadah, memompa harapan. Dunia kita juga tidak lagi mewujud sebagai sesuatu yang mampu kita kenali dengan enam macam panca indera. Dunia yang begitu detil dan rinci telah terlalu banyak direduksi menjadi terlalu mini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semakin hari, ia terasa seperti makanan cepat saji. Instan, kilat, dan mudah. Bahkan terlalu mudah. Bagi kita, cukuplah dunia&amp;nbsp; berupa deretan status rekan-rekan, album berisi ratusan foto di berbagai kesempatan, atau kicauan spontan teman-teman dan publik figur. Kita hidup di dalamnya dan setiap hal kecil dilaporkan, diperlihatkan. Skala kepentingan pun turut bertukar posisi. Sesuatu yang penting menjadi kurang penting, begitu pula sebaliknya. Ketidakpentingan justru mampu menempati posisi pertama dalam laporan-laporan kita disana. Kesannya, semakin tidak penting maka kita akan semakin populer, lucu, dan mengasyikkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian, tampaknya dunia tiga dimensi telah lama terjajah oleh teknologi komunikasi bernama jejaring sosial. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Jejaring sosial, sebenarnya tidak ada yang salah dengan media semacam itu. Bukan suatu perbuatan dosa dengan menjadi terhubung bersama mereka yang kita sayangi, kagumi, dan hormati. Bukan suatu penyimpangan perilaku untuk menjadi pribadi yang giat bertukar informasi dan pendapat yang bermanfaat. Saya pun percaya, jejaring sosial masih merupakan salah satu sarana efektif distribusi informasi antar komunitas di masyarakat. Tendesinya baik. Namun pelakunya, kadang menjadikan sarana berharga ini berevolusi menjadi semakin aneh, tabu, dan vulgar. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukankah kecerdasan teknologi selayaknya didampingi oleh kecerdasan pelakunya? Ya, bukan saja cerdas&amp;nbsp; dalam penggunaan, tetapi juga cerdas dalam perlakuan. Sudah cukup cerdaskah otak kita memilah wilayah-wilayah mana saja yang pantas dan tidak pantas kita bagikan di ruang publik? sudahkah hati menjadi cukup bijak mengendalikan kecenderungan manusiawi kita untuk mengetalasekan seluruh pencapaian pribadi atau keluarga? Sudahkah kita membangun pencitraan diri yang kuat untuk mewakili akun jejaring sosial kita? tak sekadar menjadi imitator ulung karakter akun orang lain?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kepantasan memang nilai relatif bagi tiap individu. Namun setidaknya, ukuran kepantasan perilaku tak serelatif ukuran kepantasan preferensi berbusana. Ia sudah menjadi semacam konvensi sosial yang rentang toleransinya tak terlalu besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya tidak tahu, apakah mereka juga merasa aneh ketika melihat dua orang atau lebih, terlihat saling berkomunikasi, sembari mata dan jemarinya sibuk menggauli ponsel masing-masing. Saya juga tidak tahu, apakah orang-orang semacam itu dikaruniai otak berganda, serupa para intelejen yang mampu membidikkan daya konsentrasinya ke beberapa objek pengamatan. Kontak mata tak lagi menjadi bagian dari suatu percakapan. Entah, apakah telinganya juga masih difungsikan dengan baik untuk sekadar mendengar cerita kawannya, atau mereka hanya sebatas hadir disana tanpa perhatian sepenuhnya. Bagi saya, pola komunikasi semacam itu, tak layak dilanjutkan. Misalkan, dua orang remaja perempuan sedang duduk berdua di taman kampus. Salah satu ingin menceritakan sebuah pengalaman bahagia pada kawannya, sedangkan kawan yang dimaksud jelas-jelas sedang sangat khusyuk menggauli situs jejaring sosial di layar ponselnya :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Eh, tau nggak sih, kemarin akhirnya aku ketemuan loh sama si Basuki. Ih, cakep tau dia, baik lagi anaknya!"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"O iya? lucu banget sih, trus.... trus?" (Sambil tetap menatap ponsel)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keinginan si kawan untuk terus membagi cerita bahagianya tampak lebih besar dari kesadaran dia bahwa lawan bicara sedang tidak benar-benar terhubung dengan dirinya, teruslah ia mengoceh sendirian, tetap berpikir bahwa kawannya sedang mendengarkan :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"&lt;i&gt;Iya, tiba-tiba tuh dia ngajakin ketemuan, trus kita dinner bareng di cafe ABC, pake diterangin lilin-lilin aroma terapi gitu deh. Ya ampuuun, romantis bangeeet..."&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Ya ampuuun, lucu deh, trus...trus?" (masih tertuju pada ponsel)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Si kawan mulai berhenti bercerita, berharap ada tanggapan kreatif lain, selain 'lucu banget,' 'ya ampun', dan 'trus-trus'. Tapi percuma saja, bukannya lebih kreatif, ia justru tega membanting kemudi percakapan, seenaknya :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Eh, ya ampun ya ampun, lihat deh ini, si Parto ternyata udah in a relationship. Duh, sedih bangeeet!"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"..."&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketahuilah, tidak ada yang lebih menyakitkan, daripada komunikasi yang tak utuh dan terhubung sempurna.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tingkah beberapa pengguna media jejaring sosial juga terkadang sudah melenceng jauh dari nilai-nilai kewajaran. Beranda situs selalu padat dengan ekspresi-ekspresi tabu. Setiap keluhan di tuliskan, keuangan sedang defisit diteriakkan, atasan menyebalkan dimaki-maki, suami belum pulang direngekkan,&amp;nbsp; perselisihan dengan kawan dibuka lebar-lebar, segala macam umpatan seolah halal dan memberi efek&amp;nbsp; liberal yang modern sesuai jaman, anak sedang &lt;i&gt;mogok&lt;/i&gt; makan dipublikasikan, bukan sebagai upaya bertukar informasi dan pengalaman, tapi hanya sebagai keluhan belaka. Bahkan doa kepada Tuhan pun dituliskan disana. Mungkin, bagi mereka, kini Tuhan telah memiliki akun pribadi. Ah kawanku, bukankah doa adalah percakapan intim kita kepadaNya? Dia tak perlu terlebih dahulu membuka beranda &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;twitter&lt;/i&gt; untuk mendengar doa kita. Lantas apa pentingnya dipilih menjadi status? Ini sungguh di luar nalar saya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita juga telah menjelma menjadi makhluk transparan yang seolah gatal menuntut orang lain menjadi turut transparan. Saya perhatikan, semakin banyak kawan wanita saya yang telah berkeluarga, bangga memperlihatkan foto suaminya yang kebetulan sedang tertidur pulas sambil menganga dan berliur, misalnya. Atau suami yang sedang berjongkok, mencuci beberapa ember pakaian kotor, atau membersihkan lantai kamar mandi. Suami kita, yang layak dijaga aibnya dan dijunjung kehormatannya, justru diobral di ruang publik demi kepuasan kita akan sekian puluh komentar yang datang. Ada pula, beberapa rekan yang rajin melaporkan setiap pencapaian pribadi melalui ratusan foto di akunnya. Ketika ia menikah, puluhan foto segera dipublikasikan; hamil pertama, hasil alat tes kehamilan dipamerkan; kelahiran anak pertama, euforia meledak hingga mereka harus mengunggah foto-foto anaknya yang bahkan masih merah dan belum bisa membuka mata sekalipun; foto rumah baru dari berbagai sisi, tanpa basa-basi dipajang begitu saja. Kita tahu ini semua bukan sebuah keharusan, tapi tanpa sadar, selain transparan, kita telah bertransformasi menjadi pribadi yang berlebihan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Efeknya adalah, muncul tuntutan kepada orang lain untuk melakukan keberlebihan yang sama.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"&lt;i&gt;Mana foto nikahannya, kok nggak di upload sih? kan pengen lihat?&lt;/i&gt;", "&lt;i&gt;Sri, baru lahiran ya? dipajang dong foto bebimu. Ih, mirip emaknya atau bapaknya ya?&lt;/i&gt;", "&lt;i&gt;Lho, anakmu kok kurus Nem? nggak seperti anakku. Makanya, rajin kasih ASI!&lt;/i&gt;", "&lt;i&gt;Yem, denger-denger baru beli rumah ya? difoto dong, aku pengen tau&lt;/i&gt;". &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita, seolah tak diijinkan memiliki waktu untuk menikmati dan menghormati kesakralan privasi. Semua 'wajib' dibagi, disiarkan ke seantero dunia jejaring sosial. Kita berbagi karena kawan kita juga begitu, atau kita berbagi hanya karena tuntutan tak masuk akal dari mereka. Parahnya, kita berbagi hanya karena ingin dihujani komentar, sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk pribadi yang berhak menyimpan sesuatu dan pandai memantaskan tingkah laku. yang sesuai dengan karakter pribadinya. Ia juga makhluk sosial yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap dampak sosial yang sekiranya nanti muncul ketika ia berbuat sesuatu di ruang publik. Bagi saya, akun pribadi tetaplah bukan kamar pribadi, kamar mandi, atau hutan belantara, yang mengijinkan kita untuk bertingkah seenaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;i&gt;Saya bukanlah apa yang saya tulis&lt;/i&gt;". Baik, jika begitu, mungkin anda adalah manusia unik dengan jemari yang mampu bergerak sendiri, memilih kata, menyusun kalimat, tanpa perintah dari perangkat lunak anda yang demikian mulia : otak dan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menjadi sederhana, kawanku. Damailah bersama privasimu :)&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-5423863633906756691?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/5423863633906756691/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/09/jejaring-sosial-dunia-yang-berevolusi.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5423863633906756691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5423863633906756691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/09/jejaring-sosial-dunia-yang-berevolusi.html' title='Jejaring Sosial, Dunia yang Berevolusi'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-6411027501208965001</id><published>2011-09-13T18:33:00.003+07:00</published><updated>2011-11-12T10:24:09.081+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>4 September</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bersamamu adalah menjelajahi telaga&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;membiarkan sampan kayu sederhana mencumbu airnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;membuat mereka berkecipak bahagia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bersamamu adalah berbaring santai di tepi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;memandangi para tebing bergelayut mesra pada langit&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menyilakan rimbun ranting dan dedaunan menyaring sinar matahari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menjadikan ia menyembur tertib lalu memantul cantik di permukaan airnya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bersamamu adalah menikmati gerimis bernyanyi lamat-lamat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mencandai rerumputan dan membuatnya beraroma &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengundang pelangi bertunas di palung tebing&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;untuk mengajarku tentang keindahan sinergi warna-warni&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bersamamu adalah sebuah kesederhanaan megah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;jernih yang tumpah ruah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hening yang senantiasa mewah &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Selamat ulang tahun, Bi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;aku mencintaimu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan semoga Tuhan mengijinkanku tetap begitu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;esok, lusa, kemudian seterusnya &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Berbahagialah menapaki usia demi usia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;lalu biarkan aku turut menua&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;saling menertawakan keriput di muka&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;namun tak juga jemu bertukar kecup mesra&lt;br /&gt;mengabadikan kita&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;4 September 2011&lt;/b&gt;,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Regards&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-6411027501208965001?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/6411027501208965001/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/09/4-september.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6411027501208965001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6411027501208965001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/09/4-september.html' title='4 September'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-7777038910409504186</id><published>2011-07-29T12:40:00.000+07:00</published><updated>2011-07-29T12:40:32.869+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Memasak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Pannenkoek</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menikah adalah belajar. Belajar apapun, termasuk mempelajari hal yang sebelumnya belum pernah, belum sempat, atau bahkan sama sekali enggan kita pelajari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Termasuk pula, belajar memasak.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi saya, memasak adalah kompor, memasak adalah pasar, memasak adalah para bumbu rempah yang membingungkan, memasak adalah ketajaman ingatan, memasak adalah kepekaan lidah dan penciuman, memasak adalah percikan minyak goreng, memasak adalah kepuasan. Bahkan mungkin, memasak adalah kolaborasi simbol kecerdasan, keterampilan, dan pengabdian seorang wanita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dibesarkan oleh Mama yang cukup pandai memasak, selama ini yang terekam di otak saya justru hanya sebatas daftar beberapa resep masakan ringan sederhana. Sudah ringan, sederhana pula. Sungguh memalukan. Mungkin letak kesalahannya adalah, saya hanya rajin menyaksikan Mama memasak dan kalaupun sedang bersemangat, saya cukup memperhatikan apa-apa saja yang ia racik di dalam masakannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya belum pernah melakukannya dengan tangan saya sendiri. Maka semua ingatan terasa percuma.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang, ketika saya tidak lagi hanya menjadi anak dari seorang Mama, melainkan juga telah menjelma menjadi seorang istri yang tentunya tidak pernah bercita-cita membuat suami kelaparan atau anggaran rumah tangga terus membengkak untuk membeli makanan matang di luar, maka belajarlah saya memasak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak ada catat-mencatat, tidak ada pula acara membuka-buka buku resep masakan. Karena bagi saya, bagian itu akan membuat proses belajar menjadi lebih lama dan menciutkan nyali. Saya cukup mendengarkan Mama atau Ibu mertua saya menyebutkan satu-persatu komposisi masakan yang saya tanyakan, lalu jika saya sedang tidak malas, esok harinya, mulailah saya mencobanya. Sederhana, bukan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah, tempo waktu, dengan percaya diri yang meluap-luap, saya mencoba resep kue ringan ini. Dulu, saya hanya kebagian mencetak adonannya di pan/wajan kecil anti lengket, tanpa tahu racikan detailnya. Ini kue favorit saya, &lt;i&gt;pancake &lt;/i&gt;(Amerika) atau &lt;i&gt;pannenkoek &lt;/i&gt;(Belanda) atau panekuk (Indonesia), kue dadar yang biasanya diisi olesan selai nanas oleh Mama, sekarang sukses saya sajikan untuk suami dan Ibu mertua. &lt;i&gt;Yay&lt;/i&gt;! &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Silakan dicermati resep berikut, tapi tolong jangan salahkan saya kalau nanti terjadi sesuatu dengan kue kalian. &lt;i&gt;Ah&lt;/i&gt;, kita kan masih sama-sama belajar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bahan Kulit/Dadar&lt;/b&gt; :&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;1/4 tepung terigu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;1 butir telur ayam&lt;/li&gt;&lt;li&gt;1 sendok makan susu bubuk&lt;/li&gt;&lt;li&gt; 1/2 sendok makan gula pasir&lt;/li&gt;&lt;li&gt;1/4 sendok makan garam&lt;/li&gt;&lt;li&gt;2 sendok makan mentega, dicairkan, didinginkan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Air, secukupnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selai buah/krim coklat/semacamnya &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Metode&lt;/b&gt; :&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Semua bahan (kecuali mentega) dicampur di satu wadah, diaduk hingga tidak ada tepung yang menggumpal. Jangan terlalu kental, jangan pula terlalu cair. Silakan diestimasi sendiri, sehingga nantinya jika adonan itu dicetak/didadar di &lt;i&gt;pan&lt;/i&gt;, ia mampu dengan mudah didistribusikan menjadi bentuk bulatan/lingkaran/cakram sempurna, memenuhi bidang &lt;i&gt;pan&lt;/i&gt;. Mentega cair yang telah didinginkan dicampur ke dalam adonan, aduk rata.&amp;nbsp; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setelah adonan tercampur sempurna, mulailah mencetak adonan di atas pan/wajan kecil anti lengket.&amp;nbsp; Gunakan sendok sayur (&lt;i&gt;irus&lt;/i&gt;) setiap kali mencetak, tuangkan adonan ke atas pan, lalu segeralah distribusikan adonan itu dengan cara memutar &lt;i&gt;pan &lt;/i&gt;perlahan, hingga adonan memenuhi bidang lingkaran. &lt;i&gt;Ulangi membaca instruksi ini, jika merasa kebingungan yang mendalam&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;lalu pejamkan mata sejenak&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lakukan proses di langkah 2, hingga adonan habis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Olesi bagian dalam (maksudnya : bagian atas ketika masih berada di &lt;i&gt;pan&lt;/i&gt;) setiap kulit dadar dengan selai pilihan anda, satu-persatu. Kuantitas olesan diserahkan sepenuhnya pada penyaji.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lipat kulit dadar yang telah terolesi selai/semacamnya, menjadi bentuk akhir seperempat lingkaran, susun di piring saji serapi mungkin.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Pancake/pannenkoek&lt;/i&gt;/panekuk siap dinikmati.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-eQGrpapygug/TjJC0RmQ6qI/AAAAAAAAAVU/Og78D1hRhIs/s1600/Pannenkoek.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="261" src="http://1.bp.blogspot.com/-eQGrpapygug/TjJC0RmQ6qI/AAAAAAAAAVU/Og78D1hRhIs/s320/Pannenkoek.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Pannenkoek/Pancake/Panekuk&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Rahasia&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Demi mempermudah proses pencampuran adonan kulit dadar, libatkan saringan (alat saring, biasanya untuk menyaring santan) dengan ukuran sedang untuk menyaring seluruh campuran adonan cair. Sehingga kita tidak perlu lagi berlama-lama memastikan tak ada lagi gumpalan disitu. cukup campur, aduk, lalu saring. Luar biasa!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika adonan terlalu kental, maka ia akan terasa lebih tebal dan kurang matang pada proses pencetakan. Sebaliknya jika adonan terlalu cair, ia akan menjadi lebih tipis dan rentan sobek. Jadi, dosis air sangat menentukan. Waspadalah!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga bermanfaat, menyenangkan, dan layak dicoba. &lt;i&gt;Have a great cooking time, people!&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;regards,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-7777038910409504186?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/7777038910409504186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/07/pannenkoek.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7777038910409504186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7777038910409504186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/07/pannenkoek.html' title='Pannenkoek'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-eQGrpapygug/TjJC0RmQ6qI/AAAAAAAAAVU/Og78D1hRhIs/s72-c/Pannenkoek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-5078713201015339191</id><published>2011-07-22T00:06:00.000+07:00</published><updated>2011-07-22T00:06:59.894+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Cerita Metamorfosa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bercerita, tampaknya tidak hanya menjadi monopoli huruf atau kata-kata. Sehingga, demi sesekali tak mengikuti arus monopoli, saya coba hadirkan cerita metamorfosa kami, titik balik proses pencarian, kebahagiaan menemukan, dan keharuan pencapaian, dalam beberapa potong gambar sederhana yang rela tertangkap kamera, beberapa waktu lalu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi, semoga potongan-potongan cerita ini layak dinikmati. Selamat 'membaca', semuanya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-IR3Wfb_4kuY/TihVEKozC-I/AAAAAAAAAVA/xkKkKZUFtGo/s1600/page4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-IR3Wfb_4kuY/TihVEKozC-I/AAAAAAAAAVA/xkKkKZUFtGo/s320/page4.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Akad Nikah, 11 Juni 2011&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-elPVMfQs1l4/TihVkmJybPI/AAAAAAAAAVE/L__Q-fY9C5M/s1600/page6.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-elPVMfQs1l4/TihVkmJybPI/AAAAAAAAAVE/L__Q-fY9C5M/s320/page6.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Sungkeman&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-SzyEs30MfRQ/TihV8asjXAI/AAAAAAAAAVI/NVbMDyvFKV8/s1600/page2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-SzyEs30MfRQ/TihV8asjXAI/AAAAAAAAAVI/NVbMDyvFKV8/s320/page2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Syukuran Pernikahan, 12 Juni 2011&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-YbhLTDoIO0g/TihWWs9uH-I/AAAAAAAAAVM/dCYB9ZiMl0Q/s1600/page3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-YbhLTDoIO0g/TihWWs9uH-I/AAAAAAAAAVM/dCYB9ZiMl0Q/s320/page3.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Pengantin Kelaparan&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-vlPAzUkSWNU/TihWoWF_F4I/AAAAAAAAAVQ/RWR79Kn3lvQ/s1600/page5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-vlPAzUkSWNU/TihWoWF_F4I/AAAAAAAAAVQ/RWR79Kn3lvQ/s320/page5.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Bersama keluarga dan para sahabat&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;"Kita adalah mimpi yang kau yakinkan padaku menjadi nyata, setiap pagi, setiap hari"&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;regards,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-5078713201015339191?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/5078713201015339191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/07/cerita-metamorfosa.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5078713201015339191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5078713201015339191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/07/cerita-metamorfosa.html' title='Cerita Metamorfosa'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-IR3Wfb_4kuY/TihVEKozC-I/AAAAAAAAAVA/xkKkKZUFtGo/s72-c/page4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-6277894272137096689</id><published>2011-07-02T09:54:00.004+07:00</published><updated>2011-07-03T18:32:38.476+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Duabelas Juni</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ada sesuatu yang tak terpadankan aksara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ketika aku telah menjadi separuh dari kita&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;ketika jengkal di antara memupus, tiada&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan keentahan bahagia oleh percaya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-m92u_daX8HM/Tg6CUN1cUZI/AAAAAAAAAU4/LXLyN0GzjyA/s1600/DSC_0336.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-m92u_daX8HM/Tg6CUN1cUZI/AAAAAAAAAU4/LXLyN0GzjyA/s320/DSC_0336.JPG" width="209" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;11-12 Juni 2011&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;demikian, semoga kita menjadi cinta&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;yang bertumbuh menyusuri sungai masa &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menjalari pepohonan usia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hingga kelak ketiadaan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengantar kita, bertemu di taman surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga.&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-6277894272137096689?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/6277894272137096689/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/07/ada-sesuatu-yang-tak-terpadankan-aksara.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6277894272137096689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6277894272137096689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/07/ada-sesuatu-yang-tak-terpadankan-aksara.html' title='Duabelas Juni'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-m92u_daX8HM/Tg6CUN1cUZI/AAAAAAAAAU4/LXLyN0GzjyA/s72-c/DSC_0336.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-807453984573224749</id><published>2011-07-02T07:16:00.001+07:00</published><updated>2011-07-02T11:34:45.464+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Sebelas Juni</title><content type='html'>&lt;i&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mama dan ayah yang sangat ananda sayangi dan hormati,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh, ananda adalah seorang anak yang demikian beruntung karena Allah telah menghadiahi ananda sepasang orang tua sempurna yang penuh cinta kasih, pengertian, dan pemaafan. Bagi ananda, hidup dan bertumbuh bersama Mama dan ayah telah menjadi suatu perjalanan hidup yang kaya pembelajaran, sebuah proses pendewasaan seorang bocah perempuan yang selalu menyenangkan sekaligus mengharukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mama, Ayah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak ada keraguan sedikitpun, kalian merupakan pendamping yang memahami ananda lebih dari siapapun. Penegas segala keluh lemah ananda, pelembut setiap tingkah keras ananda, rumah teduh yang selalu ada, kapanpun hati ananda butuh beristirahat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mohon maaf Mama, mohon maaf Ayah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Milyaran ucapan terimakasih dan permintaan maaf mungkin tidak akan pernah cukup membayar totalitas kalian dalam merawat dan menjadikan ananda tumbuh seperti sekarang. Ananda hanya mampu mempersembahkan bakti setulus-tulusnya dan membangun cita-cita setinggi-tingginya, sehingga setiap tetesan keringat dan air mata yang pernah keluar karena ananda dapat tergantikan oleh senyum kebanggaan dan kebahagiaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mama, Ayah,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga Mama dan Ayah tahu bahwa hari ini adalah bagian besar dari cita-cita ananda. Membangun sebuah keluarga &lt;i&gt;sakinah, mawaddah, warahmah&lt;/i&gt;, menjadi orang tua, melahirkan dan bersama-sama merawat anak-anak, serta berkarya di masyarakat seperti kalian, dengan seorang pria &lt;i&gt;shalih&lt;/i&gt; yang dengannya ananda merasa nyaman terlindungi, persis sama seperti ketika ananda berada di samping Ayah dan Mama. Maka dengan segala tunduk patuh dan kerendahan hati, kepada Mama dan Ayah, ananda mohon ijin untuk dinikahkan, sehingga cita-cita ini segera menjadi nyata. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga Mama dan Ayah berkenan memberi ijin, memaafkan, dan ikhlas membukakan jalan pelepasan untuk ananda menuju lembar kehidupan baru. Sembah bakti tulus ananda untuk Mama dan Ayah. Ananda mohon doa restu, sehingga nantinya, segala kebaikan selalu menyertai pernikahan kami.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan selalu terlimpah untuk Mama dan Ayah. &lt;i&gt;Amin&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-bQQIlC07AKQ/Tg6fmT_KthI/AAAAAAAAAU8/0g76lvxb2AI/s1600/DSC_0348.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-bQQIlC07AKQ/Tg6fmT_KthI/AAAAAAAAAU8/0g76lvxb2AI/s320/DSC_0348.JPG" width="209" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Malang, 11 Juni 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;regards,&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-807453984573224749?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/807453984573224749/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/07/sebelas-juni.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/807453984573224749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/807453984573224749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/07/sebelas-juni.html' title='Sebelas Juni'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-bQQIlC07AKQ/Tg6fmT_KthI/AAAAAAAAAU8/0g76lvxb2AI/s72-c/DSC_0348.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-7906527276129127591</id><published>2011-04-16T08:47:00.002+07:00</published><updated>2011-04-17T11:50:14.664+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu'/><title type='text'>Untitled*</title><content type='html'>Adikku,&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku tahu hatimu sedang tidak nyaman&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;berusaha berdamai antara hatimu dan pikirmu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;berupaya antara ingin percaya dan tidak&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Adikku,&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;entah apa yang mesti ku upayakan untuk bisa meyakinkanmu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;bahwa kau adalah Anugerah itu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Anugerah yang melebihi untaian kata yang sempat terbaca olehmu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Adikku,&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;yakinlah, tiada hati yang menjadi terbagi&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;hanya karena larungku&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;yang ada adalah hati yang tetap utuh, untukmu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kau tahu Adikku,&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;rasanya tidak mudah membendung rinduku terhadapmu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;setelah apa yang pernah terlewati, dalam doa dan upaya &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;dan tersenyumlah wahai Adikku&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;atas ijinNya, kau adalah muara dari aliran itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://westcloud.wordpress.com/"&gt;*) Giri Wahyu Wiriasto &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-7906527276129127591?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/7906527276129127591/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/04/untitled.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7906527276129127591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7906527276129127591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/04/untitled.html' title='Untitled*'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-224186542010333745</id><published>2011-04-06T13:01:00.002+07:00</published><updated>2011-04-09T18:16:11.123+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Primordial Pagi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-liZCa-E9izU/TaA_g0bqS3I/AAAAAAAAAUU/LROb841_A7M/s1600/Copy+of+PondokBelakang.bmp" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="251" src="http://3.bp.blogspot.com/-liZCa-E9izU/TaA_g0bqS3I/AAAAAAAAAUU/LROb841_A7M/s320/Copy+of+PondokBelakang.bmp" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Aku ingin rebah di pangkuanmu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Pagi hari, sesaat setelah hujan semalam reda&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tepat ketika pelangi masih muda,&lt;br /&gt;dan biru awan masih belia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin surut menciut,&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menyelinap di balik punggungmu, mengintip matahari&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Menyimak perpisahan sunyi antara bulir embun dan para daun,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;sembari menghirup aroma primordialmu dalam-dalam,&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;hingga hidungku bosan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin ada di setiap pagi,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;mengisyaratkan semua aksara,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;menghimpun bahasa tak berkosakata,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;bercermin di matamu,&lt;br /&gt;menyelesaikan rindu.&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-moz-background-inline-policy: continuous; background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-224186542010333745?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/224186542010333745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/04/primordial-pagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/224186542010333745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/224186542010333745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/04/primordial-pagi.html' title='Primordial Pagi'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-liZCa-E9izU/TaA_g0bqS3I/AAAAAAAAAUU/LROb841_A7M/s72-c/Copy+of+PondokBelakang.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-4697529022917227960</id><published>2011-03-28T16:31:00.000+07:00</published><updated>2011-03-28T16:31:27.299+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu'/><title type='text'>Sawah Hadiah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-tAKW1dY4gDw/TZBRiy6ZoKI/AAAAAAAAAUI/sQKxW5WkSxo/s1600/Sawahku.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="251" src="http://1.bp.blogspot.com/-tAKW1dY4gDw/TZBRiy6ZoKI/AAAAAAAAAUI/sQKxW5WkSxo/s320/Sawahku.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-g4I9hdRZsVI/TZBUoupdZ_I/AAAAAAAAAUM/AyTKBKKaAGs/s1600/sawah.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="251" src="http://2.bp.blogspot.com/-g4I9hdRZsVI/TZBUoupdZ_I/AAAAAAAAAUM/AyTKBKKaAGs/s320/sawah.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya tahu ada kawan terdekat saya yang kecintaannya terhadap sawah sedemikian besar. Salah satu komponen memori masa kecil, katanya. Maka untuk dia, saya hadiahkan gambar ini. Asli dari saya, tidak merujuk pada alamat blog manapun dan bukan gambar hasil karya siapapun. Seperti biasa, karena masih amatir, saya hanya memanfaatkan fasilitas &lt;i&gt;Paint&lt;/i&gt; dengan sedikit efek &lt;i&gt;colour engraving&lt;/i&gt; &lt;i&gt;via&lt;/i&gt; Photo Scape.&amp;nbsp; Tidak terlalu rumit, meskipun cenderung agak kacau dan aneh. Tapi semoga dia suka. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi, selamat bermain-main di sawahmu. Semoga &lt;i&gt;kerasan&lt;/i&gt; :)&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: transparent none repeat scroll 0% 0%; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-4697529022917227960?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/4697529022917227960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/03/sawah-hadiah.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4697529022917227960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4697529022917227960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/03/sawah-hadiah.html' title='Sawah Hadiah'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-tAKW1dY4gDw/TZBRiy6ZoKI/AAAAAAAAAUI/sQKxW5WkSxo/s72-c/Sawahku.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-6267569011419962048</id><published>2011-03-23T14:06:00.000+07:00</published><updated>2011-03-23T14:06:55.170+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Ubin Langit</title><content type='html'>Ubinku adalah langit, tempat dimana busa putih awan mesra menimang, ruang tanpa ruang dimana mata angin seringkali kesal kebingungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubinku adalah langit, padang luas dimana bumi hanya tinggal sejumput titik dan garis, tanah lapang tembus pandang, kampung halaman para hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubinku adalah langit, ketakhinggaan dimana timur dan barat dipertemukan, sekat perantara hampa dan udara, rahim keniscayaan bayi gravitasi makhluk dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubinku adalah langit, tempat kubebaskan segala doa, mengiba pada Raja Semesta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubinku adalah langit, dimana tawa dan air mata dibiarkan suka-suka, tanpa harus punya makna.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: transparent none repeat scroll 0% 0%; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-6267569011419962048?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/6267569011419962048/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/03/ubin-langit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6267569011419962048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6267569011419962048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/03/ubin-langit.html' title='Ubin Langit'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-3060339474166061597</id><published>2011-03-18T16:17:00.002+07:00</published><updated>2011-03-21T17:58:28.562+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Cerita Larung</title><content type='html'>Suatu hari di masa lalu&lt;br /&gt;Bertamu aku di bibir pantai&lt;br /&gt;Tandas pilu menjadi biru&lt;br /&gt;Surut air mata mengusir rinai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samudera melahap kenyang&lt;br /&gt;Aku melambai tenang &lt;br /&gt;Terlarung damai mereka di lautan&lt;br /&gt;Ketika langitku tak lagi merintik hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai kamu,&lt;br /&gt;Usah pelihara cemburu untuk cerita larungku&lt;br /&gt;Hanya demi suatu hari di masa lalu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemari,&lt;br /&gt;Bawa aku pergi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan makhluk malam menebar iri&lt;br /&gt;Menyaksikan kita liar menari&lt;br /&gt;Hingga lupa bagaimana cara bermimpi&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-moz-background-inline-policy: continuous; background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-3060339474166061597?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/3060339474166061597/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/03/cerita-larung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3060339474166061597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3060339474166061597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/03/cerita-larung.html' title='Cerita Larung'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-6759017166846270640</id><published>2011-03-16T13:36:00.000+07:00</published><updated>2011-03-16T13:36:13.494+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Katalis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Retinaku terdistraksi ketika pendar jingga senja yang hendak merambat masuk melalui pintu kaca ruangan terhambat sekejap oleh kelebatmu. Dua atau tiga detik, kira-kira.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kau sedang terbalut kerudung hitam, kaos longgar merah tua, celana jins panjang coklat pekat, dan sepatu olahraga putih bermotif garis ungu muda. &lt;i&gt;Ya&lt;/i&gt;, setidaknya informasi singkat itu saja yang mampu terkumpul oleh lirikan sekilasku. &lt;i&gt;Oh&lt;/i&gt;, tidak, aku bahkan tak melirikmu. Tentu saja mata kiriku cukup cerdas untuk mampu merekam otomatis sosokmu yang tiba-tiba muncul di ambang pintu, tanpa perlu repot melirik sedikitpun, bukan? Keping hitam mataku bahkan tak bergeser sejengkal kaki semut pun. Mereka masih setia pada gemerlap layar monitor. Tubuh jangkung ini juga cukup statis, duduk tenang menempel di kursi empuk biru, bersama tangan kanan yang betah menjamahi tetikus mungil, mengajak &lt;i&gt;pointer&lt;/i&gt; berjalan-jalan ke beberapa halaman kesukaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Langkahmu tertahan. Acuhku yang kadang tingginya nyaris menyentuh ujung menara petir, tempat Pai Su Chen diasingkan, runtuh begitu saja oleh sesuatu, entah apa. Persendian dan tulang-belulang tak lagi menaati instruksi tuannya untuk tetap diam di tempat, tak bergerak. Hingga pada akhirnya, seulas senyum pendek dan anggukan kecil kuisyaratkan demi membalas pertanyaan &lt;i&gt;non&lt;/i&gt; verbalmu. "Silakan masuk", begitu kurang lebih maksudku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Ah&lt;/i&gt;, kau lagi. Si wajah polos tanpa dosa, kembali memporak-porandakan sistem pertahanan tubuhku. Mengacaukan disiplin koordinasi antar lini. Bahkan si pelatih keras kepala, bernama Gengsi, tak luput kau buat kehabisan akal. Selalu saja begitu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Hei&lt;/i&gt;, tahukah kau bahwa seandainya dirimu adalah selembar artikel ilmu pengetahuan, niscaya kau adalah salah satu varietas yang selalu sukses menstimulasi otakku untuk terus mencetak berlembar-lembar pertanyaan, ini dan itu. Kau seolah dipenuhi coretan formula unik, sekaligus aneh. Tiap kali semesta menayangkanmu di hadapanku, ribuan tanya selalu jatuh dari langit, menghujan, lalu membanjir tak &lt;i&gt;karuan&lt;/i&gt;. Denganmu, aku menjadi makhluk cerewet &lt;i&gt;dadakan&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya siapakah dirimu? Sebelumnya, aku mengenalmu tak lebih dari rekan kerja yang hanya saling bertemu sepintas di ruang makan, dapur, atau selasar gedung. Kau dan wajahmu yang nyaris tak pernah tersapu riasan merah, hijau, kuning, dan biru seperti mereka, kaum hawa lainnya. Kau dan langkahmu yang kerap lebih mirip seperti langkah atlet jalan cepat. Kau dan sepatu ratamu, yang sepertinya tak pernah membuat lantai terketuk berulang penuh derita. Sebelumnya, kau hanya sekadar itu, bukan? Ya, seingatku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hingga aku tiba di suatu titik pada dimensi masa dimana tiba-tiba kau, bagiku tak lagi menjadi sekadarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lihatlah, sore mulai kadaluarsa. Kita masih larut bercengkerama tentang apa saja, bertukar cerita dan saling tertawa. Sesekali kita saling terdiam lalu mencoba memulai berbicara kembali, dan lucunya, kita selalu memulainya hampir di waktu yang bersamaan. Kau lekas tersenyum, bermaksud menunda bicaramu. Sedangkan aku tergagap bodoh, lupa semuanya. Mungkin otakku gegar akibat tertimpa senyum sederhanamu sekian detik lalu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada kita, tersisa enggan di jejak kaki jingga senja.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku yang menunggu malam datang dan kau yang menanti seorang kawan. Begitulah, kita selalu saja diletakkan dalam sebuah kebetulan. Kamus di otakku tak lagi berfungsi baik untuk memberi definisi. Hanya sepertinya ada sesuatu yang terkatalisasi disini, di ufuk timur hati.&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: transparent none repeat scroll 0% 0%; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-6759017166846270640?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/6759017166846270640/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/03/katalis.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6759017166846270640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6759017166846270640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/03/katalis.html' title='Katalis'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-7271450655702130896</id><published>2011-01-21T18:31:00.000+07:00</published><updated>2011-01-21T18:31:03.074+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksi Mini'/><title type='text'>Senyawa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak ada yang istimewa, seharusnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku telah menjumpaimu tanpa rencana puluhan kali. Mataku kerap tak sengaja menangkapmu yang entah sedang apa &lt;i&gt;mondar-mandir&lt;/i&gt; di ruangan yang sama. Kadang kau terlihat lumayan sibuk dengan beberapa lembar berkas ditangan kiri dan sebatang pena hitam di tangan kanan atau larut dalam suatu diskusi serius bersama beberapa orang&amp;nbsp; rekan kerja. Tapi tampaknya juga kau sukses membawahi waktu secara sempurna dengan hanya duduk santai di dapur kantor, menikmati segelas kopi hangat dan dua atau tiga lembar kecil tempe mendoan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puluhan kali itu pula, kita hanya saling tersenyum kecil sebagai syarat minimal basa-basi sosial. Itu saja. Selesai perkara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hingga entah pada pertemuan tak sengaja yang keberapa, partikel-partikel tak kasat mata yang beterbangan bebas di antara kita, bersenyawa. Ada sesuatu yang berloncatan, memercik, lalu sesekali menyilaukan, yang bahkan aku pun gagal menjadi paham. Gawatnya lagi, aktivitas persenyawaan itu tumbuh lebih cepat daripada ketangkasanku untuk segera mengerti dan menetapkan definisi tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam dapur inderaku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan kamu, tetap menjadi laki-laki beransel raksasa, dengan rambut acak-acakan, dan senyum tipis yang biasa saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita terus saja berpapasan. Aku selalu berada di ambang batas antara senang dan &lt;i&gt;jantungan&lt;/i&gt; tiap kali jarak kita hanya selebar tiga jengkal telapak tangan. Dan kamu, tidak pernah tahu, aku &lt;i&gt;kelabakan &lt;/i&gt;menerjemahkan ketidaktahuan yang kurang ajar dan menjengkelkan, seperti ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada sesuatu. Entah apa, tidak tahu bagaimana. Aku hanya merasa seperti gadis kecil yang baru saja belajar Matematika.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-7271450655702130896?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/7271450655702130896/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/01/senyawa.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7271450655702130896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7271450655702130896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/01/senyawa.html' title='Senyawa'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-3013996663295599336</id><published>2011-01-13T20:43:00.000+07:00</published><updated>2011-01-13T20:43:48.254+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Kepada Pilot (2)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Iya, jadi mungkin mereka yang mengerti akar masalahnya, sebaiknya mampu mengerti dan memaklumi pak Tifatul"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Benar. Tapi pak Tifatul dan tim DepKOMINFO sudah sepatutnya membenahi mekanisme sosialisasi kebijakan. Beliau ini terlalu banyak melakukan gerakan yang tidak perlu"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Tapi perlu diingat, bukan hanya DepKOMINFO dan Pak Tifatul yang semena-mena bisa dicemooh habis-habisan. Coba amati keberadaan departemen kementrian lainnya. Penilaian kita sebaiknya bisa lebih &lt;i&gt;fair. &lt;/i&gt;Penyampaian kritik juga harus fokus dan sopan.&amp;nbsp;"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kita &lt;i&gt;ndak&lt;/i&gt; bisa mengontrol suara masyarakat. &lt;i&gt;Na&lt;/i&gt;h, makanya supaya hal-hal bias itu &lt;i&gt;ndak&lt;/i&gt; muncul, si bapak-bapak ini harusnya lebih runtut dan tidak mengandalkan media jejaring sosial sebagai sarana utama sosialisasi kebijakan. &lt;i&gt;Kan&lt;/i&gt; rawan salah paham?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Iya. Mungkin memang akan lebih dapat diterima kalau mereka terlebih dahulu menyuguhkan data konkrit. Berbicara berdasarkan data."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Ya, mungkin..."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Eh..."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Hmm?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"&lt;i&gt;Ndak. Ndak pa-pa...&lt;/i&gt;"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kenapa?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"&lt;i&gt;Ndak pa-pa&lt;/i&gt;"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Kangen. Kamu ngerti ndak sih?&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"&lt;/i&gt;Kasihan Pak Tifatul...&lt;i&gt;"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"&lt;/i&gt;Iya. Kasihan juga dia dicaci-maki begitu&lt;i&gt;"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Kasihan aku juga, yang sedang kangen kamu, Bapak Pilot!&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"&lt;/i&gt;Sudah makan, belum?&lt;i&gt;"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"..."&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border-bottom-width: 0px !important; border-color: initial !important; border-left-width: 0px !important; border-right-width: 0px !important; border-style: initial !important; border-top-width: 0px !important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-3013996663295599336?