Showing posts with label Kamu. Show all posts
Showing posts with label Kamu. Show all posts

March 05, 2013

Penghuni Pagi

0 comment

Hari minggu kemarin, ketika pagi masih muda, kami mengunjungi pantai. Bukan Senggigi, bukan pula Kuta. Sekadar pantai terdekat dari tempat tinggal kami. Orang sini (Mataram) bilang, Pantai Mapak, namanya.

Sekadar bersantai, melepas penat seminggu. Menjadikan pagi itu hanya dihuni oleh kami, keluarga kecil yang sedang belajar berdiri.

November 14, 2011

Isyarat

4 comment
Aku menikmati wajahmu yang terpantul sempurna oleh lantai keramik beranda rumah, diam-diam.

Pagi belia ini bernama Minggu, kita kembali duduk berdua, dengan kau di ujung timur dan aku di ujung barat. Sesekali kubuang pandang pada para rumput gajah dan tanaman hias Ibu yang masih segar terkecup embun pagi. Bukan apa-apa, aku hanya tak ingin kau dapati sedang memandangi pahatan yang Tuhan kerjakan pada parasmu. Pekerjaan yang menurutku sempurna, tegas, damai, dan menyenangkan. Kau masih ditemani ranselmu, kali ini tak seraksasa ransel tempo hari, mungkin kau menggantinya. Bibirmu bergerak tenang, bercerita tentang apa saja yang kau ketahui dengan baik dan belum pernah kuketahui sama sekali. Kau selalu menoleh ke arahku  sembari mengulas senyum setiap satu kalimatmu selesai, dan setiap kali itu pula, konsentrasiku mendadak bubar jalan. Aku terlalu sibuk mendidik mata supaya mereka tak terlalu berbinar riang, menatapmu.

Seekor kucing belang tiga melintas di depan pagar. Ah, sepertinya dia sedang menyeringai nakal, menertawakan muka gugupku. Sialan.

September 13, 2011

4 September

4 comment
Bersamamu adalah menjelajahi telaga 
membiarkan sampan kayu sederhana mencumbu airnya
membuat mereka berkecipak bahagia

Bersamamu adalah berbaring santai di tepi
memandangi para tebing bergelayut mesra pada langit
menyilakan rimbun ranting dan dedaunan menyaring sinar matahari
menjadikan ia menyembur tertib lalu memantul cantik di permukaan airnya

Bersamamu adalah menikmati gerimis bernyanyi lamat-lamat
mencandai rerumputan dan membuatnya beraroma
mengundang pelangi bertunas di palung tebing
untuk mengajarku tentang keindahan sinergi warna-warni

Bersamamu adalah sebuah kesederhanaan megah
 jernih yang tumpah ruah
hening yang senantiasa mewah

Selamat ulang tahun, Bi
aku mencintaimu
dan semoga Tuhan mengijinkanku tetap begitu
esok, lusa, kemudian seterusnya

Berbahagialah menapaki usia demi usia
lalu biarkan aku turut menua
saling menertawakan keriput di muka
namun tak juga jemu bertukar kecup mesra
mengabadikan kita
4 September 2011,
Regards

July 22, 2011

Cerita Metamorfosa

7 comment
Bercerita, tampaknya tidak hanya menjadi monopoli huruf atau kata-kata. Sehingga, demi sesekali tak mengikuti arus monopoli, saya coba hadirkan cerita metamorfosa kami, titik balik proses pencarian, kebahagiaan menemukan, dan keharuan pencapaian, dalam beberapa potong gambar sederhana yang rela tertangkap kamera, beberapa waktu lalu.

Jadi, semoga potongan-potongan cerita ini layak dinikmati. Selamat 'membaca', semuanya.

Akad Nikah, 11 Juni 2011
Sungkeman
Syukuran Pernikahan, 12 Juni 2011
Pengantin Kelaparan
Bersama keluarga dan para sahabat


"Kita adalah mimpi yang kau yakinkan padaku menjadi nyata, setiap pagi, setiap hari"

regards,

July 02, 2011

Duabelas Juni

5 comment
Ada sesuatu yang tak terpadankan aksara
ketika aku telah menjadi separuh dari kita

ketika jengkal di antara memupus, tiada
dan keentahan bahagia oleh percaya

11-12 Juni 2011

demikian, semoga kita menjadi cinta
yang bertumbuh menyusuri sungai masa
menjalari pepohonan usia

hingga kelak ketiadaan
mengantar kita, bertemu di taman surga

semoga.

