Untuk Win,
yang sedang membaca,
Hai,
semoga kau tidak terkejut melihat kertas berisi tulisan tanganku ini tiba2 terselinap di kamarmu, di balik pintumu. Tenang saja Win, ini bukan nota tagihan dari induk semang kos mu. Ah, tapi omong2, apa kau masih saja gemar menunggak iuran kamar? dasar sok pelupa!
Sebelumnya, terimakasih telah bersedia membuka dan membaca ini. Aku menulisnya tengah malam, waktu ayah dan ibu sudah damai dalam tidur mereka (apakah ini penting?).Biasanya selarut ini aku pasti sudah memeluk guling, tapi sekarang entah mengapa kelopak mataku terasa seperti terganjal oleh sebatang tusuk gigi restoran. Aku sudah banyak kehilangan waktu istirahat malamku Win, makanya aku sangat berharap kau mau menyediakan waktu sebentar untuk mengolahragakan dua bola penglihatan di wajahmu membaca tulisanku yg dulu katamu tak terlalu baik (tapi kata orang, tulisan tak baik pertanda orangnya cakep lho Win!).
Oh ya, kau juga boleh membayangkannya, aku memikirkan apa yang ingin kutulis beriring dengan Careless Whisper nya George Michael. Sedang tidak ada suara2 lain, sepi sekali, lagunya terdengar begitu jernih, aku jadi lancar menulis. Mungkin ini ya Win yang membuat guru2 kita jaman menjelang ujian akhir SMP-SMA dulu rajin berpetuah : 'baiknya kalau ingin belajar pas lewat tengah malam, anak-anak...! pasti akan terekam dengan baik apa yang kalian pelajari'. Eh, Guru2mu juga bicara begitu ndak Win?
Nah, lagunya sudah ganti. How Deep is Your Love nya BeeGees...
Aku sengaja merupakan surat ini pada bentuk asalnya, Win. Lembar kertas yang diatasnya dibubuhkan tulisan dan tanda tangan si pengirim lalu si penerima membuka dan membacanya dengan berbagai macam kemungkinan posisi dan air muka. Bisa duduk, berdiri sambil berjalan kesana kemari, merebah di ranjang dan sebagainya, bahkan kita bisa melakukannya sembari berjongkok buang air besar (tapi aku tidak berharap kau benar2 melakukannya di tempat itu). Aku ingin kau membaca sambil menggenggam sampulnya, memegang kertas yang juga pernah ada di tanganku, merasakan bahwa penaku pernah ada di tiap baris kalimatnya. Bagiku dengan begini semua akan terkesan lebih nyata. Benar tidak, Win?
Membuatmu duduk melotot berhadapan dengan layar komputer membaca suratku hingga urat2 lehermu mengencang adalah hal yang sama sekali tidak aku inginkan. Lagipula, aku juga tak sudi apa yang kusampaikan padamu harus tercampur dengan radiasi cahaya yang hanya akan melukai matamu yang cukup menakjubkan itu (satu2nya yang paling menarik di wajahmu, menurutku). Aku juga enggan mengumpulkan suratku dengan sederet surat lain dari kawan2mu atau mungkin pengagum2mu yang selalu saja dengan bangga kau pamerkan padaku (kita memang mantan pasangan yang aneh), atau bahkan Suparsiah, pasanganmu sekarang.
Surat ini haruslah datang sendiri saja, hanya antara aku, kau dan Pak POS, tentunya. Maafkan ya untuk keegoisan ini. Hanya kali ini saja, Win. Setelah itu kau berhak melakukan apa saja padanya. Membuang, membakar, melipat2 sampai kecil lalu kau masukkan celengan sapimu atau kau sembunyikan diantara tumpukan baju di lemari (tapi ingat, ini bukan lembaran uang kertas yang katanya bisa beranak jika disimpan begitu).
Berapa lama kita tak bertemu? Aku sedikit lupa. Aku sibuk memboroskan ingatanku pada bermacam hal disini. Aku melukis sketsa wajah orang, menulis cerpen untuk majalah2 remaja, berlari2 kecil keliling perumahan setiap pagi, membersihkan dapur, mengiris bawang dan sayuran, memijat kaki ibu sampai beliau tertidur di depan televisi dan menyirami semua tanaman kesayangannya yang mulai memenuhi kebun kami. Cukup sibuk bukan? Cukup untuk tidak ribut memikirkanmu. Seharusnya.