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/3013996663295599336/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/01/kepada-pilot-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3013996663295599336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3013996663295599336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/01/kepada-pilot-2.html' title='Kepada Pilot (2)'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-6610977856827198527</id><published>2011-01-07T11:17:00.002+07:00</published><updated>2011-04-18T20:16:32.772+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Ketaksamaan Segitiga</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika kita punya dua titik terpisah satu sama lain, maka jarak tempuh terdekat dari satu titik menuju titik lainnya adalah dengan menarik garis lurus diantara keduanya. Sedangkan kita semua pasti tahu, bahwa semakin pendek jarak tempuh, maka akan semakin singkat pula waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir, titik tujuan yang kita inginkan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bayangkan, jika ada dua kendaraan diletakkan di posisi awal yang sama, lalu para pengemudi diinstruksikan untuk memacu kendaraan masing-masing dengan kecepatan yang sama, menuju pos pemberhentian yang sama pula, namun diharuskan menempuh jalur berbeda, misalkan satu jalur merupakan garis lurus dan jalur lainnya memiliki beberapa belokan dan tikungan tajam. Nenek-nenek galau pun juga akan mampu memastikan, bahwa mobil dengan jalur lurus akan tiba lebih dahulu di titik pemberhentian terakhir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kunci lekas sampai adalah, tetaplah berjalan pada garis lurus. Itu saja. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya ingin meminjam kaidah ketaksamaan segitiga yang sering digunakan untuk menyelesaikan beberapa permasalahan matematis, bahwa jika ada tiga titik berbeda, A, B, dan C yang tak segaris, maka secara sederhana, garis (AC) akan selalu kurang dari atau sama dengan garis (AB + BC). Artinya, untuk mencapai Surabaya, dari Bandung, kita tak perlu iseng melewati Pontianak lebih dulu, berlayar dua kali, baru kemudian berlabuh di Tanjung Perak. Kecuali, kita sedang mengalami gangguan rasionalitas pikir atau sial tertipu oleh persekongkolan kejam antara masinis kereta dan nakhoda kapal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun tampaknya, hidup tak sesederhana ketaksamaan segitiga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Andaikan saja dua titik yang saya sebutkan di awal tulisan dikonversikan pada ‘satuan momentum awal dan akhir kehidupan’ maka saya sudah tidak mampu lagi menjelaskan secara presisi, garis macam apa yang telah saya bentangkan selama ini, diantara kedua titik tadi. Beberapa hari lalu, disuatu malam, ketika saya berkesempatan merunut kembali setiap fase hidup yang telah dilewati, akhirnya saya sadar, telah ‘ratusan’ belokan dan ‘puluhan’ tikungan tajam yang sengaja atau tak sengaja dilintasi. Benar bahwa saya turut ‘berkendara’ bersama mereka lainnya, tapi seringkali tiba-tiba tuas kemudi terdistraksi oleh persimpangan yang tiba-tiba muncul ditengah perjalanan. Saya pun lebih sering terpancing untuk berbelok, menikmati ruas jalan lainnya, sementara yang lain &lt;i&gt;istiqomah&lt;/i&gt;, lurus-lurus saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memang, memisalkan akhir kehidupan sebagai titik tujuan akhir saya, meskipun tepat, kelihatannya terlalu muluk dan memberi kesan sok religius. Saya seolah bagai biksuni atau ustadzah yang selalu baik dan benar serta terhindar dari perbuatan tercela, seperti &lt;i&gt;ngupil&lt;/i&gt; di sembarang tempat, contohnya. Baiklah, karena saya bukan mereka yang tidak pernah sepakat bahwa Irfan Bachdim lumayan tampan dan &lt;i&gt;facebook &lt;/i&gt;dan atau&lt;i&gt; twitter&lt;/i&gt;-an itu penting, maka ijinkan saya membuat pemisalan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum tahu persis bagaimana kira-kira wajah titik akhir saya. Jadi mari sedikit menapaktilasi jalan di belakang saya saja, yang cukup seru, kontroversial, dan menegangkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selepas SMA, seperti kebanyakan sebaya lainnya, saya pun berkuliah, menjadi mahasiswi. Saya memulainya pada usia hampir 18 tahun, menuntaskannya di usia nyaris 24 tahun. Ya, enam tahun. Sekarang kalian boleh membayangkan betapa banyak belokan yang saya lewati selama masa enam tahun itu. Saya menyimpang dari 4 tahun waktu normal yang jamak dianut mahasiswa normal, atau bahkan 3,5 tahun yang antusias dikejar berebutan oleh mereka, para penggandrung &lt;i&gt;epsilon-delta&lt;/i&gt;. Boleh dibilang, saya keasyikan menikmati belokan demi belokan, selama kurang lebih 2 tahun. Dua kali waktu bumi berevolusi mengelilingi matahari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya berbelok, bahkan kadang hanya memutar. Kekurangan bahan bakar. Berasap, kehabisan air aki. Lalu sesekali tersesat, salah jalan. Destinasi pun terasa semakin jauh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika sebagian besar teman-teman, kawan akrab saya telah berhasil menamatkan studinya dan bertahta bangga di panggung penasbihan bersama para guru besar dan petinggi kampus, saya baru akan memulai mengambil mata kuliah yang memiliki rekam sejarah cukup mengerikan. Dulu, ketika mereka sedang ada di posisi saya, bergelut dengan kengerian pula, saya justru mendedikasikan diri pada puluhan rapat koordinasi antar komunitas atau organisasi yang lebih mirip oposisi frontal rektorat daripada rekan bertukar ide dan saran. Saat kawan saya berusaha menemukan cara bagaimana membuktikan bahwa barisan bilangan Cauchy itu konvergen, saya dan kawan lain yang bersudut pandang sama malah bersemangat empat lima berdiskusi spontan, menyusun strategi lanjutan dari A hingga Z, demi menawar kebijakan otoriter kampus. Saat kebanyakan dari mereka duduk manis menyimak ceramah perkuliahan keramat, saya lebih memilih melewatkannya, duduk bercengkerama santai di teras himpunan bersama kawan dari berbagai angkatan, memproyeksikan sistem kaderisasi internal yang kami anggap semakin carut-marut dan terlindas kultur akademis karbitan yang meraksasa dan hiperbola. Saat mereka mengakrabi para dosen untuk sedikit menghisap ilmunya, saya lebih nyaman bercanda dengan para pedagang makanan di kantin yang kerap galau menanyakan peluang mereka untuk tetap dapat menghuni ladang nafkahnya setelah para pejabat rektorat giat menjamahi titik-titik strategis yang telah terlanjur mendapat tempat di hati para mahasiswa. Kami bercanda tentang apa saja, termasuk iseng memberi nama alias untuk setiap tokoh antagonis birokrat, supaya kami bebas membicarakan mereka tanpa harus melirihkan suara. Kawan-kawan saya di kelas sedang melotot serius, sedangkan saya santai-santai saja, tertawa-tawa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka berangkat ditemani matahari yang masih segar, lalu kembali beristirahat pulang ketika senja mengendap datang. Aktivitas saya, seringkali malah berada pada rentang waktu yang berkebalikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi bagaimanapun, bagi saya, tidak ada yang salah dengan jalan mereka, juga dengan jalan saya. Destinasi kami pun sepertinya sama, hanya saja entah mengapa kendaraan saya terkadang lebih menyukai jalur berkelok dan sering melupakan resiko semakin memuainya waktu tempuh. Memang, saat kondisi jiwa sedang kurang ‘sehat’, perasaan inferior muncul tiba-tiba dengan menganggap nyinyir diri sendiri bahwa saya masih berada jauh di belakang mereka, bahwa ketika teman-teman saya telah menjelma menjadi ibu-ibu penekun karir ibukota atau juru ganti &lt;i&gt;popok&lt;/i&gt; bagi putra-putrinya, saya masih saja sibuk menyusun kata pengantar Tugas Akhir. Kabar baiknya adalah, seluruh komponen kejiwaan saya cukup jarang terjangkit penyakit yang merepotkan. Saya beranggapan, tidak pernah ada konsep jarak pada hidup sesungguhnya. Kejam rasanya ketika kita menyebutkan bahwa si ini sedang berposisi di belakang si itu, si Fulan telah mendahului si Bondan, atau beragam justifikasi posisi lainnya. Bukankah kita ini adalah para individu unik dengan titik destinasi yang bisa jadi sama namun cenderung memiliki beribu cara yang berbeda? Kita mungkin memang sedang berkendara bersama-sama, tapi tampaknya kita tidak sedang beradu kecepatan lalu mendasarkan keberhasilan pada seberapa sering kita mendahului kendaraan lain dan seberapa cepat kita sampai di garis &lt;i&gt;finish&lt;/i&gt;. Tidak, hidup akan terasa demikian tergesa jika kita menjalaninya dengan cara seperti itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hingga kini, saya masih sangat menikmati jalur yang telah &amp;nbsp;dan akan saya lalui. Sepanjang perjalanan, saya terus belajar bagaimana saling berbagi dan memaklumi bahkan dalam kondisi tersulit sekalipun, ketika mendadak harus kekurangan bahan bakar atau kehabisan air aki. Saya menyadari sepenuhnya kebodohan diri sendiri ketika ternyata kendaraan saya hanya berputar tanpa kejelasan. Saya belajar menemukan titik balik, mempercayai intuisi, lalu berusaha kembali menuju destinasi. Kadang saya bosan dan kelelahan, tapi tidak akan ada yang mampu mengalahkan kepuasan ketika ada sesuatu berharga yang ditemukan secara sadar dalam satu rentang perjalanan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada konsep solusi kuadrat terkecil, berakar dari konsep ketaksamaan segitiga, untuk mendapatkan solusi optimal dari suatu permasalahan model matematis. Tapi hidup, sepertinya bukan lagi sekedar model matematis yang dapat sedemikian rupa disederhanakan dan diasumsikan kondisi awalnya. Hidup, mungkin akan lebih memberi arti jika kita bersedia memperlakukannya dengan cara-cara manusiawi.&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background-color: transparent; border-width: 0px ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-6610977856827198527?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/6610977856827198527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/01/ketaksamaan-segitiga.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6610977856827198527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6610977856827198527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/01/ketaksamaan-segitiga.html' title='Ketaksamaan Segitiga'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-2461051235211401955</id><published>2011-01-06T01:54:00.000+07:00</published><updated>2011-01-06T01:54:27.014+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu'/><title type='text'>Satu Persen</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Dia adalah kawan, sahabat, serta teman hidup yang demikian saya hormati. Wawasan keilmuannya luas, tapi dia selalu mengerti bagaimana cara merendahkan hati dan menyuguhkan kenyamanan pada setiap orang di sekelilingnya. Kali ini, saya berkesempatan meletakkan tulisannya di sini, sungguh suatu kesempatan langka buat saya. Kami bersepakat bahwa saya berhak melakukan perubahan disana-sini apabila memang diperlukan. Maka, tanpa bermaksud mengurangi atau menambah esensi tulisan, ada beberapa perbaikan elementer yang dikenakan pada tulisan, atas nama pelestarian penggunaan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Selamat membaca dan menikmati setiap jengkal kejujurannya!&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;H&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;ampir genap sebulan beraktifitas di lingkungan baru, di ibukota propinsi&amp;nbsp;mungil dengan perbandingan luas gunung lebih besar dari luas&amp;nbsp;pulaunya. Nama pulau ini identik dengan nama hasil pertanian yang punya&amp;nbsp;rasa pedas. &lt;i&gt;Yup&lt;/i&gt;, benar sekali. Lombok. Pulau yang dikelilingi keindahan pantai berpasir putih&amp;nbsp;dan hitam yang total APBD-nya&amp;nbsp;juga semungil pulaunya, mungkin hanya mendapat bagian kurang dari &amp;nbsp;satu persen&amp;nbsp;dari total APBN.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya harus kembali kesini, tanah kelahiran saya sendiri. Kalau meminjam istilah jaman sekarang mungkin bisa dikatakan sebagai &lt;i&gt;coming back home&lt;/i&gt;, bukan&amp;nbsp;balik kucing, meski mirip juga dengan istilah balik kandang, &lt;i&gt;ah&lt;/i&gt; tapi tetap terdengar tidak enak. &lt;i&gt;Gimana ya&lt;/i&gt;? terserah anda saja &lt;i&gt;lah&lt;/i&gt; ingin menamai apa. Jadi akhirnya saya mendapat kesempatan untuk kembali&amp;nbsp;berkumpul dengan keluarga,&amp;nbsp;bersamaan dengan kesempatan mengabdi di lingkungan&amp;nbsp;pendidikan. &lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;, segala puji bagi Allah &lt;i&gt;Subhanahuwata'ala&lt;/i&gt;. Ini merupakan nikmat dan karunia yang senantiasa wajib&amp;nbsp;disyukuri. Belum lagi berbagai kenikmatan lain yang mungkin akan saya&amp;nbsp;tuliskan pada kesempatan yang berbeda. Semua anugerah kenikmatan ini membuat saya merasa begitu beruntung dan terberkahi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya kembali dengan diiringi perasaan seperti memperoleh durian runtuh. Meskipun sebenarnya saya tidak benar-benar pernah tahu bagaimana rasanya diruntuhi durian. Mengapa durian runtuh? karena kesempatan yang diperoleh cukup&amp;nbsp;langka dan menguras energi ekstra. &lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, tapi sayangnya, saya dijatuhi durian yang belum terlalu matang sehingga satu-satunya pilihan adalah menunggu para durian ini matang terlebih dahulu. &lt;i&gt;Never mind&lt;/i&gt;, saya tetap wajib bersyukur dan menunggu dengan sabar hingga hari kematangan durian itu tiba. Proses menunggu ini tampaknya akan sangat kaya dengan pembelajaran, juga bakal menuntut saya untuk berdamai dengan aturan main si pemilik pohon durian. Sepertinya ini akan seru. Maka, mengadopsi gaya Rambo ketika akan memulai aksi perangnya, diri saya membayangkan memasang ikat kepala lalu menyingsingkan lengan baju dengan muka &lt;i&gt;sangar&lt;/i&gt;, kemudian mengoleskan debu arang ke sekujur wajah yang sebenarnya cukup tampan ini. Saya siap berperang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baiklah, mari kita sedikit berbicara serius dan kabur dari jebakan analogi durian-Rambo tadi. Bahwa ternyata benar, memulai sesuatu yang baru berkaitan dengan rutinitas harian itu tidak mudah. Mungkin ini adalah&amp;nbsp;tahap penyesuaian diri. Hanya sesekali muncul ketidaksengajaan, membandingkan kondisi kekinian dengan lingkungan lama.&amp;nbsp;Menurut pandangan saya, produktifitas diri berkaitan erat dengan&amp;nbsp;produktifitas lingkungan. &lt;b&gt;Kualitas diri pun dipengaruhi oleh kualitas&amp;nbsp;lingkungan, dan ternyata, masih menurut saya, kualitas lingkungan sangat dipengaruhi oleh&amp;nbsp;&amp;nbsp;angka indikator satu persen yang saya sebutkan sebelumnya&lt;/b&gt;. &lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, mungkin inilah&amp;nbsp;tantangannya. Satu sisi ada kondisi nyaman tersaji di hadapan saya, namun di sisi lain hal ini mungkin saja dapat&amp;nbsp;menurunkan kualitas kinerja, terkait dengan segala keterbatasan sistem yang ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses ini, bagi saya masih tampak seperti aliran sungai yang belum tampak bagian hulu-hilirnya. Belum mampu terbaca, belum dapat tertebak mengenai apa dan bagaimananya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya jika&amp;nbsp;dicermati, topik utama dari tulisan saya adalah pada kalimat bercetak tebal. Bukan semata hanya karena alasan dangkal mengenai hitungan satu persen, tapi karena secara&amp;nbsp;perlahan kesatupersenan itu sepertinya menjadi pemicu bagi penurunan produktifitas kerja. Mau &lt;i&gt;bikin&lt;/i&gt;&amp;nbsp;ini, mesti ketuk pintu itu. Mau diskusi itu, &lt;i&gt;eh&lt;/i&gt; dianggap terlalu dini dan &lt;i&gt;sok&lt;/i&gt; idealis. Mau jalan sendiri, khawatir dianggap melangkahi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Oh&lt;/i&gt; ayolah, saya hanya membutuhkan teman yang mau dan mampu diajak memasang ikat kepala dan menyingsingkan lengan baju, bersama-sama. Dimana sebenarnya mereka semua?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Mataram, 5 Januari 2011&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;(Giri Wahyu Wiriasto)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; display: inline !important; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-origin: initial; border-bottom-width: 0px !important; border-color: initial !important; border-left-width: 0px !important; border-right-width: 0px !important; border-style: initial !important; border-top-width: 0px !important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-2461051235211401955?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/2461051235211401955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/01/satu-persen.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/2461051235211401955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/2461051235211401955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2011/01/satu-persen.html' title='Satu Persen'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-5125925188585417509</id><published>2010-12-22T11:24:00.000+07:00</published><updated>2010-12-22T11:24:36.315+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Perempuan Aljabar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata ayah dan ibu, dulu aku pernah memiliki seorang kakak perempuan. Anak sulung mereka, lima tahun lebih tua dariku dan dua tahun diatas kakak laki-lakiku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal yang wajib aku lakukan adalah percaya penuh pada pernyataan mereka Karena &lt;i&gt;toh,&lt;/i&gt; aku hanya bisa mengenali wajahnya lewat foto kecil yang lama tergantung di dinding ruang keluarga, di rumah yang kami tinggali semasa aku masih kecil. Kakak perempuanku itu sedang tersenyum, sebagian rambutnya dikuncir ke samping kiri, dahinya lebar dan sedikit menonjol, kulitnya berwarna seperti kulit buah salak muda, dan ia sedang mengenakan baju pelaut bermotif garis merah putih. Aku sering tak sengaja memandangi foto yang sudah terlihat usang itu dan sekilas menemukan gambar diriku sendiri di dalamnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hingga sekarang pun, aku hanya bisa percaya bahwa si kakak perempuan yang menurut mereka pandainya luar biasa itu benar-benar pernah ada. Karena paling tidak, setiap tahun kami masih ‘bertemu’ dan aku selalu mendapat tugas menabur tiga bungkus kecil kembang wangi di atas gundukan tanah tempatnya dibaringkan dan membersihkan porselen biru muda dari butir-butir tanah yang terbawa pantulan air hujan lalu menempel di permukaannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku harus kehilangan kesempatan bercengkerama dengan perempuan yang susunan tulang rahang dan pipinya mirip denganku itu layaknya dua orang perempuan kakak-beradik. Atau mungkin lebih tepatnya, aku tak mampu mengingat masa, ketika jiwanya masih berwadah pada raga, bukan hanya tinggal berupa berlembar gambar dua dimensi atau gundukan tanah yang penuh taburan bunga mawar dan kamboja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lagipula apa yang mampu dirasakan oleh bayi berusia satu tahun ketika pada suatu malam, tiba-tiba ia harus kehilangan kakak perempuan satu-satunya? Tidak ada. Aku tidak mampu merasakan apapun. Sekalipun aku sedang berada di antara pecahan tangis para orang dewasa, raungan ibu dan ratapan ayah. Meskipun menurut pengasuhku waktu itu, tangisku juga tak kunjung reda. Ah, tapi pasti hanya karena aku sedang lapar atau kegerahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seumur hidup, mungkin atau bahkan sudah pasti, aku tidak akan pernah mencicipi, bagaimana rasanya menjadi adik dari seorang perempuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun sekarang, setelah aku tumbuh dewasa, setelah semua foto kakak perempuanku disimpan rapi oleh ibu dalam setumpuk album klasik, tersusun berderet dalam lemari kayu, aku mulai sadar bahwa selama ini, tanpa pernah sadar dan sengaja, aku seolah selalu menemukan sosok perempuan yang entah mengapa, bersamanya mampu membuatku merasa aman,  senantiasa nyaman bercerita, bercanda, dan tertawa, merasa terselimuti dan terlindungi, merasa bebas berbagi sudut pandang mengenai apapun, merasa halal untuk selalu menang, dan ini yang paling penting : merasa begitu lepas menjadi diri sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sepertinya, tanpa disadari alam bawah sadarku selalu mencari tempat berteduh bernama : Kakak Perempuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan beberapa waktu belakangan, semesta kembali mempertemukanku dengan sosok luar biasa. Seorang wanita tengah baya, pengajarku. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalian semua pasti sudah tahu bahwa aku bukan mahasiswa superior yang berselera tinggi terhadap segala macam teorema yang tercetak dalam buku setebal lima tangkup roti tawar, seberat satu kilo beras. Tapi kali ini, kerajaan teorema itu sedang tidak menjadi tempat pilihan untuk bebas dimasuki atau ditinggalkan. Khusus semester ini, aku wajib berkawan dengan mereka. Mata kuliah bernama Struktur Aljabar Linear –lihatlah, bahkan namanya pun terdengar terlalu ‘berwibawa’ untuk bergaul denganku-, adalah salah satu kawan yang kuakrabi dengan penuh keterpaksaan.   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun wanita ini, dengan mudahnya, seperti membalik telur mata sapi di penggorengan, berhasil membalik sinismeku pada setiap materi kuliah yang dia ajarkan, lembar demi lembar. Dia bukan tipe pengajar yang membuat sesuatu yang seram menjadi lebih seram, bukan juga tipe pengajar yang secara tidak langsung mengharuskan kami, mahasiswanya, menahan nafas gugup dan ketakutan setiap kali dia ada di depan kelas dan melafalkan ayat-ayat suci Aljabar. Wanita ini, di mataku, mampu ‘memasak’ kami dengan baik, membuat si Tuan Aljabar terasa lebih ramah lingkungan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku bukan makhluk jenius, yang melihat semua hal seolah bagai deretan notasi dan angka. Aku bukan mereka yang siang malam rela berpacaran dengan buku dan pena, menyelesaikan semua soal, dengan dahi berkerut lipat tiga dan bibir lebih maju dari biasanya. Tapi setidaknya, bersama dia yang tidak pernah sekalipun menganggap remeh para mahasiswanya, aku mampu lebih menghargai daya pikirku sendiri. Sedikit demi sedikit, alergiku terhadap Aljabar, pulih. Aku sembuh, meskipun tidak terlalu sempurna.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada suatu kesempatan, ketika dia berkeliling kelas untuk memeriksa pekerjaan rumah kami, aku kedapatan tidak menyelesaikan satu nomor. Aku hanya bisa meringis pasrah dan berseloroh jujur bahwa untuk poin yang satu ini, konsep dasar belum mampu kutangkap dengan baik. Dia mulai mengambil penaku, menjelaskan detail permasalahan, membuat ilustrasi, analogi, lalu menanyaiku, sebagai umpan balik tanpa ada sedikitpun raut gusar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Proyeksi &lt;i&gt;orthogonal&lt;/i&gt; itu, ibaratnya ada lampu yang menyinari suatu benda tepat lurus di atasnya. &lt;i&gt;Nah,&lt;/i&gt; lalu kira-kira, bayangannya jatuh di sebelah mana?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku pun resmi menjadi siswa Taman Kanak-Kanak, di depannya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku berhasil melewatinya dengan pencapaian relatif baik. Tanpa trauma apapun. Dan coba bayangkan, mahasiswa macam apa yang dengan &lt;i&gt;enteng&lt;/i&gt; berkata &lt;i&gt;blak-blakan&lt;/i&gt; pada pengajarnya, seperti ini :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Saya bukan orang yang rajin dan tekun, Bu. Ingatan saya juga tidak terlalu bagus untuk menyimpan semua formula di mata kuliah ini. Jadi memang kadang suka mleset kalau harus berhadapan dengan ujian. Beda dengan si Ini atau si Itu. Saya memang jauh lebih malas dari mereka”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya, aku tahu, pernyataanku itu sama saja dengan membunuh karakter diri sendiri. Tapi ucapanku keluar begitu saja, saat kami duduk berhadapan dan dia menanyaiku mengenai nilai ujian terakhir yang terjun bebas. Aku tak sedikitpun terbebani dengan status dia sebagai pengajar, dan aku sebagai mahasiswa aneh yang lebih suka bercanda kesana-kemari ketimbang menganiaya otak sendiri dengan segala kerumitan Aljabar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku terus berbicara, seolah dia bukan lagi orang asing. Sementara, di tempat lain, di sebuah ruang bernama hati, aku mulai menyadari sesuatu. &lt;i&gt;Ah, mungkin begini rasanya memiliki seorang kakak perempuan&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang, semester ini sudah berakhir. Selanjutnya, hampir dapat dipastikan aku tidak akan berdekatan dengan mata kuliah Aljabar dan atau segala macam variannya. Artinya, aku sudah tak lagi bisa menjadi siswa Taman Kanak-Kanak, berbicara tanpa basi-basi, dan spontan bertanya ketika memang benar-benar belum memahami sesuatu. Pendeknya, aku sepertinya akan merasa kehilangan. Kehilangan figur seorang pengajar yang diam-diam sudah kunobatkan sepihak sebagai teman, kakak, atau bahkan ibu sendiri. Tidak benar-benar kehilangan, sebenarnya. &lt;i&gt;Toh&lt;/i&gt;, kami masih berada di persekitaran yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini memang terlihat berlebihan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Eh&lt;/i&gt;, tapi mungkin ini adalah cara Tuhan untuk mencoba adil pada makhlukNya yang tak tahu diri sepertiku. Dia mengambil sesuatu, lalu didatangkan sesuatu yang lain, sehingga aku mampu turut merasakan, seperti yang orang lain rasakan. Sesuatu yang didatangkan itu, termasuk si pengajar wanita ini. Kepadanya, aku wajib berterimakasih untuk setiap kesabaran dan kepercayaan penuh yang dia berikan.   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kakak perempuanku telah berpulang, berpuluh tahun lalu. Tapi aku selalu tahu, bagaimana rasanya menjadi adik dari seorang kakak perempuan yang luar biasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Aaaanyway&lt;/i&gt;, 22 Desember, sepertinya sering diperingati sebagai Hari Ibu ya? Maka kepada semua perempuan yang aku sayangi, aku berteriak pada langit, meneriakkan doa keselamatan untuk kalian semua. Selamat Hari Ibu, ya! &lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-5125925188585417509?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/5125925188585417509/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/12/perempuan-aljabar.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5125925188585417509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5125925188585417509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/12/perempuan-aljabar.html' title='Perempuan Aljabar'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-3769625874015007716</id><published>2010-11-29T19:53:00.000+07:00</published><updated>2010-11-29T19:53:14.067+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Amor</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku selalu melihatnya duduk tenang di  barisan paling belakang. Sehari di sudut kiri, hari lainnya bergeser ke sudut kanan. Setiap pagi rambutnya basah, entah oleh air atau minyak rambut pria dewasa yang baunya terlalu kuat untuk udara pagi yang masih bersih. Tampak ada sejumlah koloni rambut yang berdiri tegak pada beberapa bagian kepalanya. Aku mendeteksi bekas usaha keras untuk menidurkan rambut-rambut itu, tapi nampaknya dia belum mampu menjinakkan kebandelan rambutnya sendiri. Konspirasi senyum lebar dan binar mata jernihnya adalah keniscayaan yang selalu rajin ambil bagian menyumbangkan pusaran energi positif ke seantero lingkungan, dimanapun ia berada. Kombinasi warna kontras  antara gigi dan kulit muka yang ia munculkan ketika harus tertawa, mengingatkanku pada keindahan papan catur. Hitam berdampingan dengan putih. Gelap bersanding terang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti tawa dan senyumnya, dia adalah sosok keindahan yang seimbang. Kecerdasan yang  tampan. Ya, setidaknya bagiku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jose, begitu kawan-kawannya biasa menyapa setiap hari. Sedangkan aku lebih suka mengeja nama lengkap yang tertempel rapi di sebelah kanan depan kemeja putihnya, Amorhosea Gahinsa. Setiap kali rutinitas apel pagi dilaksanakan, aku akan selalu menyapanya dengan jabat tangan erat dan mata berbinar, “Selamat pagi, Amor. Semoga harimu menyenangkan ya!”. Dia pun tak alpa menggoyang-goyangkan tangan ala pejabat tinggi negara yang sedang mengadakan pertemuan bilateral dan menimpali ucapanku, “Selamat pagi, Ibu Tisha. Sampai jumpa nanti di  kelas kami. Semoga hari Ibu juga menyenangkan!”. Aku tidak kuasa menahan gemas. Kucubit pipinya yang langsing, kemudian kita tertawa bersama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Matahari sedang berposisi tegak lurus dengan bumi tempat aku berkumpul bersama 20 anak yang berasal dari dua desa terpencil di pulau kecil sisi timur Indonesia ini. Aku bersandar di tembok buritan, menghindari cahaya raja siang yang terlalu liar mengintervensi ruangan yang bahkan ketika masih pagi pun sudah mampu memancing keringat keluar ramai-ramai dari sarangnya. Kedua mataku giat berjuang menahan kantuk sembari memandangi satu-persatu wajah mereka yang sedang tampak sibuk berkelompok mendiskusikan tema yang 15 menit lalu aku sampaikan. Hari ini semua materi sudah selesai, sehingga untuk mengisi waktu sisa, aku sengaja menggelindingkan topik ringan namun beresensi tajam untuk saling mereka bicarakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku bertanya mengenai cita-cita. Anak-anak ini baru 2 bulan lalu merasakan atmosfer sebuah pendidikan formal dan sepotong keingintahuan mengusikku untuk menanyakan sejauh apa mereka mampu mendeskripsikan keinginan mereka sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Amor adalah satu-satunya anak yang tak tampak kebingungan atau mengerutkan dahi atas tema diskusi kali ini. Dia terlihat santai dan sesekali mencandai kawan di sebelah yang sepertinya belum menemukan jawaban. Anak berlesung pipit sempurna ini tak pernah sanggup diam dalam waktu lama. Ia berjalan kesana-kemari menghampiri setiap kelompok yang rata-rata sedang beraura kelabu, mungkin karena bagi mereka, pertanyaanku terlalu rumit untuk dijawab dan dijabarkan. Aku tetap berdiri santai di belakang, membiarkan Amor bergerak sesuka hati, karena setelah kuperhatikan, toh tak ada seorangpun merasa terganggu dengan keabstrakan dan keacakan tingkahnya. Bahkan, tak sedikit yang justru terlihat tercerahkan setelah dibanjiri lelucon dan celotehan khas Amor, anak 15 tahun yang selalu berdalih lupa mengerjakan pekerjaan rumah tapi hampir selalu sempurna mengerjakan semua soal Matematika yang aku berikan sebagai penalti kelalaiannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagiku, Amor adalah keajaiban yang dikirim Tuhan. Pada setiap senyumnya aku kembali melihat ketulusan penerimaan dan kegagahan harapan. Seorang anak pantai yang harus berdamai dengan kehidupan pulau minimalis yang sungguh jauh dari peradaban kota-kota besar, seorang anak tengah dari sembilan bersaudara yang dihidupi dari hasil penjualan ikan hasil tangkapan ayahnya di laut tepi perbatasan antar negara. Seorang anak yang mengaku sudah lupa seperti apa raut wajah ibunya karena ia masih berusia lima tahun saat juru lahirnya itu memutuskan pergi ke Arab Saudi mendulang Riyal. Seorang anak yang kadang terpaksa harus membawa serta adik bungsunya ikut duduk di kelas dan menyuapi mulut mungil itu dengan semangkuk bubur sagu di sela-sela waktu istirahat. Amor menikmati semuanya. Ia selalu bercerita padaku tentang rumah, keluarga, dan kebingungannya dengan tawa merekah begitu saja. Seolah, ceritanya adalah&amp;nbsp; cerita ber&lt;i&gt;genre&lt;/i&gt; drama komedi. Ya, drama komedi perjuangan, mungkin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lamunanku terusir seketika oleh kegaduhan kelas yang semakin seru. Diskusi nampaknya sudah selesai. Aku pun menunjuk satu orang untuk kutanyai pertama kali. Amor. Kuarahkan  telunjukku padanya. Dia tampak siap, aku membayangkan jawaban sudah mengantri , berbaris rapi di ujung bibirnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Apa cita-citamu, Amorhosea?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Guru!”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Mengapa?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Karena aku senang membuat orang lain menjadi pandai”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Lalu?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ya, supaya nanti, disini tak ada lagi yang susah-susah pergi ke Arab Saudi dan tak pernah kembali. Supaya para nelayan tak perlu seumur hidup menyerahkan diri pada laut dan matahari tanpa ada hasil yang berarti”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku berpura melihat kupu-kupu coklat yang kebetulan terbang melintas tepat di bawah atap kelas, hanya untuk menahan keseimbangan air mata, melawan gravitasi. Lalu mataku kembali bertemu mata jernih Amor yang masih tetap memandangku lekat, sejak tadi. Mata anak pantai yang tak pernah  berhenti memancarkan harapan, yang jiwanya selalu menertawakan kesulitan dan memaknainya dengan cara sederhana dan bersahaja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Ah, kamu adalah guruku, Amor&lt;/i&gt;.  &lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-moz-background-inline-policy: continuous; background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-3769625874015007716?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/3769625874015007716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/11/amor.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3769625874015007716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3769625874015007716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/11/amor.html' title='Amor'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-5879874266662643280</id><published>2010-11-22T16:15:00.000+07:00</published><updated>2010-11-23T14:37:21.397+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Pada Sebuah Minggu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari Minggu, bagi saya selalu istimewa dan mengantongi cita rasa berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukan, ini bukan karena semata saya telah cukup lama tidak menikmati atau turut berpartisipasi aktif dalam romantisme hari Sabtu seperti layaknya anak-anak muda lain. Saya sepenuhnya mengerti bagaimana kita yang dulu sedang mulai beranjak dewasa selalu mengidolakan Sabtu sebagai hari ‘keramat’ untuk tampil lebih cantik, sibuk memilih baju dan menumpahkan minyak wangi ke sekujur badan lalu duduk manis di teras rumah, menanti bunyi knalpot sepeda motor yang mulai kita hafalkan nadanya. Ah ayolah, kalian tak perlu malu mengiyakan deskripsi saya mengenai betapa riuhnya hari Sabtu kita dulu, saat senyum masih lucu dan rok masih berwarna biru atau abu-abu. Jujur, saya juga sempat berada di fase itu, entah beberapa masa yang lalu. Saya pikir wajar untuk mengalami masa-masa mendebarkan seperti itu. &lt;i&gt;Toh&lt;/i&gt;, saya yakin kita tidak sendirian, karena sepertinya kaum lelaki juga pernah mengalami fase-fase centil yang sama. Kalian para lelaki pasti ribut mencari pisau cukur milik papa masing-masing untuk sekedar merapikan kumis yang hanya  tumbuh minimalis segaris tipis di atas bibir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitulah Sabtu. Namun untuk saya, hari Minggu tetap jauh lebih unik dan memiliki tempat khusus di hati. Saya menyimpan banyak ingatan berharga disana. Ingatan yang hari ini kembali muncul ketika saya duduk di bangku kayu panjang pada sebuah warung kecil di ujung jalan, menyantap semangkuk bubur ayam hangat sembari tak sengaja menonton serial kartun pagi abadi : &lt;i&gt;Dragon Ball&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba saya terlempar dan mendarat empuk di atas sebidang kasur kapuk, di kamar tengah yang jendelanya terhubung langsung dengan kamar depan, milik Ayah dan Ibu. Saya sedang berada pada masa sekitar 18 tahun lalu. Pada sebuah Minggu pagi, dimana saya belum mengenal apapun, kecuali keluarga, belajar, dan bersenang-senang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hidung saya bahkan masih mampu membaui aromanya. Aroma tubuh sendiri yang belum akrab dengan polesan &lt;i&gt;deodorant&lt;/i&gt; aneka rasa, aroma susu coklat buatan Ibu yang diletakkan di meja makan bersama tiga tangkup roti tawar isi mentega bertabur gula pasir, hingga aroma pohon jambu air yang sepertinya sudah cukup tua, di belakang rumah. Saya mencoba mengurutkan kembali episode-episode Minggu yang rutin, namun tak pernah sekalipun kehilangan ruhnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika itu, anak-anak serta para remaja tanggung sedang ramai menggilai kegiatan bersepatu roda, dan saya kebetulan termasuk didalamnya. Maka bersama ayah, saat langit masih malas menghadirkan matahari, saya selalu menguasai jalanan depan rumah, memacu sepatu roda merah yang beratnya minta ampun, bekas kepunyaan kakak. Tidak ada siapapun di jalan sepanjang 30 meter itu, kecuali saya dan ayah. Semakin mahir, semakin kencang saya meluncur, semakin jauhlah rute yang disepakati. Lokasi terjauh yang pernah saya cicipi adalah Alun-alun pusat kota. Ada semacam taman umum dengan penampang jalan yang lebih mulus daripada jalanan depan rumah dan saya bebas berputar-putar disekitarnya. Waktu itu, saya seolah sedang terbang dibelai udara pagi yang masih perawan, membiarkan benda- benda di samping kanan kiri saya hanya terlihat bagai lukisan abstrak, hanya tampak sebagai warna. Menyenangkan sekali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bersama sepatu roda itu pula saya akhirnya mengalami luka, pertama kali. Lutut kanan menyapu aspal jalan, celana harus robek, darah menetes kemana-mana. Kami akhirnya harus pulang menggunakan jasa tukang becak, dan ayah harus rela digerutui ibu. “Anaknya &lt;i&gt;kok ndak&lt;/i&gt; dijaga &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt;? Sampai &lt;i&gt;babras&lt;/i&gt; begini!”, begitu kata ibu saat melihat lutut anak perempuannya sudah tak lagi mulus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya juga masih mengingat dengan baik, ketika Minggu meletakkan saya dan kakak laki-laki saya satu-satunya, duduk bersila di ubin &lt;i&gt;burgundy&lt;/i&gt;, menikmati menu utama makan pagi: sayur bayam beras dan udang rebus. Kalian tahu apa itu sayur bayam beras? Ya, daun bayam yang direbus bersama segenggam beras putih yang telah dihaluskan dan bumbu-bumbu pelengkap lainnya. Lezat, apalagi jika lekas disantap ketika masih hangat. Demikian, kami –saya dan kakak- sengaja tidak duduk di kursi ruang makan, karena pada jam itu ada beberapa tontonan wajib yang akan membuat hari Minggu kami tidak sah jika kami tidak menontonnya dengan khusuk. Mereka adalah &lt;i&gt;Doraemon&lt;/i&gt;, Ksatria Baja Hitam, &lt;i&gt;Saint Seiya&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Dash! Yonkuro&lt;/i&gt;, serial yang apabila saya tonton kembali saat ini, mungkin terasa kurang penting dan garing. Saya agak lupa urutan tayangnya, namun seingat saya, keempatnya adalah acara favorit kami berdua. &lt;i&gt;Oh&lt;/i&gt;, tidak, saya memang tidak pernah mengikuti serial &lt;i&gt;Sailormoon&lt;/i&gt;. Karena bagi saya, tayangan itu cenderung berlebihan dan kegenitan. Terlalu banyak pameran paha dan pantat, disana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Delapan belas tahun yang lalu, saya masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar dan baru dipercaya ibu untuk melakukan ritual makan sendiri. Maka jadilah makanan berceceran dimana-mana, pipi tertempeli nasi dan kuah sayur bayam, hanya karena saya belum mampu membagi konsentrasi antara menggerakkan tangan dengan mata tetap setia mengarah ke layar televisi. Apalagi ketika si Kotaro Minami sedang berubah wujud mengenakan kostum ksatrianya, lalu mengejar monster aneh penuh lendir hijau, menggunakan belalang tempur yang baru keluar dari garasi, entah garasi siapa. Si Kotaro, seperti jagoan lainnya, hampir pasti menang dan nasib si monster lendir selalu berakhir tragis. Tubuhnya meleleh dan berasap, jadi abu. &lt;i&gt;Ah&lt;/i&gt;, seru. Jantung saya selalu ikut berdebar kencang. Sementara sayur bayam dan udang rebus yang sudah bercampur dengan nasi, seringkali lupa untuk ditandaskan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu lagi, setiap menonton serial &lt;i&gt;Saint Seiya&lt;/i&gt;, saya kerap berkhayal menjadi Saori Kido, reinkarnasi Dewi Athena yang harus dilindungi oleh para &lt;i&gt;Saint&lt;/i&gt; yang tampan itu. &lt;i&gt;Wow&lt;/i&gt;!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Minggu juga selalu menjadi hari paling indah, karena kami dilegalkan untuk tidak tidur siang. Kebijakan internal keluarga itu kami pergunakan untuk berkeliaran, saling bertandang ke rumah tetangga yang memiliki putra dan putri seusia kami. Kakak asyik dengan komunitas perang-perangan atau gundunya, sementara saya bergabung meramaikan komunitas pasar-pasaran atau lompat tali beregu. Belum ada koneksi internet dan alat komunikasi canggih seperti sekarang, saat itu. Jadi saya tak perlu sibuk dan menjadi anti sosial hanya demi memikirkan status atau kicauan apa yang harus dimunculkan hari ini. Semuanya berjalan sederhana. Kami berkumpul, bermain, tertawa, kelelahan, lalu pulang ke rumah masing-masing. Hanya sesederhana itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu-satunya permainan agak modern yang disediakan ayah adalah &lt;i&gt;Video Game&lt;/i&gt;. Mungkin, perangkat ini bisa dikatakan sebagai kakek buyut dari &lt;i&gt;Play Station&lt;/i&gt; dan aneka &lt;i&gt;game online&lt;/i&gt; yang menghipnotis kaum  remaja dan dewasa sekarang. Saya tidak terlalu ahli di bidang ini. Jadi fungsi saya adalah kawan tanding amatir bagi kakak saya yang entah bagaimana dia selalu mampu menguasai semua jenis permainan, seperti &lt;i&gt;Super Mario Bross&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Tekken&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Street Fighter&lt;/i&gt;, atau sejumlah permainan lain. Saya tentu saja selalu kalah. Kalaupun menang, sepertinya kakak saya menyengaja kekalahannya supaya saya berhenti merengek, mengajaknya terus bermain permainan yang itu-itu saja. Dia memang sedikit curang, saya tak pernah diberi secuilpun informasi mengenai tombol apa saja yang harus dikombinasikan supaya si Chun Li bisa mengeluarkan tendangan kilat khasnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya masih selalu mampu mengingat semuanya dengan sempurna. Juga merasakan tubuh kecil saya yang selalu menyambut hari Minggu dengan penuh sukacita dan gegap gempita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi ini, saya menikmati hari Minggu bersama semangkuk bubur ayam hangat dan tayangan kartun &lt;i&gt;Dragon Ball&lt;/i&gt; dari sekotak televisi 15 &lt;i&gt;inch&lt;/i&gt;, teronggok di sudut ruangan. Saya tersenyum dan menghela nafas ringan. &lt;i&gt;Dragon Ball&lt;/i&gt; adalah serial kartun terakhir yang masih sempat kami nikmati bersama di setiap Minggu pagi, sebelum akhirnya kami tumbuh dewasa dan harus bergumul dengan kegiatan masing-masing. Saya tersenyum, karena harus rela kembali pada realita hari ini, masa kini. Semangkuk bubur ayam dan &lt;i&gt;Dragon Ball&lt;/i&gt;, tanpa kakak yang duduk disamping saya, tanpa ayah yang antusias merawat sepedanya, dan tanpa ibu yang serius menguliti udang untuk kemudian direbus dan disantap bersama-sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah &lt;i&gt;Dragon Ball&lt;/i&gt; tampak semakin rumit dan susah dipahami. Ada banyak tokoh baru yang dihadirkan. Begitupun kami sekeluarga. Kakak sibuk dengan istri dan pekerjaannya. Ayah dan ibu sibuk mengasuh cucu yang sedang nakal-nakalnya. Sedangkan saya, sibuk menuntut ilmu, mencari sarapan, dan ... jatuh cinta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari Minggu saya tidak lagi sesederhana hari Minggu 18 tahun lalu, ketika saya belum mengenal rumitnya matematika, mencinta, merindu, dan menunggu. Namun, saya selalu berhak memutar kembali ingatan ke masa itu. Saya selalu mampu menghibur diri dengan merasai kembali semua aroma yang ada di Minggu pagi, meletakkan jiwa saya disana, bermain-main kembali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sabtu bukanlah apa-apa. Minggu, bagi saya justru jauh lebih berharga. &lt;i&gt;Oh, thank God, it's Sunday&lt;/i&gt;!&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: transparent none repeat scroll 0% 0%; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-5879874266662643280?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/5879874266662643280/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/11/pada-sebuah-minggu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5879874266662643280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5879874266662643280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/11/pada-sebuah-minggu.html' title='Pada Sebuah Minggu'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-3624743536045008846</id><published>2010-11-19T16:47:00.000+07:00</published><updated>2011-01-08T06:44:11.692+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Rindu Adalah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rindu adalah memandangi ratusan pesan di kotak masuk telepon genggam, membiarkan kedua mata menjelajah satu demi satu rangkaian kata, tepat sebelum gelap mengundang lelap&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rindu adalah menunggu sebait nada dering &lt;i&gt;Keep On Trying&lt;/i&gt; milik Poco berbunyi dengan sebaris nama bertahta, berkedip-kedip manja&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rindu adalah memaksa jiwa berjalan kelelahan kemana-mana. Berpura-pura sibuk, hingga kantuk tega menyandera hati yang ingin bicara untuk sekedar menanyakan kabar tuannya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rindu adalah memangku buku-buku tebal tanpa alasan. Membohongi diri sendiri dengan kedok keseriusan belajar atau mengerjakan soal-soal latihan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rindu adalah duduk menyendiri di salah satu sudut kafetaria, menandaskan secangkir es krim &lt;i&gt;blueberry&lt;/i&gt; coklat tanpa perlu peduli siapapun yang sedang berlalu-lalang di hadapan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rindu adalah melangkah tenang menerobos gerimis dari awan, supaya tubuh basah kedinginan, lalu menggigil tak karuan dan terpaksa kerepotan menghangatkan badan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rindu adalah menyesali bumi yang sedang kehujanan, sebab butir-butir airnya seolah turut menyuburkan ladang yang menumbuhkan satu bibit nama menjadi ribuan semak belukar tak beraturan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rindu adalah bermusuhan dengan malam, menyuruhnya cepat pulang untuk lekas matahari disingsingkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rindu adalah berlari memutari lintasan terluar lapangan sepak bola. Membiarkan tubuh kebanjiran peluh, membiarkan nadi berdenyut dengan kecepatan penuh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rindu adalah menggerutu pada telinga  untuk setiap halusinasi gila yang bersikeras disampaikan kepada otak  bahwa ia sedang menangkap sepintas gelombang suaramu, entah darimana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rindu adalah menyusup pasrah ke dalam selimut merah tua, membuka mata di sebidang celah tak bercahaya, menemukan kamu disana&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rindu adalah aku, yang mengais setumpuk pelampiasan bodoh supaya kamu tak harus kerepotan, mengasuh mereka yang telah sukses berkembang biak, memenuhi rumah hatiku, menjajah kuasa kewarasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Eh, tapi sepertinya aku butuh pertolongan. Kamu bersedia, kan? &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-3624743536045008846?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/3624743536045008846/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/11/rindu-adalah.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3624743536045008846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3624743536045008846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/11/rindu-adalah.html' title='Rindu Adalah'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-3301496098209403856</id><published>2010-11-03T16:17:00.001+07:00</published><updated>2011-01-08T06:44:11.692+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Diam</title><content type='html'>&lt;i&gt;Aku ingin diam&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Hirup pangkal malam&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kecup tubuh fajar&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Malu-malu merapal rajukan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mengeja kamu, kita, dan harapan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: transparent none repeat scroll 0% 0%; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-3301496098209403856?