Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

November 14, 2011

Isyarat

4 comment
Aku menikmati wajahmu yang terpantul sempurna oleh lantai keramik beranda rumah, diam-diam.

Pagi belia ini bernama Minggu, kita kembali duduk berdua, dengan kau di ujung timur dan aku di ujung barat. Sesekali kubuang pandang pada para rumput gajah dan tanaman hias Ibu yang masih segar terkecup embun pagi. Bukan apa-apa, aku hanya tak ingin kau dapati sedang memandangi pahatan yang Tuhan kerjakan pada parasmu. Pekerjaan yang menurutku sempurna, tegas, damai, dan menyenangkan. Kau masih ditemani ranselmu, kali ini tak seraksasa ransel tempo hari, mungkin kau menggantinya. Bibirmu bergerak tenang, bercerita tentang apa saja yang kau ketahui dengan baik dan belum pernah kuketahui sama sekali. Kau selalu menoleh ke arahku  sembari mengulas senyum setiap satu kalimatmu selesai, dan setiap kali itu pula, konsentrasiku mendadak bubar jalan. Aku terlalu sibuk mendidik mata supaya mereka tak terlalu berbinar riang, menatapmu.

Seekor kucing belang tiga melintas di depan pagar. Ah, sepertinya dia sedang menyeringai nakal, menertawakan muka gugupku. Sialan.

March 16, 2011

Katalis

3 comment
Retinaku terdistraksi ketika pendar jingga senja yang hendak merambat masuk melalui pintu kaca ruangan terhambat sekejap oleh kelebatmu. Dua atau tiga detik, kira-kira.

Kau sedang terbalut kerudung hitam, kaos longgar merah tua, celana jins panjang coklat pekat, dan sepatu olahraga putih bermotif garis ungu muda. Ya, setidaknya informasi singkat itu saja yang mampu terkumpul oleh lirikan sekilasku. Oh, tidak, aku bahkan tak melirikmu. Tentu saja mata kiriku cukup cerdas untuk mampu merekam otomatis sosokmu yang tiba-tiba muncul di ambang pintu, tanpa perlu repot melirik sedikitpun, bukan? Keping hitam mataku bahkan tak bergeser sejengkal kaki semut pun. Mereka masih setia pada gemerlap layar monitor. Tubuh jangkung ini juga cukup statis, duduk tenang menempel di kursi empuk biru, bersama tangan kanan yang betah menjamahi tetikus mungil, mengajak pointer berjalan-jalan ke beberapa halaman kesukaan.

Langkahmu tertahan. Acuhku yang kadang tingginya nyaris menyentuh ujung menara petir, tempat Pai Su Chen diasingkan, runtuh begitu saja oleh sesuatu, entah apa. Persendian dan tulang-belulang tak lagi menaati instruksi tuannya untuk tetap diam di tempat, tak bergerak. Hingga pada akhirnya, seulas senyum pendek dan anggukan kecil kuisyaratkan demi membalas pertanyaan non verbalmu. "Silakan masuk", begitu kurang lebih maksudku.

Ah, kau lagi. Si wajah polos tanpa dosa, kembali memporak-porandakan sistem pertahanan tubuhku. Mengacaukan disiplin koordinasi antar lini. Bahkan si pelatih keras kepala, bernama Gengsi, tak luput kau buat kehabisan akal. Selalu saja begitu.

January 21, 2011

Senyawa

8 comment
Tidak ada yang istimewa, seharusnya.

Aku telah menjumpaimu tanpa rencana puluhan kali. Mataku kerap tak sengaja menangkapmu yang entah sedang apa mondar-mandir di ruangan yang sama. Kadang kau terlihat lumayan sibuk dengan beberapa lembar berkas ditangan kiri dan sebatang pena hitam di tangan kanan atau larut dalam suatu diskusi serius bersama beberapa orang  rekan kerja. Tapi tampaknya juga kau sukses membawahi waktu secara sempurna dengan hanya duduk santai di dapur kantor, menikmati segelas kopi hangat dan dua atau tiga lembar kecil tempe mendoan.

Puluhan kali itu pula, kita hanya saling tersenyum kecil sebagai syarat minimal basa-basi sosial. Itu saja. Selesai perkara.

