Aku bersembunyi diantara ratusan manusia bertoga.
Sabtu pagi, gedung megah berornamen kayu ukiran tradisional di setiap sudut atapnya ini tengah menjelma menjadi lautan manusia berbusana hitam dengan tatapan penuh binar ceria. Sungguh tidak ada sebijipun kesedihan tercecer di lantainya. Para wanita terus tersenyum mengembangkan bibir mereka yang terlapisi gincu warna-warni, menengok ke kanan dan kekiri, bercanda kecil kesana kemari sambil sesekali membenarkan posisi sanggul yang bagiku lebih mirip seperti adonan roti jumbo coklat isi pisang sedang bergelayut di kepala, atau berulang kali merapikan kain kerudung mereka yang sering meleset hanya karena terlalu lepas tertawa. Para pria pun sibuk mengeringkan keringat di dahi masing-masing, melonggarkan simpul dasi, membuka kancing jubah, dan tidak pernah lupa memajang air muka polos ketika matanya sedang berkeliaran menggerayangi sekujur gedung demi mencari makhluk yang menurut mereka paling ayu lalu buru-buru berbisik girang pada teman disampingnya ketika makhluk paling ayu itu ditemukan. Sekalipun mereka tak pernah mengenalnya. Ah, dasar lelaki!
Aku sedang menatap deretan sisi kiri tribun undangan ketika cahaya gedung meredup perlahan bersama hymne institusi yang dilantunkan penuh khidmat, sekaligus sebagai penanda dimulainya prosesi penasbihan. Setiap pasang mata seolah dikomando untuk tertuju pada kedatangan barisan bersahaja para guru besar, sedangkan aku lebih memilih untuk menangkap kelebat samar-samar bayangan Bapak dan Ibu yang sedang duduk bersama ratusan orang tua lainnya. Mereka ada disana dengan wajah tercerahnya. Ibu tak pernah bisa duduk tenang, mungkin karena terlalu ribut memperhatikan setiap jengkal megahnya arsitektur gedung dan menamatkan satu demi satu acara yang mungkin bagi ibu masih terlihat asing dan begitu mengagumkan, walaupun sebenarnya terhitung sudah dua kali beliau menyaksikan kegiatan protokoler semacam ini, memenuhi undanganku, dan kakakku, beberapa tahun lalu. Bapak tak kalah antusias, beliau mengeksploitasi kamera digitalnya tanpa ampun, entah objek apa yang berusaha diabadikan, yang jelas hanya ada satu kilat lampu yang setiap sepuluh detik berkedip di tribun kiri atas. Aku berani menjamin, itu ulah Bapak.
Mereka tampak luar biasa bahagia, seperti induk ayam yang berkotek sepanjang hari karena telur-telur eramannya telah berhasil menetas dengan selamat dan sempurna.
"Bapak hanya ingin kamu lulus, lalu mandiri dulu seperti mereka-mereka yang lain," dihisapnya dalam-dalam sebatang rokok kretek yang terjepit di tangan kirinya, diantara telunjuk dan jari tengah setelah serta merta memotong kalimat permohonan yang aku sampaikan pada beliau.
"Bapak, ini bukan bentuk inkonsistensi. Menikah, bukan berarti memupus cita-cita, tidak lalu harus memenjara jiwa. Semua sudah kami diskusikan, Pak. Jadi mari sama-sama percaya bahwa kekhawatiran Bapak tidak akan terjadi," aku berusaha setenang mungkin, menghirup oksigen sebanyak mungkin, meminimalkan emosi yang sebenarnya sudah beranak-pinak sejak bapak selalu saja punya alasan cadangan setiap kali alasan penolakan beliau sebelumnya berhasil dimentahkan. Aku tahu persis, bapak tidak benar-benar memiliki alasan logis untuk menyertai penolakannya. Namun ternyata beliau masih saja memerankan lakon sebagai seorang baginda raja yang instruktif dan absolut. Bahkan ketika putrinya sudah berusia seperempat abad dan sedang meminta sebuah pernikahan.