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/3301496098209403856/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/11/diam.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3301496098209403856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3301496098209403856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/11/diam.html' title='Diam'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-4251570788071008406</id><published>2010-10-22T10:50:00.000+07:00</published><updated>2010-10-22T10:50:47.649+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Anti Biimplikasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku berdiri di bibir balkon lantai tiga, sepuluh sentimeter di belakang pagar besi silinder horisontal warna biru tua, setinggi lutut sendiri. Rambut ikal seleher yang melekat lebat di kepala bundarku menari digoda angin senja. Tengkuk persegiku terbelai samar oleh benda-benda jemuran yang sedang berada di persimpangan bau, antara bau larutan pewangi dan bau bacin menyebalkan. Disana, entah berapa kilometer diatasku, kawanan awan putih berkumpul  hendak mengubah warna, ditemani deru burung besi yang terbang landai, pertanda akan segera menyentuh landasan. Mataku melirik sudut barat, sebentar lagi matahari hendak pulang. Langit, seperti biasa melakukan ritual persiapan, perpisahan dengan siang dan penyambutan hadirnya petang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lima sentimeter, kakiku bergeser ke depan. Sepuluh hitungan mundur pun dimulai. Aku menjejalkan semua oksigen ke paru-paru pada hitungan pertama, menahannya baik-baik, supaya kelak tubuhku mengenangnya sebagai oksigen terakhir yang dapat terhisap sempurna. Aku membawa badan yang hanya mengenakan kaos dalam putih tak berlengan dan celana pendek abu-abu yang labelnya sudah pudar terus condong ke depan, bersahabat dengan gravitasi bumi. Mataku terpejam. Empat...tiga...dua...sa...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;i&gt;Mas&lt;/i&gt; Aji! Sedang apa? Baru selesai jemur cucian ya?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bu Siti, tetangga sebelah rumah dengan muka polos, jepit rambut bertebaran dimana-mana, dan logat jawa timur tulennya, baru saja membuat oksigen terakhirku harus bereaksi menjadi ribuan partikel karbon dioksida. Aku tersedak detak jantung sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Iya Bu, lagi cari angin segar. Bosan di kamar terus” aku melunasi tanyanya sekejap setelah batukku usai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hati-hati &lt;i&gt;Mas&lt;/i&gt;, jangan &lt;i&gt;mepet-mepet&lt;/i&gt; pagar. Nanti jatuh. &lt;i&gt;Eh&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;ba’da&lt;/i&gt; isya’ &lt;i&gt;Mas&lt;/i&gt; Aji ke rumah ya, internet putra saya &lt;i&gt;ngadat&lt;/i&gt; lagi. Jangan lupa &lt;i&gt;lho&lt;/i&gt;!” Bu Siti menegaskan kalimat terakhir sambil melambaikan tangan ke arahku. Ia kemudian berlalu bersama bunyi langkah cepat, menyeret tanah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Saya memang ingin jatuh, Bu&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Senja mulai kadaluarsa. Kini aku duduk bersandar di tembok kamar, berkawan segelas penuh cairan pembasmi serangga. Otakku masih merekam dengan baik, masa kuliah dulu, saat aku masih sibuk melibatkan diri pada geliat organisasi kampus, para senior selalu mengajarkan kami untuk tak pernah lupa menyiapkan rencana cadangan setiap kali rencana awal gagal terlaksana. Semakin banyak rencana cadangan yang dikantongi, semakin sempurnalah konsep kegiatan kita. Nah, cairan pembasmi serangga ini adalah rencana cadanganku setelah acara di balkon tadi gagal total oleh Bu Siti. Lihatlah, aku bahkan telah menyiapkan proses ini dengan sangat matang, bukan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengapa? Sederhana saja, karena aku telah kehilangan originalitas mimpi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagiku, tidak ada yang lebih menyedihkan selain menjadi individu yang hasrat pribadinya tak mampu lagi dipahami oleh orang-orang di sekitar kita. Aku percaya bahwa mimpi, cita-cita, atau jalan hidup manusia itu bersifat unik, tidak akan pernah sama satu sama lain. Karenanya, terasa tak bijak apabila ada pihak yang mencoba memaksakan idealisme mimpi dan cita-cita mereka pada orang lain, atau membandingkan pilihan jalan hidup kita dengan milik orang lain lalu menarik kesimpulan secara objektif dan semena-mena. Bagiku, tidak ada satu pun mimpi manusia di dunia ini yang bernilai salah atau bernilai lebih benar dari lainnya. Kesanggupan realisasi dan nilai kebenaran sebuah mimpi berlaku relatif terhadap pelaku, penggagasnya sendiri. Bukankah kita hanya butuh kepercayaan dan rapalan doa dari mereka yang mengaku menyayangi kita?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak ada yang lebih mengutuhkan kita sebagai manusia selain terus belajar mencari jalan memapankan mimpi dan cita-cita lalu mendedikasikannya untuk orang-orang di sekitar kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku hidup untuk menaklukkan mimpi. Maka apa fungsi jiwa yang bernyawa kalau pundi-pundi mimpiku tak dapat tersentuh lagi?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Ah sudahlah. Ini bukan waktunya menggerutui mereka&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekian detik aku lewatkan hanya dengan memandangi lekat-lekat gelas di hadapanku sembari melafalkan kembali dalam hati ratusan kalimat pembenaran atas tindakanku. Mulutku kini hanya sejengkal saja dari gelas berisi zat pemusnah serangga yang akan membantuku menyudahi semuanya. Aku tersenyum tegar, senyum yang juga diperlihatkan oleh Takuya Kimura ketika ia memerankan Manpyo Teppei dalam film serial Jepang favoritku, &lt;i&gt;Karei-naru Ichizoku&lt;/i&gt;. Bedanya, ia tampak sedikit lebih bergengsi dengan menggunakan senapan buru berpeluru tunggal milik kakeknya untuk &lt;i&gt;harakiri&lt;/i&gt; di bawah pohon besar, di puncak gunung Sasayama, yang memutih karena salju akhir tahun. Aku tak punya senapan, maka cukuplah segelas racun serangga menggantikan perkakas itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bibirku menyentuh bibir gelas dan telepon genggam di atas kasur berdering meneriakkan lagu Doraemon. Pasti panggilan dari orang rumah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Halo” jawabku pelan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;i&gt;Om&lt;/i&gt; Ajiii, kapan pulaaang? Bimo kangen &lt;i&gt;nih&lt;/i&gt;. Sabtu besok ya &lt;i&gt;Om&lt;/i&gt;?” suara anak kecil, putra pertama abangku. Seperti biasa menjerit-jerit riang, memintaku segera pulang dan membawakan sekotak &lt;i&gt;burger &lt;/i&gt;daging kesukaannya atau sekedar menantangku beradu strategi dalam permainan perang di &lt;i&gt;video game&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Iya, Bimo. &lt;i&gt;Om&lt;/i&gt; Aji masih &lt;i&gt;ribet&lt;/i&gt; disini. &lt;i&gt;Nggak&lt;/i&gt; bisa janji ya, anak manis” aku menjawab sekenanya, berharap anak ini tidak memperpanjang waktu dengan menagihku berdongeng via telepon tentang kelanjutan cerita hubungan kekerabatan antara Ken Arok dan Wonder Woman. Imajinasiku kadang memang sedikit keluar jalur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;i&gt;Yah&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Om&lt;/i&gt; Aji jahat! Pokoknya Sabtu besok, Bimo tunggu.” Dia mengancam, lalu menutup telepon. Seorang Bimo, seperti Bu Siti, kembali menunda rencanaku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku mengulangi adegan tadi dengan lebih sempurna. Semua akses masuk ditiadakan. Telepon genggam segera kubuat diam, tirai dirapatkan, dan pintu kamar kupastikan terkunci dengan benar. Aku kembali tersenyum bersahaja menghadapi ramuan dalam gelas kaca. Jengkal terakhir aku jadikan serangkaian ucapan selamat tinggal untuk bapak, ibu, abang, adik-adikku di rumah, dan Gaza, wanita dengan kualitas luar biasa yang sempat menjadi bagian dari cita-citaku. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ji, buka Ji...” pintu kamarku diketuk dengan brutal. Sepertinya aku mengenali suara parau orang yang sedang berdiri di balik pintu itu, di depan kamarku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Sial&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Ah&lt;/i&gt;, ini sama sekali tidak lucu. Tiga kali sudah aku gagal menuntaskan acara pribadiku. Kali ini Omar, rekan sekantorku tiba-tiba datang dengan baju berantakan dan mulut beraroma &lt;i&gt;wine&lt;/i&gt; kelas atas. Tubuhnya seperti sedang tak bertulang, mulutnya berulang kali meracaukan kalimat-kalimat putus asa yang tak kupahami benar maksudnya. Omar memang sedikit labil. Sebulan lalu ia sampai harus terbaring lemas di rumah sakit karena diare akut, tiga hari tiga malam saat seharian penuh si istri mendiamkannya hanya karena sebiji mutiara hitam yang belum mampu terbeli. Kondisi kejiwaan Omar yang naik turun pasca pernikahan kadang memancing banyak pertanyaan dari teman-teman kami tentang bagaimana sebenarnya dulu dia memilih istrinya. Tragedi berseri pada rumah tangganya adalah salah satu penyumbang keraguan terbesar kami, para lelaki untuk segera menikah. Kalau saja semua kaum Adam bernasib sama seperti Omar, habislah sudah dunia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belakangan, dari racauannya yang dengan susah payah kudengarkan, aku tahu bahwa si istri sedang berulah lagi. Ia berkeras minta diceraikan dan saat ini mereka tak lagi tinggal serumah. Istrinya entah kemana, mungkin sibuk berburu mutiara hitam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Saya bunuh diri saja ya, Ji.” Ia berseloroh lemas sambil meringkuk di salah satu sudut kamarku, berseberangan dengan tempatku duduk bersila.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku menatapnya, lama. Orang ini, tampaknya hanya butuh teman bicara untuk sekedar bercerita dan berkelakar bahwa ia ingin menghabisi hidupnya sendiri. Iseng, aku mendekatkan barang-barang yang tadinya akan kujadikan alat eksekusi bagi nyawaku. Segelas obat serangga, seutas tali pramuka, dan pisau komando dua mata. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“&lt;i&gt;Nih&lt;/i&gt;, kamu tinggal pilih sarananya dan jangan pernah minta persetujuan saya mengenai keinginan bunuh dirimu. Mati ya mati saja, Mar. Susah amat? Kalau kamu percaya bahwa dengan mati semuanya akan terasa lebih baik, lakukanlah dengan gagah. Tak perlu melapor ke siapapun, &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Omar mendongak cepat, mata merahnya menangkap wajahku yang sedang mengangkat satu alis, menantang nyalinya untuk menepati kata-katanya sendiri. Omar tak pernah tahu, tenggorokanku sedang tercekat, mendengar kata-kata yang meluncur bebas dari mulutku beberapa saat lalu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Mati ya mati saja, Ji. Susah amat? Ah, kata-kata siapa itu tadi?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sadis kamu, Ji. Bukannya menghibur, malah ditawarin pisau &lt;i&gt;nyeremin&lt;/i&gt; model begini.” Omar tiba-tiba bertransformasi menjadi remaja labil berusia tujuh belas tahun yang baru saja putus cinta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Mar... Mar..., dasar &lt;i&gt;cupu&lt;/i&gt;! &lt;i&gt;Udah&lt;/i&gt;, tidur &lt;i&gt;aja gih&lt;/i&gt;. Kalau besok kamu bangun dan masih ingin bunuh diri, bilang saja. Nanti saya pinjamkan lagi barang-barang ini.” Aku tertawa lebar, entah menertawai apa dan siapa. Rasanya, aku hanya sedang berbicara pada diri sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Omar menyerah tanpa syarat di tanganku. Ia lebih memilih tidur bergelung selimut daripada mati. Hanya butuh lima menit untuk mendengar dengkurnya yang bernada &lt;i&gt;fals minor&lt;/i&gt;, pantas saja istrinya kabur. Aku berdiri meluruskan kaki, meraih jaket coklat tua pemberian Gaza, lalu berjingkat pelan meninggalkan kamar, menutup pintu perlahan. Ada yang harus kukerjakan di rumah Bu Siti. Sebatang rokok kretek yang sudah menyala kuselipkan di mulut yang seakan-akan masih beraroma obat serangga. Aku melangkah santai menuruni tangga kayu, menghirup nafas sedalam mungkin, menikmati aroma asap rokok dan udara malam yang bercampur&amp;nbsp; mesra. &lt;i&gt;Wow&lt;/i&gt;, ini sungguh sempurna dan ya, berada di sekitar orang-orang seperti Bu Siti, Bimo, dan Omar kadang mampu membangkitkan perasaan ‘merasa dibutuhkan’ dan ‘diandalkan’. Suatu faktor lain dari eksistensi pribadi, selain originalitas mimpi. Mereka bertiga sukses membatalkan niatku, setidaknya untuk hari ini. Toh, ternyata aku tak memiliki nyali sebesar si Teppei untuk sedemikian ikhlas bunuh diri. Mati itu mudah, mematikan diri sendiri itu, susahnya minta ampun. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku memang hidup untuk menaklukkan mimpi. Tapi sayang, kaidah ini tidak akan pernah berlaku sebaliknya. Hei, sudah ya, selamat tinggal mati. Aku pamit dulu ke rumah Bu Siti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Dasar bodoh&lt;/i&gt;. Aku mengumpat hatiku sendiri&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-4251570788071008406?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/4251570788071008406/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/10/anti-biimplikasi.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4251570788071008406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4251570788071008406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/10/anti-biimplikasi.html' title='Anti Biimplikasi'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-8266106238652207112</id><published>2010-10-12T15:55:00.001+07:00</published><updated>2010-10-12T15:57:11.638+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Bunda Pulang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Horeeee, maemnya Mas Dimas sudah habiiis...!"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kami duduk berhadapan di ruang tengah, di atas hamparan karpet putih dari bulu domba, bersebelahan dengan televisi datar selebar tiga kali rentang tanganku, di bawahnya tertulis label 'Panasonic',&amp;nbsp; yang kemarin baru saja berhasil kubaca dengan benar. Aku bertepuk tangan riang mengikuti gerakan tangan yang dicontohkan Mbak Sum. Suara antusiasnya selalu saja berhasil memancing adrenalinku. Dia selalu bersorak -sorai untuk menandakan sesi makan sudah berakhir, hingga deretan gigi depannya yang besar bagaikan bji delima kelebihan hormon pertumbuhan terlihat jelas. Urat nadi lehernya demikian terlukis tajam, berwarna ungu muda, seperti selang air mini. Detik ini, setidaknya ada lima butir keringat di wajah Mbak Sum, empat butir tersebar di kening lebarnya dan satu butir lagi di pipi sebelah kiri. Hidung mengkilat perempuan ini kembang kempis kira-kira setiap dua detik sekali. Aku bisa melihat jejak keringat berbentuk cakram tak sempurna di bagian ketiak baju merah mudanya saat ia mengangkat tangan tinggi-tinggi, sekelebat lalu tercium aroma bedak tabur dan minyak telon yang biasa dibalurkan ke sekujur badanku setiap aku selesai mandi, bercampur dengan aroma lain yang agak susah dijelaskan. Ah, bau itu, bahkan kini aku mulai piawai mendeteksinya dari kejauhan, saat ia masih berkutat di dapur atau menjemur pakaian dalamku di beranda lantai dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aroma Mbak Sum tak terdefinisi, tapi setidaknya selama ini aku mampu ditenangkan oleh eksistensi aroma miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, di rumah ini, bagiku, ia merupakan satu-satunya sosok orang dewasa yang tak pernah berubah. Aku tidak perlu menghafal sosok Mbak Sum setiap hari. Ia bukan pribadi dengan rumus yang susah dicerna, dan sepertinya memang hanya Mbak Sum yang sanggup bertahan hidup denganku. Hidup yang buatku penuh main-main, warna, spontanitas, dan gelak tawa. Lagipula aku tidak tahu, mengapa beberapa bulan belakangan, semua manusia dewasa di tempat ini mendadak menjelma menjadi makhluk sulit yang kemarin gembira, sekarang berduka, dan esok penuh angkara. Bunda, adalah contoh manusia sulit yang aku maksudkan. Sedangkan Ayah adalah contoh manusia sulit kedua. Mereka berdua seolah telah memiliki taman bermain masing-masing dan tak pernah ada aku, di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada lagi acara bergelantungan di punggung lebar ayah begitu ia turun dari mobil sepulang kantor, tidak pernah ada lagi suatu pagi dimana bunda mencandaiku di kamar mandi, menghamburkan gelembung sabun hingga rambut hitam panjangnya seperti baru dihujani salju gunung Fujiyama. Tidak ada lagi sore yang menampilkan ayah sedang berbaring santai, dengan bunda dibahu kanannya dan aku di bahu kirinya, bersama-sama menonton serial kartun fovoritku, Dora the Explorer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas, ayo dibasuh dulu tangannya, setelah itu baru kita bermain lagi," suara &lt;i&gt;cempreng&lt;/i&gt; Mbak Sum menyelamatkanku dari pencarian jawab untuk pertanyaan-pertanyaan yang tak hingga banyaknya tentang bunda, ayah, dan kami bertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun terlambat, saat ini aku sedang berada tepat di depan kamar tidur Bunda. Pintunya sedang terbuka, sedikit. Aku selipkan pandangku ke celah pintu merah muda yang dulu sering kami jadikan alat untuk saling bermain petak umpet. Ayah kerap menaruhku di kolong tempat tidur ketika Bunda sedang menutup mata dan menempelkan separuh tubuhnya di pintu itu. Aku masih merekam jelas, teriakan-teriakan histeris kami saat akhirnya Bunda berhasil menangkapku di kolong persembunyian penuh debu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatanku juga masih menyimpan rapi, perihal ayah yang gemar menghujani kening dan pipi bunda dengan kecupan, setelah kami bertiga kelelahan dengan permainan konyol yang kami ciptakan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua mataku menangkap bunda yang duduk terpekur di sudut kamar Entah ada berapa lembar tisu yang bergeletakan di sekitarnya. Wajah bunda tertumpu pada kedua lutut yang dia lipat erat-erat, hingga tubuhnya nampak semakin mengecil. Pundaknya bergerak naik turun, dan dari sini aku bisa mendengarkan sayup sesenggukan nafas bunda yang berkejaran dengan suara isaknya. Ah, bunda sedang menangis rupanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergerak pelan, memberanikan diri mendekati bunda yang sudah lama tak lagi menjadi bunda untukku. Hatiku melakukan tebakan acak ala orang dewasa. Ya, mungkin bunda sedih karena tak lagi dapat bermain bersama aku dan ayah, atau karena kantor tempat ayah bekerja selalu saja membuatnya pulang larut malam sehingga tidak lagi ada kecupan untuk bunda, di kening dan pipinya. Yes, tiba-tiba aku punya ide jenius untuk mengakhiri sunyi di rumah kami, untuk membiarkan Mbak Sum istirahat sejenak dari kesibukannya menemaniku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bunda, Dimas mau main petak umpet. Bunda ikut, yuk? Mau ya?" aku meraih tangannya ketika dia akhirnya menengadahkan wajah ke arahku. Ini kesempatan bagus, batinku. Aku menjatuhkan diri ke tubuh bunda, memperagakan pelukan manja yang sering bunda ajarkan padaku, lalu melayangkan satu, dua, tiga, empat, lima kecupan ke wajahnya, persis seperti cara ayah, dulu. Aku terhenti pada kecupan ke enam, setelah bunda menjauhkan tubuhku dari tubuhnya yang berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak sedetikpun memandangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak Sum, bawa Dimas tidur siang! Kamu kemana aja sih?" Bunda mengeraskan suaranya, menghardik Mbak Sum yang bahkan menurutku tak membuat kesalahan sebiji apel pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih memandangi bunda, baju tidur lusuhnya, dan tisu yang berserakan dimana-mana saat Mbak Sum bergegas mengangkat dan menggiringku ke luar kamar. Bunda tak bergeming. Sepertinya, ideku tadi belum terlalu jenius. Ah, sudahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Dimas mau tidur atau main sama Mbak?" kami kembali duduk berhadapan, kali ini di atas tempat tidurku. Mbak Sum dengan aroma khas yang tak pernah terdefinisi, dengan suara &lt;i&gt;cempreng&lt;/i&gt; yang tak pernah sunyi, dengan tawa yang selalu memamerkan gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, bahkan tak pernah lagi memahamiku seperti Mbak Sum. Bundaku sekarang, mungkin hanya seonggok tubuh dengan aroma dan sorot mata yang tak kukenali. Bunda yang sebenarnya ada, tapi nyatanya tak pernah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah Bunda, semoga ia segera pulang ke taman bermainku, bersama ayah dan segudang permainan konyolnya, menyelesaikan rindu yang tak pernah lunas, hanya dengan seorang Mbak Sum.&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&amp;nbsp;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-moz-background-clip: border; -moz-background-inline-policy: continuous; -moz-background-origin: padding; background: transparent none repeat scroll 0% 0%; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-8266106238652207112?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/8266106238652207112/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/10/bunda-pulang.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/8266106238652207112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/8266106238652207112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/10/bunda-pulang.html' title='Bunda Pulang'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-3420975898786651366</id><published>2010-09-29T15:02:00.000+07:00</published><updated>2010-09-29T15:02:16.075+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Monolog</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oh, pukul dua malam, dan aku belum juga terpejam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para serangga sepertinya sudah tidur mendahuluiku. Entahlah, fenomena ini tidak biasa. Tapi mungkin mereka hanya sedang lelah saja, atau mungkin esok hari akan digelar ujian nasional serangga muda, sehingga tidak ada lagi remaja serangga yang terjaga disaat sedini ini. Ya, mungkin saja. Mereka harus bersiap, menjaga stamina dan konsentrasi untuk mengerjakan soal-soal teori umum keseranggaan. Baiklah, aku mengerti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak ada serangga berpawai. Aku terpaksa hanya ditemani bantal, guling, selimut tebal bercorak Sponge Bob, sedang berkaca-kaca memeluk Patrick, serta nyanyian katak sawah yang terdengar agak aneh dan riuh tak berirama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bicara mengenai katak sawah, sesungguhnya mereka kerap mengundang iri. Makhluk hijau berlendir yang selalu saja ramai dan berkecipak di kubangan air, yang berteriak, melompat, dan berdengkang untuk memanggil betinanya masuk ke peraduan, ah! mendengarkan mereka bersahutan justru menjadikan sunyiku lebih kronis. Sunyi yang tidak pernah punya tempat melapor. Sunyi yang sedang kebingungan menyembunyikan diri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lihatlah, katak sawah mungkin tidak tidur, sedangkan aku benar-benar kehilangan kemampuan bahkan untuk sekedar terpejam. Aku tidak bisa tidur, berbeda bukan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hujan menumpahkan diri lagi dan para katak semakin ribut. Telepon genggam hitam di meja pojokan kamar kupandangi senanar-nanarnya. Disini, benda itu cukup senilai jika disejajarkan dengan pengganjal pintu atau benda pejal pelempar tikus usil pengintip lemari orang. Sebenarnya ia masih baik-baik saja, hingga aku harus berada di sebuah pulau kecil dimana kehidupan masyarakatnya terjebak dalam kesederhanaan yang begitu super. Kawasan yang sama sekali belum terjangkau jaringan komunikasi dan akses informasi, tanpa sambungan arus listrik yang memadai, sarana dan prasarana transportasi, serta jaringan air bersih yang memungkinkan aku untuk hidup normal dan waras. Hanya jika aku sedang sabar saja, telepon genggamku beralih fungsi sebagai kamera dan pemutar musik. Selanjutnya, ia lebih sering terjepit di sela tempat tidur. Bulan lalu, demi menghirup udara peradaban sesaat saja, lima ratus ribu rupiah harus aku bayarkan pada bapak pemilik perahu kayu di pesisir sana. Tiga jam perjalanan dengan perahu yang kadang terlihat malas untuk tetap mengapung, tidak terlalu mahal sebenarnya untuk membiayai sebuah perjumpaan dengan suara riang mereka yang berjarak milyaran jengkal denganku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dua belas bulan, aku ditugaskan di pulau minimalis ini. Tepat hari ini, aku merayakan bulan ketigaku, bersama gerombolan katak sawah yang nampaknya sedang berkeluarga dan alat komunikasi yang kehilangan fungsi. Sungguh perayaan sempurna.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setengah tiga, dini hari. Aku meringkuk mendekap kedua lutut sendiri, membelakangi kasur bermotif Phoenix Ikki, salah satu karakter Saint Seiya favoritku. Ada yang harus dilunasi sekarang juga, meskipun mungkin dinding-dinding kamar akan tertawa, menduga aku sudah gila, dislokasi jiwa. Aku meraih telepon genggam, mencari namanya, menekan tombol hijau, lalu menulikan telingaku sebentar,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Calling&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Istriku ...&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Halo Sayang, aku belum mandi dua hari dan sudah makan mi instan tiga kali hari ini. Tapi aku kangen kamu, boleh ya? Baik-baiklah disana. Selamat nonton Sponge Bob, besok pagi. Titip salam buat Patrick. Aku sayang kamu...”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sunyi kembali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku menekan tombol merah, membenamkan kepala pada lipatan tubuhku sendiri, menyembunyikan air mata dari asap obat nyamuk bakar yang bergoyang, seolah menari, menghina naifku di suatu ujung pagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hujan berhenti, katak sawah tetap antusias bernyanyi. Aku tidak peduli, karena hari ini rinduku sudah diakhiri. Hanya untuk hari ini. Entah, bagaimana dengan nanti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;﻿&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-3420975898786651366?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/3420975898786651366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/09/monolog_29.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3420975898786651366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3420975898786651366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/09/monolog_29.html' title='Monolog'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-9048801674269780817</id><published>2010-09-24T17:52:00.000+07:00</published><updated>2010-09-24T17:52:06.845+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Orizuru</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TJyCMnnq33I/AAAAAAAAATY/u5k3mRGdZzI/s1600/ourorizuru.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="338" src="http://1.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TJyCMnnq33I/AAAAAAAAATY/u5k3mRGdZzI/s400/ourorizuru.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku bersembunyi diantara ratusan manusia bertoga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sabtu pagi, gedung megah berornamen kayu ukiran tradisional di setiap sudut atapnya ini tengah menjelma menjadi lautan manusia berbusana hitam dengan tatapan penuh binar ceria. Sungguh tidak ada sebijipun kesedihan tercecer di lantainya. Para wanita terus tersenyum mengembangkan bibir mereka yang terlapisi gincu warna-warni, menengok ke kanan dan kekiri, bercanda kecil kesana kemari sambil sesekali membenarkan posisi sanggul yang bagiku lebih mirip seperti adonan roti jumbo coklat isi pisang sedang bergelayut di kepala, atau berulang kali merapikan kain kerudung mereka yang sering meleset hanya karena terlalu lepas tertawa. Para pria pun sibuk mengeringkan keringat di dahi masing-masing, melonggarkan simpul dasi, membuka kancing jubah, dan tidak pernah lupa memajang air muka polos ketika matanya sedang berkeliaran menggerayangi sekujur gedung demi mencari makhluk yang menurut mereka paling ayu lalu buru-buru berbisik girang pada teman disampingnya ketika makhluk paling ayu itu ditemukan. Sekalipun mereka tak pernah mengenalnya. Ah, dasar lelaki!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku sedang menatap deretan sisi kiri tribun undangan ketika cahaya gedung meredup perlahan bersama hymne institusi yang dilantunkan penuh khidmat, sekaligus sebagai penanda dimulainya prosesi penasbihan. Setiap pasang mata seolah dikomando untuk tertuju pada kedatangan barisan bersahaja para guru besar, sedangkan aku lebih memilih untuk menangkap kelebat samar-samar bayangan Bapak dan Ibu yang sedang duduk bersama ratusan orang tua lainnya. Mereka ada disana dengan wajah tercerahnya. Ibu tak pernah bisa duduk tenang, mungkin karena terlalu ribut memperhatikan setiap jengkal megahnya arsitektur gedung dan menamatkan satu demi satu acara yang mungkin bagi ibu masih terlihat asing dan begitu mengagumkan, walaupun sebenarnya terhitung sudah dua kali beliau menyaksikan kegiatan protokoler semacam ini, memenuhi undanganku, dan kakakku, beberapa tahun lalu. Bapak tak kalah antusias, beliau mengeksploitasi kamera digitalnya tanpa ampun, entah objek apa yang berusaha diabadikan, yang jelas hanya ada satu kilat lampu yang setiap sepuluh detik berkedip di tribun kiri atas. Aku berani menjamin, itu ulah Bapak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka tampak luar biasa bahagia, seperti induk ayam yang berkotek sepanjang hari karena telur-telur eramannya telah berhasil menetas dengan selamat dan sempurna.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Bapak hanya ingin kamu lulus, lalu mandiri dulu seperti mereka-mereka yang lain," dihisapnya dalam-dalam sebatang rokok kretek yang terjepit di tangan kirinya, diantara telunjuk dan jari tengah setelah serta merta memotong kalimat permohonan yang aku sampaikan pada beliau.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Bapak, ini bukan bentuk inkonsistensi. Menikah, bukan berarti memupus cita-cita, tidak lalu harus memenjara jiwa. Semua sudah kami diskusikan, Pak. Jadi mari sama-sama percaya bahwa kekhawatiran Bapak tidak akan terjadi," aku berusaha setenang mungkin, menghirup oksigen sebanyak mungkin, meminimalkan emosi yang sebenarnya sudah beranak-pinak sejak bapak selalu saja punya alasan cadangan setiap kali alasan penolakan beliau sebelumnya berhasil dimentahkan. Aku tahu persis, bapak tidak benar-benar memiliki alasan logis untuk menyertai penolakannya. Namun ternyata beliau masih saja memerankan lakon sebagai seorang baginda raja yang instruktif dan absolut. Bahkan ketika putrinya sudah berusia seperempat abad dan sedang meminta sebuah pernikahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Jangan macam-macam! siapa yang pengaruhi kamu? pokoknya harus lulus dulu. Kamu tahu, tidak ada instansi yang mau menerima wanita yang sudah menikah! Mau kamu anggap apa Bapak dan Ibu yang sudah susah payah merawatmu sejak kecil, hah? Senang kamu kalau Ibumu sakit-sakitan hanya gara-gara memikirkan kemauan konyolmu itu? Kamu itu wanita, Nak, mana harga dirimu?!"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Muka bapak memerah, rokoknya dilempar ke meja, sekenanya. Suaranya meninggi, kedua matanya membelalak ke arahku dan aku tahu sejak saat itu habislah sudah ruang dan kesempatan untuk berdiskusi secara jernih dengan bapak. Aku melirik ibu, beliau melirikku dan matanya seolah bicara : &lt;i&gt;Sudahlah, benar kan kata ibu?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prosesi terus berjalan dan entah mengapa gedung ini tiba-tiba beraroma kayu manis segar, justru ketika acara sedang tiba di bagian paling membosankan. Aku menghirup aroma lembutnya dalam-dalam dan menghelanya perlahan, sama persis seperti helaan nafasku ketika bapak tanpa sadar mencibirku, merendahkan putrinya sendiri dengan mengatakan aku tak lagi berharga diri dan telah kehilangan identitas, bahwa aku dianggap telah dipengaruhi, bahwa aku tak akan pernah hidup sukses dan bahagia dengan konsep berpikir yang kusampaikan saat itu. Bapak mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa wanita mandiri pasti akan mendapatkan apapun yang diinginkan. Semuanya, menurut beliau akan berlangsung mudah dan bebas derita. Sejak saat itu aku sadar, konsep kesuksesan dan kemandirian versiku sangat berbeda dengan konsep milik bapak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ah sudahlah, aku harus membubarkan lamunanku sendiri saat Ibu tiba-tiba melambaikan tangannya ke arahku. Aku membalasnya dengan sebuah lambaian kecil. Ya, paling tidak aku masih punya alasan untuk bahagia dengan berusaha membahagiakan mereka. Benar-benar konsep pengabdian klasik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka berhiruk-pikuk seorang diri, tanpa pernah ingin bertanya bagaimana konstruksi mimpiku sebenarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mimpi, bahkan aku tak lagi berani menanyakan pada hatiku sendiri, bagaimana kabar mimpi-mimpiku dulu. Aku kehilangan cetak biru mimpiku sendiri, kehilangan denah, kehilangan kawan yang sempat bersama-sama mengarsiteki penggabungan kedua mimpi kami. Aku bahkan harus pura-pura lupa dan buta untuk kemudian menggambar ulang mimpi itu berdasarkan imajinasi Bapak dan prinsip balas budi yang selalu terdengar sangat mulia. Aku tersenyum pahit, membuka genggaman tangan kiriku dan kembali melihat lipatan kertas merah kecil lusuh disana. Namanya, masih tertulis jelas. &lt;i&gt;Arga, dimana dia sekarang?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Tidak ada yang salah dari pendapat Bapak, Nis," akhirnya Arga bicara setelah lima belas menit kami diam dan hanya memandangi kaki masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Ya, dan tidak ada yang salah juga dengan pendapat kita, beliau sebenarnya tidak benar-benar punya alasan kan?" aku menoleh, mencari persetujuan ke wajahnya, matanya terpejam. Aku kembali menunduk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kita mungkin hanya belum pernah merasa, bagaimana rasanya jadi orang tua. Kamu itu wanita luar biasa, Nisa. Penuhilah ekspektasi Bapak, buat beliau bangga. Kelak, kamu pasti akan dapatkan apa yang kamu inginkan," ia tersenyum, mungkin untuk menyamarkan suaranya yang mulai bergetar. Arga terus menunduk sambil memainkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Burung_jenjang"&gt;&lt;i&gt;orizuru&lt;/i&gt;&lt;/a&gt; hijau yang aku berikan padanya, disayapnya tertulis namaku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kami akhirnya menuntaskan pertemuan itu tiga puluh menit kemudian. Penuntasan yang kami penuhi dengan canda tawa dan mata yang membasah. Penuntasan setelah lima kali dalam kurun waktu enam bulan Arga menghadap bapak untuk meyakinkan bahwa dia sungguh-su&lt;a class="cssButton" href="javascript:void(0)" id="previewButton" onclick="void(0);" target=""&gt;&lt;/a&gt;ngguh ingin melamarku, putrinya. Penuntasan setelah bapak tetap bersikukuh bersandar pada keputusan awalnya, mengatasnamakan kemandirian dan kebahagiaan sepihak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Simpan ya Ga, kalau nanti kamu berjodoh dengan orang lain, boleh kamu buang kertas jelek itu," ia mengangguk pelan. Aku memperlihatkan senyuman terbaikku sambil menunjukkan padanya benda berwarna merah dengan bentuk serupa. Aku ingin dia tahu bahwa aku juga menyimpannya, entah sampai kapan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat itu, kami berkeras mengingkari sedih yang mengepung dari segala penjuru arah, mengelak airmata yang jelas menetes malu-malu dari mataku dan matanya. Arga berpamitan, aku tetap berdiri di depan pagar hingga punggungnya hilang di tikungan ujung jalan, hingga suara unik motornya tak mampu lagi tertangkap telingaku. Kami seolah baru saja merayakan perpisahan tanpa alasan. Belakangan, aku sadar bahwa perpisahan seperti itu adalah kehilangan paling rumpang, kesedihan paling sepi, dan kesepian paling sedih yang hingga kini masih betah mendiamiku tanpa pernah mampu tertawar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Hush&lt;/i&gt;! Aku melamun lagi, dan kali ini tubuh dan jiwaku diselaraskan oleh Cory, teman duduk yang sepertinya sejak awal sudah sibuk memuja-muji ketampanan para anggota tim paduan suara yang berkelompok di sudut kanan depan. Ia menepuk pundakku dua kali.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Eh, namamu sudah dipanggil, mau nerima ijazah nggak? Buruan maju gih,"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku melangkah cepat dan sekali lagi menoleh ke arah ibu dan bapak. Namaku disebut beserta dua macam gelar yang berhak aku sandang. Indeks Prestasi Kumulatif yang pada jaman sarjana dulu selalu tabu untuk dipublikasikan, kini dengan tegas dibaiat sebagai pencapaian sepuluh besar terbaik se-Institusi. Judul tesis yang pada halaman persembahan turut kucantumkan namanya : Alif Arga Kawuryan, setelah nama orang tuaku sendiri juga dibacakan sebagai salah satu karya ilmiah yang berhasil didaftarkan pada Jurnal Sains Internasional. Aku menjabat tangan Rektor, mengucap terimakasih beberapa kali dan berucap dalam hati untuk Bapak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Putrimu berhasil, Pak. Mimpi Bapak sudah terwujud kan? Lalu apa lagi setelah ini?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku segera kembali ke barisan tempat duduk asalku tadi dan tertawa lebar ketika Cory mengacungkan dua ibu jarinya lalu rela berdiri untuk memperagakan gerakan membungkukkan punggung, berpura menyembah kawannya sendiri. Aku memeluknya cukup lama, berterimakasih atas dua tahun bersamaku yang lebih dipenuhi curahan hati daripada mendiskusikan materi kuliah. Dia pandai mendengarkan, terasa pas denganku yang pandai bercerita. Tidak penting apakah kami sependapat atau tidak, karenya kenyataannya, kami banyak bertentangan dalam banyak hal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Nisa, itu artinya dia nggak begitu sayang sama kamu. Harusnya dia mau nunggu tuh, selama apa sih dua tahun? udahlah, lupain aja dia," Ini adalah contoh bentuk sinisme Cory terhadap karakter dan prinsip Arga. Dia juga merupakan satu dari sekian banyak orang yang belum atau tidak paham bahwa aku sudah lama meletakkan pusara kematian pada makhluk bernama 'Pacaran', bahkan jauh sebelum aku mengenal Arga. Bibirnya bawahnya selalu dimajukan beberapa sentimeter setiap kali aku mengatakan bahwa bagiku -yang sudah sekian lama malang melintang di jagat persilatan negeri Pacaran-, makhluk ini tidak akan pernah menjanjikan apapun, tidak pernah nyata, penuh topeng kepura-puraan dan selalu berada di area abu-abu, tanpa konteks relasi yang jelas. Cory bahkan kerap mencandaiku, sebaiknya aku hidup di Mesir saja, mulai mengenakan baju kurung longgar, dan cadar. Aku membalas sekenanya, bahwa dia akan menemukanku mati kehabisan nafas jika aku menuruti sarannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cory tidak pernah mengerti, aku dan Arga ingin menikah, bukan berbangga diri dengan status pacaran. Bukankah ini tidak ada hubungannya dengan Mesir atau wanita bercadar?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjelang tengah hari, prosesi penasbihan berakhir. Gedung yang tadinya bernuansa sakral dan penuh wibawa, kini seketika berubah menjadi studio foto temporer. Bapak menghujani pipiku dengan ciuman dan mengambil beberapa momen untuk diabadikan, Ibu memelukku sambil menangis sesenggukan, mereka tidak berhenti meluncurkan kalimat dengan kandungan kata 'Bangga', 'Bahagia', dan semacamnya. Aku berusaha menyatu dengan euforia yang sejak tadi pagi mereka ciptakan sendiri, menenggelamkan diri pada gelak tawa, hanya supaya sedih tidak lagi melukiskan Arga dimana-mana. Aku berharap hatiku kehabisan nafas, lalu sibuk mencari lubang udara, hingga akhirnya lupa menyisihkan tempat untuk Arga. Tapi hari ini aku diberitahu, nampaknya semesta tidak merestuiku untuk membunuh hati sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Nisa...,"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku menatap wajah bapak dan ibu bergantian dengan tubuh gugup, memastikan bahwa suara ini benar-benar nyata. Ibu terperangah, sedangkan bapak mengusap pipiku dan berkata bahwa mereka akan menungguku di mobil dan aku pun mendapat jawaban. Mereka bertiga saling berjabat tangan. Bapak, Ibu, dan... Arga. Dia sungguh sedang disini, tepat dibelakangku, berkemeja putih, kurus, dan masih dilengkapi rambutnya yang selalu acak-acakan. Dia, masih Arga yang dulu, yang matanya tidak pernah mampu kuadu dengan mataku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kami duduk berdampingan, berjarak dua kursi lipat biru. Dia membolak-balik telapak tangannya sendiri. Aku, kerepotan menggembala hati yang sudah ingin meloncat keluar, lepas dari kandangnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Ada tugas ke Bandung, Ga?" aku kembali bertanya datar sambil memandangi para kru peralatan berat bekerja membereskan segala sesuatunya. Pertanyaan kesekian yang keluar begitu saja. Gedung sudah mulai sepi, hanya tinggal kami yang entah mengapa sibuk berbasa-basi sejak tadi dan mereka yang sibuk membongkar dekorasi panggung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Arga menggeleng lalu mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya. Didekatkan tangan kanannya padaku dan detik ini aku tidak lagi hanya repot menggembala hati, tapi juga harus menahan luberan air mata yang hendak membanjir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Boleh aku bertemu Bapak lagi?” Arga meletakkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Burung_jenjang"&gt;&lt;i&gt;orizuru&lt;/i&gt;&lt;/a&gt; hijau di kursi sebelahku. Dia kembali diam, mengakrabi jemarinya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dua tahun menimbun semua tentang Arga membuatku sedikit susah bereaksi wajar atas pertanyaannya tadi. Aku terus bicara tanpa menjawabnya. Otakku seakan-akan terus bekerja memutar cerita dari Sabang sampai Merauke, dari kutub utara hingga kutub selatan. Sesekali aku menertawakan ceritaku sendiri meskipun aku tidak tahu dan tidak berani tahu apakah Arga juga ikut tertawa, bersamaku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Nisa, boleh tidak aku bertemu Bapak? Mencoba meyakinkan beliau lagi?” akhirnya dia memotong cerita tak berujungku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku diam dan meyakinkan diri sekali lagi bahwa ini bukan mimpi. Keras aku mencoba mengingat apakah setelah acara penasbihan tadi, aku sedang istirahat siang dan terdampar di sketsa bunga tidur yang didalamnya ada aku, Arga, dan para pekerja itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Ah, tidak. Kalaupun ini hanya mimpi maka bukankah aku berhak membuat ceritanya berakhir indah?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Genggaman tangan kiriku kembali terbuka. Aku menyandingkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Burung_jenjang"&gt;&lt;i&gt;orizuru&lt;/i&gt;&lt;/a&gt; hijau dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Burung_jenjang"&gt;&lt;i&gt;orizuru&lt;/i&gt;&lt;/a&gt; merah, milikku. Sayap-sayap mereka, saling bersentuhan. Aku menatap Arga, dia menatap dua benda mungil hijau-merah itu dan mengangguk tersenyum. Aku percaya dia cukup cerdas untuk menarik kesimpulan dari isyarat gugupku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Semoga Bapak tidak keburu menyarankanmu untuk menempuh program &lt;i&gt;Ph.D&lt;/i&gt;, ya?” Ada nada memohon di kalimat tanyanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Mmm..., sepertinya akan lebih menarik menemani calon &lt;i&gt;Ph.D&lt;/i&gt; mengerjakan disertasinya. Entah di negri sebelah mana, nanti” aku memalingkan muka demi menyembunyikan wajah yang mulai hangat dan terasa memerah. Semoga Arga sedang tidak melihatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Iya tuh, orangnya sudah sangat siap ditemani. Nah, jadi tolong kamu jangan kemana-mana lagi ya, anak nakal?” Arga terlihat gemas, mungkin gemas yang sudah berumur dua tahun. Gemas yang begitu menua, entah apa namanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sabtu siang, dalam hati, aku berlari ke ruang bawah tanah yang sengaja kubangun untuk menyimpan harta kami berdua. Aku menyalakan lampu, mengucapkan selamat datang pada angan-angan yang semakin terang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku tidak tahu, bagaimana harus berterimakasih pada Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kami meninggalkan gedung bersama cetak biru mimpi yang perlahan kembali nyata. Kami menghidupkan kembali mesin-mesin pengaduk semen yang sudah lama digudangkan, tertutupi sarang laba-laba di semua sisinya. Seluruh armada bangunan sudah disiapkan untuk kembali mengkonstruksi mimpi menjadi cita-cita. Kawanku sudah kembali, membawa desain mimpinya, membawa pensil-pensil yang sudah ditajamkan untuk melukiskan kami, di dalamnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ga, maaf untuk dua tahun ini,” lisanku berusaha keras menyelesaikan kalimatku sendiri hingga setetes airmata akhirnya harus jatuh, menjelajahi wajahku yang masih diselimuti partikel tepung muka coklat muda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Nisa, mungkin kita memang hanya butuh waktu, untuk benar-benar sadar bahwa aku, kamu, belum pantas menyerah...”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-9048801674269780817?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/9048801674269780817/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/09/orizuru_24.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/9048801674269780817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/9048801674269780817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/09/orizuru_24.html' title='Orizuru'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TJyCMnnq33I/AAAAAAAAATY/u5k3mRGdZzI/s72-c/ourorizuru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-2457720867228498955</id><published>2010-08-17T23:31:00.011+07:00</published><updated>2011-01-08T06:44:11.693+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Kepada Pilot</title><content type='html'>"Masih optimis kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;"..."&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #c27ba0;"&gt;&lt;i&gt;Aku takut...&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Halo, kok diem?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;"..."&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #c27ba0;"&gt;&lt;i&gt;Ah, kenapa airmata ini bandel sekali? Tissue, mana tissueku?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;"Aku masih optimis. Semoga kamu juga begitu, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;"Hah? Apa? Eh, maaf tadi kurang jelas suaranya"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #c27ba0;"&gt;&lt;i&gt;kamu pilotnya dan aku cuma kopilot yang sering terlibat crash landing&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Kamu optimis kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;"Oh, iya pastilah, tenang saja..."&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #c27ba0;"&gt;&lt;i&gt;dan katakan saja jika memang pendaratan ini akan kembali porak-poranda&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Makasih ya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;"Yap! Makasih jugaaa..."&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #c27ba0;"&gt;&lt;i&gt;Bolehkah aku memohon?&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #c27ba0;"&gt;&lt;i&gt;Oh, kopilot tidak pernah ada yang memohon ya?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #c27ba0;"&gt;&lt;i&gt;Maaf sudah terlalu merepotkan&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #c27ba0;"&gt;&lt;i&gt;Mengapa kita terpilih untuk terbang bersama sih?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #c27ba0;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;"Udah, istirahat gih..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;"Nggak mau, jangan ditutup dulu..."&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #c27ba0;"&gt;&lt;i&gt;Anyway, kamu pilot terbaik untuk kopilot gegabah sepertiku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #c27ba0;"&gt;&lt;i&gt;Maka daratkan burung besi ini semulus mungkin&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #c27ba0;"&gt;&lt;i&gt;Karena esok aku masih ingin kamu ada&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #c27ba0;"&gt;&lt;i&gt;Bersamaku, mengudara kembali.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #c27ba0;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;"Jangan ditutup dulu..."&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: #c27ba0;"&gt;&lt;i&gt;Hei, pilot. Kamu dengar tidak?