Hingga entah pada pertemuan tak sengaja yang keberapa, partikel-partikel tak kasat mata yang beterbangan bebas di antara kita, bersenyawa. Ada sesuatu yang berloncatan, memercik, lalu sesekali menyilaukan, yang bahkan aku pun gagal menjadi paham. Gawatnya lagi, aktivitas persenyawaan itu tumbuh lebih cepat daripada ketangkasanku untuk segera mengerti dan menetapkan definisi tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam dapur inderaku.

Sedangkan kamu, tetap menjadi laki-laki beransel raksasa, dengan rambut acak-acakan, dan senyum tipis yang biasa saja.

Kita terus saja berpapasan. Aku selalu berada di ambang batas antara senang dan jantungan tiap kali jarak kita hanya selebar tiga jengkal telapak tangan. Dan kamu, tidak pernah tahu, aku kelabakan menerjemahkan ketidaktahuan yang kurang ajar dan menjengkelkan, seperti ini.

Ada sesuatu. Entah apa, tidak tahu bagaimana. Aku hanya merasa seperti gadis kecil yang baru saja belajar Matematika.

November 29, 2010

Amor

2 comment
Aku selalu melihatnya duduk tenang di barisan paling belakang. Sehari di sudut kiri, hari lainnya bergeser ke sudut kanan. Setiap pagi rambutnya basah, entah oleh air atau minyak rambut pria dewasa yang baunya terlalu kuat untuk udara pagi yang masih bersih. Tampak ada sejumlah koloni rambut yang berdiri tegak pada beberapa bagian kepalanya. Aku mendeteksi bekas usaha keras untuk menidurkan rambut-rambut itu, tapi nampaknya dia belum mampu menjinakkan kebandelan rambutnya sendiri. Konspirasi senyum lebar dan binar mata jernihnya adalah keniscayaan yang selalu rajin ambil bagian menyumbangkan pusaran energi positif ke seantero lingkungan, dimanapun ia berada. Kombinasi warna kontras antara gigi dan kulit muka yang ia munculkan ketika harus tertawa, mengingatkanku pada keindahan papan catur. Hitam berdampingan dengan putih. Gelap bersanding terang.

Seperti tawa dan senyumnya, dia adalah sosok keindahan yang seimbang. Kecerdasan yang tampan. Ya, setidaknya bagiku.

October 22, 2010

Anti Biimplikasi

3 comment
Aku berdiri di bibir balkon lantai tiga, sepuluh sentimeter di belakang pagar besi silinder horisontal warna biru tua, setinggi lutut sendiri. Rambut ikal seleher yang melekat lebat di kepala bundarku menari digoda angin senja. Tengkuk persegiku terbelai samar oleh benda-benda jemuran yang sedang berada di persimpangan bau, antara bau larutan pewangi dan bau bacin menyebalkan. Disana, entah berapa kilometer diatasku, kawanan awan putih berkumpul hendak mengubah warna, ditemani deru burung besi yang terbang landai, pertanda akan segera menyentuh landasan. Mataku melirik sudut barat, sebentar lagi matahari hendak pulang. Langit, seperti biasa melakukan ritual persiapan, perpisahan dengan siang dan penyambutan hadirnya petang.

Lima sentimeter, kakiku bergeser ke depan. Sepuluh hitungan mundur pun dimulai. Aku menjejalkan semua oksigen ke paru-paru pada hitungan pertama, menahannya baik-baik, supaya kelak tubuhku mengenangnya sebagai oksigen terakhir yang dapat terhisap sempurna. Aku membawa badan yang hanya mengenakan kaos dalam putih tak berlengan dan celana pendek abu-abu yang labelnya sudah pudar terus condong ke depan, bersahabat dengan gravitasi bumi. Mataku terpejam. Empat...tiga...dua...sa...

Mas Aji! Sedang apa? Baru selesai jemur cucian ya?”

Bu Siti, tetangga sebelah rumah dengan muka polos, jepit rambut bertebaran dimana-mana, dan logat jawa timur tulennya, baru saja membuat oksigen terakhirku harus bereaksi menjadi ribuan partikel karbon dioksida. Aku tersedak detak jantung sendiri.