April 16, 2011

Untitled*

6 comment
Adikku,
Aku tahu hatimu sedang tidak nyaman
berusaha berdamai antara hatimu dan pikirmu
berupaya antara ingin percaya dan tidak

Adikku,
entah apa yang mesti ku upayakan untuk bisa meyakinkanmu
bahwa kau adalah Anugerah itu
Anugerah yang melebihi untaian kata yang sempat terbaca olehmu

Adikku,
yakinlah, tiada hati yang menjadi terbagi
hanya karena larungku
yang ada adalah hati yang tetap utuh, untukmu

Kau tahu Adikku,
rasanya tidak mudah membendung rinduku terhadapmu
setelah apa yang pernah terlewati, dalam doa dan upaya
dan tersenyumlah wahai Adikku
atas ijinNya, kau adalah muara dari aliran itu.

April 06, 2011

Primordial Pagi

0 comment

Aku ingin rebah di pangkuanmu
Pagi hari, sesaat setelah hujan semalam reda
Tepat ketika pelangi masih muda,
dan biru awan masih belia.

Aku ingin surut menciut, 
menyelinap di balik punggungmu, mengintip matahari
Menyimak perpisahan sunyi antara bulir embun dan para daun,
sembari menghirup aroma primordialmu dalam-dalam, 
hingga hidungku bosan

Aku ingin ada di setiap pagi,
mengisyaratkan semua aksara,
menghimpun bahasa tak berkosakata,
bercermin di matamu,
menyelesaikan rindu.

March 28, 2011

Sawah Hadiah

2 comment
Saya tahu ada kawan terdekat saya yang kecintaannya terhadap sawah sedemikian besar. Salah satu komponen memori masa kecil, katanya. Maka untuk dia, saya hadiahkan gambar ini. Asli dari saya, tidak merujuk pada alamat blog manapun dan bukan gambar hasil karya siapapun. Seperti biasa, karena masih amatir, saya hanya memanfaatkan fasilitas Paint dengan sedikit efek colour engraving via Photo Scape.  Tidak terlalu rumit, meskipun cenderung agak kacau dan aneh. Tapi semoga dia suka.

Jadi, selamat bermain-main di sawahmu. Semoga kerasan :)

March 18, 2011

Cerita Larung

0 comment
Suatu hari di masa lalu
Bertamu aku di bibir pantai
Tandas pilu menjadi biru
Surut air mata mengusir rinai

Samudera melahap kenyang
Aku melambai tenang
Terlarung damai mereka di lautan
Ketika langitku tak lagi merintik hujan

Wahai kamu,
Usah pelihara cemburu untuk cerita larungku
Hanya demi suatu hari di masa lalu

Kemari,
Bawa aku pergi

Biarkan makhluk malam menebar iri
Menyaksikan kita liar menari
Hingga lupa bagaimana cara bermimpi

March 16, 2011

Katalis

3 comment
Retinaku terdistraksi ketika pendar jingga senja yang hendak merambat masuk melalui pintu kaca ruangan terhambat sekejap oleh kelebatmu. Dua atau tiga detik, kira-kira.

Kau sedang terbalut kerudung hitam, kaos longgar merah tua, celana jins panjang coklat pekat, dan sepatu olahraga putih bermotif garis ungu muda. Ya, setidaknya informasi singkat itu saja yang mampu terkumpul oleh lirikan sekilasku. Oh, tidak, aku bahkan tak melirikmu. Tentu saja mata kiriku cukup cerdas untuk mampu merekam otomatis sosokmu yang tiba-tiba muncul di ambang pintu, tanpa perlu repot melirik sedikitpun, bukan? Keping hitam mataku bahkan tak bergeser sejengkal kaki semut pun. Mereka masih setia pada gemerlap layar monitor. Tubuh jangkung ini juga cukup statis, duduk tenang menempel di kursi empuk biru, bersama tangan kanan yang betah menjamahi tetikus mungil, mengajak pointer berjalan-jalan ke beberapa halaman kesukaan.

Langkahmu tertahan. Acuhku yang kadang tingginya nyaris menyentuh ujung menara petir, tempat Pai Su Chen diasingkan, runtuh begitu saja oleh sesuatu, entah apa. Persendian dan tulang-belulang tak lagi menaati instruksi tuannya untuk tetap diam di tempat, tak bergerak. Hingga pada akhirnya, seulas senyum pendek dan anggukan kecil kuisyaratkan demi membalas pertanyaan non verbalmu. "Silakan masuk", begitu kurang lebih maksudku.

Ah, kau lagi. Si wajah polos tanpa dosa, kembali memporak-porandakan sistem pertahanan tubuhku. Mengacaukan disiplin koordinasi antar lini. Bahkan si pelatih keras kepala, bernama Gengsi, tak luput kau buat kehabisan akal. Selalu saja begitu.

January 21, 2011

Senyawa

8 comment
Tidak ada yang istimewa, seharusnya.

Aku telah menjumpaimu tanpa rencana puluhan kali. Mataku kerap tak sengaja menangkapmu yang entah sedang apa mondar-mandir di ruangan yang sama. Kadang kau terlihat lumayan sibuk dengan beberapa lembar berkas ditangan kiri dan sebatang pena hitam di tangan kanan atau larut dalam suatu diskusi serius bersama beberapa orang  rekan kerja. Tapi tampaknya juga kau sukses membawahi waktu secara sempurna dengan hanya duduk santai di dapur kantor, menikmati segelas kopi hangat dan dua atau tiga lembar kecil tempe mendoan.