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-2457720867228498955?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/2457720867228498955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/08/lisan-hati.html#comment-form' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/2457720867228498955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/2457720867228498955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/08/lisan-hati.html' title='Kepada Pilot'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-494481443966024864</id><published>2010-08-14T16:52:00.003+07:00</published><updated>2010-09-16T13:57:37.660+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Menitip Langit</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TGZPYKVsA8I/AAAAAAAAAS0/J9_3Dr0wu34/s1600/CERPENFEMINA.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TGZPYKVsA8I/AAAAAAAAAS0/J9_3Dr0wu34/s320/CERPENFEMINA.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;-Mojokerto, 13 April 2010,  19.45-&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Cis, tenda lima, peserta 32,  emerjensi, segera!"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Siap,  Pak"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pak Anshar, pria berkumis lebat dengan  rahang hampir serupa kubus ini tidak pernah percaya padaku, Senior  Trainer yang sudah tujuh tahun mendampingi beliau mendirikan Sekolah  Alam pertama di Jawa. Panggilan serupa petugas UGD seperti tadi telah  nyaris lima belas kali berdengung di telinga, hari ini, pada tenda dan  peserta yang berbeda. Training sudah berjalan dua hari, aku semakin tak  punya alasan untuk merasa tenang, bahkan si Rahang Kubus pun merasa tak  sudi mengamini saran tim survey dan para trainer sebulan lalu untuk  meniadakan atau setidaknya menunda acara yang aku beri gelar 'Outbond  Gila di Bawah Umur' ini hingga kondisi alam dan tim memungkinkan .&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seharusnya aku memandu, bukan merawat peserta yang setiap  ingin buang air besar saja harus berairmata dan menasbihkan nama mamanya  masing-masing. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kamu paling senior, Cis", "Anak-anak  kelas satu pasti bisa kamu handle"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Tapi SDM lagi mepet, Pak", "Si Adam juga lagi saya kirim  ke Bogor, ekspansi disana"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Cuma  50 anak, Cis", "Ini penting buat promosi kita, bulan depan sudah PSB,  lho!"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baiklah, promosi. Demi tujuan mulia yang  Pak Anshar sebut promosi, aku harus menggembala lima puluh anak berumur  tujuh tahun untuk bergelantungan di pepohonan hutan Pacet tanpa seorang  pun rekan yang setidaknya mengerti bagaimana harus menangani anak kram  perut tanpa mesti tergopoh-gopoh datang, melapor ini dan itu. Sungguh  sempurna. Adam, partner in crimeku sepertinya adalah satu-satunya orang  yang pantas dirindukan saat ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku tidak punya waktu melihat daftar peserta begitu mendengar suara Pak Anshar demikian panik, setengah gemetaran. Tenda lima tak jauh dari Pos, semua peralatan kesehatan terpanggul serampangan. Mungkin dari kejauhan aku lebih mirip kura-kura ninja daripada koordinator pemandu merangkap koordinator lainnya, beranggota mahasiswa-mahasiswa baru gede dimana respon mereka selalu tidak kurang dari setengah jam setelah datangnya panggilan darurat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mataku langsung tertuju pada anak laki-laki yang duduk meringkuk di pojokan tenda. Dia terdengar mengigau, menggigil hebat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Sayang, ini Ibu Cisty, boleh tau nama kamu?", aku membaringkan tubuh yang separuh seperti es dan sisanya  hampir mendidih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;-Bandung, 19 Januari 2001, 15.04-&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kamu suka kata apa, Cis?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Hah? apaan?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan aneh lagi. Liangga lama-lama lebih mirip guru spiritual daripada pasangan. Aku sering menggodanya dengan panggilan Ki Ageng Liangga jika ia sudah memancarkan sinyal keanehan yang menggemaskan, bahkan lebih sering terasa menyeramkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kata, Cis, sebutin kata yang paling kamu suka.."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Oh, mengembara, jelajah, kelana", "Kenapa?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Aku suka langit"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Oya? gak nanya ..."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jitakan tangan kirinya terbang ke kepala, sementara Toyota Corona membawa kami meluncur menuju jalan Braga, mengunjungi galeri seni kawan Liangga, yang juga membawahi usaha percetakan undangan dan desain cinderamata unik khas Bandung.  Katanya, si kawan bersedia dengan ikhlas diuber deadline dua bulan demi pernikahan sahabat masa kecilnya. Ya, pernikahan kami.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Lusa aku ke Sulawesi, Ngga", "Semingguan mungkin disana"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Pentingkah? sebulan lagi, Sayang", "Aku gak mau kamu ditelan Anoa disana"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Anoa mah udah jinak, kamu aja bisa aku jinakin"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sulawesi adalah debut pertamaku dan Adam di daerah konflik. Ini tidak mungkin disia-siakan. Sebelum merasai pelaminan, aku harus mencium Sulawesi dan mengecap rasanya. Berbagi sesuatu dengan penduduk pedalaman yang tidak mengerti apapun selain perang saudara dan hasutan berkepanjangan. Semua sudah disiapkan. Tidak ada alasan untuk tidak berangkat, termasuk rengekan Liangga ketika tahu wilayah operasiku adalah Sulawesi tengah. Daerah Poso. Aku, dengan spontan dan serius malah menawarkan voucher bulan madu kesana. Bukankah ide itu sangat seksi dan eksotis? Dia bilang, mungkin aku gila.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Eh, gimana kalo 'Kembara Langit Semesta', Cis?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Buku baru kamu?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Anak kita, nanti..."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku menatap dia, cukup lama. Liangga akhirnya membuka mulutnya setelah tersenyum dan sadar bahwa aku bukan lagi menatap, tapi lebih terlihat melotot.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Junior, Cis, biar kamu gak lagi hobi keliaran keliling Indonesia"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Liangga, sejak dulu tak pernah suka hobiku menapaki pelosok nusantara. Terakhir, dia ditemukan Adam, tidur beralaskan selembar koran di pintu hutan Papua hanya untuk memastikan tunangannya -Aku, bukan Adam- pulang tepat waktu tanpa memohon perpanjangan waktu sehari pun. Kali itu, dia mirip petugas imigrasi berprestasi yang berhasil menggiring imigran-imigran gelap. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Mmm..., baguslah, berasa kayak pesawat ya ntar dia, kasian"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Bagus dong, pasti gak bakal ada yang punya itu nama!"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Boleh boleh, tapi yang penting Poso dulu nih"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"...." &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jalan Braga pun sepertinya sudah menunggu di ujung sana. Aku alpa mengenai konsep undangan dan buah tangan seperti apa yang Liangga pesan dua bulan lalu pada kawannya itu. Bagiku, yang penting adalah tiket  menuju Sulawesi sudah ditangan, terstempel petugas imigrasi lokal, yang sedang duduk manis di sampingku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;-Mojokerto, 13 April 2010, 20.34-&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aya, anak di pangkuanku ini masih terus mengigau dan menggigil. Segala macam pertolongan pertama sudah dilakukan. Aku terus memastikan dia tetap sadar, sambil mengumpat dalam hati Ambulans yang seharusnya sudah ada disini setengah jam lalu. Damn! Aku pernah seperti ini di hutan Poso, sembilan tahun lalu, nyaris 'habis' tanpa ramuan menjijikkan tapi menyembuhkan ala Adam -Sensei jadi-jadian-, dan sisa ingatan bahwa akan ada anak manusia terjun dari tebing Tangkuban Perahu begitu aku tidak muncul di bandara sore itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pak Anshar membisikkan sesuatu, hingga aroma Fishermen Freshnya tercium hidungku. Ah, sempat ya Bapak ini ngemut permen?!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Cis, Ambulans siap, tapi orang tuanya juga sudah disini, gimana?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kita anter sampe beres aja, Pak"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kamu ato personil nih yang hendel?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepanikan mungkin membuat jiwa Rahang Kubus ini agak susah membuat keputusan. Aku sendiri mendadak antusias untuk terus mendampingi Aya, setidaknya sampai dia dirawat semestinya. Ini melelahkan, tapi Aya terlihat memohon melalui tatapan matanya. Aku menyerah, tatapan ini seperti tak asing di otakku dan aku selalu kalah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Saya atur, Pak. Mereka biar standby disini, pantau yang lain"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Oke, kamu beresin barangnya, Mamanya tadi minta begitu", "Saya tenangin mereka dulu" &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;-Poso, 29 Januari 2001, 16.25-&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan menuju bandara harus tertunda oleh perang batu dan bom molotov di mana-mana. Hujan lebat dan kerusuhan sejak siang tadi memaksa Adam menarik tubuh demamku ke arah pedalaman paling dalam dan tak jelas arah. Kami berakhir kurang beruntung dengan terperosok jauh di lembah jurang yang entah mengapa bagiku lebih terasa bagai melayang di surga. Terlalu banyak kembang warna-warni di sana, maka kombinasi antara halusinasi orang demam tinggi dan kembang dimana-mana membuat aku mengira, Anneke Cisty, sepertinya baru saja meninggal, menjumpai Tuhan. Adam, entah dimana. Aku hanya sayup mendengar jerit ketakutannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Cis, bangun, Cis! Lu jangan mati dulu dong, bareng deh kalo mati, daripada sendirian di jurang begini"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nafasku masih panas, sudut mataku menangkap siluet Adam, menepukkan tangannya ke pipiku. Ah, ini pasti bukan surga, mana mungkin si Adam ada disana? Maka, satu-satunya kemungkinan adalah, aku belum mati dan demam super tinggi ini belum pergi. Sungguh bagus, semoga lembah jurang hutan Poso adalah tempat berguna untuk penyembuhan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Males gue mati bareng lu, gak berkah..."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kampret lu, kita belom bisa kemana-mana, Cis, kaki gue kayaknya retak"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kaki lu retak kenapa gue yang repot? bentar lagi juga gue bisa pulang ndiri"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Periksa deh, lengan lu, kayaknya ada yang salah, tadi sempet gue cek..."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjelang malam, kami memulai ritual doa -pasrah pantang menyerah-. Tidak banyak hal bisa dilakukan oleh seorang patah kaki dan seorang lagi patah lengan di dasar jurang, kecuali menghibur diri dengan bertukar lelucon serta tetap tersenyum untuk setiap nyamuk hutan yang datang bertamu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Berapa lama, Dam?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Semoga gak lebih dari tiga minggu ya, Cis"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Lu mau dateng kan, Dam, ke nikahan gue?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Pasti..."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku menengadah, malam itu hening mengijinkanku menikmati karnaval ribuan bintang. Aku kembali berdoa, menitip maaf pada langit, untuk Liangga. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;-Mojokerto, 13 April 2010, 20.51-&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu orang personilku mengendap pelan memasuki tenda membawakan semua barang milik Aya, bersama lembar surat keterangan yang harus ditandatangani untuk diberikan pada orangtuanya. Aku tersenyum, berusaha menyelimuti jantung yang tiba-tiba memompa darah dengan sangat tergesa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;'Kembara Langit Semesta, Putra dari Sdra. Liangga Agustian telah menerima pertolongan pertama di lokasi FunFaith Training, berupa.....'&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku meraih Aya, matanya sedikit terbuka, tangannya mencengkeram jaketku, memintaku untuk terus menyapu keningnya, mungkin ini membantunya merasa lebih nyaman. Anak yang tampan. Aku menelusuri wajahnya, memeluk erat, lalu berbisik pelan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Papa mama sudah datang, Aya, cepat sembuh, ya sayang"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;-Poso, 1 Maret 2001, 08.25-&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kenapa gak ada yang nyari kita ya, Cis?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Gak minat, ada lu sih, gak selera jadinya..."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini kepulan asap kesekian kalinya. Aku dan Adam, bergantian nyaris membakar seisi jurang setelah entah berapa hari atau bulan kami menjelma menjadi tarzan. Tempat ini benar-benar tak berpenghuni. Segenap mental pun telah dikerahkan dan dibariskan untuk mengukuhkan diri sendiri menjadi anggota tetap hutan Poso. Pembaiatan akan segera dimulai, sampai baling-baling helikopter loreng hijau membuyarkan cita-cita baru kami, menyapu rerimbunan pohon, bergerak turun perlahan, menyipitkan mataku dan membuat Adam histeris girang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Liangga tak terlihat disana. Hanya ada Papa dan Mama, mengucurkan airmata, tak membawa pesan apa-apa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;----------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Sebenarnya, cerita pendek ini telah saya tayangkan di blog pada medio April lalu, 16 April tepatnya. Lalu entah karena kebetulan, keberuntungan, atau kekhilafan, pihak redaksi Majalah Femina akhirnya berkenan memuat karya saya di Femina edisi 32 (14-20 Agustus 2010). Sedihnya, saya diharuskan menghapus segala macam bentuk publikasi cerpen ini.&amp;nbsp; Maka setelah dia selesai dimuat, saya mencoba kembali menayangkan versi aslinya dan berhubung saya sedikit bandel, publikasi lain di &lt;a href="http://www.facebook.com/notes.php?id=1329919953#%21/note.php?note_id=382491558802"&gt;media ini&lt;/a&gt; sengaja tidak saya hapus dengan tujuan untuk menghormati apresiasi dari teman-teman. Oh ya, Femina mungkin perlu berterimakasih pada saya, oplah penjualannya pasti meningkat gara-gara Ibu saya yang mendadak heboh mengajak saudara-saudaranya untuk membeli majalah Femina edisi 32. Duh! saya malu.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Satu lagi, hampir bersamaan dengan 'Menitip Langit', karya saya lainnya, cerpen '&lt;a href="http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/04/i-love-you.html"&gt;I Love You&lt;/a&gt;' kebetulan juga dimunculkan di &lt;a href="http://blog.gagasmedia.net/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=267:i-love-you&amp;amp;catid=36:cerpen&amp;amp;Itemid=77"&gt;blog Gagas Media&lt;/a&gt;. Tidak susah sebenarnya, kita hanya perlu mengirimkan karya kita dan apabila seluruh syarat penulisan terpenuhi, karya kita pasti akan dimuat di blog mereka. Mudah dan menyenangkan :)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Ini sebuah kebanggaan pribadi, karena memang saya belum pernah memiliki pengalaman macam begini (red : katrok) dan kebanggaan ini sempat luntur dengan sadis begitu Ibu saya berkomentar pedas : &lt;b&gt;'Cerita apa itu, Mama kok ndak ngerti blas? Mama kira kisah asmara, ndak taunya cuma begitu saja toh? kok ada nyemplung jurang segala?'&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Saya pun berteriak dalam hati : 'Itu juga kisah asmara, Mamaaaaa!!!'&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Ah, Ibu saya dulu terlalu banyak mengkonsumsi kisah-kisah di Majalah Kartini dan tabloid Nyata. Berbeda dengan putrinya yang kebanyakan membaca kisah coreng dan upik di majalah Bobo, atau Abu Nawas di Mentari. Kita beda jalan, Mama. Maafkan anakmu ini...&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-494481443966024864?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/494481443966024864/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/08/menitip-langit.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/494481443966024864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/494481443966024864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/08/menitip-langit.html' title='Menitip Langit'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TGZPYKVsA8I/AAAAAAAAAS0/J9_3Dr0wu34/s72-c/CERPENFEMINA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-2153627561657967417</id><published>2010-08-03T14:41:00.003+07:00</published><updated>2010-08-04T09:41:29.536+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TuangPikir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Menjadi Bocah Kembali</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mungkin, kadar kreatifitas individu sering berbanding terbalik dengan pertambahan usia. Artinya, semakin dewasa seseorang, kemampuan untuk menstimulasi otot atau syaraf kreatifnya akan semakin berkurang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konon, menurut beberapa guru saya, kreatifitas kita dapat diukur melalui seberapa sering kita melontarkan pertanyaan-pertanyaan di luar konteks pembicaraan, di luar kecenderungan, di luar bunyi pertanyaan yang itu-itu saja. &lt;i&gt;Out of the box&lt;/i&gt;, istilah populernya. Ketika saya masih belajar di kelas satu sekolah dasar, kesabaran saya diuji oleh rumitnya pelajaran menulis halus. Kalian, sebaya saya pasti pernah mengalami perjumpaan dengan pelajaran ini. Saat dimana kita diwajibkan membawa Buku Tulis Halus, buku dengan lebar baris yang tidak sama, sebaris memiliki tebal satu sentimeter dan sebaris lagi setengah sentimeter, begitu seterusnya, lalu dengan sangat berhati-hati kita masih harus menuliskan sesuatu diatasnya persis sesuai dengan perintah guru, seperti : ‘&lt;i&gt;Ini Budi&lt;/i&gt;’, ‘&lt;i&gt;Budi sedang belajar&lt;/i&gt;’, ‘&lt;i&gt;Ayah Budi sedang membaca koran&lt;/i&gt;’ , ‘&lt;i&gt;Ibu Budi sedang memasak nasi&lt;/i&gt;’, ‘&lt;i&gt;Adik Budi sedang bermain layangan&lt;/i&gt;’ dan sederet kalimat berbau ‘&lt;i&gt;Budi&lt;/i&gt;’ lainnya. Waktu itu, sambil susah payah menulis tebal tipisnya aksara tegak bersambung, bermacam pertanyaan hinggap di otak saya : ‘&lt;i&gt;Siapa sebenarnya nama ayah, ibu, dan adik Budi?&lt;/i&gt;’, ‘&lt;i&gt;Mengapa harus Budi?&lt;/i&gt;’, '&lt;i&gt;Kemanakah gerangan kakak Budi?&lt;/i&gt;' ‘&lt;i&gt;Untuk apa saya belajar menulis seperti ini?&lt;/i&gt;’, ‘&lt;i&gt;Mengapa tidak menulis di buku kotak-kotak saja?&lt;/i&gt;’. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua pertanyaan saya hanya hinggap dan berloncatan liar di kepala, tanpa pernah bernyali&amp;nbsp; merayu lisan angkat suara. Maklum saja, masa-masa SD saya masih berada pada kurun waktu dimana hampir seluruh guru terlihat menenteng sebatang bambu seukuran panjang lengannya sendiri. Fungsi primernya adalah sebagai &lt;i&gt;pointer&lt;/i&gt;, alat bantu guru dalam menuntun siswa-siswinya membaca tulisan di papan. Lalu semakin siang, seiring perut siapapun yang mulai keroncongan, alat itu akan segera beralih fungsi menjadi senjata tumpul mematikan. Guru bebas mengayunkan perkakas seram itu semaunya. Bisa dipukulkan pada bangku, dikibaskan ke meja, atau jika kami sedang bernasib jelek dan kebanyakan tingkah, paha dan lengan kami juga harus siap jadi sasaran. ‘&lt;i&gt;Kenapa diam semua, kalau tidak mengerti lekas tanya! Jadi murid itu yang kreatif gitu lho!&lt;/i&gt;’ begitulah gertakan andalan guru-guru saya jaman dulu. Saya bergumam dalam hati : ‘&lt;i&gt;Gimana mau nanya, lihat tongkat sihirnya aja udah serem&lt;/i&gt;’. Saya sempat beranggapan, di dunia ini hanya ada dua macam guru. Pertama, guru dengan senjata bambu laras panjang, adalah mereka yang tegas, keras, dan tak kenal ampun. Kedua, guru dengan derap langkah sangat tenang yang baru setengah jam mengajar saja sudah tertidur di kursi atau &lt;i&gt;ngeloyor&lt;/i&gt; pergi meninggalkan kami dengan berbiji-biji soal di papan. Keduanya bukan favorit saya, tapi jika harus memilih, saya akan lebih nyaman berada bersama guru tipe pertama. Bagi saya, lebih baik belajar dan menjadi kreatif dengan sedikit teraniaya daripada belajar sendiri tanpa arahan apa-apa. Jangan salah, tidak ada seorang wali murid pun yang melayangkan protes atas bermacam bentuk didikan keras guru-guru kami. Bahkan Mama justru berbalik marah ketika saya bercerita kalau telinga kanan anaknya ini dijewer guru Geografi karena tidak pernah becus &lt;a href="http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/01/kamu-geografi-dan-saya.html"&gt;membaca peta buta&lt;/a&gt;. ‘&lt;i&gt;Makanya, belajar sana sama Masmu!. Malu-maluin mama kamu ini!&lt;/i&gt;’, beliau tegas berkata sambil mengiris wortel pada tatakan kayu, membawa pisau yang berkilat-kilat. Biasanya, sebagai anak bungsu yang lumayan sering menerobos aturan main keluarga, saya kerap menjawab atau mempertanyakan semua petuah beliau, tapi kali itu, saya lebih memilih segera masuk kamar daripada menjawab nasihatnya. Bagaimanapun, tangan mungil saya tidak pantas buntung oleh ibu yang sedang kesal pada anaknya. Oh, ini hanya imajinasi kecil saya. Tangan saya tidak pernah buntung. Jangankan buntung, lecet sedikit saja sudah bisa bikin beliau panik setengah mati. Jadi tenang saja, tangan saya masih lengkap.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya dan mungkin teman-teman sebaya lainnya selalu punya banyak sekali pertanyaan aneh justru sewaktu kami masih belum mengerti banyak hal. Saya ingat ketika Aditya, salah satu teman TK dulu bertanya saat kami bersama-sama belajar menggambar pemandangan alam : ‘&lt;i&gt;Bu Guru, kenapa langitku warnanya harus biru?&lt;/i&gt;’. Dengan penuh senyum dan kelembutan khas guru TK, beliau pun menjawab ‘&lt;i&gt;Oh, tidak harus biru, Adit, warnanya boleh apa saja, sesuka kamu&lt;/i&gt;’. Mendengar jawaban itu, saya terinspirasi dan seketika memenuhi gambar awan saya dengan pensil warna hijau dan rerumputan dibawahnya dengan pensil warna biru. Terlihat agak aneh memang dan tampaknya gambar saya cenderung menyalahi kodrat. Tapi itu tidak penting. Buat saya kepuasan bereksperimen adalah kebahagiaan tak ternilai. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kreativitas masa kecil kami seringkali berlanjut pada obrolan sehari-hari. Daftar pertanyaan dan cerita di kepala seolah pantang habis. Tidak pernah ada pertanyaan yang sama, tidak pernah ada cerita yang itu-itu saja. Jika hari Senin saya menanyakan tentang mengapa bawahan seragam Dony berupa celana pendek, sedangkan saya harus memakai terusan rok yang merepotkan diri sendiri, maka esoknya saya sudah bertanya pada Rika, sahabat kental saya, mengapa rambut Ibu Ida, guru TK tingkat dua, tidak pernah terlihat lurus, selalu saja keriting. Saya pun tidak sadar, rambut sendiri juga tak pernah bisa lurus melambai-lambai seperti rambut bintang iklan &lt;i&gt;shampoo&lt;/i&gt; Rejoice. Ketika saya masih kuliah dan tinggal di sebuah rumah kos, ada Dek Alda, anak kelas 2 SD, putra bungsu ibu kos yang menurut saya, sangat variatif dalam mengelola pertanyaan. Suatu siang dia bertanya pada mamanya yang menolak membelikan dia mainan : ‘&lt;i&gt;Memang kenapa mama ndak punya uang?&lt;/i&gt;’. Mampus! Saya tersenyum geli sendiri di kamar, membayangkan air muka si Mama. Sorenya, ibu kos muncul di halaman belakang, menyapu lantai dengan selembar &lt;i&gt;koyo&lt;/i&gt; Salonpas menempel di keningnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita, anak-anak kecil, selalu saja mempertanyakan dan mendiskusikan hal-hal menyenangkan dan kontroversial. Kami tertawa untuk lelucon-lelucon sederhana yang berbeda, setiap hari.  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun sekarang, justru saat kita sudah mulai mengerti banyak warna kehidupan, saat kita sudah tidak lagi sungguh-sungguh bermain, saat kita mulai merasa dewasa, sok tua, sok berpengalaman, saya dapat menyimpulkan bahwa ternyata kita hanya punya dua hal membosankan untuk saling ditanyakan pada kawan-kawan kita : Pekerjaan dan Pernikahan. Perihal pekerjaan bolehlah,&amp;nbsp; mungkin ini masih bisa diterima relevansinya. Tapi apa urusan kita terhadap pernikahan orang lain, pun jika dia adalah sahabat kita sendiri? Mari kita perhatikan, bahkan di dunia jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter pun, pertanyaan ini bagai lagu wajib yang harus dikumandangkan setelah kita menyapa seorang kawan lama : ‘&lt;i&gt;Hai Putri, apa kabar? Sudah lama ya kita ndak ketemu?. Gimana-gimana, sudah kerja dimana sekarang? Sudah nikah belom nih?&lt;/i&gt;’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun diam sambil mengangkat alis tinggi-tinggi, memasukkan rekaman bunyi jangkrik malam ke otak kanan dan bunyi banteng Spanyol ke otak kiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak benar jika setelah membaca tulisan ini, kalian menganggap bahwa saya membenci model pertanyaan seperti itu. Saya sangat menghargainya. Tapi keduanya terlanjur saya anggap sebagai basa-basi belaka dan intervensi berlebihan pada ruang privasi individu. Mereka sama sekali tak layak disuguhkan pada sebuah pertemuan nostalgia, dimana dua orang sahabat sudah lama sekali tidak bertemu. Dua pertanyaan itu bagi saya menjadikan semuanya hambar dan menjemukan. Biasanya, untuk menetralkan suasana, saya menjawabnya dengan spontanitas fiktif : ‘&lt;i&gt;Aku ditugaskan di Papua sekarang, sempat kos di atas pohon aren juga sih, setahun. Minggu kemarin baru nikah sama kepala suku disana. Ini sudah beranak tiga. Kamu sendiri gimana? Sudah punya cucu?&lt;/i&gt;’&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi mereka yang tidak terlalu mengenal saya secara pribadi atau mungkin lupa bahwa saya adalah individu yang cenderung susah serius, jawaban super &lt;i&gt;ngawur&lt;/i&gt; barusan pasti akan dianggap sungguh-sungguh. Ah, biarlah, demi &lt;i&gt;gayeng&lt;/i&gt;nya perbincangan, saya rela berfiktif ria.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada satu lagi kawan akrab saya, tiba-tiba mengirim pesan singkat di malam hari tepat sebelum saya tidur : ‘&lt;i&gt;Put, awakmu kapan rabi?&lt;/i&gt;’. Saya jawab dengan satu mata sudah terlelap : ‘&lt;i&gt;Wulan ngarep, jeh. 30 Februari akad nikah, 31 resepsi&lt;/i&gt;’. Sengaja saya pelesetkan, sebab asumsi saya, dia hanya sedang bercanda. Saat masih kuliah dulu, hobi kami memang saling melempar lawakan dengan sedikit bumbu pembunuhan karakter. Maka halal kiranya kalau saya menipu dia lewat tanggal palsu pernikahan. Setelah itu, saya tidur dengan tawa bahagia. Benar-benar kebohongan sempurna.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengapa kita tidak bisa sedikit saja berbeda? Kalaupun nanti saya sudah menikah, pantang bagi saya membalas ucapan-ucapan selamat dari kerabat dengan kalimat antikreatif seperti: ‘&lt;i&gt;Ayo, kamu kapan? Enak loh nikah!&lt;/i&gt;’ atau ‘&lt;i&gt;Makanya buruan kawin Mbak, daripada disalip terus? Aku tunggu ya!&lt;/i&gt;’. Oh, ayolah, saya memang tulus ikut berbahagia atas pernikahanmu tapi pertanyaan aneh itu merusak semuanya. Di telinga saya, semuanya lebih terdengar seperti : ‘&lt;i&gt;Hei, kamu sudah pipis? Enak loh pipis!&lt;/i&gt;’ dan ‘&lt;i&gt;Ayo Mbak, kapan pipis? Yang lain sudah selesai pipis loh!&lt;/i&gt;’. Aneh bukan? Bagi sebagian orang, mungkin ucapan macam itu adalah doa. Tapi setahu saya, doa tidaklah berupa pertanyaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya pikir, dunia ini tidak melulu tentang pekerjaan dan pernikahan. Mereka berdua hanya &lt;i&gt;subset&lt;/i&gt; kecil dari himpunan raksasa bernama Semesta. Tidakkah kita bosan dengan hanya membuat pertanyaan yang ber&lt;i&gt;thawaf&lt;/i&gt; di kedua kiblat itu saja? Mari kembali pada kesederhanaan masa kecil, ketika kita bertanya pada ibu, apakah boneka Susan bisa buang air besar sendiri. Saat kita memaksa ayah menjawab pertanyaan mengapa kita tidak boleh tidur malam bersama ibu, seminggu penuh. Celotehan kita meletup-letup tanpa perlu menjiplak milik orang lain. Tanya demi tanya selalu mengalir deras karena saat itu kita memang ingin bertanya, bukan sekadar berbasa-basi.  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mudah sebenarnya, kita hanya perlu sedikit kreatif, mengadopsi lagi semangat dan spontanitas anak-anak kecil untuk membuat dunia kembali berlenggok menari. Sebelum ia mati bosan oleh rotasi di orbitnya sendiri atau revolusinya terhadap matahari. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-2153627561657967417?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/2153627561657967417/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/08/menjadi-bocah-kembali.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/2153627561657967417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/2153627561657967417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/08/menjadi-bocah-kembali.html' title='Menjadi Bocah Kembali'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-7352331162878872216</id><published>2010-07-21T00:00:00.012+07:00</published><updated>2011-01-08T06:44:11.693+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kamu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Kedai Empat Menu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setahun lalu, saya sedang menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama segenap keyakinan dan pengharapan, acara pribadi berlabel '&lt;i&gt;Menunggu&lt;/i&gt;' ini saya habiskan di sebuah kedai sederhana berjarak beberapa meter dari rumah, ditemani secangkir teh hangat dan sepiring kacang rebus segar yang asapnya masih rajin membubung, menguapi dahi dan pipi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teh dan kacang rebus sebenarnya bukan pasangan camilan kegemaran saya, terlebih kedai ini. &amp;nbsp;Bangunan berdinding kayu, berlantai tanah coklat padat dengan satu-dua rumput liar tumbuh di beberapa sudut ruangan, dan hanya memiliki empat macam menu -&lt;i&gt;K&lt;/i&gt;&lt;i&gt;opi, Teh, Kacang Rebus, dan Pisang Goreng&lt;/i&gt;- juga bukan tempat favorit bagi tubuh saya. Alasannya klasik, kopi hanya akan menyiksa lambung, pisang goreng mengganggu kerongkongan, teh memaksa kantung kemih cepat penuh, sedangkan kacang rebus sangat berbakat memupuk jerawat di muka. Empat aneka ketidaknyamanan ini seolah bekerjasama membentuk formasi serang mematikan dengan menempatkan satu &lt;i&gt;striker&lt;/i&gt; saja di muka saya, berupa interaksi berlebihan para pengunjung kedai yang seringkali melanggar garis batas urusan pribadi. Otak saya dibuat jengah. Ketika saya memejamkan mata, yang tampak hanya monster teh dan siluman kopi tampak ribut berebut kekuasaan dengan kurcaci kacang dan raksasa pisang goreng. Saya membayangkan mereka berempat tertawa-tawa angkuh, menyeringai kejam, saling berlarian, menangkap dan menghisap darah saya. Sungguh kacau dan gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TEbN8Bgit5I/AAAAAAAAASs/vayNiWNriug/s1600/goodbye1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TEbN8Bgit5I/AAAAAAAAASs/vayNiWNriug/s320/goodbye1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi saya, kedai ini adalah bencana. Jika bukan karena janji untuk menunggu seseorang, mustahil saya sudi berlama-lama duduk menyatukan diri dengan bangku kayu panjang yang sudah bengkok, nyaris patah di sepertiga bagiannya. Orang yang sedemikian rupa membuat hati saya percaya bahwa sebuah kedai dekat rumah akan jauh lebih baik untuk dijadikan tempat bertemu menyusun rencana masa depan dibandingkan kafe sederhana bercahaya lembut, bercat warna-warna pastel, berlatar belakang musik Jazz dengan semua pengunjung yang sibuk dengan kepentingannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, saya menunggu. Penuh percaya diri melewati sekian pagi dan sekian sore, melahap bercangkir-cangkir teh hangat dan ribuan butir kacang rebus. Saya sok sibuk mencatat setiap hal yang terlintas di kepala pada sebentuk buku catatan persegi panjang warna coklat muda, untuk akhirnya nanti disampaikan saat ia tepat duduk di depan saya, sembari menikmati langit yang akan mengantar matahari beristirahat, bersama-sama. Saya menunggu, membunuhi waktu dengan menghafal nama seluruh pengunjung kedai tanpa harus berbincang terlalu akrab. Saya menunggu, memandangi dedaunan pohon Cemara Udang yang rontok selembar demi selembar terbawa angin, memandangi langkah ringan anak-anak kecil di sekeliling kedai. Saya menunggu hingga tiba-tiba ketiadaan halaman kosong di buku catatan kecil akhirnya menyadarkan, ia tak datang. Tak pernah datang. Perjalanan di depan saya merabun dalam sekejap, jejak langkah di belakang satu persatu menghilang. Tidak ada lagi yang bisa saya perjuangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimanapun, ini bukan sinetron di stasiun televisi lokal. Ini realita milik makhluk bernama saya, milik hati yang sebulan penuh ber-&lt;i&gt;tatto&lt;/i&gt; 'Aku Menunggumu' di permukaannya. &amp;nbsp;Setelah ini saya tak pernah berniat menjadi Asmirandah dalam 'Kemilau Cinta Kamila' yang mendadak membangun pabrik airmata dimana-mana, atau Marshanda dalam 'Sejuta Cinta Marshanda' yang sibuk menekuk bibir dan alis kesana kemari untuk mengesahkan kesedihan. Saya malas menangis, malas membasahi wajah dengan air asin yang nanti pasti akan terasa lengket setelah kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah episode pribadi saya yang pantas diberi judul : '&lt;i&gt;Survivor : The Tea and Peanut Island&lt;/i&gt;', dengan latar belakang pohon teh berbuah kacang dan saya yang dijatuhkan paksa dari helikopter hijau tanpa bekal parasut sama sekali. &lt;i&gt;Yes&lt;/i&gt;, Sedih memang &lt;i&gt;valid&lt;/i&gt; untuk saya, tapi mungkin tubuh ini sudah terlanjur banyak menenggak teh dan kacang rebus, hingga lupa bagaimana cara yang baik untuk berduka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa saya masih tercatat mengalami gempa berkekuatan sekian &lt;i&gt;scala richter&lt;/i&gt; ketika satu-persatu pengunjung menawarkan beberapa potong pisang goreng dan mencicipi kopi hitam mereka. Saya juga asal mengangguk pelan demi memuaskan mereka yang datang meminta saya membagi bangku dan meja. Bahkan ketika secara tak sengaja saya berjumpa dengan&amp;nbsp;seorang wanita setengah baya yang tiba-tiba membanjiri saya dengan cerita-ceritanya, membawakan kue-kue lezat buatan sendiri lalu mempersilakan saya menikmati semuanya hingga tandas, saya masih 'pusing', tidak sadar penuh. Wanita berperawakan mirip polisi wanita senior yang terus saja bercerita tanpa tahu bahwa saya sendiri sedang melepuh dimana-mana. Saya melihat dia menangis, mencaci dan mengutuki orang-orang yang bahkan tak pernah saya kenal. Lain waktu, seperti tak pernah sedih, ia menggelar gurauan dan keriangan ke seluruh penjuru kedai. Perlahan saya melapang bersama setiap hembus nafas yang terbuang ketika saya tertawa. Jiwa saya menghangat, terbius oleh ramai bahagia pengunjung lain yang terjala berjamaah oleh remah-remah lawakannya. Saya tidak tahu, apakah obat bius rasanya memang hangat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita ini terus bercerita, dan saya pun mulai lupa gempa yang membuat rumah jiwa saya porak-poranda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedai dekat rumah masih saya anggap sebagai bencana terencana, yang seharusnya sudah layak ditinggalkan sejak pertama saya sadar bahwa tidak ada lagi sesuatu yang saya tunggu. Bangku bengkok ini semestinya sudah pantas diberi lambaian tangan perpisahan jika saja wanita seribu cerita itu tidak rajin menyibukkan saya dengan petuah dan dongeng-dongeng kontemporernya. Teh dan kacang rebus mungkin halal untuk saya buang jauh-jauh apabila tidak ada pengunjung-pengunjung ramah dan lalu lalang anak-anak kecil yang tidak pernah peduli luka memar saya, namun terus saja memaksa bertukar sapa dan canda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di sisi lain, kedai unik ini seolah terus memproduksi berjuta sel darah putih, untuk jutaan sel darah merah saya yang masih sesekali mengucur entah dari jiwa bagian mana. Maka ketika saya tiba pada garis sadar bahwa sudah saatnya untuk segera pergi, beranjak menuju titik persimpangan tujuan, rasanya semakin sering pula saya harus menoleh ke belakang, menatap lekat kedai yang hingga sekarang tak pernah mengerti dan merasa bahwa saya telah disembuhkan olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, dengan penuh hormat dan bangga saya gelindingkan sekeranjang bola-bola terimakasih pada semua konstelasi kedai yang membuat saya selalu merasa beruntung dan terberkahi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Untuk Ibu Indah Mulyani, yang tanpa pernah ibu sadar, menyadarkan saya bahwa luka dan kesakitan saya tidak ada apa-apanya jika nekat dibandingkan dengan milik ibu. Bahwa Ibu masih tetap on track berjuang keras untuk dua putra tanpa harus mengandalkan ilmu cengeng wanita. Untuk cerita-cerita Ibu yang terus mengondisikan saya tetap sadar, tidak lagi berloncatan ke masa lalu. Untuk prinsip lucu tapi cukup logis ala Ibu bahwa : 'waktu bersedih itu maksimal hanya seminggu, Put. Atau kamu bakal gila dan depresi', saya sangat menghargainya. &amp;nbsp;Tetap berjuang, ya Bu. Semoga Ibu dan keluarga diberi kemudahan dan rizqi yang berlipat. Maaf untuk segera melepas pelukan erat ibu, &amp;nbsp;karena saya hanya ingin terlihat kuat. &amp;nbsp;Terimakasih.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Untuk Yusuf Wibowo, kakak saya. Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan selama kita bekerjasama. Pelajaran untuk tetap tenang dalam segala kondisi, untuk tidak selalu terburu menilai orang lain, untuk dapat melapangkan diri di medan sesempit apapun dan untuk selalu menunjukkan bahwa : 'hidup tidak melulu tentang menjadi ideal, maka jadilah pragmatis sesekali'. Anda adalah pribadi mengagumkan : santai tapi beres. Terimakasih sudah banyak berbagi cerita dalam waktu yang amat singkat. Terimakasih sudah menjadi kakak untuk saya yang masih ingusan dan kolokan ini. Anda mungkin tidak pernah tahu, saya kerja keras menahan air mata tetap pada tempatnya saat kita saling mengucap selamat tinggal. Terimakasih, semoga mimpi-mimpi luar biasa anda lekas menjelma menjadi nyata. Sekarang saya sering memutar lagu 'Cinta Satu Malam' sebagai pengingat bahwa kita pernah sama-sama stress mengendalikan kondisi lapangan. Sebuah lagu yang 'Ndak banget' memang, tapi memorinya kuat sekali :)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Untuk semua teman-teman kedai, kalian semua adalah penyembuh saya. Setiap jabat tangan dan senyum kalian, saya simpan rapi disini, hati saya. Terimakasih sudah bersama dalam kebingungan, kesenangan, kemarahan, dan kesabaran. Kalian luar biasa.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Untuk semua anak-anak kecil pengakrab kedai, mungkin langit mengirim kalian untuk menjejali jiwa saya dengan bahagia tak terbatas. Kalian bagai peri-peri kecil yang menghujani semesta saya, mengusir warna-warna gelapnya, lalu menggantinya dengan kerlingan cahaya. Terimakasih, semoga cita-cita, berkah dan rizki selalu dilapangkan bagi kalian semua. &amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Untuk kamu, terimakasih sudah menjadi kamu. Terimakasih atas kebetulan-kebetulan tak terduga yang begitu menyenangkan buat saya. Terimakasih untuk tetap menciptakan pertanyaan-pertanyaan sederhana meski jawaban saya selalu terbata-bata. Semoga kamu mengerti bahwa saya seperti kehilangan kamus kata-kata begitu kamu disana. Saya tahu, ini sama sekali tak rasional, tapi saya tak lagi butuh logika untuk menyadari bahwa sesuatu telah terjadi di hati saya. Sesuatu seperti pesta kembang api di malam penuh bintang, sesuatu seperti sungai besar yang mengalir deras membawa ikan-ikan salmon oranye bertelur dan bermigrasi dari satu muara ke muara lainnya. Maaf, saya sebenarnya tidak tahu, apa hubungan kembang api dan ikan salmon dengan hati saya. &amp;nbsp;&lt;b&gt;Kamu adalah ketiba-tibaan tak diundang dan buat saya, kamu menakjubkan&lt;/b&gt;. Ah, lihatlah, saya memang agak kurang kerjaan. Bagi wanita kebanyakan, mungkin pengakuan ini akan terasa sangat memalukan, tapi bagi saya ini adalah kejujuran yang tidak bisa disimpan sendirian. Bukankah sebagai WNI yang baik kita wajib menjunjung tinggi nilai kejujuran dan keadilan sosial? dan setidaknya lega itu sudah mulai menyebar di jiwa saya, meski saya tidak pernah tahu, bagaimana hati kamu sebenarnya.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Terimakasih juga untuk pernah bertanya : 'Nulis bukunya sudah selesai atau belum?', padahal ide saja belum saya genggam. Waktu itu, rasanya hidup saya selesai. Mati bahagia. *Baiklah, ini berlebihan* :)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Eh, bolehkah saya berdoa supaya Tuhan menjadikanmu jawaban atas doa-doa saya? Bolehkah, Tuhan? Tapi permohonan ijin ini sepertinya terlambat, saya sudah berdoa di tengah letusan kembang api, saat mata saya mengagumi langit luas bertebar bintang-bintang genit di atas lapangan sepak bola. Boleh ya, Tuhan?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;Dan akhirnya tepat setahun, Kedai Empat Menu harus saya tinggalkan. Saya mengerti, ia pasti akan tetap menjadi kedai sederhana namun penuh manfaat meski tanpa salah satu pengunjung aneh dan apatis ini. Sedangkan saya, sama sekali belum tahu bagaimana cara berjalan kembali tanpa mereka semua, para penyembuh saya. Jika saja dua tangan saya mampu menjangkau, niscaya kedai ini akan saya peluk erat-erat. Tertawa bersama, sebelum saya &amp;nbsp;berjalan dan membalik badan, menyeka air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun lalu saya menunggu. Sekarang, saya siap melepas jangkar, mencoba berlayar lagi dengan bekal hati yang jauh lebih besar, lebih lapang dan luas. Terima kasih, semuanya. Mohon pamit untuk berlayar, ya. Saya mencintai kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;i&gt;"I try to say goodbye and I choke&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;i&gt;try to walk away and I stumble&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;i&gt;'tough I try to hide it, it's clear&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;i&gt;my world crumbles when you are not near"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;i&gt;(I Try-MacyGray)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-webkit-background-clip: initial; -webkit-background-origin: initial; background-attachment: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial; border-bottom-width: 0px !important; border-color: initial !important; border-left-width: 0px !important; border-right-width: 0px !important; border-style: initial !important; border-top-width: 0px !important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-7352331162878872216?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/7352331162878872216/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/07/kedai-empat-menu.html#comment-form' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7352331162878872216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7352331162878872216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/07/kedai-empat-menu.html' title='Kedai Empat Menu'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TEbN8Bgit5I/AAAAAAAAASs/vayNiWNriug/s72-c/goodbye1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-5985710735326999211</id><published>2010-06-26T00:34:00.006+07:00</published><updated>2010-06-26T17:34:41.692+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Gincu Ungu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demi malam yang dinginnya mencegah pejam,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku sudah dimana-mana. Kau tak ada. Bahkan hanya untuk sebuah tanda.&amp;nbsp;Dulu, alamat rumah terakhirmu adalah sebaris aksara : Cinta. '&lt;i&gt;Temui aku disana&lt;/i&gt;' begitu pesanmu bicara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku bertamu. Rumahmu kini berpagar putih biru. Sepi. Hanya sepotong papan bertuliskan : &lt;i&gt;Disewakan&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;Bersama kesal, aku pulang. Menggengam kunci kamar yang mungkin lupa pernah kau gandakan, untuk ku pinjam. Berjaga seandainya kau butuh teman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku kembali datang. Memikul sekarung uang untuk menebus sewaan. Rumahmu telah punya taman dengan bunga mawar segar bermekaran. Rupanya aku keduluan, papan di depan pagar telah diturunkan. Bangunan sederhanamu telah resmi disewa orang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demi malam yang gelapnya menunda riang,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mestinya kau tahu, aku hanya ingin mengambil gincu ungu di meja kamarmu. Benda mungil yang selalu kupakai untuk melumuri mukamu. Kubuat lukisan lucu di dahi, pipi, dan dagu. Sampai kau malu, membasuh muka buru-buru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hanya sebatang gincu ungu, jika memang rumahmu tak lagi tak berpintu, seperti dulu.&amp;nbsp;Jika anak kunci di saku celanaku sudah tak layak bertemu kediamannya untuk bercumbu.&amp;nbsp;Jika berpuluh anak kunci lain telah meniadakan probabilitasku menapakkan kaki di ubin kayu&amp;nbsp;yang pernah merekam setiap derit langkah dua pasang kaki, aku dan kamu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demi malam yang diamnya meresahkan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku sudah dimana-mana. Mencari sebuah rumah tak berpintu, beralamatkan sebaris aksara, seperti pesanmu. Sial, di depanku hanya ada rumah berpagar putih biru. Tiada tanda, gincu ungu, apalagi kamu.&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-webkit-background-clip: initial; -webkit-background-origin: initial; background-attachment: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-repeat: initial; border-bottom-width: 0px !important; border-color: initial !important; border-left-width: 0px !important; border-right-width: 0px !important; border-style: initial !important; border-top-width: 0px !important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-5985710735326999211?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/5985710735326999211/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/06/gincu-ungu.html#comment-form' title='16 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5985710735326999211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5985710735326999211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/06/gincu-ungu.html' title='Gincu Ungu'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-7640479386304717114</id><published>2010-06-24T20:59:00.001+07:00</published><updated>2010-06-24T23:10:39.008+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Semoga Kamu Pria</title><content type='html'>Semoga kamu pria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan laki-laki remaja&lt;br /&gt;yang mengiblatkan cinta mentah-mentah&lt;br /&gt;pada petuah kawan lama&lt;br /&gt;dan buku-buku agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kamu pria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan laki-laki setengah dewasa&lt;br /&gt;yang menjunjung kopyah dan sajadah&lt;br /&gt;namun tak lupa menebar mata&lt;br /&gt;ke paha-paha indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan alasan latah : "&lt;i&gt;Ah, mereka yang salah&lt;/i&gt;"&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-webkit-background-clip: initial; -webkit-background-origin: initial; background-attachment: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial; border-bottom-width: 0px !important; border-color: initial !important; border-left-width: 0px !important; border-right-width: 0px !important; border-style: initial !important; border-top-width: 0px !important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-7640479386304717114?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/7640479386304717114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/06/semoga-kamu-pria.