April 22, 2010

Waktu

Jarum panjang kian mendekati angka dua belas. Kelak, tiga ratus hitungan lagi ia akan segera bersinergi dengan kawannya, membentuk sudut sembilan puluh derajat. Segera tampak bagai kue tar yang terambil sisi sebelah kiri atasnya, seperempat bagian. 

Aku belum ingin terpejam. Berpikir barangkali putaran tanpa bosan itu dapat dihentikan, membuatnya tak perlu sampai di titik dua belas. Ayah pernah melakukan hal sebaliknya beberapa hari lalu. Ia mengambil sesuatu dari rongga belakang perkakas dinding itu dan menggantinya dengan barang yang serupa, lalu tiba-tiba secara ajaib mereka kembali berputar menunjuk semua angka, bergiliran.

Kakiku berjingkat memanjat meja belajar biru muda, mencoba mengeluarkan dua benda biru serupa kue castengel, sedikit lebih berat. Aku banyak belajar dari gerakan ayah, tempo hari. Tak terlalu rumit. Cukup memisahkan castengel biru dari induknya, lalu pasti tak lagi ada gerakan, tak perlu tiga ratus hitungan lagi. Aku berhasil. Setidaknya, harapanku bertemu bunda malam ini tidak perlu berkejaran dengan waktu.

"Bunda punya hadiah untuk kamu, sayang. Jam sembilan nanti bunda pasti sudah sampai rumah," ia berjanji atas nama waktu lagi. Lalu menutup telepon dengan tergesa, sore tadi. 

Bunyi sepatu bersama nada suara memburu terdengar sampai telingaku. Aku membayangkan bunda seolah sedang berbicara sembari melintas di arena jalan cepat. Sesekali membuatku ternganga bingung setiap ia menyelipkan satu-dua kata aneh, mungkin untuk orang di sebelah yang sepertinya juga sedang lompat gawang.

Aku tak mengerti. Bunda selalu begitu, melakukan beberapa hal secara bersamaan. Ia kadang terlihat seperti manusia seratus tangan dan seribu kaki. Dulu, pernah ia menyuapiku dengan tangan kanan, menjepit telepon genggam dengan pipi dan leher kiri, mengetikkan sesuatu di layar komputer dengan tangan kiri, dan mata bergerak ke kanan dan kiri, berkaca memperbaiki warna-warni di wajah, mengeringkan rambut sebahunya, menyisir alis dan bulu mata, tak kunjung berhenti. 

Aku bahkan tak tahu, bulu mata juga bisa disisir. Bunda tak pernah membalas tatapanku lebih dari lima detik demi merapikan kedua mata dan bibir indahnya sendiri. Seolah sebidang kaca bening lebih penting, untuk keduanya. Selalu begitu.

Entah sudah berapa lama aku mulai membenci waktu dan segala macam barang yang dapat menunjukkan eksistensinya. Jam dinding, contohnya. Aku kerap menghardiknya perihal mengapa ia selalu terasa begitu cepat bagiku dan tampak terlalu lambat untuk bunda. Jam sembilan malam versi bunda tak pernah sama dengan versiku. Janjinya selalu digagalkan oleh detik-detik nakal itu. Makhluk bernama waktu terlalu rajin membawa bunda jauh sebelum kedua mataku genap terbuka. Memaksa ruang makan hanya dihadiri aku dan ayah yang menyantap potongan roti daging nyaris tanpa kunyahan. Mementahkan kembali rencana-rencana lucu di akhir minggu dan membiarkan bunda seperti tenggelam di kolam kertas, tanpa suara. Sedangkan aku kembali harus duduk berkawan robot-robot Power Rangers, menatap murka jam dinding di depanku, mencari tuan waktu untuk kutanyai suatu hari nanti : Mengapa kamu seperti tak pernah ingin menunggu, mengantarkan bunda, selain malam menjelang dini hari?

"Selamat ulang tahun, sayang. Mama bawakan mainan favoritmu," satu kecupan dari wanita wangi vanila, mendarat di pipi.

Ah, jam berapa ini? Semoga kecupan tadi, bukan mimpi. Semoga esok pagi, waktu masih sudi berhenti dan tidak membawa bunda terlalu cepat pergi.

Aku ingin dia, tanpa hitungan waktu, maskara dan wangi vanila.
 

2 comments:

  1. siap, guru!
    siap ditabokin lagi! :P
    salam buat mas Reza Gunawan ya Gur..
    hahahahahaha!!!!

    ReplyDelete