Tapi sepertinya kau harus tau Win, hingga kini belum ada yang memanggil namaku seperti kau memanggilku, 'Nata'. Ya, memang terlihat lebih mirip dengan merek sari kelapa awetan yang akrab terjual di swalayan2, tapi aku suka. Bahkan kedua orang tuaku pun tak memiliki cara khusus untuk menyebut namaku. Mereka lebih menyukai nama lengkapku, Natemi. Aku tau, sampai saat ini pun tak ada seorang yang memanggilmu 'Win', mereka tetap saja kerap menyebutmu 'Darto', 'Ndar' atau 'Windarto'. Suparsiah juga terdengar sering memanggilmu dengan sebutan 'Mas Totok', aih! cukup unik dan kreatif. Tapi aku tetap lebih suka 'Win'. Singkat dan akrab. Bagaimana denganmu? Kau sendiri lebih suka mana? (Suparsiah marah ya jika kau jawab pertanyaan ini?)
Belum ada yang membuatku dapat dengan lepas tertawa apa adanya tanpa harus mengatur bentuk bibir supaya terlihat lebih manis (lebih baik tak usah tertawa). Belum ada yang memarahi dan mendebatku seperti caramu, belum ada yang menghantam keangkuhanku kecuali kau dengan teori hidupmu yang nampaknya selalu saja benar. Belum ada.
Kau bahkan sering kukerjai dengan hobiku buang angin, pendengaranmu yang cukup tajam ternyata mampu menangkap bunyinya meskipun kita hanya sedang berbicara lewat telpon. 'Ah, kau kentut lagi ya Nata?!'. 'Ndak tuh! siapa juga yang kentut?'. 'Ituh, seperti ada bunyi udara yang membentur suatu permukaan! kau pasti kentut, jangan bo'ong!'. Dan kitapun tertawa bersama, karena kau sudah sering kukentuti dan merasa frustasi karenanya. Tak apa, toh aku juga pernah harus banyak2 merelakan hidungku kemasukan asap rokokmu itu dan aku pernah sangat membenci rupa wajahmu setiap kau menghisap dalam2 cerutu kecil itu lalu memajukan bibir untuk membuat asap keluar berbentuk bulatan2 kecil. Aku benci, sama seperti kau membenci hobiku buang angin.
Oh ya, satu lagi, aku juga hobi mengupil, dan ternyata kau sangat mengutuknya. Kita ini memang aneh dan pernah mencintai keanehan itu, bersama.
Baiklah, sepertinya aku sudah terlalu panjang menulis ya? Kau tau?, sebenarnya aku tidak punya hal penting apapun untuk disampaikan. Surat ini pun bukan sesuatu yang penting, Win. Aku hanya ingin menulis sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah tersampaikan hingga kita kocar-kacir begini. Jari2ku tidak bisa berhenti menulis. Aku sama sekali tak berpikir, aku hanya terus menulis mengikuti hatiku (oh, ini terdengar sangat sentimentil), jadi kau boleh menganggap semua tulisan di atas adalah sampah dan ini memang bukanlah surat yang harus dibalas. Tenang saja.
Aku sayang kamu. Itu saja. Sederhana.
Maaf untuk tidak mengatakan ini terlalu lama. Maaf untuk tidak mengucapkannya langsung dengan lisanku. Sekarang, kita sudah tak punya 'waktu' bukan? Aku mengerti, karena kita bukanlah sekedar kentut, upil dan tembakau. Kita tidak mengerti banyak hal, walaupun sepertinya tak banyak yang mampu mengerti tiga hal yang sudah kita pahami dengan amat baik dan cerdas (mengapa kita selalu saja memahami hal2 yang tidak terlalu penting untuk dipahami?).
Tetap saja, cinta bukan sekedar kentut, upil dan tembakau.
Sekian dulu ya Win, sudah mulai pagi. Aku ingin tidur sebentar, tidur untuk melupakan semua kebodohan yang sudah aku tulis disini. Sampai jumpa di kehidupan mendatang (seperti yang selalu kau katakan), mungkin esok, lusa, 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, 10 tahun, 15, 18, 25,...atau mungkin hingga waktunya bumi meniadakan diri, sampai jumpa di surga, jika Tuhan kita menghendaki (tak apa, meski nanti disana kau masih bersama Suparsiah, toh aku masih bisa melihatmu dan bukankah di surga tak akan ada pertengkaran? jadi suparsiah tak mungkin mendampratku hanya karena melihatmu,haha!).
Ingat Win, ini perpisahan. Tapi aku enggan membuatnya terlalu sedih dan dramatis, karena menurutku perpisahan sudah merupakan judul yang menyedihkan. Lalu mengapa kita harus menyiksa diri dengan kegetiran?
Berbahagialah, karena aku juga akan bahagia.
Aku, yang kerap mengentut dan mengupil didekatmu,
Natemi.
NB: Apakah aku sudah menulisnya? Aku sayang kamu :)
cigadung inn
-
untuk yang main ke bandung dan cari penginapan… silahkan deh di klik yang
satu ini :-) Cigadung Inn dapat mengakomodasi 5 orang dengan nyaman atau
lebih. K...
2 hours ago