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7640479386304717114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7640479386304717114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/06/semoga-kamu-pria.html' title='Semoga Kamu Pria'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-4848229826619329886</id><published>2010-06-22T01:43:00.003+07:00</published><updated>2010-06-22T11:06:11.862+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Spasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kadang, suatu perjalanan butuh ditinggalkan. Entah dengan beberapa langkah maju atau berlangkah-langkah mundur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika sebaris tulisan direstui untuk menjadi analogi dari satu musim perjalanan, maka selalu ada waktu dimana kalimat tak juga berujung, kata berserakan tanpa makna, segala macam imbuhan gagal memainkan peran, dan tanda baca bagai kehilangan identitas sakralnya. Ada saat dimana rangkaian kalimat mulai terasa aneh dengan titik yang tertukar oleh koma dan tanda seru berganti tanda tanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kursor yang terus berkedip tepat di sisi kalimat terakhir pun tak jarang hanya bisa menyumbangkan kebuntuan. Tubuh yang seharusnya bersinergi mesra demi melahirkan sebuah tulisan secara tak terencana mengalami perubahan wujud seperti ini : jari tak bergerak, otak mendadak diam, syaraf-syaraf&amp;nbsp; di sekitar mata mulai berdenyut, leher belakang terasa bagaikan sedang ditumbuhi akar tunjang pohon beringin dan hati seolah sedang kabur entah kemana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita hanya menyisakan sepasang mata putus asa yang setidaknya masih mampu bertanya: "&lt;i&gt;Bagaimana lagi?&lt;/i&gt;", "&lt;i&gt;Seperti apa kelanjutannya?&lt;/i&gt;", dan "&lt;i&gt;Mau dibawa kemana?&lt;/i&gt;"&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi saya, mungkin yang dibutuhkan hanya menekan tombol spasi atau &lt;i&gt;enter&lt;/i&gt; beberapa kali. Menyisakan ruang dan waktu kosong sampai paragraf-paragraf tulisan tadi sementara tak terlihat. Toh, kita sepertinya tak perlu memaksakan jawaban atas semua pertanyaan diri sendiri saat seluruh fitur tubuh sedang tak mendukung. Menulis dengan terpaksa akan lebih identik dengan menekan tombol &lt;i&gt;backspace&lt;/i&gt; berkali-kali. Satu kata diketikkan, sekian kali pula &lt;i&gt;backspace&lt;/i&gt; ditekan. Ah, kalian para penyuka dunia tulis-menulis tentu sepakat dengan saya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Backspace&lt;/i&gt; hanya akan mengacaukan tujuan awal. Tapi spasi dan &lt;i&gt;enter&lt;/i&gt;, membiarkan kita melihat dari kejauhan, melebarkan bingkai mata, melihat yang sebelumnya belum terlihat, lalu kembali lagi untuk meneruskan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan, sama halnya dengan tulisan, mungkin hanya sekedar butuh spasi. Sesuatu yang menghadirkan jarak, jeda, atau ruang untuk dapat bertemu kembali dengan kesesuaian yang wajar. Ada kalanya kita merasa terlalu sesak dengan bermusim-musim perjalanan yang kita ciptakan sendiri. Perjalanan yang tiba-tiba didalamnya dibubuhkan titik, seketika dituliskan tanda tanya, kemudian koma, tanpa kita mengerti apa yang sebenarnya terjadi, sudut mana yang seharusnya kita diami, dan ide apa yang sungguh layak diperjuangkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Spasi mengijinkan seluruh indera menayangkan kembali rekaman semua perjalanan. Suka atau benci, baik atau buruk, benar atau salah. Apapun wajah episodenya, tampaknya itu tidak terlalu penting, karena di ruang spasi, proses ini hanya sebuah tayangan, bukan kesaksian di pengadilan. Kita tak perlu menjadi jaksa bagi diri sendiri, apalagi menjelma sebagai hakim yang mevonis ini dan itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Spasi menghadiahi kita jarak untuk dapat leluasa melihat ke dalam dan ke luar. Ia memberi kita waktu untuk memahami makna dari setiap perjalanan yang dulu hanya sempat kita lewati begitu saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya, kadang kita hanya butuh spasi demi percaya bahwa cerita belum mati. Beberapa langkah maju atau berlangkah-langkah mundur demi mengerti, masih ada sesuatu yang layak diperjuangkan.&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background-color: transparent; border-width: 0px ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-4848229826619329886?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/4848229826619329886/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/06/spasi.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4848229826619329886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4848229826619329886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/06/spasi.html' title='Spasi'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-5073326341674692732</id><published>2010-06-17T14:16:00.004+07:00</published><updated>2010-06-18T11:09:21.796+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Dondong Opo Salak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keponakan saya, 9 bulan usianya, sedang senang-senangnya berceloteh. Belajar bicara, mungkin. Belum banyak koleksi kata yang dia punya. Masih seputar kata-kata acak yang cuma&amp;nbsp; dimengerti oleh Mama, &lt;i&gt;Eyang Uti&lt;/i&gt;-nya. Saya sendiri kurang pengalaman dalam hal memahami kata-kata aneh yang terlontar dari lisan bayi berusia 9 bulan, yang hanya dibangun dari huruf vokal saja atau konsonan-vokal yang diulang-ulang. Tapi selalu saja ada kegelian setiap dia mulai mengucapkan kata baru. Minggu-minggu ini kata yang sedang populer darinya adalah : "Apppa!" dan "Paapaa...". &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu lagi keahliannya sekarang. Merebut ponsel saya, menjamahi &lt;i&gt;keypad&lt;/i&gt;-nya, lalu 5 detik kemudian, seonggok ponsel sudah tergeletak di lantai.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TBrxVTSfFxI/AAAAAAAAASc/Merolsh2F6U/s1600/24012010%28001%29.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TBrxVTSfFxI/AAAAAAAAASc/Merolsh2F6U/s320/24012010%28001%29.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitulah, kalau dulu orientasinya adalah melahap semua barang di tangan, sekarang sedikit berbeda : 'Jika ada barang di tangan, boleh kita menumpang lempar', begitu mungkin pepatah pertama yang ia ciptakan sendiri. Saya merupakan satu-satunya anggota keluarga yang menentang perbuatan tak senonoh ini. Ponsel saya adalah barang mulia, dia (red : ponsel) juga adalah pemudi labil. Saya khawatir kalau pelemparan ini dilakukan terus-menerus, dia menjadi sensitif, merasa tak berguna, lalu bunuh diri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara Mama, berpendapat bahwa ini harus dialihkan. Sebelum semua keramik kesayangannya habis dilempari oleh cucu kesayangan pula. Keramik dan cucu memang agak susah untuk dipilih, menurut mama. Ide brilian kemudian muncul. Kami harus menyalurkan keaktifan tangan-tangan mungilnya ke dalam bentuk kegiatan lain, bukan melulu pelemparan berencana.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa opsi, Mama mencontohkan bagaimana bertepuk tangan dan berkecipak di kubangan air sabun, Ayah mengenalkan bagaimana ber-&lt;i&gt;dadah&lt;/i&gt; dengan manis, memastikan cucunya tidak melambaikan tangan seperti &lt;i&gt;Miss Universe&lt;/i&gt; atau Tessa Kaunang, Mama-Papa-nya mengajak dia bermain bola bersama, dan saya, mengajaknya berpelukan lalu saling menepuk punggung. Dia nampaknya belum bisa, yang ada malah rambut saya rontok dijambaki&lt;i&gt; &lt;/i&gt;dan dia bangga,&lt;i&gt; cekikikan&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejauh ini, bertepuk tangan, berkecipak dengan air, dan ber-&lt;i&gt;dadah&lt;/i&gt; mampu dia amalkan dengan baik. Khusus pelajaran tepuk tangan, kami harus rajin memberi umpan berupa nyanyian. Bermacam lagu dikaitkan sebagai umpan, bahkan saya pernah memperdengarkan lagu Semut-Semut Kecil ala Mellisa, dengan lirik sedikit ngawur, kecampur dengan lirik Kisah Kasih di Sekolah milik Obbie Mesakh.&amp;nbsp; Sekarang ini, ada satu lagu yang sedang menjuarai &lt;i&gt;tracklist&lt;/i&gt; rumah, judulnya &lt;i&gt;Dondong Opo Salak&lt;/i&gt;. Saya mencoba sertakan liriknya disini karena sumpah ini lagu damai sekali. Bahkan saya yang notabene sudah tak bayi lagi mampu&amp;nbsp; menangkap rasa nyaman, aman, tenang dan bahagia saat Mama mulai bernyanyi sambil menepuki paha cucunya. Liriknya dibahasakan dalam bahasa jawa &lt;i&gt;kromo. &lt;/i&gt;Ini versi Mama, semoga tidak ada yang salah :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;"Dondong opo salak&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;duku cilik cilik&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;ngandong opo mbecak&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;mlaku thimik-thimik"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;"Icul nderek Uti&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;tindak menyang pasar&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;ora pareng rewel&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;ora pareng nakal"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;"Mengko Uti mesti&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;mundhut oleh-oleh&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;kacang karo roti&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Icul diparingi&lt;/i&gt;"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh sederhana dan menentramkan. Keponakan saya, Mohammad Dzulfikar Habibie a.k.a Izoel a.k.a Icul spontan bertepuk tangan gembira sambil berceloteh riang. Saya, pelan-pelan mengantuk dan merasa sedang terbang ke negeri dongeng :)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seharusnya, pentas idola cilik mewajibkan lagu-lagu semacam ini. Bukan malah Diantara Kalian-nya D'Masiv atau Pelan-Pelan Saja-nya Kotak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-5073326341674692732?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/5073326341674692732/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/06/dondong-opo-salak.html#comment-form' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5073326341674692732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5073326341674692732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/06/dondong-opo-salak.html' title='Dondong Opo Salak'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TBrxVTSfFxI/AAAAAAAAASc/Merolsh2F6U/s72-c/24012010%28001%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-4032476760136967775</id><published>2010-06-13T21:00:00.005+07:00</published><updated>2010-06-14T07:58:12.975+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TuangPikir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Sinless</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Entah apakah saya termasuk golongan pengajar berjiwa normal atau tidak. Tapi terkadang, saya merasa punya kecenderungan untuk kurang apresiatif pada siswa superior.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini bukan kebencian. Saya hanya kurang mampu tertarik oleh mereka yang dengan tangan selalu lebih dulu diatas daripada siswa lainnya memborong semua jawaban, dengan muka terlampau serius mengerjakan soal latihan hingga rekan sebangku dianggapnya tak hidup, dengan celetukan jawaban, selalu tak sabar memotong penjelasan saya atas kebingungan mayoritas anggota kelas, namun justru enggan berbagi ilmu bersama teman yang bahkan tidak pernah mengerti apa yang sedang ada di pikirannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka yang selalu tersenyum tak simetris saat salah satu temannya bertanya : "Kenapa ya, dua dikurangi negatif lima hasilnya negatif tiga?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siswa super pandai memang seringkali membanggakan. Sebenarnya saya juga tak perlu banyak mengeluarkan energi demi membuat mereka mengerti suatu teori.&amp;nbsp;Mereka seolah tak bercela sehingga mengajar jadi terasa lebih ringan. Tapi entah mengapa, bersama mereka, saya tak pernah menemukan 'sesuatu'. Tidak ada perjuangan disana. Satu-satunya adegan seru yang saya tunggu setiap kali bertemu mereka adalah pertanyaan-pertanyaan ajaib yang entah darimana datangnya. Mereka sungguh spetakuler.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Harus saya akui, sebagai seorang pengajar, memiliki siswa dengan kemampuan di atas rata-rata adalah hal melegakan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun di sisi lain, saya ingin katakan pula bahwa kepercayaan untuk menangani siswa berwawasan biasa saja namun berkeinginan besar untuk menjadi tak biasa adalah kebahagiaan tak terduga. Ya,&amp;nbsp;&lt;i&gt;I know&lt;/i&gt;, mungkin memang benar, saya tidak terlalu wajar untuk ukuran pengajar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga ini tidak salah. Saya mencintai begitu saja segala macam perubahan emosi yang terjadi bersama mereka, siswa-siswi biasa itu. Saya ketagihan mengalami naik-turunnya perasaan yang wajib dikawal dan dibendung arusnya, supaya mereka tidak sampai menangkap muka depresi orang di depannya ini. Saya harus memastikan mereka tetap melihat senyum ketenangan, bukan seringai keganasan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selalu saja ada luapan keanehan, kemarahan, &lt;i&gt;gregetan&lt;/i&gt;, kelucuan, ketiadaan kata-kata, kehabisan stok penjelasan &amp;nbsp;dan keinginan bawah sadar untuk menganiaya lahir dan batin anak-anak seperti ini. Saya menikmati proses itu. Terlebih ketika saya balik bertanya&amp;nbsp;untuk pertanyaan kebingungan sala satu siswa : "Bagian mana kira-kira yang kamu ndak paham?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Ndak tau, Bu. Pokoknya saya ndak ngerti."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia &lt;i&gt;ngowoh&lt;/i&gt;, saya juga &lt;i&gt;ngowoh&lt;/i&gt;. Kalau saja waktu itu tekanan darah saya sedang diukur, mungkin angkanya melonjak drastis sampai jarumnya jebol.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapapun pasti setuju, tidak ada yang tidak memuja kesempurnaan. Tapi sepertinya juga ada sebagian kita yang berpendapat bahwa tidak ada yang lebih indah dari menemui kesalahan dalam setiap perjalanan kita menuju kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tadi siang, secara kebetulan saya membaca &lt;i&gt;tweet&lt;/i&gt; ber&lt;i&gt;hashtag&lt;/i&gt; &lt;a href="http://twitter.com/#search?q=%23sundaysermon"&gt;#sundaysermon&lt;/a&gt; dari &lt;a href="http://twitter.com/ulil"&gt;Ulil Abshar Abdalla&lt;/a&gt;, seorang aktivis muslim, &lt;i&gt;co-founder&lt;/i&gt; dari Jaringan Islam Liberal, anggota Nahdatul Ulama, pencinta buku, film, &lt;i&gt;guyonan&lt;/i&gt;, donat dan Luna Maya yang baru beberapa hari saya &lt;i&gt;follow&lt;/i&gt; karena tertarik dengan beberapa &lt;i&gt;tweet&lt;/i&gt;nya. Ini dia :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;"Living a thoroughly sinless life is just boring. Even GOD is not happy seeing it :))"&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari kebenaran pendapat beliau, saya hanya menemukan hati yang tiba-tiba menjadi hangat perlahan dan bibir spontan tersenyum begitu membaca sebaris kalimat tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, bahkan (mungkin) Tuhan pun tak terlalu menghendaki makhluknya menjelma menjadi sosok yang (sok) lurus dan sempurna. Tanpa cela. Bukankah Ia tak pernah murka pada mereka yang 'dekil' namun terus bertanya dan mencatat makna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga :)&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-webkit-background-clip: initial; -webkit-background-origin: initial; background-attachment: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial; border-bottom-width: 0px !important; border-color: initial !important; border-left-width: 0px !important; border-right-width: 0px !important; border-style: initial !important; border-top-width: 0px !important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-4032476760136967775?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/4032476760136967775/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/06/sinless.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4032476760136967775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4032476760136967775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/06/sinless.html' title='Sinless'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-1146742404699732969</id><published>2010-05-23T11:41:00.003+07:00</published><updated>2010-05-23T19:02:50.841+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Pelangi Obeng Besi</title><content type='html'>Kamu tahu pelangi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin berpelangi lagi&lt;br /&gt;seperti televisi yang didekati obeng besi&lt;br /&gt;lalu hilang gambar tiba-tiba&lt;br /&gt;hanya warna-warna ; merah sampai jingga&lt;br /&gt;mengambil alih cerita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/S_jc28XcfvI/AAAAAAAAAR8/asLmRPjjdnE/s1600/rainbow_2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/S_jc28XcfvI/AAAAAAAAAR8/asLmRPjjdnE/s320/rainbow_2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu ingat pelangi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdoa&amp;nbsp;semoga kau tak lupa&lt;br /&gt;bagaimana mengacaukan layarnya&lt;br /&gt;lalu menindaskan pelangi&lt;br /&gt;dengan hanya sepucuk obeng besi&lt;br /&gt;yang didekatkan suka-suka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah,&lt;br /&gt;Layarku mulai membosankan&lt;br /&gt;dan kamu hilang lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;*Gambar dipinjam dari &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;a href="http://www.wallpaperbase.com/%20photography-rainbow.shtml"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;sini&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-webkit-background-clip: initial; -webkit-background-origin: initial; background-attachment: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-repeat: initial; border-bottom-width: 0px !important; border-color: initial !important; border-left-width: 0px !important; border-right-width: 0px !important; border-style: initial !important; border-top-width: 0px !important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-1146742404699732969?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/1146742404699732969/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/05/pelangi-obeng-besi.html#comment-form' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/1146742404699732969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/1146742404699732969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/05/pelangi-obeng-besi.html' title='Pelangi Obeng Besi'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/S_jc28XcfvI/AAAAAAAAAR8/asLmRPjjdnE/s72-c/rainbow_2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-3572805362377047274</id><published>2010-05-19T17:45:00.002+07:00</published><updated>2010-05-19T21:29:21.932+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksi Mini'/><title type='text'>Doa Kamar Tengah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kursi roda membantunya berjalan ke kamar mandi. Melewati kamar tengah yang melenguh. Mendoakan jiwa suaminya bersama Lina, istri kedua.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;-------------------------------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demi melatih kecerdasan dan memaksimalkan peran, lahirlah &lt;a href="http://akubunda.wordpress.com/2010/05/11/tentang-si-mini/"&gt;Fiksi Mini&lt;/a&gt; pertama saya. Sepertinya kegiatan ini akan segera menjadi candu dan penawar untuk memecah kebuntuan imajinasi. Pendek saja. Semoga menghibur dan mampu 'berbicara'.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terimakasih banyak untuk &lt;a href="http://c4pd3eh.wordpress.com/"&gt;Mbak Miranda&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://celoteh4ti.wordpress.com/"&gt;Mbak Titik&lt;/a&gt; yang sudah menginspirasi. Terimakasih juga untuk &lt;a href="http://akubunda.wordpress.com/2010/05/16/wi3nda/"&gt;Mbak wi3nda&lt;/a&gt; yang sudah mengonteskan *bahasa apa ini?* Fiksi Mini di semesta blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam FiksiMini!&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-3572805362377047274?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/3572805362377047274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/05/doa-kamar-tengah.html#comment-form' title='16 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3572805362377047274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3572805362377047274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/05/doa-kamar-tengah.html' title='Doa Kamar Tengah'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-3123902762891050855</id><published>2010-05-08T19:15:00.005+07:00</published><updated>2010-07-30T10:22:58.290+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Natemi-Windarto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surat'/><title type='text'>Natemi-Windarto IV : Kembang Gula</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buat Mas,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;di kebun nanas,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maafkan jika surat ini membuatmu tak berkenan. Aku sudah menanam bibit rindu sejak berbulan-bulan lalu. Persis sepertimu yang rajin menanam bibit-bibit buah ekspor unggulan di kebun pulau seberang. Aku membenamkan biji demi biji, entah sudah berapa hektar lahan kusiangi, hingga tiba-tiba nona waktu seperti menyadarkanku, bahwa tampaknya mesti ada suatu proses perkecambahan supaya konteks menanam tidak perlu berubah menjadi mengubur. Tak tumbuh lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengubur rindu, aku belum mau.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata ibu, mencintai adalah menghormati. Jadi, mungkin ini adalah bingkisan penghormatanku untuk keyakinanmu bahwa relasi lawan jenis tak selalu manis dan saling melingkupi. Kebersamaan akan tetap ada dan bergaransi dengan segel berlabelkan ‘Aku sayang kamu’ di awal kesepakatan lalu terpoles sesekali ketika kau sedang benar-benar tak ada kesibukan. Aku menghargainya, karena aku mencintaimu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pesan singkat yang saling kita lemparkan ke udara kemudian terbawa arus sinyal tak kasat mata, lambat laun membuatku gila. Kau tahu, seolah kita hanya dua makhluk hidup yang sedang saling mengisi kuisioner &lt;i&gt;online&lt;/i&gt; suatu majalah keluarga. Aku mulai bosan dengan pertanyaan-pertanyaanku sendiri. Mereka semakin terasa bagaikan rumus deret aritmatika yang berpola. Jawabanmu, jawabanku, selalu sama. Sampai-sampai terpikir untuk merancang jawaban otomatis dari ponselku untukmu. Aku yakin, kau pun ingin begitu. Benar saja, pesan singkat, bagi kita sudah tak lagi sakti. Mereka telah sedemikian rupa kehilangan ruhnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah, sebab itulah suratku datang. Demi rindu akan kesaktian misterius yang mampu membenturkan partikel-partikel darahku, membiarkan jantungku terus memompa namamu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berapa lama lagi, kebun-kebun itu akan menahanmu pulang ke kotaku? Asal kau tahu, tempat ini sedang gegap gempita. Setiap selasar jalannya dipenuhi riasan tebal beraneka warna, macam ibu muda hendak mendatangi pesta pernikahan sahabatnya, seperti perawan bergegas pergi  menepati kenduri desa . Kotaku berulang tahun, kau ingat bukan? Tahun lalu, di bulan yang sama kita nyaris tak pernah melewatkan malam seribu jajanan dan hiburan. Seluruh sudut keramaian kita datangi. Kau menikmati kembang gula putih, aku mengulum gulali kuning muda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku masih sering tertawa geli setiap mengingat ulah genitmu pada putri bapak penjual gulali ketika dia menawarimu mencoba gulali coklatnya. “Anaknya sudah manis kok, Pak. Saya &lt;i&gt;ndak&lt;/i&gt; perlu beli gulali lagi.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Muka si gadis memerah, dia tak marah. Bahkan terlihat beberapa kali mencuri pandang padamu. Ah, kau memang benar, pesonamu tersebar dimana-mana. Segala usia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kau masih sibuk mencuili kembang gulamu. Apakah kau sadar baru saja menerbangkan anak orang ke angkasa?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pulanglah, kau pasti rindu keramaian sederhana kota ini. Pertunjukan-pertunjukan rakyat yang selalu menyihirmu menjadi pertapa hutan, bersila tenang di atas rumput basah berjam-jam. Aku menghilang, semua orang lenyap. Hanya kau dan manusia-manusia pendongeng di panggung yang dipenuhi gamelan, sinden, dan wayang. Sesekali kau juga mengikuti syair tembang. Hei, tidakkah alunan musiknya terdengar menyeramkan? semua bunyi alat musik kuningan itu serasa mendengungkan panggilan mistis yang mendatangkan roh-roh halus menyeramkan. Aku mungkin terlalu berlebihan dan kau pasti tidak pernah sadar kalau aku merinding ketakutan setiap kali harus menemanimu menamatkan cerita kayangan yang tak mungkin mampu kupahami maksudnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi bagiku, demi menagih janjimu membelikanku sebatang gulali. Aku sudi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hanya untuk melihatmu berjalan disampingku, menatap sepasang sandal jepit coklat tua dan jari-jari kakimu yang entah mengapa begitu besar, bundar-bundar. Mencium aroma jaket kulitmu yang telah dihuni goresan disana-sini. Mengintip ujung-ujung rambut ikalmu yang menyembul keluar dari helm biru muda pemberianku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dan hanya untuk bersorak pelan pada langit : “Hei, dia kembali, Ngit! Menemaniku lagi!” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka pulanglah sebentar. Ada seribu cerita dariku, untukmu. Si Evi, tetangga sebelah rumahku, akan segera dilamar Harjo, kawan SMA-nya. Rina, putri &lt;i&gt;Yu&lt;/i&gt; Parmi yang kau puja rujak petisnya itu baru saja melahirkan anak pertama. Perempuan katanya. Nanda, anak bandel yang menggores motormu tahun lalu, ia sudah menghuni pondok Gontor, mulai bulan lalu. Ayahnya yang mengirim dia kesana. Ibunya menangis menjadi-jadi, tak rela. Kewalahan mereka rupanya mendidik anak itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu Agus, tetangga kampung sebelah minggu lalu datang ke rumah. Melamarku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu tak berani ikut campur. Ia serahkan semua keputusan padaku. Aku menggeleng, di depan Agus dan ibu. Tampaknya dia marah, mukanya bagai buah strawberi hasil kebunmu yang pernah kau beri untukku. Aku terlampau gugup dan nyaris menjatuhkan minuman suguhan jika saja Ibu tak cepat menimpali bahwa aku telah punya calon sendiri. Pilihanku. Kamu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Esok paginya, Ibu bertanya padaku diantara busa-busa sabun cuci yang beterbangan di belakang rumah : “Kapan &lt;i&gt;nduk&lt;/i&gt;, Totok melamarmu?”. Aku terus mencuci, begitu bersemangat hingga tubuh ibu di depanku seolah tertabiri busa sabun setinggi tubuhnya sendiri. Bernyanyi kecil, aku pura-pura tuli. Semoga ibu mengerti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukankah itu jurus yang selalu kau pakai setiap kali aku menanyakan hal serupa?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah, jadi kapan kau akan pulang? Biar aku siapkan kue-kue kesukaanmu dan kembang gula yang jelas telah kau lewatkan musimnya. Aku menanti kabarmu. Telingaku menunggu bunyi motormu menderu di depan rumah. Selepas senja, setamat adzan isya’. Seperti biasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;sayang kamu,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Suparsiah Annisa Handini&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em; text-align: justify;" target="_blank"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em; text-align: justify;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="background-color: transparent; border-width: 0px ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-3123902762891050855?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/3123902762891050855/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/05/kembang-gula.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3123902762891050855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3123902762891050855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/05/kembang-gula.html' title='Natemi-Windarto IV : Kembang Gula'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-4025211793944174372</id><published>2010-05-07T10:02:00.001+07:00</published><updated>2010-05-23T14:52:41.288+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Joyeux Anniversaire! (2)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/S-OCY4wiQQI/AAAAAAAAARM/B8MBFEvztk8/s1600/3300256542_9933d57809.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/S-OCY4wiQQI/AAAAAAAAARM/B8MBFEvztk8/s320/3300256542_9933d57809.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/05/joyeux-anniversaire.html"&gt;Mei ke Mei&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kelahiran patut dirayakan&lt;br /&gt;menyelamati niatan&lt;br /&gt;menghargai kesungguhan&lt;br /&gt;menapaktilasi perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terimakasih semua lamunan&lt;br /&gt;segala patah arang&lt;br /&gt;setiap remuk redam&lt;br /&gt;semua tawa riang&lt;br /&gt;segala reda sesudah lara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terimakasih Tuhan maha penyembuh hati&lt;br /&gt;dengan penuh kesengajaan merancang setiap pertemuan&lt;br /&gt;yang menyempurnakan,&lt;br /&gt;menumbuhkan lalu menyadarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih untuk jiwa-jiwa yang selalu meramaikan&lt;br /&gt;namun tetap menaruh hormat pada sunyi dan diam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih semuanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Dua Tahun,&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sepuluh-jari.blogspot.com/"&gt;Sepuluh Jari&lt;/a&gt; :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;*Gambar dipinjam dari &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;a href="http://www.flickr.com/photos/%20silvialeite/3300256542/"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;sini&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Lucida Grande'; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 11px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-webkit-background-clip: initial; -webkit-background-origin: initial; background-attachment: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-repeat: initial; border-bottom-width: 0px !important; border-color: initial !important; border-left-width: 0px !important; border-right-width: 0px !important; border-style: initial !important; border-top-width: 0px !important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-4025211793944174372?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/4025211793944174372/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/05/joyeux-anniversaire-2.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4025211793944174372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4025211793944174372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/05/joyeux-anniversaire-2.html' title='Joyeux Anniversaire! (2)'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/S-OCY4wiQQI/AAAAAAAAARM/B8MBFEvztk8/s72-c/3300256542_9933d57809.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-1406157911433784139</id><published>2010-04-24T23:37:00.005+07:00</published><updated>2010-04-25T10:02:24.856+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TuangPikir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Mimpi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu siswa saya sangat ingin mempunyai pabrik tahu, suatu hari nanti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia putra asli Kediri. Ini tidak terlalu mengherankan karena memang kota Kediri setahu saya telah dipenuhi oleh produsen tahu dan aneka olahannya, sejak dulu. Mimpi untuk menjadi bos tahu yang menguasai antero Indonesia atau bahkan Asia dia kemukakan pada saya dan teman-teman sekelasnya dengan senyum penuh kebanggaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Ingin punya dua puluh orang karyawan, Bu," jawabnya cepat ketika saya mengejar detail rencana si Bos Tahu ini. Walaupun saya juga belum bisa membayangkan, kira-kira model pabrik tahu seperti apa yang digawangi oleh dua puluh karyawan. Mungkin dia juga menciptakan beberapa robot pengaduk dan pemeras ampas kedelai untuk meminimalkan tenaga manusia? mungkin saja. Perusahaannya pasti akan segera menjadi pabrik tahu &lt;i&gt;high-tech&lt;/i&gt; pertama di Indonesia. Saya tak mampu berhenti tersenyum mendengarkan setiap inci kalimatnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Impian siswa saya lainnya, justru lebih ekstrem.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Saya ingin nikah sama Gita Gutawa, Bu," seisi kelas spontan meledakkan tawa liar begitu kata terakhir selesai. Wow, Gita Gutawa! Saya harus segera berdoa semoga Om Erwin tabah mendengar pengakuan ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya bisa melihat anak ini juga tertawa hingga deretan gigi seri putihnya terekam jelas di otak saya, sampai sekarang. Kontras sekali dengan kulit wajah yang sepertinya tidak terlalu coklat. Ia mengingatkan saya pada Boas Salosa, pemain Tim Nasional Indonesia favorit kawan-kawan kampus dulu, selalu terlihat eksotis dengan butir-butir peluh bercucuran, menghasilkan kilau-kilau misterius di tubuhnya. Si Mirip Boas ini ikut tertawa riang bersama teman-temannya. Tawa kelegaan, tawa harapan, tawa siap berjuang untuk sepotong impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran dengan keseriusan niatnya, saya terus merangkai pertanyaan mengenai hal apa saja yang sekiranya dapat dia lakukan untuk mendukung jalan menuju pernikahan dengan nona Gita Gutawa. Saya memang bersepakat pada semua siswa untuk terus bermimpi, seliar apapun, seaneh dan setinggi mimpi siapapun, sebeda-bedanya mimpi. Tapi menikah dengan Gita, bukan ajaran &lt;i&gt;sekte&lt;/i&gt; saya. Anak ini harus diluruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya akan jadi pengusaha, Bu," dia meyakinkan saya untuk tetap merestui hasratnya menikahi Gita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengusaha apa?" saya balik menguji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengusaha Gado-Gado, Bu. Ibu saya di rumah pandai membuat Gado-Gado" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bahkan tidak sadar, muka semua temannya sudah merah menahan geli. Saya menepuk pundaknya dua kali, berbisik dalam hati bahwa setiap orang sangat berhak menanam lalu menumbuhkan mimpinya, termasuk dia dan Gado-Gado&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Times; font-size: medium; white-space: normal;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Semoga hatinya mendengar hati saya, membawa aroma kesuksesan untuk Gado-Gado dan Gita Gutawa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: normal;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;"Saya ingin main di MU, Bu. Pakai nomor punggung 7. Jadi &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;playmaker&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;," salah satu siswa juara bandel saya dengan lancar memaparkan mimpinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia cerdas, saya sungguh bisa merasakannya. Tapi entah mengapa, sedikit hawa keseriusan dan penampakan angka-angka membuat dia seolah diracuni obat tidur dosis tinggi. Leher dan kepala tak pernah bisa tersangga dengan baik. Konsentrasinya mati. Saya hanya mampu terhubung dengannya lewat sesuatu yang dia sukai. Sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kamu serius, lakukan sesuatu yang bisa membawa kamu kesana. MU tidak akan pernah menerima &lt;i&gt;player&lt;/i&gt; yang tidak bisa menegakkan kepala, ya kan?" pembicaraan saya tutup dengan menambahkan senyuman paling bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tinggalkan semua yang tidak menuju MU, Oke?" mata kami bertemu, dia nampak mulai mengerti sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lusanya, saya tidak lagi mendapati dia di kelas. Sekian minggu, dia tetap alpa. Sebulan kemudian, pihak sekolah akhirnya mengkonfirmasi, si MU &lt;i&gt;wannabe&lt;/i&gt; didepak dari sekolah karena frekuensi ketidakhadiran telah melebihi batas toleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, semoga Tuhan memaafkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagi mimpi, sering kami lakukan di kelas sewaktu otak saya dan para siswa sudah terlalu penuh dengan segala macam kerikuhan pelajaran. Saya juga memiliki jeda waktu, mencari alternatif cara penjelasan yang dapat lebih diterima. Mereka terlihat amat terhibur dengan saling mendengar dan mencerna mimpi. Menggoda habis mereka yang sangat susah membahasakan mimpi di hatinya menjadi isyarat verbal. Ini jauh lebih baik, menurut saya, daripada harus menebar angkara setiap kali mereka terlanjur mencapai titik kulminasi konsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya memang bukan pengajar yang memiliki seribu teknik pemecah es kejenuhan. Ini hanya satu &amp;nbsp;diantara sedikit jalan pintas saya 'mencurangi' diri sendiri yang sedang putus asa dan mereka yang putus asa melihat gurunya putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangkitkan mimpi saya anggap &amp;nbsp;seperti membangkitkan api, mentransformasi ketidaktahuan menjadi keingintahuan, menerangi kegamangan dengan sorot lampu harapan. Mimpi yang kerap diverbalkan, bagai menyihir tuannya untuk tetap bertahan dan tersenyum lebar pada kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau Bu Putri, mimpinya apa, Bu?" mereka membalas saya dengan pertanyaan sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya selalu bermimpi, kalian semua berhasil mewujudkan mimpi-mimpi kalian," jawab saya sembari menyambar spidol hitam lalu melanjutkan kembali sisa materi yang tertunda tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit menggombal memang, tapi setidaknya itu tidak salah. Begitulah mimpi saya. Salah satu mimpi terbesar saya, bersanding dengan mimpi-mimpi besar lain yang tak bosan saya lagukan setiap malam, setiap kantuk mulai datang. Tepat sebelum pejam membungkus mantra mimpi itu, untuk diterbangkan ke kerajaan semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi saya adalah saya, kamu, kita, dan kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menyambut hari Minggu, semoga malam ini, semua mimpi sudah tertiup jauh sampai kesana, lalu kita jumpai sebagai nyata, esok pagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-1406157911433784139?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/1406157911433784139/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/04/mimpi.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/1406157911433784139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/1406157911433784139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/04/mimpi.html' title='Mimpi'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-7251777821136593478</id><published>2010-04-22T00:22:00.006+07:00</published><updated>2010-04-23T11:10:54.791+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Waktu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jarum panjang kian mendekati angka dua belas. Kelak, tiga ratus hitungan lagi ia akan segera bersinergi dengan kawannya, membentuk sudut sembilan puluh derajat. Segera tampak bagai kue tar yang terambil sisi sebelah kiri atasnya, seperempat bagian.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku belum ingin terpejam. Berpikir barangkali putaran tanpa bosan itu dapat dihentikan, membuatnya tak perlu sampai di titik dua belas. Ayah pernah melakukan hal sebaliknya beberapa hari lalu. Ia mengambil sesuatu dari rongga belakang perkakas dinding itu dan menggantinya dengan barang yang serupa, lalu tiba-tiba secara ajaib mereka kembali berputar menunjuk semua angka, bergiliran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kakiku berjingkat memanjat meja belajar biru muda, mencoba mengeluarkan dua benda biru serupa kue &lt;i&gt;castengel&lt;/i&gt;, sedikit lebih berat. Aku banyak belajar dari gerakan ayah, tempo hari. Tak terlalu rumit. Cukup memisahkan &lt;i&gt;castengel&lt;/i&gt; biru dari induknya, lalu pasti tak lagi ada gerakan, tak perlu tiga ratus hitungan lagi. Aku berhasil. Setidaknya, harapanku bertemu bunda malam ini tidak perlu berkejaran dengan waktu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Bunda punya hadiah untuk kamu, sayang. Jam sembilan nanti bunda pasti sudah sampai rumah," ia berjanji atas nama waktu lagi. Lalu menutup telepon dengan tergesa, sore tadi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bunyi sepatu bersama nada suara memburu terdengar sampai telingaku. Aku membayangkan bunda seolah sedang berbicara sembari melintas di arena jalan cepat. Sesekali membuatku ternganga bingung setiap ia menyelipkan satu-dua kata aneh, mungkin untuk orang di sebelah yang sepertinya juga sedang lompat gawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mengerti. Bunda selalu begitu, melakukan beberapa hal secara bersamaan. Ia kadang terlihat seperti manusia seratus tangan dan seribu kaki. Dulu, pernah ia menyuapiku dengan tangan kanan, menjepit telepon genggam dengan pipi dan leher kiri, mengetikkan sesuatu di layar komputer dengan tangan kiri, dan mata bergerak ke kanan dan kiri, berkaca memperbaiki warna-warni di wajah, mengeringkan rambut sebahunya, menyisir alis dan bulu mata, tak kunjung berhenti.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku bahkan tak tahu, bulu mata juga bisa disisir. Bunda tak pernah membalas tatapanku lebih dari lima detik demi merapikan kedua mata dan bibir indahnya sendiri. Seolah sebidang kaca bening lebih penting, untuk keduanya. Selalu begitu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Entah sudah berapa lama aku mulai membenci waktu dan segala macam barang yang dapat menunjukkan eksistensinya. Jam dinding, contohnya. Aku kerap menghardiknya perihal mengapa ia selalu terasa begitu cepat bagiku dan tampak terlalu lambat untuk bunda. Jam sembilan malam versi bunda tak pernah sama dengan versiku. Janjinya selalu digagalkan oleh detik-detik nakal itu. Makhluk bernama waktu terlalu rajin membawa bunda jauh sebelum kedua mataku genap terbuka. Memaksa ruang makan hanya dihadiri aku dan ayah yang menyantap potongan roti daging nyaris tanpa kunyahan. Mementahkan kembali rencana-rencana lucu di akhir minggu dan membiarkan bunda seperti tenggelam di kolam kertas, tanpa suara. Sedangkan aku kembali harus duduk berkawan robot-robot Power Rangers, menatap murka jam dinding di depanku, mencari tuan waktu untuk kutanyai suatu hari nanti : &lt;i&gt;Mengapa kamu seperti tak pernah ingin menunggu, mengantarkan bunda, selain malam menjelang dini hari?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat ulang tahun, sayang. Mama bawakan mainan favoritmu," satu kecupan dari wanita wangi vanila, mendarat di pipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, jam berapa ini? Semoga kecupan tadi, bukan mimpi. Semoga esok pagi, waktu masih sudi berhenti dan tidak membawa bunda terlalu cepat pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin dia, tanpa hitungan waktu, maskara dan wangi vanila.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; display: inline !important; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-webkit-background-clip: initial; -webkit-background-origin: initial; background-attachment: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-repeat: initial; border-bottom-width: 0px !important; border-color: initial !important; border-left-width: 0px !important; border-right-width: 0px !important; border-style: initial !important; border-top-width: 0px !important;" /&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-7251777821136593478?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/7251777821136593478/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/04/waktu.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7251777821136593478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7251777821136593478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/04/waktu.html' title='Waktu'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-6060931969330802265</id><published>2010-04-05T20:39:00.002+07:00</published><updated>2010-04-05T20:43:54.162+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Ikhlas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Aku ikhlas, semoga kau juga begitu"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;"Ya, aku ikhlas, ikhlas untuk tidak ikhlas mengikhlaskanmu"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Semoga Tuhan pun ikhlas, menerima ikhlasmu dan ikhlasku"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;"&lt;i&gt;Pasti, tapi aku pun ikhlas jika Dia tidak ikhlas dengan ikhlasku&lt;/i&gt;"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-webkit-background-clip: initial; -webkit-background-origin: initial; background-attachment: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-repeat: initial; border-bottom-width: 0px !important; border-color: initial !important; border-left-width: 0px !important; border-right-width: 0px !important; border-style: initial !important; border-top-width: 0px !important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-6060931969330802265?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/6060931969330802265/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/04/ikhlas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6060931969330802265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6060931969330802265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/04/ikhlas.html' title='Ikhlas'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-3762627855750506504</id><published>2010-04-03T23:27:00.010+07:00</published><updated>2010-04-04T17:34:58.387+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>"I Love You"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Baik-baik ya, Be", Rimba menjabatku, tiga detik dan menyapu pipi kiriku, dua detik. Dia tersenyum. Berusaha, lebih tepatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku, butuh sepuluh detik untuk mengkhatamkan rautnya. Menikmati definisi terakhir kami sebagai suami istri. Merasai sentuhan terakhir yang segera akan menjadi tabu begitu aku menapakkan kaki keluar dari ruang penghabisan sekaligus penasbihan ini. Aku mencubit pipi kanannya. Hangat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;''Makasiiih, my dear Rere", "Baik-baik juga, jangan lupa buatin aku ponakan yang lucu-lucu ya, hihihi..."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak ada pelukan. Apalagi kecupan. Rimba tidak cukup berani melakukan pertunjukan penutup itu di hadapan ibu dan Kania. Mereka berdiri bagai sipir penjara di belakang suamiku. Oh, mantan. Mulai lima belas menit lalu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;''Be,&amp;nbsp;&lt;i&gt;I love ...&lt;/i&gt;''&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;''&lt;i&gt;Sssstttt...&lt;/i&gt;"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jariku mengatupkan bibir Rimba. Ia tidak berhak merusak kenyataan yang semalam susah payah aku doktrinkan pada diri sendiri di depan cermin kamar mandi hanya dengan sepotong &lt;i&gt;I love you, p&lt;/i&gt;&lt;i&gt;assword&lt;/i&gt;&amp;nbsp;mujarab kita dimana-mana. Mau mandi, bilang&amp;nbsp;&lt;i&gt;I love you&lt;/i&gt;. Pergi ke kantor, &lt;i&gt;I love you&lt;/i&gt;. Pergi tidur, &lt;i&gt;I love you&lt;/i&gt;. Bangun tidur, belum gosok gigi, tetep &lt;i&gt;I love you&lt;/i&gt;. Habis berantem, rayuannya &lt;i&gt;I love you&lt;/i&gt;. Sedang tidak ada masakan, keluarkan jurus &lt;i&gt;memelas&lt;/i&gt; seribu alasan &lt;i&gt;plus I love you&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya, sepuluh tahun hidup di '&lt;i&gt;I Love You&lt;/i&gt;' &lt;i&gt;land&lt;/i&gt;, dan kami harus tenggelam begitu saja, menyerah pada waktu. Aku belum bosan, begitupun Rimba. Kalah, atau katakanlah mengalah, atau hanya sesederhana kata ini : 'berhenti'.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Konsentrasi, Nabil. Kon...sen...tra...si...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;''Pamit, Re, ditunggu Papah di luar"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;''See you, Be..."&lt;br /&gt;"..."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tepukan di lengan Rimba aku jadikan salam pelepasan. &lt;i&gt;Ya, Re. See you without those kinds of 'I love you'.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;Aku benci melihat mata Rimba menjelma menjadi mata anak kucing kehilangan induknya. Tidak ada pilihan lain, tempat ini semakin menyesakkan dengan Rimba disitu sebagai pemeran utama dan aku sebagai awak film yang di-PHK. Aku beranjak, setenang mungkin. &amp;nbsp;Semakin cepat, hingga tahu, mempercepat langkah ternyata membawa efek akselerasi penguapan air asin. Paling tidak, aku tidak perlu tengadahkan kepala untuk menyeimbangkan kantung mata, memastikan supaya tidak ada sesuatu meleleh dari sana. Dari jauh, telingaku masih saja nakal menangkap suara Mama Mirda meminta Rimba mengantar Kania kembali ke kantornya. "&lt;i&gt;Kan satu jalan, Nak, ndak terlalu jauh kok dari sini&lt;/i&gt;".