“Iya Bu, lagi cari angin segar. Bosan di kamar terus” aku melunasi tanyanya sekejap setelah batukku usai.

“Hati-hati Mas, jangan mepet-mepet pagar. Nanti jatuh. Eh, ba’da isya’ Mas Aji ke rumah ya, internet putra saya ngadat lagi. Jangan lupa lho!” Bu Siti menegaskan kalimat terakhir sambil melambaikan tangan ke arahku. Ia kemudian berlalu bersama bunyi langkah cepat, menyeret tanah.

Saya memang ingin jatuh, Bu.

October 12, 2010

Bunda Pulang

2 comment
"Horeeee, maemnya Mas Dimas sudah habiiis...!"

Kami duduk berhadapan di ruang tengah, di atas hamparan karpet putih dari bulu domba, bersebelahan dengan televisi datar selebar tiga kali rentang tanganku, di bawahnya tertulis label 'Panasonic',  yang kemarin baru saja berhasil kubaca dengan benar. Aku bertepuk tangan riang mengikuti gerakan tangan yang dicontohkan Mbak Sum. Suara antusiasnya selalu saja berhasil memancing adrenalinku. Dia selalu bersorak -sorai untuk menandakan sesi makan sudah berakhir, hingga deretan gigi depannya yang besar bagaikan bji delima kelebihan hormon pertumbuhan terlihat jelas. Urat nadi lehernya demikian terlukis tajam, berwarna ungu muda, seperti selang air mini. Detik ini, setidaknya ada lima butir keringat di wajah Mbak Sum, empat butir tersebar di kening lebarnya dan satu butir lagi di pipi sebelah kiri. Hidung mengkilat perempuan ini kembang kempis kira-kira setiap dua detik sekali. Aku bisa melihat jejak keringat berbentuk cakram tak sempurna di bagian ketiak baju merah mudanya saat ia mengangkat tangan tinggi-tinggi, sekelebat lalu tercium aroma bedak tabur dan minyak telon yang biasa dibalurkan ke sekujur badanku setiap aku selesai mandi, bercampur dengan aroma lain yang agak susah dijelaskan. Ah, bau itu, bahkan kini aku mulai piawai mendeteksinya dari kejauhan, saat ia masih berkutat di dapur atau menjemur pakaian dalamku di beranda lantai dua.

Aroma Mbak Sum tak terdefinisi, tapi setidaknya selama ini aku mampu ditenangkan oleh eksistensi aroma miliknya.

September 29, 2010

Monolog

2 comment
Oh, pukul dua malam, dan aku belum juga terpejam.

Para serangga sepertinya sudah tidur mendahuluiku. Entahlah, fenomena ini tidak biasa. Tapi mungkin mereka hanya sedang lelah saja, atau mungkin esok hari akan digelar ujian nasional serangga muda, sehingga tidak ada lagi remaja serangga yang terjaga disaat sedini ini. Ya, mungkin saja. Mereka harus bersiap, menjaga stamina dan konsentrasi untuk mengerjakan soal-soal teori umum keseranggaan. Baiklah, aku mengerti.

Tidak ada serangga berpawai. Aku terpaksa hanya ditemani bantal, guling, selimut tebal bercorak Sponge Bob, sedang berkaca-kaca memeluk Patrick, serta nyanyian katak sawah yang terdengar agak aneh dan riuh tak berirama.

Bicara mengenai katak sawah, sesungguhnya mereka kerap mengundang iri. Makhluk hijau berlendir yang selalu saja ramai dan berkecipak di kubangan air, yang berteriak, melompat, dan berdengkang untuk memanggil betinanya masuk ke peraduan, ah! mendengarkan mereka bersahutan justru menjadikan sunyiku lebih kronis. Sunyi yang tidak pernah punya tempat melapor. Sunyi yang sedang kebingungan menyembunyikan diri.

September 24, 2010

Orizuru

0 comment

Aku bersembunyi diantara ratusan manusia bertoga.

Sabtu pagi, gedung megah berornamen kayu ukiran tradisional di setiap sudut atapnya ini tengah menjelma menjadi lautan manusia berbusana hitam dengan tatapan penuh binar ceria. Sungguh tidak ada sebijipun kesedihan tercecer di lantainya. Para wanita terus tersenyum mengembangkan bibir mereka yang terlapisi gincu warna-warni, menengok ke kanan dan kekiri, bercanda kecil kesana kemari sambil sesekali membenarkan posisi sanggul yang bagiku lebih mirip seperti adonan roti jumbo coklat isi pisang sedang bergelayut di kepala, atau berulang kali merapikan kain kerudung mereka yang sering meleset hanya karena terlalu lepas tertawa. Para pria pun sibuk mengeringkan keringat di dahi masing-masing, melonggarkan simpul dasi, membuka kancing jubah, dan tidak pernah lupa memajang air muka polos ketika matanya sedang berkeliaran menggerayangi sekujur gedung demi mencari makhluk yang menurut mereka paling ayu lalu buru-buru berbisik girang pada teman disampingnya ketika makhluk paling ayu itu ditemukan. Sekalipun mereka tak pernah mengenalnya. Ah, dasar lelaki!

Aku sedang menatap deretan sisi kiri tribun undangan ketika cahaya gedung meredup perlahan bersama hymne institusi yang dilantunkan penuh khidmat, sekaligus sebagai penanda dimulainya prosesi penasbihan. Setiap pasang mata seolah dikomando untuk tertuju pada kedatangan barisan bersahaja para guru besar, sedangkan aku lebih memilih untuk menangkap kelebat samar-samar bayangan Bapak dan Ibu yang sedang duduk bersama ratusan orang tua lainnya. Mereka ada disana dengan wajah tercerahnya. Ibu tak pernah bisa duduk tenang, mungkin karena terlalu ribut memperhatikan setiap jengkal megahnya arsitektur gedung dan menamatkan satu demi satu acara yang mungkin bagi ibu masih terlihat asing dan begitu mengagumkan, walaupun sebenarnya terhitung sudah dua kali beliau menyaksikan kegiatan protokoler semacam ini, memenuhi undanganku, dan kakakku, beberapa tahun lalu. Bapak tak kalah antusias, beliau mengeksploitasi kamera digitalnya tanpa ampun, entah objek apa yang berusaha diabadikan, yang jelas hanya ada satu kilat lampu yang setiap sepuluh detik berkedip di tribun kiri atas. Aku berani menjamin, itu ulah Bapak.

Mereka tampak luar biasa bahagia, seperti induk ayam yang berkotek sepanjang hari karena telur-telur eramannya telah berhasil menetas dengan selamat dan sempurna.

"Bapak hanya ingin kamu lulus, lalu mandiri dulu seperti mereka-mereka yang lain," dihisapnya dalam-dalam sebatang rokok kretek yang terjepit di tangan kirinya, diantara telunjuk dan jari tengah setelah serta merta memotong kalimat permohonan yang aku sampaikan pada beliau.

"Bapak, ini bukan bentuk inkonsistensi. Menikah, bukan berarti memupus cita-cita, tidak lalu harus memenjara jiwa. Semua sudah kami diskusikan, Pak. Jadi mari sama-sama percaya bahwa kekhawatiran Bapak tidak akan terjadi," aku berusaha setenang mungkin, menghirup oksigen sebanyak mungkin, meminimalkan emosi yang sebenarnya sudah beranak-pinak sejak bapak selalu saja punya alasan cadangan setiap kali alasan penolakan beliau sebelumnya berhasil dimentahkan. Aku tahu persis, bapak tidak benar-benar memiliki alasan logis untuk menyertai penolakannya. Namun ternyata beliau masih saja memerankan lakon sebagai seorang baginda raja yang instruktif dan absolut. Bahkan ketika putrinya sudah berusia seperempat abad dan sedang meminta sebuah pernikahan.

August 17, 2010

Kepada Pilot

9 comment
"Masih optimis kan?"

"..."
Aku takut...

"Halo, kok diem?"

"..."
Ah, kenapa airmata ini bandel sekali? Tissue, mana tissueku?