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kania, gadis cantik keturunan Padang-Jepara, tiga minggu lagi akan dinikahi Rimba. Wajar. Toh, kalau saja aku ini pria, sudah pasti aku juga akan &lt;i&gt;ndlosor &lt;/i&gt;sambil&lt;i&gt; ngiler&lt;/i&gt; mengagumi gemulai lakunya. Satu lagi yang lebih penting, dokter keluarga Rimba menjamin 100% kesuburan Kania. Tidak seperti aku yang selalu harus menerima vonis menahun : "&lt;i&gt;Ibu normal, tapi... bla bla bla...&lt;/i&gt;"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seharusnya tidak ada tapi, bukan? Aku normal. Rimba normal. Kami hanya perlu mencumbui waktu. Itu yang kami percaya sampai &lt;i&gt;deadline&lt;/i&gt; dari ibunya tidak sukses terpenuhi. Lima tahun, ditambah lima tahun lagi hasil mengemis waktu pada beliau sambil menekuni ikhtiar medis dari segala penjuru dunia. &lt;i&gt;Zero result&lt;/i&gt;. Sudahlah, aku tidak perlu mengemis lagi. Biar Rimba juga tidak perlu terus bersitegang dengan keluarga besarnya. Maka malam sebelum ia disabda ibu untuk meninggalkan rumah, satu bulan sebelum hari ini, kami membuat pesta perpisahan kecil di kamar. Tanpa air &amp;nbsp;mata. Tanpa tanya. Aku dan dia hanya terjaga berdua. '&lt;i&gt;I love you'&lt;/i&gt; terucap beratus kali. Kami sungguh bagai dua manusia yang baru saja dipertemukan di peraduan. Sampai pagi datang, menemukan dua manusia berpelukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Papah tersenyum melihat aku berjalan ke arahnya. Rambut putihnya mengkilat memantulkan cahaya yang entah mengapa membuat mukanya seolah bercahaya. ''I love you, Papah'' aku bergumam di hati.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kemana kita, Bil?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Papah mau kemana? Nabil ikut aja, kan lagi &lt;i&gt;off&lt;/i&gt; di kantor"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Langsung ke rumah aja ya? Mamah udah masakin kamu kepiting telor asin"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Yes, daddy!"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku tertawa lebar, berkeras membayangkan daging kepiting berenang-renang di perut. Papah &lt;i&gt;sumringah&lt;/i&gt; dari tadi, sambil bersiul panjang setiap mobil VW Combi kami terpaksa terjebak di lampu merah perempatan. Beliau sibuk mengamati monumen Adipura di tengah kota sambil berseloroh sendiri bermain sarkasme.&amp;nbsp;Aku, akhirnya punya waktu menyempatkan diri membuka tas, mengintip sekali lagi kertas cetak biru dari Dokter Antonius Chandra, Sp.OG. , dokter langganan Mamah sejak aku belum lahir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"&lt;i&gt;Nyonya Nabila Rahman, PREG HCG EIA POSITIF&lt;/i&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo seketika hujan. Aku kedinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ah, Rere. Nampaknya, waktu sedang mencandai kita. Sedemikian lucunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em; text-align: justify;" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54488/99/5D273339E617DA03F2145AC8185EAAEA.png" style="-webkit-background-clip: initial; -webkit-background-origin: initial; background-attachment: initial; background-color: transparent; background-image: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial; border-bottom-width: 0px !important; border-color: initial !important; border-left-width: 0px !important; border-right-width: 0px !important; border-style: initial !important; border-top-width: 0px !important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-3762627855750506504?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/3762627855750506504/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/04/i-love-you.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3762627855750506504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3762627855750506504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/04/i-love-you.html' title='&quot;I Love You&quot;'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-1601401449263289289</id><published>2010-02-10T17:17:00.003+07:00</published><updated>2010-02-17T18:49:12.530+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Ruh Ingin</title><content type='html'>Aku&amp;nbsp;tak pernah punya gentar&lt;br /&gt;untuk sepotong keinginan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena ruh bernama ingin&lt;br /&gt;rajin menghunus pedang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dipupus ia, tak bersisa&lt;br /&gt;menjadi tak bernama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;entah kau?&lt;br /&gt;yang seolah tegar dan bermantra sangar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-1601401449263289289?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/1601401449263289289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/02/ruh-ingin.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/1601401449263289289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/1601401449263289289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/02/ruh-ingin.html' title='Ruh Ingin'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-3323195119856456308</id><published>2010-01-30T18:49:00.011+07:00</published><updated>2011-11-13T16:45:52.770+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Natemi-Windarto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surat'/><title type='text'>Natemi-Windarto II : Wanitaku Tak Setipis Itu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buat Nata, &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;entah dimana. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suratmu sampai. Dik Arsi tidak tahu dan tidak pula kuberitahukan padanya. Aku hanya bisa berdoa semoga suratmu tak meledakkan kubangan lahar miliknya lalu ia muntahkan menjadi magma di mukaku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku malas meributkan sesuatu yang jelas akan mengantarku menjadi telur dadar gulung kornet di depan Dik Arsi. Aku jelas habis, tanpa sempat membacakan pleidoi, tanpa sempat naik banding. Lagipula aku malas terlihat buruk, maka hari-hari setelah suratmu tiba adalah hari penuh doa dan waspada. Tanganku gemetaran membuka dan membaca tulisanmu. Gemetar bahagia, cemas, takut atau campuran ketiganya, aku tak paham benar. Tapi aku gemetar. Segemetar-gemetarnya. Kau ini selalu ada-ada saja dan aku selalu tak berdaya untuk tetap tegar. Suratmu tak mampu kuacuhkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa kabarmu? Semoga baik, sepertiku. Hari-hariku habis untuk mengurus bisnis perkebunan milik keluarga. Ayah sudah mulai renta, Nat. Beliau tak mungkin lagi mondar-mandir keliling Jawa untuk memastikan kebunnya baik-baik saja. Anak laki-laki yang sejatinya Sarjana Teknik Perminyakan ini dirayu habis-habisan untuk menggantikan beliau. Aku sangsi dengan diriku sendiri. Semoga pilihan ayahku tidak salah. Anggap saja suatu hari nanti aku mampu menjadi penemu minyak bumi sari daun pisang atau bahan bakar uap durian dan buah naga sebagai energi pengganti bensin. Pasti menggemparkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ah, durian, selalu berhasil mengingatkanku padamu. Saat ini, aku sedang bertandang ke Mataram, mengekspansi kebun durian milik rekanan ayah yang nyaris gulung tikar. Berada di antara pohon durian yang menurutku menyeramkan, entah kenapa aku ingat suratmu yang belum juga kubalas disamping juga mengembalikan semua memori tentang keributan demi keributan setiap kali musim durian tiba. Kau ingin membelinya dan aku tak pernah sudi menemani. Kau pecinta buah aneh itu. Aku, lebih baik kau kentuti daripada harus bertemu wujudnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku tak tahu sedang berada di belahan bumi mana kau sekarang. Kau pasti sudah hampir khatam 'mengukur jalan' hingga nyaris ke kutub utara lalu memutar kembali ke selatan. Kau pasti sedang mengejar mimpimu untuk menguasai semua resep masakan seluruh dunia. Merintis pendirian restoran di tiap negara dan mempunyai acara sendiri di &lt;i&gt;Asian Food Chann&lt;/i&gt;el dengan setting alam terbuka lengkap beserta peternakan sapi di sekitarnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baumu tak lagi tercium olehku sejak Sabtu siang mempertemukan kita; aku, kau dan Dik Arsi. Sabtu siang terakhir kita, juga Sabtu pertama kami. Hari pertama aku membawanya dibelakangku, diatas motor setengah baya menjelang purba yang acapkali kau naiki sembari kau cela. Ya, motor tak pernah mandi itu. Kau selalu berjingkat hati-hati ambil posisi, tak sudi tertular butir-butir lumpur yang aku sendiri lupa sudah berusia berapa minggu. Kalau Dik Arsi? aku belum tahu. Belum kutamatkan tingkahnya. Aku hanya tau sepertinya sampai saat ini dia bahagia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kenapa? Ah, sekarang kau pasti sedang tertawa membaca kalimat terakhir tadi. Seperti tawa kecutmu yang nyaris luput terbaca saat sorot mata kita saling tertumbuk dan tanganku masih menggenggam tangannya. Ada apa ini, seingatku kita masih sesama pengutuk segala macam tayangan &lt;i&gt;reality show&lt;/i&gt; aneh itu kan? Mereka yang menayangkan hal tak masuk akal, kamera sliweran, klien dan target bermusuhan, satu mengejar lainnya, si A mengintai si B, Si X merekam si Y lalu kepergok si Z, akhirnya berantem, saling lempar, jambak-menjambak, mengumbar makian dan tak pernah berujung jelas. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku sempat berbisik nanar sendiri, kenapa langit Sabtu menata kita bertiga tepat di tempat yang sama. Semua kata tanya aku gumamkan didampingi barisan serapah sambil memainkan sendok kecil adukan kopi yang Dik Arsi pesankan pada pelayan sepuluh menit lalu dan tingkah kacauku hanya membuat kopi itu tak bisa segera terteguk, ampasnya melayang terus. Bodoh. Bahkan bibir Dik Arsi yang masih terus bergerak pun tak dapat tertangkap jelas, sepertinya dia masih bercerita. Sampai mana, aku tak lagi ingat. Aku sibuk menenangkan diri, mengusir gemuruh pesawat tempur Amerika yang baru saja lepas landas dari kapal induk di tengah samudera dan melintas tepat 5 meter di atas kepalaku. Terbayang kau tergopoh-gopoh menghampiri kami, mencaciku sambil meraih cangkir kopi lalu berakhir dengan kepala dan mukaku penuh berlumur ampas minuman hitam pekat itu. Dik Arsi pasti terkejut dan tak terima. Saling geret rambut pun terjadi. Persis seperti tayangan-tayangan minim edukasi yang kita kutuk bersama. Imajinasi gugupku mulai tak terbendung. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Eh&lt;/i&gt;, Sebentar. Tintaku habis. Kupinjam pena si Zulmi dulu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku mengenalmu Nat. Khayalanku memang sama sekali tak masuk akal. Kau bukan wanita berperasaan setipis kertas buku berlogo pesawat biru jaman aku SD dulu, tergores karet penghapus sedikit saja sudah robek. Kau ini anti api, anti gores. Dibakar tak bakal mempan, digosok pun tak akan mudah . Tapi otakku terlalu kacau untuk memenangkan pengertianku tentangmu. Hingga teguran lirih serta tepukan lembut Dik Arsi ke punggung tanganku akhirnya mengembalikan sebagian warasku. Kau mungkin juga sempat melihat adegan konyol itu. Aku sungguh merasa begitu bersalah. Kau tau apa pembelaanku? 'Ceritamu terlalu panjang Dik, aku jadi bingung'. Dia hanya manggut-manggut, minta maaf seperti anak kucing, merajuk ingin digendong majikannya. &lt;i&gt;Oh, shit! What the hell am I doing, Nat?!&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku&lt;i&gt; kelimpungan&lt;/i&gt;. Kau begitu datar. Jari-jarimu menari tenang pada keyboard komputer jinjing yang kau beli bersamaku. Aku masih ingat waktu itu kau tetap &lt;i&gt;ngotot&lt;/i&gt; memilih warna coklat tua meski aku berkeras meyakinkan bahwa warna merah hati akan lebih cocok untukmu. Dasar keras kepala. Bukankah semua wanita pasti bangga dengan pilihan dan perhatian pasangannya. Kau justru melakukan sebaliknya, melawanku dengan setumpuk perbedaan yang sangat disengaja lalu tersenyum meringis melihat aku manyun menahan kesal. Pacar macam apa kau ini? &lt;i&gt;Oh&lt;/i&gt;, tapi aku sempat melihat stiker Tazmania masih melekat di sana. Bukankah itu pemberian putus asaku setelah akhirnya merah hati tumbang melawan coklat tua? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kau juga sangat 'baik-baik saja' ketika tiba-tiba menghampiri kami berdua, memberi salam pada Dik Arsi, mengenalkan dirimu sebagai sahabat kentalku. Tak paham, mantra apa kau tiupkan di ubun-ubunnya, bahkan dia masih tertawa lebar saat kau raih badan linglungku ke pelukanmu. Dia memang nampak terkejut, tapi tak sedikitpun terlihat geram. Dia sungguh mempercayaimu, Nat. Ya Tuhan, semoga kelak Dik Arsi masuk surga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelukan itu, pelukan terakhir, begitu mungkin maksudmu. Aku bisa merasakan kau mencengkeram pelan pundakku, hal yang selalu kau lakukan setiap kali hari buruk datang padamu. Seperti dulu, sehari setelah kakekmu meninggal pun kau lakukan hal sama. Meraihku sekian detik, melepaskan beberapa hela nafas berat lalu kembali tersenyum. Sabtu itu, aku mengenalinya lagi, nafas yang kau lepas di balik punggungku. Kau memang gadis pintar, Nat. Mencoba sembunyi rasa dariku dan Dik Arsi. Wanita lugu itu mungkin bisa kau belokkan. Tapi aku masih mampu membaca hatimu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku semakin kacau. Memelukmu, dengan muka menghadap Dik Asri. Aku ingin mati saja, keracunan kopi atau tersedak kursi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Surat ini seharusnya tidak perlu ada. Kita hanya akan menyiramkan sari jeruk nipis di masing-masing hati. Aku tak mengerti mengapa kau yang sekeras itu tiba-tiba mendatangiku hanya dengan sepucuk surat cengeng berhiaskan beberapa noda tetesan air pada kertasnya. Tidak mungkin itu keringat, apalagi air liur. Ayolah, kau sudah berkesimpulan, Nat. Aku sudah memohon. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kau meringkas 6 tahun kita beserta penghakiman bahwa impian kita tak pernah sama, bahwa mata kehidupan kita nyaris selalu berseberangan. Kau tak bergeming bahkan untuk mendengar harapan-harapanku. Pesta perpisahan secara wajar pun tak pernah punya kesempatan untuk kuhadiahkan untukmu. Kau tak mengerti seputusasa apa aku malam itu. Saat jurus-jurus permohonan konyolku tak lagi mampu menahanmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kuatlah. Aku juga akan kuat. Jangan mendatangiku kembali bila hanya berbekal surat rapuh yang membuatku tak lagi mengenalimu. Jangan mengatakan kita tak lagi punya waktu karena kita juga yang sudah memupusnya. Setidaknya bersamamu aku sudah belajar. Belajar mencintai seorang wanita keras kepala. Mengerti bahwa ternyata ada juga wanita yang tega mengupil atau buang angin tepat di samping pasangannya. Mengerti bahwa kau ini tak biasa, pelawan arus kewanitaan yang demikian cerdas dan susah tertebak. Pemimpi yang tinggi dan luas. Seluas dunia, bahkan angkasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku berterima kasih telah memiliki episode hidup bersamamu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah ya, Nat. Semoga surat ini bukan kesalahan. Aku jatuhkan ini dirumahmu. Semoga tersampaikan. Semoga kau bahagia. Aku hembuskan satu-dua asap tembakau bakar disini. Kelak, ketika surat ini sampai, semoga aromanya masih ada dan tersisa untuk kau hirup dalam-dalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salam Bahagia,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;-Win-&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;NB : Aku. Selalu. Rindu. Mencintaimu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-3323195119856456308?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/06/kentut-upil-dan-tembakau.html' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/3323195119856456308/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/01/wanitaku-tak-setipis-itu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3323195119856456308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3323195119856456308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/01/wanitaku-tak-setipis-itu.html' title='Natemi-Windarto II : Wanitaku Tak Setipis Itu'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-1359177784555707617</id><published>2010-01-26T08:09:00.006+07:00</published><updated>2010-01-26T15:00:58.127+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>What a Dream!</title><content type='html'>Header baru :)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;sudah dipamerin ke Mama, beliau bilang : 'baguuuss..&lt;span style="font-style: italic;"&gt;., tapi awannya kok banyak sekali, dek?&lt;/span&gt;'.&lt;br /&gt;dipamerin ke Mas : ' ..... ', gak ada komentar. Seperti biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekarang waktunya dipamerin beneran ke teman-teman disini. Semoga pantas dinikmati ya. Saya buat header ini di 'paint', sederhana sekali sih, memang niatnya bikin sesuatu untuk renew blog dan sesuatu itu pengennya harus something original, maka jadilah painting ini. Haha! jadi ketagihan nge&lt;span style="font-style: italic;"&gt;paint&lt;/span&gt; lagi! Puas akhirnya bisa buat header sendiri :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/S15IPaDV1vI/AAAAAAAAAOA/5BEONLq8KTY/s1600-h/karyaPaintOri.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 87px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/S15IPaDV1vI/AAAAAAAAAOA/5BEONLq8KTY/s320/karyaPaintOri.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430857630183970546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Buat yang nanya itu sebenernya gambar apa, itu adalah halaman belakang rumah saya kelak, *clingak-clinguk nyari yang mau diajak tinggal*. Ada beberapa pagar kayu yang rusak dan jadi jalan masuk kucing tetangga, ada rumput-rumput setengah liar tapi segar, ada jemuran tempat saya menjemur pakaian kami ; saya, dia dan anak-anak kami lalu ada pondok kecil tepat dibelakang rumah utama tempat saya dan dia, atau haruskah saya bilang 'kita' berpacaran  saling bertukar cerita selagi buntut-buntut sedang tertidur pulas.  Ah, how sweet, how romantic aaannnddd... what a dream! hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sah dong?! mimpi, mimpi saya juga :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan semoga sedang menjadi mimpi orang lain pula,&lt;br /&gt;hingga Tuhan ingin mempertemukan kita; saya dan kamu&lt;br /&gt;*iya, Mama bener, awannya kebanyakan*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, happy reading, everyone!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-1359177784555707617?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/1359177784555707617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/01/what-dream.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/1359177784555707617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/1359177784555707617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2010/01/what-dream.html' title='What a Dream!'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/S15IPaDV1vI/AAAAAAAAAOA/5BEONLq8KTY/s72-c/karyaPaintOri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-6052267695330299218</id><published>2009-12-09T19:34:00.004+07:00</published><updated>2010-02-10T16:18:29.913+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TuangPikir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Happy December 9th!!!</title><content type='html'>Mungkin ini adalah tentang hati&lt;br /&gt;yang lampunya telah lama mati&lt;br /&gt;hingga sang juragan masih harus meraba&lt;br /&gt;ciptakan beribu kira, hindari putus asa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tak coba nyalakan beberapa lampunya?&lt;br /&gt;entah dengan satu petikan saklar atau mencari gantinya&lt;br /&gt;jika memang sudah terlampau tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepertinya tak apa, demi tak meraba, demi tak mengira-ngira&lt;br /&gt;demi tak lagi buta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mari bersama benderangkan lampu hati&lt;br /&gt;supaya tiap 'objek'nya mampu terpantul sempurna&lt;br /&gt;lalu terbaca presisi, tanpa perlu bias lagi&lt;br /&gt;oleh prasangka dan geliat diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanpa harus menggelinjangkan asa kesana-kemari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari berbicara 'saya dan kita'&lt;br /&gt;untuk dapat menemukan 'dia dan mereka'&lt;br /&gt;kemudian selalu berkarya, dengan rasa&lt;br /&gt;tanpa putus asa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Selamat 9 Desember&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selamat memaknainya, &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;k**up*i saya, kamu, dia, kita dan mereka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-6052267695330299218?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/6052267695330299218/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/12/happy-december-9th.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6052267695330299218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6052267695330299218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/12/happy-december-9th.html' title='Happy December 9th!!!'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-7319217562589473245</id><published>2009-12-07T15:32:00.010+07:00</published><updated>2010-01-26T07:56:52.657+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Kau Lelaki, Aku Wanita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kau lelaki, aku wanita,&lt;br /&gt;mungkin akan bertemu pada suatu masa&lt;br /&gt;di sebuah kedai kopi sederhana, saat senja merayap angkasa&lt;br /&gt;atau di sepenggal deru hujan&lt;br /&gt;yang memaksa dimensi ruang terpangkas demi hangati raga&lt;br /&gt;atau pada muara waktu yang sama sekali tak istimewa&lt;br /&gt;atau pada kelebat tatapan kesekiankalinya, yang dulu hanya biasa&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kau lelaki, aku wanita&lt;br /&gt;mencinta, begitu saja, tanpa diminta&lt;br /&gt;bahkan sebelum otak dan hati sempat berdiskusi, saling menanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau lelaki, aku wanita&lt;br /&gt;saling membawa buntalan dari buritan cerita jiwa&lt;br /&gt;rasanya milikku terpanggul lebih berat,&lt;br /&gt;namun tampak gurat lelahmu membekas lebih jelas dan nyata&lt;br /&gt;aku tak tau, mungkin saja keliru&lt;br /&gt;kemari, aku ingin turunkan buntal lusuh ini di dekatmu, satu demi satu&lt;br /&gt;dan semoga kau memperkenankan dua tanganku menyapu gores2 jengahmu&lt;br /&gt;perlahan saja, sejauh aku mampu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau lelaki, aku wanita&lt;br /&gt;tiba-tiba, begitu saja, terhampiri cinta&lt;br /&gt;tanpa campur tangan nafsu rencana&lt;br /&gt;kecuali mungkin, memang atas rencana&lt;br /&gt;untuk hadirkan kita di semestaNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau lelaki, aku wanita&lt;br /&gt;senja mulai merajai angkasa,&lt;br /&gt;dan punggungmu perlahan hilang tertelan gelapnya&lt;br /&gt;maka sampai jumpa, di muara waktu kita,&lt;br /&gt;yang mungkin selamanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-7319217562589473245?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/7319217562589473245/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/12/kau-lelaki-aku-wanita.html#comment-form' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7319217562589473245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7319217562589473245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/12/kau-lelaki-aku-wanita.html' title='Kau Lelaki, Aku Wanita'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-4260681549807983751</id><published>2009-11-04T20:03:00.009+07:00</published><updated>2009-11-05T07:51:07.834+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Kita, Bulan</title><content type='html'>Bulan itu indah&lt;br /&gt;untuk sepasang mata bijaksana&lt;br /&gt;yang tak mencampuri dekatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan itu cantik&lt;br /&gt;untuk decak ingin tau yang berdamai&lt;br /&gt;dengan kecukupan hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan itu lucu&lt;br /&gt;tanpa perlu terkecualikan&lt;br /&gt;oleh celah-bilahnya andai tubuh ini dekat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan itu selalu indah&lt;br /&gt;tak perlu hadirkan jarak sebagai variabel&lt;br /&gt;untuk sebuah kesimpulan hati : 'Kau memang indah'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kita?&lt;br /&gt;Mungkin saja kita ini adalah bulan yang selalu layak diindahkan,&lt;br /&gt;dicintai dan dikagumi&lt;br /&gt;walau jarak tak lagi menjadi variabelnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicintai saat jauh,&lt;br /&gt;juga ketika sudah mendekat tanpa jengkal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan mampukah kita melayakkan sebuah cinta,&lt;br /&gt;memantaskannya tanpa kecuali, tanpa tetapi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-4260681549807983751?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/4260681549807983751/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/11/kita-bulan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4260681549807983751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4260681549807983751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/11/kita-bulan.html' title='Kita, Bulan'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-8862533895420430549</id><published>2009-10-29T19:29:00.011+07:00</published><updated>2010-01-26T07:52:48.936+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TuangPikir'/><title type='text'>Belajar-Diajar-Mengajar</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Mengajar itu memahami, bukan dipahami. Mengajar itu mendengar bukan didengar dan setidaknya bagi saya, mengajar itu belajar walaupun ternyata belajar memahami dan mendengar sekian puluh kepala dalam satu kelas bukanlah jalan yang baik dan terpuji menuju kedamaian jiwa. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yap&lt;/span&gt;! jiwa saya, bukan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bulan saya menceburkan diri di dunia pendidikan kejuruan-swasta (lembaga pendidikan swasta kejuruan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngerti kan&lt;/span&gt;?), sudah mampu membanting setir jiwa saya ke berbagai arah, kadang terlempar kesana-kemari dan berakhir nol. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gak ngerti&lt;/span&gt; harus gimana. Saya yang sebenarnya individu setengah temperamen dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gak&lt;/span&gt; sabaran seringkali terbentur fakta lapangan bahwa anak-anak dihadapan saya ini cuma bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;melongo&lt;/span&gt; setiap kali saya pakai tiket &lt;span style="font-style: italic;"&gt;express explanation&lt;/span&gt; dan bahasa ketinggian. '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sudah bisa dipahami?&lt;/span&gt;' saya bertanya dengan berbinar karena sebelumnya cukup yakin penjelasan beberapa detik lalu dapat mereka cerna dengan baik. Kelaspun hening, ada yang gigit-gigit &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ballpoint&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngeraba&lt;/span&gt;2 kertas catatan, beradegan manggut2 tapi bukunya kebalik, pijet-pijet kepala hingga rambut jadi gak karuan, melototin papan sampe gak kedip dan terakhir, saking &lt;span style="font-style: italic;"&gt;desperate&lt;/span&gt;nya mungkin ya, lebih memilih melongok keluar jendela, menikmati arus sungai lalu senyum-senyum sendiri. Saya berdoa semoga dia tidak sedang menikmati gadis mandi di sungai karena air dirumah sedang mati. Semoga saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh no, saya nyaris bikin anak orang jadi sinting!&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya coba pakai cara lain, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;slowmotion&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kalem&lt;/span&gt;, longgar, santai, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jijay, bajay&lt;/span&gt;.... Merekapun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wes eweshhh ewessshhh&lt;/span&gt;..., lewat semua. Santai mampus. Sampai mampus. Tidak ada pancaran '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ahaaa&lt;/span&gt;!!!' di wajah mereka. Pertanyaan-pertanyaan saya malah dijawab dengan tampang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sakau&lt;/span&gt; bantal. Kalau dulu jaman masih di kampus mah gampang, ada anak aneh sedikit, sikaaattt!!! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Treatment&lt;/span&gt; singkat, dibolak-balik, uji konsistensi, beres. Lha ini? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;treatment&lt;/span&gt; kita sebatas bibir.  Saya jadi sering ngejerit : '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ohhh...treatmentkuuuhhh hanya di bibir sajaaahhh..&lt;/span&gt;.'. Itupun dengan kalimat-kalimat 'aman' yang tak perlu simbol bintang kalo misalnya harus dituliskan. Jadi suka atau tidak, bibir saya harus lebih 'sakti' dan kreatif demi mencari pengganti 'kata berbintang' itu tadi, dan proses menyaktikan bibir itulah yang mengaduk emosi. Walaupun saya cukup pede dengan bekal pengalaman adu sakti lawan Kajur lalu PD III dan terakhir VS Pak Dekan. Walaupun juga saya harus tumbang dengan membanggakan. '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hai, Pak Kajur, apa kabar?&lt;/span&gt;' :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai mana tadi? oh ya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;TREATMENT&lt;/span&gt;. Saya cenderung memilih untuk tidak percaya dengan doktrin para senior guru yang kerap berkata : &lt;em&gt;'Sudahlah bu, mau diapakan saja anak2 itu gak bakal mempan, yang penting kita harus tegas, keras, ganas dan disiplin, tanpa ampun pokoknya!, kalo gak gitu nanti kita sendiri yang stres&lt;/em&gt;'. &lt;em&gt;'Mereka ngeremehin kita bu kalo kita gak strict!&lt;/em&gt;'.'&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mereka sudah dari sononya geblek Bu, bandel gak ketulungan!&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ah, bukan, gak segitunya. Saya percaya mereka sesungguhnya sama saja dengan siswa lain dari sekolah favorit Negri misalnya. Perbedaan mungkin hanya terletak di background keluarga dan kondisi ekonomi. Mayoritas mereka itu '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;broken home product&lt;/span&gt;', dibiayain tanpa perhatian semestinya, atau sebaliknya, diperhatikan tanpa biaya semestinya. Mereka mungkin hanya belum ngerti 'untuk apa saya sekolah', 'untuk apa saya belajar perpangkatan, logaritma, logika, teori ukuran, dan sederet daftar pelajaran lainnya', 'untuk apa saya jauh-jauh berangkat sekolah kalo akhirnya dihukum juga ketika terlambat masuk'. Mereka hanya belum punya jawaban atas ke'untukapa'an yg melayang-layang nakal dikepala. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The most important thing is&lt;/span&gt;, mereka sepertinya tidak patut disalahkan, tidak patut jadi sasaran kejengkelan kita. Separah2nya mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi saya tidak mengelak kok, mereka juga harus disadarkan dengan sedikit ketegasan berbungkus kemarahan. Bukan kemarahan karena kita marah, tapi kemarahan karena kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beberapa minggu ini saya terapkan model '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;half game-half strict&lt;/span&gt;' di kelas. Saya endapkan emosi, dengan susah payah sih awalnya. Saya petakan kondisi kelas, membaca psikis siswa lalu tiba2 berkata : &lt;em&gt;'ok, mari kita bermain!'&lt;/em&gt;. Sekejap mata mereka sudah berubah menjadi anak kecil yang baru dapet mainan baru. &lt;em&gt;Yaaayyyy!!! Ayo Buuu....!!!.&lt;/em&gt; Mukanya cerah, tawanya lepas, tangannya dikepalkan ke udara. Kalau begini, apapun instruksi saya sudah pasti mampu mereka tunaikan dengan cepat tanpa protes. Saya bahagia mereka bisa selepas itu, walaupun sejenak kelas jadi bergemuruh bising, walaupun biasanya setelah itu pengajar kelas sebelah menengok kelas saya dengan bersungut-sungut jengkel. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I don't care&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;This is my class&lt;/span&gt;. Saya berhak bergaya apapun demi membahagiakan siswa saya. Oh, dan maaf sekali untuk keramaian sesaat tadi :).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini berjalan cukup baik. Saya tetap percaya, lebih baik bermain daripada memaksakan suatu materi saat semua wajah sudah kelipat-lipat. Resikonya adalah waktu. Saya bertaruh dengan waktu. Sekarang saya mulai bertanya, siapa sih yang mendesain paket materi-materi standart itu? '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang penting materi selesai, sesuai waktu&lt;/span&gt;' menurut saya adalah PEDOMAN GILA. Saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kok&lt;/span&gt; jadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pingin&lt;/span&gt; adu sakti sama mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya ingin siswa saya unik, kreatif dan bernalar bagus. Mereka ini sudah unik. sangat unik malah. Bagaimana dengan pandai? pandai itu menurut saya identik dengan stagnansi, saya ogah punya murid yang modal pandai saja, ke laut aja lah wahai -siswa modal pandai- dan kelaut aja wahai guru pemuja -siswa modal pandai-. &lt;em&gt;'Anda sebaiknya belajar untuk lebih kreatif'&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;'Saya butuh kreatifitas dan konsentrasi anda untuk bersama2 saya menuntaskan pelajaran hari ini'&lt;/em&gt;, itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;closing words&lt;/span&gt; yang sering saya lemparkan setelah permainan usai. Merekapun serentak menegakkan posisi duduknya, antusias kembali, segar kembali. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Well done, guys!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan the '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;strict part&lt;/span&gt;' nya? Ah, sepertinya tabu kalo saya beberkan disini, nanti saya digelandang polisi :D. Ya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;push up-push up&lt;/span&gt; dikit lah, biar seger, perlu juga terkadang. Gak kok, selain itu paling-paling &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyuruh&lt;/span&gt; mereka berdiri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngadep&lt;/span&gt; tembok, menertawai tembok, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sampe&lt;/span&gt; akhirnya bergumam sendiri : &lt;em&gt;'Bu, saya ingin ikut pelajaran lagi...&lt;/em&gt;'. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-8862533895420430549?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/8862533895420430549/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/10/belajar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/8862533895420430549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/8862533895420430549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/10/belajar.html' title='Belajar-Diajar-Mengajar'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-5512390838824486258</id><published>2009-10-29T08:36:00.005+07:00</published><updated>2009-10-29T16:45:25.248+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Kepada Hujan</title><content type='html'>Kepada hujan kuwakilkan bahagia&lt;br /&gt;semoga tuntas terguyur basah,&lt;br /&gt;usah gemeretak melara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama hujan kurapatkan doa&lt;br /&gt;semoga deru dan gemericiknya&lt;br /&gt;sudi mengantarku kesana...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-5512390838824486258?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/5512390838824486258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/10/kepada-hujan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5512390838824486258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5512390838824486258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/10/kepada-hujan.html' title='Kepada Hujan'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-2759927743893499696</id><published>2009-10-15T10:23:00.004+07:00</published><updated>2009-10-22T07:36:48.854+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>...</title><content type='html'>Perempuan mengayuh senja&lt;br /&gt;untuk redakan luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan menyusul asa&lt;br /&gt;tanpa hirau prasangka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki berkawan tawa&lt;br /&gt;menorehkan getah tak berwarna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan terus mengayuh senja&lt;br /&gt;bersama getah tak berwarnanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tertawa...&lt;br /&gt;dan perempuan pun berkata : 'Tetaplah bahagia'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-2759927743893499696?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/2759927743893499696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/10/blog-post.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/2759927743893499696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/2759927743893499696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/10/blog-post.html' title='...'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-1392878907782503878</id><published>2009-10-11T16:18:00.004+07:00</published><updated>2009-10-13T11:11:17.506+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Menunggumu</title><content type='html'>Aku menunggumu seperti tersisanya separuh peraduanku&lt;br /&gt;Aku menunggumu seperti kosongnya setengah lemari pakaianku&lt;br /&gt;Aku menunggumu seperti lapangnya berjengkal kursi malasku&lt;br /&gt;Aku menunggumu seperti terhamparnya ruang bagi sajadahmu, di sampingku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggumu seperti kau menungguku&lt;br /&gt;tanpa pernah kau tau&lt;br /&gt;tanpa pernah ku tau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggu dan percaya&lt;br /&gt;Aku menunggu dan berdoa&lt;br /&gt;Aku menunggu dan bahagia :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-1392878907782503878?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/1392878907782503878/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/10/menunggumu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/1392878907782503878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/1392878907782503878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/10/menunggumu.html' title='Menunggumu'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-8249181934601062469</id><published>2009-09-10T16:00:00.005+07:00</published><updated>2010-01-26T08:01:37.603+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TuangPikir'/><title type='text'>1200 Hape untuk 1200 Pemakna Rindu</title><content type='html'>Seminggu lalu terasa ramai sekali, efeknya hingga sekarang saya jadi eneg kalo harus ngeliat banyak orang. What a very crowded week I had!!!&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Jadi ceritanya Sekolah tempat saya menggembala anak2 manusia dari berbagai penjuru malang dan sekitarnya sedang nge&lt;span style="font-style: italic;"&gt;launching&lt;/span&gt; program baru, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SMS Gateway&lt;/span&gt; katanya. Seluruh wali murid kelas X sebanyak 1200 kepala bakal dipinjami sebuah hape baru berikut kartu perdana selama anaknya 'bertapa' disitu (3 tahunan lah ato klo gak cepet dapet wangsit, bisa aja lebih :p). Acara dibagi menjadi 3 shift per harinya selama seminggu penuh, rata2 per shift bisa nyampe 80-100 wali murid yang berbondong2 dateng karena diiming2i hape baru. Ke depan, hape itu diharapkan bakal jadi perantara efektif antara orang tua dan guru wali/sekolah demi menunjang program penjinakan anak2 mereka yg notabene sumpah bikin kepala saya sering mendidih ngadepin brutalisme acak mereka. Semua undangan dan pemberitahuan surat peringatan juga akan dikirim via SMS, maksudnya mungkin mengurangi penggunaan kertas secara berlebihan. Good, pikir saya, blom pernah tau nih ada sekolah yang seniat ini bikin program. Sampe dibelain dan dimodalin segitu banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenyataan di lapangan membuat saya berpikir lain.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tenaga baru dan sebagai salah satu anak muda keren yang bisa diandalkan dalam per hape an, di tiap shift dan di tiap harinya saya bakal selalu ditugasi untuk ngebantu para orang tua untuk meregistrasikan nomor mereka. Praktis, saya sama sekali tidak punya waktu istirahat di sela kegiatan mengajar, dan sepertinya bapak2 ibu2 wali murid gak mau tau soal itu. Mungkin karena saya begitu mempesona, ya mungkin saja. Semua pada tunjuk tangan atau melambai2 minta tolong : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Bu, nyuwun tulung, kulo mboten saget niki...'&lt;/span&gt; (Bu, minta tolong, saya tidak bisa), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Bu, pripun niki kok mboten saget murup??'&lt;/span&gt;(Bu, gimana ini, kok gak bisa hidup?), dan bahkan ada yang dengan kejamnya hanya melambai saya lalu menyerahkan hapenya begitu saja tanpa pendahuluan apa2. Untung gak saya masukin ke saku itu hape!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua seperti itu, barulah saya nyadar kalo background mereka sama sekali (maaf) blom nutut untuk barang semacam hape. Pikiran itu setidaknya ngebantu saya untuk lebih tenang dan sabar dan tentunya lebih keren (benar kan?). Sudahlah, anggap aja lagi ngajarin anak kecil :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngelihat tingkah mereka masing2 saat pertama nerima hape, saya jadi stress, pengen nangis. Bagi mereka sepertinya itu barang ajaib, sakral, berharga sekali sampe megang doosboxnya saja pake dua tangan kayak megang nampan berisi emas 99 karat, diminta ngebuka plastik dan segelnya saja takut bener, hati2 sekali kayak mo ngejinakin bom. Ya Tuhan, hape bagi mereka bukan barang akrab yang biasa. Saya mati gaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, smua hape sudah teregistrasi, giliran diinstruksikan untuk meng SMS identitas ke nomor hape guru wali, maksudnya sebagai latihan aja sih, supaya gak asing2 amat, tapi nyatanya yang ada adalah hampir 50% nya tiba2 terdiam gak ngapa2in. Hape sudah kembali terbungkus rapi, ada di doosbox lagi. Padahal instruktur di depan sudah beramah2 ria plus make bahasa jawa yang demikian halus dan kental. Apakah mereka masih gak ngerti juga? Yes, bahkan saat ditanyapun mereka hanya menggeleng dan nyengir : '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kulo mboten saget mitek2e(mencet2nya) Bu, mboten pernah gadahan hape...'&lt;/span&gt;. Saya cuma bisa nelan ludah, dan terpaksa harus menginfokan satu persatu : '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bgini lho Bu, Pak caranya, tidak perlu takut mencetnya, ntar klo rusak paling juga sekolah yang rugi,haha!&lt;/span&gt;'. Informasi sesat, saya tau. Tapi saya bener2 gak kebayang untuk menjadi tentor baik hati bagi sekian ribu orang yang harus belajar hape mulai dari nol lagi. Mendekati tidak mungkin. Walaupun mungkin saya cukup mempesona untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo gini kondisinya, sepertinya program sekolah bakal nemuin banyak kendala. Apalagi sekolah punya aturan main bahwa hape itu haram dibawa atau diserahkan ke anak, jadi cukup orang tua saja penguasanya. Gimana bisa?? Jangan2 ntar hape bakal dikeramatkan lalu disimpen di kotak perhiasan yang dikunci ganda dan di sembunyikan di pojok lemari baju. Kacau. Saya gak bisa berhenti mikir kemungkinan2 buruk yang bakal ada. Tapi pihak sekolah sampai sekarang masih optimis2 saja kelihatannya. '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;No problemo&lt;/span&gt;', begitu kata Bos saya. Sip lah Bos, semoga beneran gak ada efek buruk apa2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhanku, semoga program Penjinakan ini berhasil dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenernya diluar semua cerita narsis ini saya hanya ingin memberi tanda pada keterkesiapan saya untuk polosnya para orang tua itu pada sebuah hape. Sulit bagi saya untuk percaya, sementara mereka sama sekali asing pada barang 'umum' itu, putra putri nya malah bolak balik sibuk update gadget2 terbaru, nikmatin fitur2 aneh dari hape mereka yang jauh dr kesan 'hape sederhana'. Bener deh kalo sekolah sempet bakal nerbitin aturan baru klo seluruh siswa/i dilarang bawa hape. Mbok ya kalo orang tuanya blom mampu membelikan, gak perlu lah sok keren lalu 'memaksa' mereka menyediakan barang yang bahkan mereka (orangtua) sendiri gak paham barang itu gimana mengoperasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga mulai berpikir, gak ada salahnya kok gagap dengan hape. Apa sih ruginya? selama ini mungkin kita hanya kebawa gaya hidup, sehingga kalo suatu hari kita kluar rumah tanpa hape, kayaknya kok bakal gak slamet dunia akhirat. Tidurpun kudu ada hape di sebelah bantal, iya gak sih? This is not right, bro...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang asing dengan hape mungkin saja adalah individu2 yang lebih menghargai arti tatapan mata, kehangatan bercengkrama langsung, simpati jujur dan nyata, lebih menikmati arti sebuah rindu pada orang yang dia tidak tau dimana dan bagaimana posisi dan kabarnya, lebih memaknai sebuah perjumpaan dan menghargai setiap perpisahan. Karena saya pikir hape sudah menjungkirbalikkan seluruh makna itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saya ingin tidak berhape, mungkin juga tidak usah ber facebook, ber twitter, ber email, dan semacamnya. Cukup sehelai surat, yang pasti membuat kita resah menunggu, akankah dia sampai pada tujuannya, akankah balasannya sampai pada saya? buat saya, sepertinya keresahan itu akan terasa sangat indah :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin, tapi pasti orang tua saya bakal protes, penggemar2 fanatik saya akan bingung melacak jejak saya. Ah, kasian..., saya jadi dilema. Bagaimana ini?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-8249181934601062469?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/8249181934601062469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/09/1200-hape-untuk-1200-pemakna-rindu.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/8249181934601062469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/8249181934601062469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/09/1200-hape-untuk-1200-pemakna-rindu.html' title='1200 Hape untuk 1200 Pemakna Rindu'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-6404562743791224921</id><published>2009-08-21T17:16:00.005+07:00</published><updated>2009-10-11T16:54:21.401+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TuangPikir'/><title type='text'>Tamu Ramadhan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Facebook ramai dengan posting status kawan2 yang sedang menyambut bulan suci kami, BULAN RAMADHAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saya bingung, ini sebenernya kita yang menyambut, atau kita yang disambut? bukankah Ramadhan itu adalah suatu waktu, disediakan oleh Tuhan untuk umatNya. Bukankah dia (Ramadhan) tidak akan datang pada kita sebagai seorang tamu, melainkan kita lah yang menghampiri waktu itu dengan berbagai kesadaran (senang, biasa saja, benci, terbatasi, termuliakan, dsb). Lalu mengapa kita selalu saja sok mulia dengan mengatakan : 'Selamat datang Ramadhan'??!. Sok penting sekali kesannya, iya klo Ramadhan mau mampir ke tempat kita, lha kalau tak sudi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah konsep Bulan Suci ini adalah konsep : 'siapa niat, dia dapat'. Dapat dalam hal ini berarti, yg bersangkutan insya Allah akan mendapat kemuliaan dan berkah di dalamnya. Sehingga barang siapa yang hanya berkata 'selamat datang!' namun dia tidak melakukan apapun untuk tamunya maka mungkin saja tamu itu hanya akan sampai di teras rumahnya lalu pergi tanpa pamit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mari kita bersama2 menjadi tamu kehormatan untuk sebuah Ramadhan, mempelajari setiap sudut bangunannya, memahami setiap jengkal petuahnya, menikmati jamuan keberkahannya dan mengambil tiket KEMENANGAN untuk hari suci berikutnya :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari bertamu padanya, Semoga Tuhan mengijinkan :)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-6404562743791224921?