August 14, 2010

Menitip Langit

7 comment

-Mojokerto, 13 April 2010, 19.45-

"Cis, tenda lima, peserta 32, emerjensi, segera!"
"Siap, Pak"

Pak Anshar, pria berkumis lebat dengan rahang hampir serupa kubus ini tidak pernah percaya padaku, Senior Trainer yang sudah tujuh tahun mendampingi beliau mendirikan Sekolah Alam pertama di Jawa. Panggilan serupa petugas UGD seperti tadi telah nyaris lima belas kali berdengung di telinga, hari ini, pada tenda dan peserta yang berbeda. Training sudah berjalan dua hari, aku semakin tak punya alasan untuk merasa tenang, bahkan si Rahang Kubus pun merasa tak sudi mengamini saran tim survey dan para trainer sebulan lalu untuk meniadakan atau setidaknya menunda acara yang aku beri gelar 'Outbond Gila di Bawah Umur' ini hingga kondisi alam dan tim memungkinkan .

Seharusnya aku memandu, bukan merawat peserta yang setiap ingin buang air besar saja harus berairmata dan menasbihkan nama mamanya masing-masing.

"Kamu paling senior, Cis", "Anak-anak kelas satu pasti bisa kamu handle"
"Tapi SDM lagi mepet, Pak", "Si Adam juga lagi saya kirim ke Bogor, ekspansi disana"
"Cuma 50 anak, Cis", "Ini penting buat promosi kita, bulan depan sudah PSB, lho!"

Baiklah, promosi. Demi tujuan mulia yang Pak Anshar sebut promosi, aku harus menggembala lima puluh anak berumur tujuh tahun untuk bergelantungan di pepohonan hutan Pacet tanpa seorang pun rekan yang setidaknya mengerti bagaimana harus menangani anak kram perut tanpa mesti tergopoh-gopoh datang, melapor ini dan itu. Sungguh sempurna. Adam, partner in crimeku sepertinya adalah satu-satunya orang yang pantas dirindukan saat ini.

May 19, 2010

Doa Kamar Tengah

16 comment


Kursi roda membantunya berjalan ke kamar mandi. Melewati kamar tengah yang melenguh. Mendoakan jiwa suaminya bersama Lina, istri kedua.

--------------------------------------------

Demi melatih kecerdasan dan memaksimalkan peran, lahirlah Fiksi Mini pertama saya. Sepertinya kegiatan ini akan segera menjadi candu dan penawar untuk memecah kebuntuan imajinasi. Pendek saja. Semoga menghibur dan mampu 'berbicara'.

Terimakasih banyak untuk Mbak Miranda dan Mbak Titik yang sudah menginspirasi. Terimakasih juga untuk Mbak wi3nda yang sudah mengonteskan *bahasa apa ini?* Fiksi Mini di semesta blog.

Salam FiksiMini! 

April 22, 2010

Waktu

2 comment
Jarum panjang kian mendekati angka dua belas. Kelak, tiga ratus hitungan lagi ia akan segera bersinergi dengan kawannya, membentuk sudut sembilan puluh derajat. Segera tampak bagai kue tar yang terambil sisi sebelah kiri atasnya, seperempat bagian. 

Aku belum ingin terpejam. Berpikir barangkali putaran tanpa bosan itu dapat dihentikan, membuatnya tak perlu sampai di titik dua belas. Ayah pernah melakukan hal sebaliknya beberapa hari lalu. Ia mengambil sesuatu dari rongga belakang perkakas dinding itu dan menggantinya dengan barang yang serupa, lalu tiba-tiba secara ajaib mereka kembali berputar menunjuk semua angka, bergiliran.

April 03, 2010

"I Love You"

7 comment
"Baik-baik ya, Be", Rimba menjabatku, tiga detik dan menyapu pipi kiriku, dua detik. Dia tersenyum. Berusaha, lebih tepatnya.

Aku, butuh sepuluh detik untuk mengkhatamkan rautnya. Menikmati definisi terakhir kami sebagai suami istri. Merasai sentuhan terakhir yang segera akan menjadi tabu begitu aku menapakkan kaki keluar dari ruang penghabisan sekaligus penasbihan ini. Aku mencubit pipi kanannya. Hangat.

''Makasiiih, my dear Rere", "Baik-baik juga, jangan lupa buatin aku ponakan yang lucu-lucu ya, hihihi..."