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/6404562743791224921/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/08/tamu-ramadhan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6404562743791224921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6404562743791224921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/08/tamu-ramadhan.html' title='Tamu Ramadhan'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-1476654094766327097</id><published>2009-08-18T11:05:00.004+07:00</published><updated>2009-08-19T15:43:52.509+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Kamar Mandiku</title><content type='html'>Aku suka kamar mandi&lt;br /&gt;bilik dimana setiap ingin pribadi dapat dilakoni&lt;br /&gt;tanpa harus malu, tanpa harus ragu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku suka kamar mandi,&lt;br /&gt;tetapi tanpa pakai mengantri&lt;br /&gt;karena bisa kulunasi hobi untuk berdiam diri&lt;br /&gt;lama, tanpa arti, lalu mandi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di titik tertentu, aku rindu ada disana&lt;br /&gt;dibawah pancuran air dingin setelah kubiarkan airnya mengalir&lt;br /&gt;karena dia mampu membasuh &lt;a href="http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/02/zero-point.html"&gt;kucuran air asin dari sudut2 mataku&lt;/a&gt;, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanpa ada yang tau,&lt;br /&gt;tanpa tergesa merepotkan tangan untuk turut menyeka&lt;br /&gt;keluar dari sana, seolah tak terjadi apa-apa...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-1476654094766327097?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/1476654094766327097/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/08/kamar-mandiku.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/1476654094766327097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/1476654094766327097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/08/kamar-mandiku.html' title='Kamar Mandiku'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-4369515253298491455</id><published>2009-08-05T15:34:00.004+07:00</published><updated>2009-10-01T15:48:49.532+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Juni-Juli</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya tenggelam tak terencana di Juni-Juli, sayang sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posting kemaren tiba2 nyadarin saya klo sepertinya hal-hal penting (menurut saya) di dua bulan itu terlewatkan gitu aja, tanpa dokumentasi tertulis satu pun! hampir sebulan penuh tidak ada apapun di blog saya :(. Bayangkan, selisih dua posting terakhir saya nyaris dua bulan men! Arrrggghhhh...!!! padahal kepala udah penuh dengan angan2, sesak dengan cerita, ramai dengan antrian ungkapan2 sederhana, tapi semua terbuang percuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tau apa yang terjadi kemarin. Sebenarnya bulan2 itu saya tidak benar2 crowded, padat schedule ato tujuh hari tujuh malam gak berhenti beraktifitas,tidak juga. Tapi gak tau knapa, tangan saya tidak mau kompromi, mata saya sering malas menghadap kompi, hati juga kerap gak ngeh untuk nulis sesuatu yang sudah 'untup-untup' kluar dari kepala saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stres! SAYA CUMA PINGIN MENULIS SESUATU TAPI KENAPA SUSAH SEKALI MEMBAHASAKANNYA??!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelasnya, hal di dua bulan kemarin sudah banyak mengubah saya. Semua jadi satu, campur aduk dan sepertinya gak bakal selesai kalo saya ungkapin disini (lagian apa pentingnya bagi orang lain,haha!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pingin lancar berkarya lagi :), hopefully...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-4369515253298491455?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/4369515253298491455/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/08/juni-juli.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4369515253298491455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4369515253298491455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/08/juni-juli.html' title='Juni-Juli'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-6490933643692852395</id><published>2009-08-04T08:43:00.003+07:00</published><updated>2009-08-04T10:49:28.122+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Pelabuhanmu</title><content type='html'>Seperti pelabuhan, muara setiap lega&lt;br /&gt;Tak menyesal untuk berhentinya kapal-kapal bersendi karat&lt;br /&gt;berlumur asin air laut di sekujur lambungnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pelabuhan tempat setiap pelayaran berakhir&lt;br /&gt;Tak hanya gembira sambut sebuah tiba&lt;br /&gt;dipeluk pula semua lelah para pendatangnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kau berlayar di separuh hidupmu &lt;br /&gt;lalu berlabuh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka niscaya pelabuhan yang baik bagimu adalah mereka&lt;br /&gt;yang tak terlalu meributkan apakah kau sebuah kapal pesiar, niaga,&lt;br /&gt;atau bahkan hanya seonggok sampan kayu kecil biasa &lt;br /&gt;yang sudah bocor di beberapa sudutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah mereka yang selalu memiliki tempat untuk melupakan lelahmu&lt;br /&gt;menyembuhkan karat yang nyaris mengkorosi habis tubuhmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pelabuhanmu,&lt;br /&gt;bukan hanya pemberhentian raga, tapi juga jiwa :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                     Malang, 04 Agustus 2009, -10.44-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-6490933643692852395?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/6490933643692852395/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/08/pelabuhanmu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6490933643692852395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6490933643692852395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/08/pelabuhanmu.html' title='Pelabuhanmu'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-8061464890172726618</id><published>2009-06-08T16:35:00.014+07:00</published><updated>2010-07-30T10:08:30.044+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Natemi-Windarto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surat'/><title type='text'>Natemi-Windarto I : Kentut, Upil dan Tembakau</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk Win,&lt;br /&gt;yang sedang membaca,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai,&lt;br /&gt;semoga kau tidak terkejut melihat kertas bertuliskan tinta hitam ini tiba-tiba terselinap di kamarmu, di balik pintumu. Tenang saja Win, ini bukan nota tagihan bulanan dari induk semang kosmu. Eh, &lt;i&gt;ngomong-ngomong&lt;/i&gt; apa kau masih saja gemar menunggak iuran kamar? dasar sok pelupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, terimakasih telah bersedia menyentuh, membuka dan membaca ini. Aku menulisnya tengah malam, waktu ayah dan ibu sudah damai dalam tidur mereka. Ya, aku tahu informasi ini sama sekali tak penting. Biasanya selarut ini aku pasti sudah memeluk guling, tapi sekarang entah mengapa kelopak mataku terasa seperti terganjal oleh sebatang tusuk gigi restoran. Aku sudah banyak kehilangan waktu istirahat malamku Win, karenanya aku sangat berharap kau sudi menyediakan waktu sebentar saja untuk mengolahragakan dua bola penglihatan di wajahmu, membaca tulisanku yang katamu dulu tak terlalu baik. Walaupun kata orang, tulisan tak baik pasti berbanding terbalik dengan paras empunya tulisan. Terbukti, bukan?&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, kau juga boleh membayangkan, aku sedang ditemani&amp;nbsp;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Careless Whisper&lt;/span&gt;nya George Michael. Tidak ada suara lain, sepi sekali, melodi dan syairnya terdengar amat jernih, tulisanku mengalir begitu saja tanpa perlu campur tangan otak yang kerap mengacaukan. Mungkin ini ya Win yang membuat guru-guru kita saat menjelang ujian akhir SMP-SMA dulu rajin berpetuah : '&lt;i&gt;B&lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aiknya kalau ingin belajar pas lewat tengah malam, anak-anak! pasti akan terekam dengan baik apa yang kalian pelajari&lt;/span&gt;'. Eh, Gurumu juga berpesan begitu tidak, Win?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lagunya sudah ganti. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;How Deep is Your Love &lt;/span&gt;nya BeeGees.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sengaja mewujudkan surat ini pada bentuk asalnya, Win. Lembar kertas, dipenuhi tulisan dan dibubuhi tanda tangan si pengirim lalu si penerima membuka dan membacanya dengan berbagai macam kemungkinan posisi dan air muka. Bisa duduk, berdiri sambil berjalan kesana kemari, merebah di ranjang dan sebagainya, bahkan kita bisa melakukannya sembari berjongkok buang air besar. Aku tidak berharap kau benar-benar melakukannya di tempat itu. Kau jangan terlalu serius. Aku ingin kau membaca sambil menggenggam sampulnya, memegang kertas yang juga pernah ada di tanganku, dan merasakan bahwa penaku pernah ada di tiap baris kalimatnya. Bagiku dengan begini semua akan terkesan lebih nyata. Benar tidak, Win?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuatmu duduk melotot berhadapan dengan layar komputer, membaca suratku hingga urat-urat lehermu mengencang adalah hal yang sama sekali tidak aku inginkan. Lagipula, aku juga tak sudi apa yang kusampaikan padamu harus tercampur dengan radiasi cahaya yang hanya akan melukai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;keaduhaian&lt;/span&gt; matamu itu. Sebab hanya mereka yang paling menarik di wajahmu, menurutku. Aku juga enggan mengumpulkan suratku dengan sederet surat lain dari kawan-kawanmu atau mungkin seribu pengagummu yang selalu saja dengan bangga kau pamerkan padaku, kita memang mantan pasangan yang aneh. Bahkan Suparsiah, pasanganmu sekarang, aku tak ingin ini terkumpul bersama semua&amp;nbsp;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tetek bengek&lt;/span&gt;nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat ini haruslah datang sendiri saja, hanya antara aku, kau dan Pak POS, tentunya. Maafkan ya, untuk keegoisan ini. Hanya kali ini saja, Win. Setelah itu kau berhak melakukan apa saja padanya. Membuang, membakar, melipat-lipat sampai kecil lalu kau masukkan celengan sapimu atau kau sembunyikan diantara tumpukan baju di lemari. Tapi ingat, ini bukan lembaran uang kertas yang katanya bisa beranak jika disimpan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa lama kita tak bertemu? Aku sedikit lupa. Aku sibuk memboroskan ingatanku pada bermacam hal disini. Aku melukis sketsa wajah orang, menulis cerpen untuk majalah-majalah remaja, berlari-lari kecil keliling perumahan setiap pagi, membersihkan rumah, mengiris bawang dan sayuran, memijat kaki ibu sampai beliau tertidur di depan televisi dan menyirami semua tanaman kesayangannya yang mulai memenuhi kebun kami. Observasi beberapa resep masakan baru juga &lt;i&gt;ngotot&lt;/i&gt; aku &lt;i&gt;lakoni&lt;/i&gt;. Cukup sibuk bukan? Cukup untuk tidak ribut memikirkanmu. Seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sepertinya kau harus tau Win, hingga kini belum ada yang memanggil namaku seperti kau memanggilku, 'Nata'. Ya, memang terlihat lebih mirip dengan merek sari kelapa awetan yang akrab terjual di swalayan-swalayan, tapi aku suka. Bahkan kedua orang tuaku pun tak memiliki cara khusus untuk menyebut namaku. Mereka lebih menyukai nama lengkapku, Natemi. Aku tau, sampai saat ini pun tak ada seorang yang memanggilmu 'Win', mereka tetap saja kerap menyebutmu 'Darto', 'Ndar' atau 'Windarto'. Suparsiah juga terdengar sering memanggilmu dengan sebutan 'Mas Totok', aih! cukup unik dan kreatif. Aku tetap lebih suka 'Win'. Singkat dan akrab. Bagaimana denganmu? Kau sendiri lebih suka mana? Suparsiah marah ya, jika kau jawab pertanyaan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada yang membuatku dapat dengan lepas tertawa apa adanya tanpa harus mengatur bentuk bibir supaya terlihat lebih manis -lebih baik tak usah tertawa-. Belum ada yang memarahi dan mendebatku seperti caramu, belum ada yang menghantam keangkuhanku kecuali kau dengan teori hidupmu yang nampaknya selalu saja benar. Belum ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau bahkan sering kukerjai dengan hobiku buang angin, pendengaranmu yang cukup tajam ternyata mampu menangkap bunyinya meskipun kita hanya sedang berbicara lewat telpon. '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ah, kau kentut lagi ya Nata?!&lt;/span&gt;', tanyamu. '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ndak tuh! siapa juga yang kentut?&lt;/span&gt;', aku berkeras menyangkal karena memang sudah lupa, benarkah tadi aku mengentutimu via telepon. '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Itu, seperti ada bunyi udara yang membentur suatu permukaan! kau pasti kentut, jangan bo'ong!&lt;/span&gt;', kau mengadiliku penuh emosi. Kita pun tertawa bersama, karena kau sudah sering kukentuti dan merasa frustasi karenanya. Tak apa, toh aku juga pernah harus banyak-banyak merelakan hidungku kemasukan asap rokokmu dan pernah sangat membenci rupa wajahmu setiap kau menghisap dalam-dalam cerutu kecil itu lalu memajukan bibir untuk membuat asap keluar berbentuk bulatan-bulatan kecil. Aku benci, sama seperti kau membenci hobiku buang angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, satu lagi, aku juga hobi mengupil, dan ternyata kau sangat mengutuknya. Kita ini memang aneh dan pernah sangat mencintai keanehan itu, bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, sepertinya aku sudah terlalu panjang menulis ya? Kau tahu, sebenarnya aku tidak punya hal penting apapun untuk disampaikan. Surat ini pun bukan sesuatu yang penting, Win. Aku hanya ingin menulis sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah tersampaikan hingga kita &lt;i&gt;kocar-kacir&lt;/i&gt; begini. Jari-jariku tidak bisa berhenti menulis. Aku sama sekali tak berpikir, aku hanya terus menulis mengikuti hatiku. Oh, ini terdengar sangat sentimentil. Jadi kau boleh menganggap semua tulisanku adalah sampah dan ini memang bukanlah surat yang harus dibalas. Tenang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sayang kamu. Itu saja. Sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf untuk tidak mengatakan ini terlalu lama. Maaf untuk tidak mengucapkannya langsung dengan lisanku. Sekarang, kita sudah tak punya 'waktu' bukan? Aku mengerti, karena kita bukanlah sekedar kentut, upil dan tembakau. Kita tidak mengerti banyak hal, walaupun sepertinya tak banyak yang mampu mengerti tiga hal yang sudah kita pahami dengan amat baik dan cerdas. Objek pemahaman kita sepertinya memang bukan sesuatu yang penting. Mengapa sih kita selalu saja bangga karena memahami hal-hal tak terlalu penting untuk dipahami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sulit ya, Win. Karena tetap saja, cinta bukan sekedar kentut, upil dan tembakau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian dulu, sudah mulai pagi. Aku ingin berbaring sebentar. Meletakkan tubuh untuk melupakan semua kebodohan yang sudah aku tulis disini. Sampai jumpa di kehidupan mendatang. Seperti yang selalu kau katakan. Mungkin esok, lusa, setahun, dua tahun, tiga tahun, sepuluh tahun, atau  hingga waktunya bumi meniadakan diri, sampai jumpa di surga, jika Tuhan kita menghendaki. Tak apa, meski nanti disana kau masih bersama Suparsiah, toh aku masih bisa melihatmu. Bukankah di surga tak akan ada pertengkaran? jadi Suparsiah tak mungkin mendampratku hanya karena melihatmu kesana-kemari atau sekedar iseng mengintipmu mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat Win, ini perpisahan. Tapi aku enggan membuatnya terlalu sedih dan dramatis, karena menurutku perpisahan sudah merupakan judul menyedihkan. Aku tak punya alasan untuk menyiksa perpisahan dengan tongkat-tongkat pejal kegetiran yang aku ciptakan sendiri. Ia sudah cukup berduka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berbahagialah, karena aku juga akan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku,&lt;br /&gt;yang kerap kentut dan mengupil didekatmu,&lt;br /&gt;Natemi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Apakah aku sudah menulisnya? Aku sayang kamu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-8061464890172726618?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/8061464890172726618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/06/kentut-upil-dan-tembakau.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/8061464890172726618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/8061464890172726618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/06/kentut-upil-dan-tembakau.html' title='Natemi-Windarto I : Kentut, Upil dan Tembakau'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-5371821778636217602</id><published>2009-05-25T12:23:00.007+07:00</published><updated>2009-10-11T16:54:35.656+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>The Top 3 Questions They'll Ask You Later...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiga pertanyaan terpopuler saat kamu sudah kelar kuliah dan tidak segera menemukan kegiatan baru :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dimana sekarang?&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt;2. '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sudah kerja kah? Nglanjutin S2 kah?&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt;3. '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kapan dilamar?&lt;/span&gt;' (klo kamu perempuan, gk peduli kamu sudah punya calon atopun blom, sadis...) / '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kapan ngelamarnya?&lt;/span&gt;' (klo kamu laki2, dan sama.., bener2 gak pduli kamu udah ada pasangan ato gak!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kalian yang blom ada pada kondisi itu (-sudah lulus kuliah dan tidak segera punya kegiatan baru-), mungkin tiga pertanyaan diatas sama skali &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nothing&lt;/span&gt; lah, tapi bagi saya (haha! ktauan deh!) dan atau manusia2 seperti saya, wow, dahsyat banget itu pertanyaan. Dalem, bikin gagap bicara dan bikin setengah gila :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya heran, kenapa orang2 itu sama skali gak kreatif dalam mengajukan pertanyaan pada -kita yang sedang dalam kegalauan ini-? Mbok ya skali2 nanya : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Udah brapa kilo ni berat badannya?'&lt;/span&gt;Gak ngerasa apa kalo sebenernya mereka sedang menekan kita? walau mungkin niatnya cuma basa basi aja. Mending gak dijawab deh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siap2 ya adek2..., lipatgandakan kesabaran kalian jika nanti datang saat untuk menelan tiga pertanyaan keramat itu. Ndak perlu nyemplung sumur, lama2 juga kebal kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, kalo udah brasa naik darah dan gak mampu sabar lagi, anggep aja semua itu adalah bagian dari doa yang akan segera mengantarkan kita ke tempat yang lebih baik :), benar begitu?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-5371821778636217602?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/5371821778636217602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/05/top-3-question-theyll-ask-you.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5371821778636217602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5371821778636217602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/05/top-3-question-theyll-ask-you.html' title='The Top 3 Questions They&apos;ll Ask You Later...'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-5942399321471007674</id><published>2009-05-20T13:30:00.006+07:00</published><updated>2009-10-01T15:50:19.998+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TuangPikir'/><title type='text'>BANGKIT, INDONESIAKU!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya tau, Indonesia bisa lebih baik. Masyarakatnya, pemerintahnya, sawah2nya, lautannya, cakrawalanya, pendidikannya, budayanya, karya2nya, keragamannya, SEMUANYA!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tau, Indonesia bahkan MAMPU LEBIH BAIK dari negara manapun di dunia dan saya pikir kita semua yang sejak dilahirkan sudah ngirup udara dan aroma Indonesia wajib lah... punya mind set kayak gini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaysia bukan apa2&lt;br /&gt;Singapura apalagi...&lt;br /&gt;Jepang juga pernah hancur lebih dari kita&lt;br /&gt;Korea bahkan orang2nya masih kalah cakep2 dari orang2 kita ^_^&lt;br /&gt;Australia bisanya cuma ngedompleng Amrik doank&lt;br /&gt;China malah pernah diisolir dari pergaulan dunia&lt;br /&gt;Amerika, hanya besar gara2 predikat -polisi dunia- yang saya juga gak tau siapa sih yang ngasih predikat itu? jangan2 orang sono sendiri yg ngasih??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;See, kita punya modal untuk maju (punya banget!). Untuk apa ada &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HARI KEBANGKITAN NASIONAL&lt;/span&gt; kalo kita gak kunjung bangkit? Ayo dong, kita ini masih bangsa yang besar (setidaknya dari jumlah penduduk,haha!), maka tidak ada alasan untuk merasa menjadi kecil diantara mereka (bangsa2 aneh itu..).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, saya rekomendasikan nih buku dari Emha Ainun Nadjib yang bisa ngebakar ghiroh kita (tssaahh... ghiroh!!!) : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KAGUM PADA ORANG INDONESIA&lt;/span&gt;, pernah dibahas dibeberapa blog, dan di &lt;a href="http://imamisnaini.multiply.com/reviews/item/9"&gt;blog ini&lt;/a&gt; adalah salah satu yang ngebuat resensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyindir abis bukunya, saya sih kadang ngerasa malu sendiri pas ngebaca beberapa bagian dari itu buku, kadang juga ngerasa 'ketampar', tergugah, dsb. Kayaknya mbaca itu jadi sering bergumam dalam hati : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'o iya ya...., iya sih bener juga..., hei.. kita gak buruk2 amat!!'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SELAMAT berHARI KEBANGKITAN NASIONAL&lt;/span&gt;, kawan2!&lt;br /&gt;Indonesia pasti mampu berjaya oleh tangan2 kita, para pencintanya :)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-5942399321471007674?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/5942399321471007674/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/05/bangkit-indonesiaku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5942399321471007674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5942399321471007674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/05/bangkit-indonesiaku.html' title='BANGKIT, INDONESIAKU!'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-7246302597290293797</id><published>2009-05-11T20:47:00.005+07:00</published><updated>2009-10-01T15:50:44.837+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Nyunyu dan Peste</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dulu, saat saya masih TK ato kira2 SD klas 1, saya punya kebiasaan aneh yang menggelikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka berbicara sendiri sambil terbaring santai di kasur, seolah2 sedang bercengkrama dengan orang lain (menggelikan ato nyeremin sih?). Saya seakan punya dua orang temen imajinatif yang saya namai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nyunyu&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Peste&lt;/span&gt;. iya, saya tau..., itu nama yg sangat aneh, saya juga gak ngerti dapet referensi nama itu darimana, dasar anak kecil! hehe! Menjelang klas 3 SD, kebiasaan itu mulai hilang, karena pasti saya bakal disangka orang gila sama orang tua saya kalo tetep ngomong2 gak jelas gitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, saya merindukan mereka :). Where are you, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nyunyu&lt;/span&gt; and &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Peste&lt;/span&gt;?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-7246302597290293797?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/7246302597290293797/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/05/nyunyu-dan-peste.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7246302597290293797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7246302597290293797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/05/nyunyu-dan-peste.html' title='Nyunyu dan Peste'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-1181876602533411795</id><published>2009-05-11T12:20:00.008+07:00</published><updated>2010-05-13T14:21:59.977+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Acara TV'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Masihkah Kau Waras</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari Rabu kemaren, gak sengaja saya nonton acara baru di RCTI yang judulnya 'Masihkah Kau Mencintaiku'. Yang pada seneng tidur malem dan hobi nonton TV pasti kenal dengan acara garapan Helmy Yahya ini, si Raja reality shows Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenernya sejak acara itu diiklanin juga saya udah ngerasa eneg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bener-bener gak sengaja. Maunya nonton &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pretty Woman&lt;/span&gt;, Julia Robert bo', secara gitu ya, aku ngidolain dia. Lha kok pas ganti channel ke RCTI jadinya malah si Helmy Yahya dan Dian Nitami yang lagi sibuk ngelerai dua keluarga yang udah nyaris cakar2an plus ngumpat2 gak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak ngerti, ini acara untuk apa sih?! Semua sudah pada gak waras. Banyak suami istri aneh yang hobinya ngeblowup masalah pribadi di muka umum dan tambah njamur aja produser2 gila bikin acara 'pembongkaran aib orang'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus, penontonnya juga, menyedihkan. Bagaimana bisa mereka menertawakan lebar-lebar satu kejadian yang menurut saya udah kelewat saru dan risih macam begitu? rasanya saya pingin dateng ke studio tempat acara ditayangkan trus nanyain penonton satu persatu : '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mas/Mbak, nyadar gak sih situ lagi ngetawain apa?&lt;/span&gt;', pasti deh mereka gak bisa jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu kawan yang bilang kalo dia juga ngerasa aneh dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan disitu. Ini nih salah satu contohnya : '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menurut anda, apakah suami anda tahu ukuran bra anda?&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh men! logis sih pertanyaannya, tapi kayaknya tidak untuk di depan berpuluh orang dan berjuta penonton gitu. Duh, Bang Helmy masih waras nggak sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya usul itu judul diganti aja : 'Masihkan Kau Mewaraskanku?' dan usul kedua saya : sebaiknya anak kecil, remaja dan pasangan yang akan menikah mending jauh-jauh deh dari tayangan ini, cuma bisa bikin sesat dan parno aja buat mereka. Itu menurut saya sih :)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-1181876602533411795?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/1181876602533411795/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/05/masihkah-kau-waras.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/1181876602533411795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/1181876602533411795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/05/masihkah-kau-waras.html' title='Masihkah Kau Waras'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-8084804541590613967</id><published>2009-05-05T14:10:00.003+07:00</published><updated>2009-10-01T15:53:17.286+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Joyeux Anniversaire!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gak terasa nih...&lt;br /&gt;udah setahun ngeblog disini :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei ke Mei.&lt;br /&gt;Terimakasih untuk setiap inspirasi yang selalu datang. Terimakasih gelak tawa, terimakasih sakit hati, terimakasih penyesalan, terimakasih kesalahan, terimakasih kesadaran, terimakasih semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love writing at much!&lt;br /&gt;Joyeux Anniversaire!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-8084804541590613967?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/8084804541590613967/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/05/joyeux-anniversaire.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/8084804541590613967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/8084804541590613967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/05/joyeux-anniversaire.html' title='Joyeux Anniversaire!'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-9174636629043430288</id><published>2009-05-05T13:13:00.009+07:00</published><updated>2010-05-13T14:19:04.185+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Acara TV'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Koalisi Partai dan Original Soundtracknya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Musim koalisi partai partai politik Indonesia selalu menarik diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, berhubung ngerasa terlalu ruwet untuk menyimak dengan baik dan benar seluruh runtutan peristiwa menuju Pilpres 2009, jadinya ya lebih sering merhatiin hal-hal unik dan gak penting (sebenernya), tapi selalu patut dihadiahi senyuman lebar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tau apa yang saya perhatiin di berita yang pada rame ditayangin itu? Kapan hari si Metro TV sempet nayangin liputan 'cerainya' Kalla dan SBY, ya kan? Inget gak, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backsound&lt;/span&gt; apa yang diputer sama Metro? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Putus Nyambung&lt;/span&gt; nya BBB, Man! Jadi pas gambar si Kalla ngasih pernyataan ke publik klo Partainya udah gak bakal balik sama pendamping lamanya, itu lagu dengan jumawanya dimainin! gimana gak ngakak?! coba deh bayangin ato nyanyiin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Putus Nyambung&lt;/span&gt; sambil ngebayangin Pak JK melambai penuh arti di depan SBY? Duh, jadi bingung nentuin siapa yang lebih mirip Rafi Ahmad :).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, di liputan lain, masih banyak lagi backsound konyol yang saya sendiri takjub! kok bisa-bisanya kepikiran sampe situ? Ini beberapa contohnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bukan Permainan&lt;/span&gt; nya Gita Gutawa (Pas JK negesin sekali lagi kalo &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Gue gak bakalan sudi koalisi bareng Lo!!!'&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kembang Perawan&lt;/span&gt; nya Gita Gutawa (Pas Metro mereka-reka kira siapa ya yang bakalan dipinang sama pak JK? bu Mega, Prabowo ato Wiranto? Eh, emang mereka perawan gitu?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jangan pernah Berubah&lt;/span&gt; nya ST12 (Pas Bu Mega dan yang lain sama2 komit klo bakal menjalankan pemilu yang lebih baik tanpa kecurangan lagi. Ni Metro kayaknya lagi kehabisan stok lagu!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tau gak, abis nontonin berita itu saya selalu kebayang Pak JK (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KENAPA SELALU DIA YANG BISA DIBAYANGKAN???&lt;/span&gt;) joget gaya agnes (yang jalan menyamping kayak kepiting itu lho) trus nyanyi gini : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Tanpa kamu, ku akan baik saja!!'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Bapak, yang sabar ya Pak...&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Putus nyambung, putus nyambung, putus nyambung, sekarang putus, besoknya lo nyesel, kalo lo laku hari ini putus, ya putus ajaaa..!'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang minat nge&lt;i&gt;recycle&lt;/i&gt; lagu-lagu itu dengan bintang video klipnya mereka yg sedang ribet akan berkoalisi? Bakal laris kayaknya :)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-9174636629043430288?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/9174636629043430288/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/05/koalisi-partai-dan-original.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/9174636629043430288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/9174636629043430288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/05/koalisi-partai-dan-original.html' title='Koalisi Partai dan Original Soundtracknya'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-7177950942399670126</id><published>2009-04-23T14:59:00.003+07:00</published><updated>2009-04-23T15:05:04.496+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Refresh!</title><content type='html'>Seger...:D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;blom sempet ngebaruin headernya, sementara gini dulu aja. Semoga yang ngebaca bisa ikut ngerasa fresh! (ato malah nambah perih mata??, hehe!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menikmati, saudara2ku! :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-7177950942399670126?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/7177950942399670126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/04/refresh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7177950942399670126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7177950942399670126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/04/refresh.html' title='Refresh!'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-5677726414410036344</id><published>2009-04-21T14:23:00.005+07:00</published><updated>2010-05-13T13:53:42.692+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serial TV'/><title type='text'>Si Doel Anak Sekolahan</title><content type='html'>Sejak kembali lagi ke rumah, saya jadi nyandu nontonin serial &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Si Doel Anak Sekolahan&lt;/span&gt;. Bahkan kalo ada satu keperluan di kota dimana saya masih punya jatah ngekost, berhubung kamar saya sangat 'minimalis' maka dengan menebalkan muka dan senyam senyum gak jelas, saya mulai menjajah kamar adek kost tuh. Ya, disitu ada TV yang memungkinkan saya untuk ngakses Si Doel. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Love it&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tayangan yang super &lt;span style="font-style: italic;"&gt;simple&lt;/span&gt;, kreatif, kaya esensi, kaya budaya dan realistis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka ngeliat Doel berbicara sama Enyaknya, Atun yang malu-malu pacaran sama Mas Karyo, Mandra yang gak pernah berhenti bikin ribut perkara oplet tua ato cintanya yang gak pernah kesampean. Apa ya, dalam sekali tonton mereka cukup bisa ngaduk ngaduk emosi pemirsanya, dibikin haru, sedih, sebel, lalu tiba-tiba ketawa, ngrasa konyol dan seterusnya. Menurut saya hal seperti itu hanya bisa dilakukan oleh sebuah karya cerdas! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi gak ngerti, sebenernya apa yang sedang dipikirin sama sutradara2 jaman sekarang. Miskin mutu, miskin ide!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Doel memang bukan tayangan baru, saya juga sudah pernah namatin. Seinget saya nih, terakhir nonton saya sudah SMA. Tapi gak tau knapa, sayang aja kalo nglewatin gitu aja tayangang ulangnya,hehe! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, saya paling suka waktu Sarah bilang ke Doel : '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku tuh sayang banget sama kamu, Dul...&lt;/span&gt;' waktu mereka lagi marahan gara2 Doel bo'ong mengenai Zaenab. Dan yang bikin gemes nih, Doel diem aja padahal Sarah udah habis2an bgitu??!!!. Diem. Diem yang aneh, diem yang seolah2 berkata bahwa 'iye, gue tau..!'. Arrrggghhh!!! pingin saya cabut itu kumis! Giliran sama Atun aja dia brani bilang : '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Abang gak ade prasaan ape2 Tun sama Zaenab!&lt;/span&gt;'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngeri juga Doel, berkumis tebal, gak keren blas, gak mbodi sama sekali, gak modis, tapi gitu2 punya dua wanita yang cinta mati sama dia, hahahhhh!!! kaum pria pasti banyak yg ngiri, hayyooooo.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-5677726414410036344?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/5677726414410036344/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/04/si-doel-anak-sekolahan_21.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5677726414410036344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5677726414410036344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/04/si-doel-anak-sekolahan_21.html' title='Si Doel Anak Sekolahan'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-4482516936908498300</id><published>2009-04-16T20:12:00.003+07:00</published><updated>2009-04-16T21:49:09.972+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Antara</title><content type='html'>Saya tidak suka warna abu-abu,&lt;br /&gt;juga menjadi abu-abu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya benci berdiri di persimpangan,&lt;br /&gt;tidak ke kanan tidak pula ke kiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi kadang putih menjadi terlalu menyilaukan dan hitam semakin mengundang ketakutan,&lt;br /&gt;kanan atau kiri seringkali menyertakan keraguan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita, kadang menjadi begitu naif untuk dapat serta merta menunjuk satu pilihan,&lt;br /&gt;hitam ataukah putih, hendak ke kanan atau terus ke kiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya benci untuk berada diantaranya,&lt;br /&gt;dan berkawan keironisan, saya terdampar disini&lt;br /&gt;bertarung dengan kebencian sendiri, melawan ketidaksukaan pribadi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-4482516936908498300?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/4482516936908498300/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/04/antara.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4482516936908498300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4482516936908498300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/04/antara.html' title='Antara'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-5953201112586561118</id><published>2009-04-01T13:38:00.002+07:00</published><updated>2009-04-01T15:06:32.917+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Here I am</title><content type='html'>Sudah berapa lama nih? kangen juga nulis disini :). Apa kabar semuanya? Apa kabar kehidupan? apa kabar kasih sayang? apa kabar canda tawa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua berlangsung baik-baik saja, saya merindukan semuanya, saya rindu mereka (Argghh, kenapa jadi sentimentil gini?!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kapan sih saya gak nyentuh blog editor saya? Seinget saya, terakhir ngepost lewat hape pas malem mau wisudaan, abis itu ngilang, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;off&lt;/span&gt;. Kesian banget ini blog, terlantar. Sebenernya banyak yang bisa dibagi disini, mulai pasca TA rampung sampe sekarang, banyak plan dan topik yang pingin ditebar kemana-mana (ceilee.., ditebaarr...??), cuma ya itu tadi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tetek bengek&lt;/span&gt; yang harus di handle untuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;finishing &lt;/span&gt;kelulusan (administrasi dan semacamnya) ternyata menyita banyak waktu plus mematikan gairah menulis saya, haha! Saya jadi gak nepsong, mo nulis apa gitu, eh batal-batal terus. Ketunda-tunda, akhirnya macet deh. Dan ternyata kekisruhan gak berhenti sampe disitu, menjelang graduation ceremony pun tetep aja banyak yang harus diurusin, oh God! Mulai dari diskusi sama mama buat kebaya apa yg bakal dipake, modelnya kayak apa, warnanya apa, bawahannya pake yang mana, trus nyari salon yang mau buka pagi-pagi sekali untuk ngedandanin (dan saya gak tau salon lain kecuali salon yang posisinya sangat jauh dari lokasi acara, hahhh!!!), ambil toga di dharmawanita, bayar duit foto, tanda tangan ijazah, bayar2 segala macem. Ribet, rame, saya hampir 'mutung', milih untuk gak ikut wisuda aja. Tapi ternyata jadi juga. kesian Ayah dan Mama yang nunggu bertahun-tahun :D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi senang! acara wisudanya sungguh menyenangkan! Adik-adik Himpunan lumayan kreatif dan nyervis kita. Seumur-umur ya baru kali itu saya dinaikkan becak dari Graha ITS sampe ke Jurusan, yang bawahnya diberi kaleng kelontongan, jadi bunyinya kemana-mana. Kita diarak! Lucu juga, cukup berkesan. Mereka juga ngiringin kita pake pawai motor dengan klakson yang dipencet keras dan berulang-ulang, persis suporter bola yang timnya baru menang besar. Gak takut aki abis tuh?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temen-temen satu angkatan juga datang. Ah..., jadi merasa tidak 'sendirian'. Oni, Anin, Medick, semuanya ikut merayakan. Buat Oni, makasih banyak sayang, udah nemenin saya seharian, ngajakin ke JCo (dimana saya blom pernah sama sekali ksana dan akhirnya bete karena salah beli kopi, bo' pait bener kopinya!!!). &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Kapan2 klo aku sudah punya duit sendiri, tak traktir JCo juga Lu, janji deh!'&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, sekarang, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;here I am&lt;/span&gt;. Gak lagi kuliah, gak lagi sibuk, kerjaan cuma ngedit dan ngeprint CV dan application letter, kalo bosen tinggal pulang ke Malang, kalo bosen juga ya balik lagi ke Surabaya, haha! Doakan saja supaya segera dapet kesibukan baru :).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oiya, saya pernah berkelakar ke salah satu kawan dekat, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'pokoknya kalo 3 bulan aku gak juga dapet kerjaan, kayaknya mending berbisnis aja deh?!!'&lt;/span&gt;. Dan ini sudah hampir lewat sebulan mamen!!! Menurut lo?!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita liat aja sama-sama ya! 3 bulan ini saya bakal jadi apa :p...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-5953201112586561118?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/5953201112586561118/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/04/here-i-am.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5953201112586561118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5953201112586561118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/04/here-i-am.html' title='Here I am'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-5949894707714641804</id><published>2009-03-13T20:53:00.001+07:00</published><updated>2009-04-01T21:22:33.042+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TuangPikir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Bukan Toga, Bukan Gelar, Bukan pula Ijazah</title><content type='html'>Besok, saya bakal salaman sama Rektor, nerima ijazah. Saya bakal diwisuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak ngerti apa saya patut merasa gembira berlebihan ato tidak. Gimana2, saya hanya wisudawati dengan masa studi 5,5 thn, IPK gak sampe 3,00 dan nyaris tanpa prestasi akademis yang membanggakan :).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya tau, lulus adalah keniscayaan bagi setiap mahasiswa. Tidak ada yang istimewa pada sebuah kelulusan. 'Yes, aku lulus!', bagi saya itu lebih sebagai ekspresi kepuasaan dan kelegaan atas semua yg tertempuh selama kita kuliah, bukan sekedar kepuasan karena kita pake toga, punya gelar dan dapet ijazah. Bukankah ketiga hal itu hanya simbolisasi perjalanan kita? Dimana2 simbol adalah simbol, bukan intisari, bukan makna, bukan esensi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi nyadar kalo bagaimanapun embel2 kita pas wisuda besok, mau cumlaude lah, lulus 3,5 thn lah, IPK terbaik sekampus lah ato bahkan seperti saya pun, masing2 pasti punya rasa bangganya sendiri. Ya nggak? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pasti berteriak bangga dalam hati : 'Aku berhasil !!!'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menghayati sepenuhnya proses yang sudah saya lewati. Saya mencintai proses itu, baik maupun buruknya, salah ataupun benarnya. Saya telah belajar, dan kebetulan pembelajaran saya akan diabadikan dalam sebuah upacara, yang lagi2 hanya saya pribadi yang berhak memaknainya, yang mengerti artinya. Saya yakin, wisudawan lain juga memiliki esok hari dgn beragam warna pemaknaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir, disitulah letak kebahagiaan dibalik wisuda :).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya ngelanjutin proses itu, saatnya belajar kembali. Lebih luas, lebih acak, lebih detail, lebih complicated, lebih nyata. Semoga 5,5 thn kemaren mampu menjadi bekal. Amin...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-5949894707714641804?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/5949894707714641804/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/03/8ukan-toga-bukan-gelar-bukan-pula.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5949894707714641804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5949894707714641804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/03/8ukan-toga-bukan-gelar-bukan-pula.html' title='Bukan Toga, Bukan Gelar, Bukan pula Ijazah'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-4714723835096590277</id><published>2009-03-08T21:52:00.002+07:00</published><updated>2009-03-08T22:47:22.594+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TuangPikir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Like A Baby</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak dulu, saya suka anak kecil. Bayi ato Balita, sama saja. Sama lucunya. Menggemaskan :).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka ngamatin tingkah mereka. Gimana mereka ketawa, nangis, ngambek, merajuk, tidur, bangun tidur, bermain air saat mandi, mengacak-acak makanannya, ngelempar mainan ke seluruh sudut rumah, dan sejuta tingkah lain yang selalu membuat saya memilih untuk tersenyum walaupun mungkin beberapa tingkah mereka cenderung ekplosif dan menjengkelkan, but... yeah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;they just babies, they just kids&lt;/span&gt;. Mau kita gampar ato kita mendelik sampe bola mata kluar juga gak bakal ngefek, yang ada mereka jadi tambah nangis gak karuan, lalu ngebenci kita :D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya kesimpulan yang mungkin bener, mungkin juga salah. Jadi tolong ini jangan dijadiin patokan bagi ibu2 muda yang lagi kelimpungan ngadepin anak2nya, hehe!. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Here we go&lt;/span&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bayi nangis tiba-tiba, waspadalah, berarti mungkin itu bayi lagi ngrasain sakit di badannya, ato bisa juga dia baru aja ngeliat pnampakan makhluk halus yang nyeremin abis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bayi ketawa-ketiwi tanpa sebab, kata orang nih ya, mungkin aja dia lagi 'bcanda' sama makhluk lain, tapi gak nyeremin. Ato ada lalat yang nggelitikin keteknya sampe dia kegelian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bayi ngambek gak jelas, ngelemparin smua barang di dekatnya, numpahin semua makanan yang kamu suapin ke dia, gak mau di ajak ngapa2 in,  teriak2 histeris sampe mukanya merah  nyeremin??!  Klo menurut saya, kamu cuma perlu mbiarin itu bayi, tanpa nanyain 'kenapa nak??' ato 'mo minta apa sayang??'. Percuma. Cukup berdiri sejauh semeter/duameter dari dia, diliatin aja (perlu kesabaran ekstra emang, jangan keburu ikutan emosi dulu), sampe dia bener2 fokus ngelihat ke arah kamu, dan mengubah muka marahnya jadi muka melas. Itu baru...., &lt;span style="font-style: italic;"&gt;you know what&lt;/span&gt;? dia cuma minta dipeluk. Satu pelukan, satu gendongan dan buaian. Dia bakal tenang. Percaya deh :).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Hey, ini mungkin sangat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sotoy&lt;/span&gt; sekali, tapi kalian yang sudah punya baby, boleh nyoba cara saya. Saya belom sih, lha married aja blom.  Cuma sejak kecil saya sudah terbiasa berinteraksi dengan bayi, hehe!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya nggak tau, apa orang dewasa dihalalkan ato bakal terlihat lucu kalo melakukan hal2 like a baby does. Gak bisa mbayangin sih, dikira orang gila mungkin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya tau, kadang kita, orang dewasa, punya keinginan untuk tidak menjadi dewasa pada suatu waktu. Sesekali, kita hanya ingin seperti bayi, yang dimengerti, yang dipahami, tanpa dihakimi :).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Just for a hug&lt;/span&gt;...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-4714723835096590277?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/4714723835096590277/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/03/like-baby.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4714723835096590277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4714723835096590277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/03/like-baby.html' title='Like A Baby'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-7124938560679971571</id><published>2009-03-05T18:32:00.005+07:00</published><updated>2010-02-10T16:46:58.974+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TuangPikir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Jujur, Menjujurkan dan Dijujuri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi saya berita mengenai David dan dosen pembimbingnya adalah berita keren :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan fokus pada darah yang tercecer di lantai kampus, pada David yang sudah terkapar di taman (kabarnya terjatuh atau menjatuhkan diri dari lantai kesekian), pada si Profesor yang katanya masih belom juga baikan (hebat bener tuh profesor, udah udzur, ditikam anak muda, masih idup juga :D) atau sekalipun pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pers&lt;/span&gt; yang sibuk nge-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;blow up&lt;/span&gt; berita sehingga jadi semakin gak karuan ujungnya, saya jadi ngerasa berita David malah mirip berita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;infotainment&lt;/span&gt; yang isinya adalah pekiraan, dikira-kira dan mengira-ngira.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; 'Apakah...David benar-benaaarrr menikamm sang Prowfesorrr??, Pemirsaaa, sakhsikan invesshtigasi kami dalam SINGHLET!!!&lt;/span&gt;' (sambil bibir dimonyongin dan ujung mata dinaikin setengah tiang :p).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan, saya tidak akan fokus pada hal-hal seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa David menarik saya untuk berbicara lebih lanjut mengenai hubungan dosen dengan mahasiswa. Saya gak bener-bener ngerti sih, pola hubungan akademis disono itu gimana, apa sama seperti kita-kita disini, yang masih megang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;unggah-ungguh, tepa selira, sungkan-sungkanan&lt;/span&gt;, hormat tiada tara dan sebagainya atau mungkin sudah seperti bule2 yang sepertinya (saya cuma lihat di film2 sih emang) sudah menganggap dosen sebagai kawan akademis, akrab di konteks perkawanan, tak segan melakukan kritisi2 tajam, tak malu memuji dengan tulus kehebatan dosennya ato mungkin juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua buah pola hubungan yang bertolak belakang bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sebenernya dari dua macem itu belum tentu buruk dan juga belum tentu lebih baik sih. Cuma saya pribadi kadang berpikir bahwa kita sebagai orang timur nih terlalu banyak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggrundelin&lt;/span&gt; protes ato ekspresi penentangan kita di belakang pengajar. Ya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggak&lt;/span&gt; sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat aja, kalo suatu kali nilai kita super anjlok, bernada minor ato bahkan berbunyi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fals&lt;/span&gt; abis, kita bisanya paling cuma &lt;span style="font-style: italic;"&gt;manyun&lt;/span&gt; trus curhat sama temen2 lain : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Anjrit!!! aku dikasih E lho sama Bu 'ini'/ Pak 'itu!!! gak abis pikir deh, kok bisa sih?? padahal UTS/UAS udah clear smua lho jreng! ah dasar orang itu emang lagi sensi sama aku! Gak banget deh dia...!!!'&lt;/span&gt;. Trus dengan lancarnya ditimpali oleh yang lain : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Iya tah?! ih, emang lho dosen itu kayak gitu dari dulu, sekarang mah udah lumayan gak pelit, dulu malah smua mahasiswanya dikasih E!'&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buset, itu dosen mungkin lagi nge&lt;span style="font-style: italic;"&gt;fans&lt;/span&gt; sama Eno Lerian ato Eva Arnaz, jadinya yang kluar cuma biji E &lt;span style="font-style: italic;"&gt;doank&lt;/span&gt;, hehe!!!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;See&lt;/span&gt;, kita hanya 'marah' di belakang punggung dosen, gak terima saat beliau sedang tidak terlihat oleh mata kita, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngrasani&lt;/span&gt; sampe abis kopi ato es Teh bergelas-gelas tanpa pernah punya nyali menyampaikan dengan jujur perasaan kita. Hasilnya? Kita tercetak menjadi pribadi mahasiswa pendendam, bermuka dua, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngoyo2&lt;/span&gt; ngerjain tugas dan maju ke depan kelas hanya demi menyenangkan dosen kemudian berharap berbuah nilai bagus. Kita belum terbiasa dengan kejujuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inget si David, saya jadi inget dengan diri saya sendiri 4 ato 3 tahun lalu. Waktu darah mahasiswa masih 'muda', saat iklim 'ketidakterimaan' masih musim bertengger di kepala saya, Setiap ada dosen yang kira2 tidak sesuai dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;feel&lt;/span&gt; saya, jangan harap saya bakal rajin hadir di kelas dia, ngerjain tugas2nya ato rajin melajarin mata kuliahnya. Konflik dengan beliau2 juga lumayan pernah :), dan parahnya saya tidak mencoba untuk meredam tapi malah menyalakan api persengketaan karena keyakinan bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Saya benar!'&lt;/span&gt;. Haha! Lucu juga kalo inget2 jaman dulu. Ekstrem. Ya, saya juga baru nyadar sekarang kalo ternyata saya sudah terlalu ekstrem nyikapin dunia perkuliahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ya, saya sih gak pingin aneh2 sebenernya. Cuma pingin nyampein kalo '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya tidak sepakat dengan cara anda, saya punya cara lain, maka mari kita lihat dan bandingkan, cara mana yang lebih mampu menghasilkan'&lt;/span&gt;. Itu aja. Tapi rasanya hal2 kayak gitu seret banget buat dimengerti oleh beliau2, ato mungkin begitu juga dengan beliau pingin juga bilang : '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ah, apa maumu anakku? mengapa kau begitu menentangku?'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang perihal &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;-saya lebih muda dan mereka lebih 'sepuh'- &lt;/span&gt;lah yang sering menyekat proses tukar pendapat antara mahasiswa dengan dosen. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kita sepatutnya memahami bahwa dosen pasti sepenuhnya mengerti dan sudah memperhitungkan tiap2 langkah yang mereka kenakan terhadap mahasiswa. Dan..., kita juga sepatutnya ingat bahwa mahasiswa juga selalu berhak untuk bertanya mengapa begini dan mengapa begitu. Bukan, bukan karena kita sudah membayar mahal  untuk bersekolah 4 tahun, tapi lebih kepada bahwa memang begitulah hakekat pendidikan. Mengerti, beraksi, beralasan, koreksi, ulangi kembali. Apabila jalan A harus ditempuh, mengapa harus A? mengapa tidak B? mengapa bukan C, dan seterusnya...:).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saya bilang, ini memang bukan tentang David. Saya sama sekali gak berani berkomentar mengenai ini. Hanya kebetulan ada gurauan dari seorang kawan ketika saya bercerita padanya bahwa saya sempat kesal oleh perlakuan pihak kampus yang telah menghilangkan pasfoto saya untuk ijazah dan buku alumni. Saya bilang : '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Iya tuh, mereka sendiri yang ngilangin masa' aku yang disuruh nganter foto itu sendiri ke percetakannya?! seharusnya itu jadi tanggung jawab mereka donk??!'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dengan enteng dia ngomong : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'kamu sih gak bilang ke bapak itu, eh Pak, tau gak sih, di singapore itu ada mahasiswa menikam profesornya lho...'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya urung kesal, mbayangin aja kalo saya bener2 ngomong gitu ke mereka yang ngilangin foto saya tanpa rasa bersalah, yang ada malah saya dipanggilin satpam trus diproses ke bagian kemahasiswaan! dan saya tidak akan pernah merasakan atmosfer wisuda yang sudah dinanti2 oleh kedua orang tua saya. Ah, saran yang sesat! :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, saya masih terus ngikutin perkembangan pemberitaan David. Kepastian mengambang lagi nampaknya. Baca deh &lt;a href="http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/03/05/09454462%20/david.diduga.membela.diri"&gt;disini&lt;/a&gt; . Dijamin kalian bakal tambah bingung dan simpang siur. Hehe!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-7124938560679971571?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/7124938560679971571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/03/jujur-menjujurkan-dan-dijujuri.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7124938560679971571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7124938560679971571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/03/jujur-menjujurkan-dan-dijujuri.html' title='Jujur, Menjujurkan dan Dijujuri'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-7924818677928528316</id><published>2009-02-22T02:34:00.006+07:00</published><updated>2010-02-10T16:46:20.430+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='TuangPikir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Ruang Untuk Kata</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dunia maya dengan segala kurang dan lebihnya, kadang  cukup mengasyikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mungkin satu dari sekian banyak orang yang bisa bertransformasi ke 'bentuk' saya lainnya waktu duduk di depan komputer, nyambung dengan internet. Saya sendiri memang lebih sering dan demen berpanjang lebar lewat media tulis ketimbang harus berkata dengan suara. Seneng aja, rasanya ada banyak ungkapan yang gak akan bisa keluar atau tuntas hanya dengan bicara. Bukan sih, saya juga bukan orang pendiem yang cuma bicara kalo ditanya (gak semisterius itu lah...), apa ya, asiknya berbeda, seperti satu tangan menggenggam sepotong &lt;span style="font-style: italic;"&gt;meat lover&lt;/span&gt; pizza dan tangan lain juga sedang menguasai semangkuk ketan durian. Masing-masing punya sensasi sendiri, beda. Meski kadang saya lebih sering 'nyikat' pizza nya (dan olehnya ini badan terus memuai. Ok, gak nyambung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I love both&lt;/span&gt;, dan itu sangat menghidupkan :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngeblog, chatting&lt;/span&gt; adalah salah satu fasilitas dunia maya yang men'dua'kan pribadi saya. Gak ngerti ini buruk ato tidak, yang pasti saat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;chatting&lt;/span&gt; ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;chemistry&lt;/span&gt; yang sangat mampu ngebuat saya menjadi lebih riang, lebih 'gila', lebih 'bercanda' sehingga keluarnya adalah percakapan dengan kesan 'slebor', sedikit kacau tapi menyenangkan. Apalagi lawan bicara kita adalah individu2 yang sudah dikenal di pertemanan nyata. Ah, saya selalu bisa senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Gak peduli, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;that's the part of life I treasure&lt;/span&gt; :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu lalu, sabtu malam, malam minggu, sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;-anak kost yang semua temennya pada kencan semua, tinggallah saya sebatang kara-&lt;/span&gt;, saya memilih untuk nge&lt;span style="font-style: italic;"&gt;date&lt;/span&gt; dengan warnet favorit, gede, ber AC, ada toiletnya, ada restonya. Betah berlama-lama. Disana, begitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;messenger&lt;/span&gt; diaktifkan, selang beberapa menit, saya bersama dua kawan yang berjarak ratusan kilo dari surabaya sudah terperangkap dalam satu percakapan  yang saya juga nggak ngerti kudu melabelinya dengan apa dan bagaimana. Serius nggak, bcanda juga nggak, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;romance&lt;/span&gt; juga nggak blas, haha! dan kedua kawan tercinta saya itu bersedia kegilaan kita saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;publish&lt;/span&gt; disini. Ya, kita bertiga memang sudah ter'kontaminasi' entah oleh apa :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini antara saya, Mas Pur dan Mas Bud, sebut aja gitu. Saya kebetulan yang paling bontot, tapi juga kayaknya yang paling 'kurang ajar', sering bikin stress mereka, tapi teteup cantik (menurut survey terpercaya) haha!. Mas Pur itu anggep aja kayak anak sulung, kalem abis, sasaran empuk kejailan kita berdua, cukup bijak, ganteng (menurut dia) dan sangat 'ngustad' skali. Nah, klo Mas Bud, dari dulu juga aku emang gak ada serius2nya mah sama dia. Sepanjang riwayat pertemuan kita nih ya, aku sama dia nyengir mulu, serius 5 detik, trus 'gila' 5 jam, ganteng (masih menurut dia, hehe!), bisa juga disebut sebagai anak tengah lah ya dan kadang2 suka gak nyambung, sama sepertikyu :D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenernya agak panjang, bahkan mungkin emang panjang, cuma saya kawatir pihak2 yang bersangkutan ngerasa gimana2 karena semua percakapan konyolnya dipajang, maka ini hanya berupa potongan dari seluruh dialog kita. Saya percaya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;some of you also had this kind of thing. Lovely right?!&lt;/span&gt;, So, selamat membaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, dan membaca ini sangat perlu kecerdasan dan ketangkasan saudara-saudara, karena kadang dialog satu dan lainnya gak nyambung, dan baru connect di sesi (cciieee..,sesi??!!) berikutnya :)&lt;br /&gt;--------------------------&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Mas Pur: nah...kita ngobrol disini biar asyik... :D&lt;br /&gt;Mas Bud: assalamu'alaikum epery bode&lt;br /&gt;saya: salammmm........&lt;br /&gt;saya: sudara sudara..............&lt;br /&gt;Mas Pur: 'alaikumsalam sayang... :D&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new; font-size: 100%; font-style: italic;"&gt;(ini kemajuan buat Mas Pur, lumayanlah..,lumayan genit, hehe!)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;saya: mas buud, disayang mas pur itu lho...&lt;br /&gt;Mas Bud: kok aku? itu kamu put&lt;br /&gt;Mas Pur: ini bukti kalau 3 generasi ketua karate jomblo semua hahaha&lt;br /&gt;saya: loh, yg salam duluan &lt;st1:place _moz-userdefined="" st="on"&gt;&lt;st1:state _moz-userdefined="" st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; mas bud&lt;br /&gt;Mas Bud: mas pur diem2 sayang kamu tu put&lt;br /&gt;Mas Bud: hahaha, gak lah mas, putri itu dah triple cowoknya&lt;br /&gt;Mas Bud: tul gak put?&lt;br /&gt;saya: wah, kenapa dulu mau2 nya didaulat jd ktua??!!!&lt;br /&gt;saya: nasibhh!!!!&lt;br /&gt;saya: triple apaan???&lt;br /&gt;saya: kayak score aj..&lt;br /&gt;Mas Pur: hahaha....&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new; font-size: 100%; font-style: italic;"&gt;(cuma itu kesamaan kita bertiga, menjadi ketua, dan selalu berada dalam tekanan :p)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Mas Pur: tapi dengan modal jadi ketua karate...bisa jadi bekal tuk interview kerja...&lt;br /&gt;Mas Bud: hahaha, bisa aja mas pur ini&lt;br /&gt;Mas Pur: dulu sempat ditawari..kalau ketrima...mau gak latih satpam ?? hahaha&lt;br /&gt;Mas Bud: put, wes interpiu ng ndi ae?&lt;br /&gt;saya: blom, msh level ngirim2 doank...&lt;br /&gt;Mas Bud: loh, berarti pernah nglamar ng satpam juga mas, hehehe&lt;br /&gt;saya: cepe' deh...&lt;br /&gt;saya: cocok mah dari wajahnya.....&lt;br /&gt;Mas Bud: sapa? mas pur? gak ikut2 ah,,,&lt;br /&gt;Mas Pur: ngawur !!&lt;br /&gt;saya: apalagi kemejanya di poto warna biru tuh..,kyak SKK its&lt;br /&gt;saya: hahaha!!!!!!!!!&lt;br /&gt;Mas Bud: skk ITS? teganya,,,,&lt;br /&gt;saya: :))&lt;br /&gt;Mas Bud: mas pur tu mantan bintang iklan lo&lt;br /&gt;saya: ada yg marah tuh...&lt;br /&gt;saya: atuuutttt.....&lt;br /&gt;saya: :|&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new; font-size: 100%; font-style: italic;"&gt;(penganiayaan dimulai...)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Mas Pur: &lt;st1:place _moz-userdefined="" st="on"&gt;&lt;st1:state _moz-userdefined="" st="on"&gt;wis&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; tak ganti,,,kalau yg ini pasti kalian penngin&lt;br /&gt;saya: mas bud jgn blg mas pur ya klo ak blg dia mirip SKK...&lt;br /&gt;saya: ini rahasia kita berdua...&lt;br /&gt;Mas Pur: satuan keamanan kampus ??&lt;br /&gt;Mas Bud: bisa diatur&lt;br /&gt;saya: :^O&lt;br /&gt;Mas Pur: yo ngerti lah aku...&lt;br /&gt;Mas Pur: kalian ini emang tega...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Bud: hehehe, putri iku mari lulus tambah seneng guyon mas&lt;br /&gt;Mas Bud: wes lulus melewati hadangan stres dedline TA&lt;br /&gt;saya: :))&lt;br /&gt;Mas Bud: hahaha&lt;br /&gt;saya: ampuni hamba..........&lt;br /&gt;Mas Pur: dimaafkan kalau mau datang ke solo ya bud ??&lt;br /&gt;Mas Bud: iyo&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new; font-size: 100%; font-style: italic;"&gt;(Solo, rencana kita mo nontonin Kejurnas Karate Mahasiswa di UNS, skalian ngedampingin adek2, tapi kayaknya saya yang failed, ngepas sama tanggal wisuda sih..)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;lagu _moz-userdefined="" on="" sheila=""&gt;------------------------------&lt;/lagu&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;lagu _moz-userdefined="" on="" sheila=""&gt;Menyenangkan bisa meluangkan waktu untuk hal2 demikian. Saya rasa, ada dimensi lain yang hadir waktu kita menyapa mereka, waktu kita sama2 ketawa, ngetawain kekonyolan diri sendiri :p. You know, ini sepertinya memberi kita space untuk santai sejenak dari riuh rendah pergaulan nyata. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I'm glad!&lt;/span&gt; :)&lt;/lagu&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: verdana; margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;lagu _moz-userdefined="" on="" sheila=""&gt;Terima kasih, abang-abangku yang pada cakep2 smua, smoga kalian tetep keren, sukses dan deket jodoh!. Amin. (Ada maunya ni, haha!!!)&lt;br /&gt;&lt;/lagu&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-7924818677928528316?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/7924818677928528316/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/02/ruang-untuk-kata.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7924818677928528316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7924818677928528316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/02/ruang-untuk-kata.html' title='Ruang Untuk Kata'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-5820485412807360155</id><published>2009-02-18T14:42:00.010+07:00</published><updated>2009-02-18T20:35:49.249+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>December 27</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/SZvGUPcFUxI/AAAAAAAAAI4/LFVjbPNYOag/s1600-h/combine2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/SZvGUPcFUxI/AAAAAAAAAI4/LFVjbPNYOag/s320/combine2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304051037202895634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember, baru di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;upload&lt;/span&gt; Februari :D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngeliat foto-foto ini, aku baru nyadar kalo ini acara menguras energi sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat aja tuh wajah2 para orang tua mempelai yang kerekam kamera (termasuk orang tua saya!!! haha!!), pada stress smua. Apalagi mamah tuh (kiri paling atas), ya ampun...&lt;span style="font-style: italic;"&gt;senewen&lt;/span&gt; beraaatttt!!!!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto yang aku upload disini adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;my most favourite photos&lt;/span&gt;, dimana moment2 yang ditangkap adalah moment 'aneh', lucu, sedikit haru, dan yang semacamnya :).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari foto atas tengah, itu adalah detik2 paling tegang Man..., lihat aja cuma masku sendiri yang bisa '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndrenges&lt;/span&gt;', padahal semua orang lagi ndredeg mikirin dia (sekali lagi, apalagi mamah!). Aku sempet terlibat dialog serius dengan masku sebelum kita sekeluarga berangkat ke rumah mempelai wanita :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Mas, udah latian ijab blom? ntar gelagepan lho...', 'Udah...,tenang aja', 'Ih, serius?? kapan emang latiannya? kok aku gak pernah liat mas komat-kamit? dimana?', 'Beneran kok, setiap aku mandi, di kamar mandi, hehe!'.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emang ada gitu ya orang latian ijab kabul di kamar mandi...???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/SZvGTn2RjBI/AAAAAAAAAIw/oWNw0HrGgCg/s1600-h/combine.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/SZvGTn2RjBI/AAAAAAAAAIw/oWNw0HrGgCg/s320/combine.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304051026575330322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus adegan berikutnya, itu kita juga gak tau kenapa keluarga pihak wanita nyambut dengan memberikan minuman kayak gitu,jadi brasa kayak jamuan suku2 pedalaman,hehe! '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kemarilah Anakku, aku menerimamu sungguh dengan tangan terbuka..&lt;/span&gt;', (padahal mungkin dalem ati beliau bergumam gak karuan : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'duh Gusti..., apakah keputusanku ini benar, melepaskan putriku pada pemuda ini??!!&lt;/span&gt;), Haha..,aku gak tau, yang jelas akad nikah adalah yang paling mengharukan, dan..., sayapun juga ikut cengeng :).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk di resepsi, bagiku ini adalah penyiksaan. Berikut adalah seperangkat perlengkapan busana yang harus, wajib 'ain saya gunakan (yang kalo mangkir, mamah bakal mengusir saya dari gedung :D) : Kebaya full payet/manik2, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pinky&lt;/span&gt; pula!!!, kain sarung (untungnya sudah dijahit serupa rok resmi), segala macem perhiasan aneh, jilbab yang lebih mirip topi 'aneh', masih dilapisi lagi dengan semacam bandana (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;speechless&lt;/span&gt; deh!), lalu yang lebih parah lagi adalah kedua kelopak mataku ditempelin sama selotip Man!, apa2an ini??!!!, brasa kaku, melek aneh, merem juga aneh, sepasang bulu mata palsu yang sudah mati2an aku tolak dan hampir berhasil melobi perias, tapi gara2 mamah masuk kamar, ngelihat perias udah nyerah...., bisa ditebak,&lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Pasang aja mbak, gak usah didengerin anak ini...!'&lt;/span&gt;. Oh Tuhan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi ni, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;high heels&lt;/span&gt;! saya harus memakai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;high heels&lt;/span&gt;!!!!!! ini adalah mimpi buruk bagi orang seperti saya :(.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, over all, aku seneng. Kehilangan 'kawan' satu2 nya dalam keluarga, sepanjang dia bahagia, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I'll be fine&lt;/span&gt; :) (kenapa jadi sok bijak gini?!). &lt;span style="font-style: italic;"&gt;And guess what&lt;/span&gt;?? aku udah mo punya ponakan!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hahhhhh....,senang! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi selalu pingin pulang lebih sering, kumpul2 sama keluarga, tanya2 sama kakak ipar baru ('&lt;span style="font-style: italic;"&gt;gimana mbak, caranya biar bisa hamil?&lt;/span&gt;'). Pertanyaan bodoh, aku tau. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;and I love them&lt;/span&gt;. Baru nyadar sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, terimakasih banyak buat temen2 kost yang udah mau dateng, terimakasih sudah mau berfoto bersama, terimakasih sudah menyempatkan diri menyantap hidangan, terimakasih dah pokoknya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat mbak2 dan adek2 yang sudah mau cape'2 dipajang di pintu masuk cuma buat ngejagain buku tamu dan kotak 'buwuh', TERIMAKASIH SEKALI. Kalian terlihat sangat kompak!!! :D. Ntar gantian bu'..., saya pasti mau dipajang kayak gitu, tenang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih untuk semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;ps: itu ada foto seorang singer yang teleng2 sampe ke belakang gitu..., aku takut aja abis resepsi kepala dia gak bisa gerak lagi :D (sante aja mbak singer....).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-5820485412807360155?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/5820485412807360155/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/02/december-27.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5820485412807360155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/5820485412807360155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/02/december-27.html' title='December 27'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/SZvGUPcFUxI/AAAAAAAAAI4/LFVjbPNYOag/s72-c/combine2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-281852788465299826</id><published>2009-02-14T10:34:00.003+07:00</published><updated>2009-02-14T11:16:20.295+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Packing Box</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;ini postingan, aku bikin di warnet deket kost. Kenapa mendadak aku pingin nge&lt;span style="font-style: italic;"&gt;post&lt;/span&gt; padahal niat awal hanya buat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;checking email&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena barusan aku denger lagu Kunang-Kunang, Es Nanas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Stress&lt;/span&gt;!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan, bukan lagunya yang stress. Aku, yang dengan sangat jujur dan gentle mau bilang kalo : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I'm totally mess up&lt;/span&gt;! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;How can I packed all of these memories into one big box, put down somewhere out there, dealing with my own life, just go on forward, without that box follow me&lt;/span&gt;..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga agak bosen karena hampir setiap ngepost, isinya cengeng mulu. Wadehel??!! pingin ketawa-ketiwi lagi, pingin bisa ndak ngurus lagi dengan apa dan bagaimana orang lain, toh mereka juga belum tentu peduli &lt;span style="font-style: italic;"&gt;to what I really feel&lt;/span&gt;. Pingin bisa nulis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;free&lt;/span&gt; lagi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;don't care&lt;/span&gt; ini blog dibaca sama orang lalu orang itu kesinggung dengan tulisanku. Ah, peduli apa!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pingin ngelepas semuanya, bener-bener membuka kedua tangan, membiarkan semuanya berjalan apa adanya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I know, I'm struggling too much, forcing too much&lt;/span&gt;, gak denger klo dari dahulu kala (lebay!) diriku sendiri sudah ngejerit-jerit gak nahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya akan lebih baik klo aku mencintai diri sendiri dulu, mengumpulkan cinta untuk memahami diri, sebelum pergi untuk mencintai orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;haha! iya, tau, ini terlihat sangat berlebihan. Maaf....:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga ini jadi postingan terakhir yang berbau keluhan, berbau cengeng. I&lt;span style="font-style: italic;"&gt;'ll learn how to laugh like a baby, again...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"kunanti dirimu, sampai aku ketiduran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ku mimpi di kejar kunang-kunang,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;taringnya keluar kepalanya membesar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kutakut dikejar kunang-kunang..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ps : untuk kamu, Aku mencintaimu, selalu. Untuk yang mungkin upset dengan pernyataan ini, maaf, but no one can stop  love, I respect you, always. Untuk kalian, God Bless you, all :)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-281852788465299826?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/281852788465299826/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/02/packing-box.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/281852788465299826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/281852788465299826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/02/packing-box.html' title='Packing Box'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-6657102798449686306</id><published>2009-02-08T15:26:00.004+07:00</published><updated>2010-05-13T14:28:00.965+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lagu'/><title type='text'>Aku Ada</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melukiskanmu saat senja&lt;br /&gt;Memanggil namamu ke ujung dunia&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tiada yang lebih pilu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Tiada yang menjawabku &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selain hatiku dan ombak berderu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pantai ini kau slalu sendiri&lt;br /&gt;Tak ada jejakku di sisimu&lt;br /&gt;Namun saat ku tiba&lt;br /&gt;Suaraku memanggilmu&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;akulah lautan ke mana kau s'lalu pulang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jingga di bahuku&lt;br /&gt;Malam di depanku&lt;br /&gt;Dan bulan siaga sinari langkahku&lt;br /&gt;Ku terus berjalan&lt;br /&gt;Ku terus melangkah&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 130%; font-weight: bold;"&gt;Kuingin kutahu engkau ada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandangimu saat senja&lt;br /&gt;Berjalan di batas dua dunia&lt;br /&gt;Tiada yang lebih indah&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 130%; font-weight: bold;"&gt;Tiada yang lebih rindu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 130%; font-weight: bold;"&gt; Selain hatiku andai engkau tahu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pantai itu kau tampak sendiri&lt;br /&gt;Tak ada jejakku di sisimu&lt;br /&gt;Namun saat kau rasa&lt;br /&gt;Pasir yang kau pijak pergi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;akulah lautan memeluk pantaimu erat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jingga di bahumu&lt;br /&gt;Malam di depanmu&lt;br /&gt;Dan bulan siaga sinari langkahmu&lt;br /&gt;Teruslah berjalan&lt;br /&gt;Teruslah melangkah&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 130%; font-weight: bold;"&gt;Ku tahu kau tahu aku ada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;(Dewi Lestari, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku Ada&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ps &lt;/span&gt;:&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; Maaf untuk tidak terlalu kreatip belakangan ini, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I'm not in the mood on writing&lt;/span&gt;, entah karena nge&lt;span style="font-style: italic;"&gt;blank&lt;/span&gt; ato justru karena jidat lagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;full idea&lt;/span&gt;...:(&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Tapi yang jelas aku emang lagi gandrung sama lirik-liriknya mbak &lt;a href="http://dee-idea.blogspot.com/"&gt;Dewi Lestari&lt;/a&gt;. Semakin aku dengerin, semakin aku merasa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kisut&lt;/span&gt;, Arrgghhh..., aku rindu 'pulang'!!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-6657102798449686306?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/6657102798449686306/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/02/aku-ada.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6657102798449686306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6657102798449686306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/02/aku-ada.html' title='Aku Ada'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-739779738900065994</id><published>2009-02-08T15:21:00.001+07:00</published><updated>2009-02-08T15:24:09.059+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Zero Point</title><content type='html'>I hate this salty water,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;coming from my eyes...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-739779738900065994?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/739779738900065994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/02/zero-point.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/739779738900065994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/739779738900065994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/02/zero-point.html' title='Zero Point'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-6411063937138640224</id><published>2009-02-06T18:00:00.003+07:00</published><updated>2009-02-06T20:37:41.866+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HanyaKata'/><title type='text'>Written</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dan jika semua telah tertulis disana,&lt;br /&gt;mengapa manusia harus menyesali kegagalan,&lt;br /&gt;mengapa memunggungi ketidaksempurnaan,&lt;br /&gt;memurkai kealpaan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan bahwa masa depan kita adalah serupa jalan berkelok, menyempit seperti gambar pemandangan gunung dan lerengnya yang kerap kita goreskan saat TK dulu, yang tak akan pernah kita lihat dan ketahui ujung dan teksturnya kecuali dengan terus berjalan maju, langkah per langkah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I know it has been written down, there&lt;/span&gt;;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan mengapa kita tidak merasakan saja jalan yang telah dan sedang ditapaki, memberi tanda padanya, hingga usah lagi meloncat kesakitan atau terjatuh tanpa disangka bila ditemui kembali jalan serupa;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua telah tertulis disana,&lt;br /&gt;mengapa menangisi semuanya?;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja, hidup tak serumit yang kita rasa, maka mari terus berjalan, memaknai rintangnya, mensyukuri lapangnya, menyuburkan tanahnya, hingga tiap-tiap kita dapat mengakhirkan perjalanan dengan bahagia yang tak mesti sama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-6411063937138640224?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/6411063937138640224/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/02/i-know.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6411063937138640224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/6411063937138640224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/02/i-know.html' title='Written'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-3307940583158299201</id><published>2009-02-02T20:59:00.004+07:00</published><updated>2010-05-13T14:28:31.359+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lagu'/><title type='text'>Peluk</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Menahun, ku tunggu kata-kata&lt;br /&gt;Yang merangkum semua&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Dan kini ku harap ku dimengerti&lt;br /&gt;Walau sekali saja pelukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Tiada yang tersembunyi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Tak perlu mengingkari&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Rasa sakitmu&lt;br /&gt;Rasa sakitku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada lagi alasan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Inilah kejujuran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pedih adanya&lt;br /&gt;Namun ini jawabnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Lepaskanku segenap jiwamu&lt;br /&gt;Tanpa harus ku berdusta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Karena kaulah satu yang kusayang&lt;br /&gt;Dan tak layak kau didera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadari diriku pun kan sendiri&lt;br /&gt;Di dini hari yang sepi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Tetapi apalah arti bersama, berdua&lt;br /&gt;Namun semu semata&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Tiada yang terobati&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Di dalam peluk ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Tapi rasakan semua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Sebelum kau kulepas selamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak juga ku paksakan&lt;br /&gt;Setitik pengertian&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Bahwa ini adanya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Cinta yang tak lagi sama&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini ku berharap ku dimengerti&lt;br /&gt;Walau sekali saja pelukku...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;-Dewi Lestari feat Aqi Alexa, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Peluk&lt;/span&gt;-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadisss.....syairnya.... :)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-3307940583158299201?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/3307940583158299201/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/02/peluk.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3307940583158299201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/3307940583158299201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/02/peluk.html' title='Peluk'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-7950074082968113722</id><published>2009-01-21T17:06:00.009+07:00</published><updated>2009-02-03T16:42:42.662+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Aku saja dan 'mereka'</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/SYgRGjtSakI/AAAAAAAAAIQ/q9h1JkxI4a4/s1600-h/90KN0075.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/SYgRGjtSakI/AAAAAAAAAIQ/q9h1JkxI4a4/s200/90KN0075.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298503765963467330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pagi atau sore hari, aku sering duduk di pinggiran tangga besi, rumah kostku.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;disitu, kalo kamu duduk, nempelin pantat kamu di besi pinggiran tangga, menghadap utara, kedua kaki bakal langsung menapak di atap rumah induk, karena tangga dirancang menempel dengan bagian belakang rumah ibu kost. Supaya gampang mbayanginnya, tangga menuju kamar2 bagian atas (termasuk kamarku) berbentuk huruf L dibalik. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;You know&lt;/span&gt; lah, owwhhh, iya, lebih mirip angka 7, yap! . Nah, pada bagian sudut, tangga disisipi oleh dataran persegi, kayaknya untuk jeda supaya orang2 yang naik kesitu gak terlalu capek (dan itu sangat bermanfaat buat mamah atau ayah yang kadang2 mengadakan inspeksi dadakan ke kamar :p). Seperti desain tangga kebanyakan, di pinggir kanan dan kirinya ada pagar pengaman yang ngejamin penggunanya gak bakal jatuh kejungkal kesamping (tapi kayaknya masih mungkin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggeblak&lt;/span&gt;, trus nyosor ke bawah :p).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tempat favoritku itu adalah pagar pengaman tangga pada bagian datar persegi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena datar, otomatis tangga pengamannya juga gak nanjak, sehingga aku bisa nyaman disana, cuma bisa lihat atap rumah bu kost yang sudah mulai banyak tertambal, pucuk-pucuk pohon mangga, akasia dan ini dia... langit, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;my lovely blue skies&lt;/span&gt;! tentunya. Senang :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo boleh dibandingkan, komposisi atap+pucuk-pucuk pohon : langit kira2 adalah 1:3. Bisa kamu bayangkan, pas pagi ato sore, waktu warna langit lagi ranum2nya ato lagi rentan2nya , sudut itu seperti sudut 'surga', setidaknya buatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I'm not really doing something, but I really get something there&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yep, saat aku mulai ngerasa bosan dengan suasana kamar, semua ide-ide cemerlang  menguap hilang gak berbekas, jari-jari tangan lagi gak mau kompromi untuk mengakrabi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;keyboard&lt;/span&gt; laptop, hape nyaris gak berdering seharian (hehe..., melas!), segala hal terasa begitu menjengkelkan dan hawa2 negatif &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;-aku gak pingin ngapa-ngapain, aku benci semuanya!!!-&lt;/span&gt; sudah gentayangan, maka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;space&lt;/span&gt; kecil disudut tangga selalu saja bisa ngebantu aku untuk merasa lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku cukup duduk disitu, diam, bersama atap2 rumah, pucuk2 pohon mangga, akasia serta langit. Sederhana. Mungkin sekali waktu kamu boleh coba, ada di satu tempat yang cuma kamu saja dan 'mereka'.  Rasanya seperti bercerita tanpa bicara, mengadu tanpa menguras kata-kata, bersandar tanpa khawatir sandaran itu akan lelah, dan berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tarikan nafas, perlahan, dan kita pun pasti bisa tersenyum lagi :)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-7950074082968113722?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/7950074082968113722/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/01/aku-saja-dan-mereka.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7950074082968113722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/7950074082968113722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/01/aku-saja-dan-mereka.html' title='Aku saja dan &apos;mereka&apos;'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/SYgRGjtSakI/AAAAAAAAAIQ/q9h1JkxI4a4/s72-c/90KN0075.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-9208198047318731529</id><published>2009-01-20T13:45:00.005+07:00</published><updated>2009-01-20T15:41:57.585+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Kenapa Harus Senerpes Ini? + Kakakku Diambil Orang!!!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;dua hari lagi, 8 pasang mata bakal mantengin aku.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;dan tiap hari, belakangan ini jadinya aku sering nongkrong di WC kost dengan setengah ngelamun aneh, 'apakah saya akan sukses?', &lt;em&gt;'apakah rumus2 segitu banyak bakal diminta buat diturunin smua?', 'Man, gak, yang jelas klo semua aku takkan sanggup&lt;/em&gt; (kok kayak lagunya krisdayanti??!!)', &lt;em&gt;'apakah aku masih tetap cantik?', '........'&lt;/em&gt;. :)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;'Apakah Kamis besok itu benar2 nyata, wahai kerabatku??!!'.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Emang sepertinya lebih asyik berantem dengan KaJur sampe 'benjut' daripada harus tersiksa selama 3 minggu berturut-turut dengan materi yang itu-itu saja, yang aku sudah mulai bosan tapi ajaibnya masih belom bener2 &lt;em&gt;catch up&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ok, malem ini kayaknya aku susah merem, badan udah kayak martabak, balik kiri, banting kanan, putar sana, putar sini, sampe nyoba gaya putri duyung dan semi nungging (??), tapi teteup mata cuma berasa sepet aja, gak bisa nyenyak. Pikiran mulai jalan2 gak jelas arahnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;banyak yang pingin ditulis tapi as always, aku kebanyakan mikir, kebanyakan nyusun cara gimana baiknya nampilkan tulisan supaya bisa enak dibaca (padahal ya sebenernya dari dulu juga gak pernah enak :p). Kayaknya ntar lah, kalo smua urusan akademis udah beres, ini blog bakal aku penuhin lagi dengan hal2 yang udah kebelet abis diceritain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepakat?!?? Siiippp.......... :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O ya, sebenernya pingin juga nge-&lt;em&gt;load&lt;/em&gt; foto2 aneh dari nikahan kakakku, remember, pernah kok aku posting &lt;a href="http://sepuluh-jari.blogspot.com/2008/09/what-amazing-ten-years.html"&gt;disini&lt;/a&gt;. Tapi gak tau knapa hari ini susah sekali buat &lt;em&gt;up load&lt;/em&gt; gambar, aku nyerah. Dan yaaahhh...., kakakku sudah diambil orang, udah gak bisa cengingisan dan cekikikan 'pelan2' lagi dirumah, membicarakan perihal2 yang sesungguhnya tak pantas dibicarakan diantara kakak dan adik, haha! Ok, nge-&lt;em&gt;load&lt;/em&gt; nya ntar2 juga ya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berbahagia, bro! inget, kayak yang aku teriakkan di &lt;em&gt;wedding video&lt;/em&gt; kamu, adikmu yang cantik nan ciamik ini pingin punya 12 keponakan! so, yang rajin ya!!! :p. &lt;em&gt;I'm gonna miss the time you've shared with me&lt;/em&gt; :) ....( nyesel ni, kenapa sodara cuma ada sebiji doank??!!).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-9208198047318731529?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/9208198047318731529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/01/kenapa-harus-senerpes-ini-kakakku.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/9208198047318731529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/9208198047318731529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/01/kenapa-harus-senerpes-ini-kakakku.html' title='Kenapa Harus Senerpes Ini? + Kakakku Diambil Orang!!!'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-4058380097851475745</id><published>2009-01-13T12:12:00.003+07:00</published><updated>2009-01-13T12:50:21.041+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>War</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;seminggu lalu sampe seminggu ke depan kayaknya jadi minggu-minggu keramat, buatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melebihi Nyi Ratu Roro Kidul yang akan jalan-jalan ke daratan, melebihi anak perawan yang bakal dikawinin sama perjaka paling cakep sedunia dan bahkan melebihi keramatnya gunung semeru yang kebelet meletus (eniwei aku gak bener-bener tau apakah benar itu gunung emang keramat ato gak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan..., tolong doakan saya saja, untuk tiga minggu yang sungguh gak ada duanya (beneran nih, serius, doakan sayaaaaaaaaaaa......!!!!!!!!!!). Oh mama, anakmu ini bener2 dilanda kepanikan yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argghhh, pusing!&lt;br /&gt;This is War, saudaraku! War againsts  sebelas  semester yang sudah  saya habiskan dalam 5,5 tahun  ini!  Yeaahhhhhh!!!!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7263227886372060325-4058380097851475745?l=sepuluh-jari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/feeds/4058380097851475745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/01/war.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4058380097851475745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7263227886372060325/posts/default/4058380097851475745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sepuluh-jari.blogspot.com/2009/01/war.html' title='War'/><author><name>Indira Puteri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15287321469125775584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_mVLg83lTciY/TNzPIenukFI/AAAAAAAAATc/WJyyouOQCuc/S220/Picture%2B553.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7263227886372060325.post-1687597515712024522</id><published>2008-12-30T21:11:00.003+07:00</published><updated>2008-12-30T22:30:02.740+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aku dan Hidup'/><title type='text'>Single ato Double?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;mungkin, aku ditakdirkan untuk sering berurusan dengan.....kepolisian.&lt;br /&gt;eh, bukan. Maksud saya dengan pria beristri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serius, ini cukup ngebuat aku bertanya-tanya sendiri, kenapa aku selalu harus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;interest&lt;/span&gt; dan kesangkut paut sama yang begituan. Maksudnya, bukan interest ngeresekin rumah tangga orang, bukan gitu. Lebih tepatnya gini, beberapa kali tertarik sama pria, beberapa waktu gitu kliatannya mah masih perjaka bo', aman kan, sah2 aja. Eh, ternyata sudah merit, ada buntutnya malah. Apa gak stress tuh??!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;klo gak gitu, ada lagi. Aku jalan sama orang (cowok yg jelas, ya iya lah brayy...), lalu beberapa lama break, pisah, trus deket lagi, eh ternyata bulan depan udah mo menikah. Alamaaakkk..., menurut lo???!!! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;So sweeeeeetttttt&lt;/span&gt;...!!! pingin aku timpukin sendal aja tuh orang :p.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lumayan sering begitu, brasa udah kebal lama-lama. Makanya aku berkesimpulan kayaknya emang kudu begini deh, kayaknya Tuhan menguatkan aku dengan cara seperti ini. Dihaja