Puluhan kali itu pula, kita hanya saling tersenyum kecil sebagai syarat minimal basa-basi sosial. Itu saja. Selesai perkara.

Hingga entah pada pertemuan tak sengaja yang keberapa, partikel-partikel tak kasat mata yang beterbangan bebas di antara kita, bersenyawa. Ada sesuatu yang berloncatan, memercik, lalu sesekali menyilaukan, yang bahkan aku pun gagal menjadi paham. Gawatnya lagi, aktivitas persenyawaan itu tumbuh lebih cepat daripada ketangkasanku untuk segera mengerti dan menetapkan definisi tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam dapur inderaku.

Sedangkan kamu, tetap menjadi laki-laki beransel raksasa, dengan rambut acak-acakan, dan senyum tipis yang biasa saja.

Kita terus saja berpapasan. Aku selalu berada di ambang batas antara senang dan jantungan tiap kali jarak kita hanya selebar tiga jengkal telapak tangan. Dan kamu, tidak pernah tahu, aku kelabakan menerjemahkan ketidaktahuan yang kurang ajar dan menjengkelkan, seperti ini.

Ada sesuatu. Entah apa, tidak tahu bagaimana. Aku hanya merasa seperti gadis kecil yang baru saja belajar Matematika.

January 13, 2011

Kepada Pilot (2)

0 comment
...


"Iya, jadi mungkin mereka yang mengerti akar masalahnya, sebaiknya mampu mengerti dan memaklumi pak Tifatul"

"Benar. Tapi pak Tifatul dan tim DepKOMINFO sudah sepatutnya membenahi mekanisme sosialisasi kebijakan. Beliau ini terlalu banyak melakukan gerakan yang tidak perlu"

January 06, 2011

Satu Persen

2 comment
Dia adalah kawan, sahabat, serta teman hidup yang demikian saya hormati. Wawasan keilmuannya luas, tapi dia selalu mengerti bagaimana cara merendahkan hati dan menyuguhkan kenyamanan pada setiap orang di sekelilingnya. Kali ini, saya berkesempatan meletakkan tulisannya di sini, sungguh suatu kesempatan langka buat saya. Kami bersepakat bahwa saya berhak melakukan perubahan disana-sini apabila memang diperlukan. Maka, tanpa bermaksud mengurangi atau menambah esensi tulisan, ada beberapa perbaikan elementer yang dikenakan pada tulisan, atas nama pelestarian penggunaan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. 

Selamat membaca dan menikmati setiap jengkal kejujurannya!

November 19, 2010

Rindu Adalah

8 comment
Rindu adalah memandangi ratusan pesan di kotak masuk telepon genggam, membiarkan kedua mata menjelajah satu demi satu rangkaian kata, tepat sebelum gelap mengundang lelap

Rindu adalah menunggu sebait nada dering Keep On Trying milik Poco berbunyi dengan sebaris nama bertahta, berkedip-kedip manja

Rindu adalah memaksa jiwa berjalan kelelahan kemana-mana. Berpura-pura sibuk, hingga kantuk tega menyandera hati yang ingin bicara untuk sekedar menanyakan kabar tuannya

Rindu adalah memangku buku-buku tebal tanpa alasan. Membohongi diri sendiri dengan kedok keseriusan belajar atau mengerjakan soal-soal latihan

Rindu adalah duduk menyendiri di salah satu sudut kafetaria, menandaskan secangkir es krim blueberry coklat tanpa perlu peduli siapapun yang sedang berlalu-lalang di hadapan

Rindu adalah melangkah tenang menerobos gerimis dari awan, supaya tubuh basah kedinginan, lalu menggigil tak karuan dan terpaksa kerepotan menghangatkan badan

Rindu adalah menyesali bumi yang sedang kehujanan, sebab butir-butir airnya seolah turut menyuburkan ladang yang menumbuhkan satu bibit nama menjadi ribuan semak belukar tak beraturan

Rindu adalah bermusuhan dengan malam, menyuruhnya cepat pulang untuk lekas matahari disingsingkan

Rindu adalah berlari memutari lintasan terluar lapangan sepak bola. Membiarkan tubuh kebanjiran peluh, membiarkan nadi berdenyut dengan kecepatan penuh

Rindu adalah menggerutu pada telinga untuk setiap halusinasi gila yang bersikeras disampaikan kepada otak bahwa ia sedang menangkap sepintas gelombang suaramu, entah darimana

Rindu adalah menyusup pasrah ke dalam selimut merah tua, membuka mata di sebidang celah tak bercahaya, menemukan kamu disana

Rindu adalah aku, yang mengais setumpuk pelampiasan bodoh supaya kamu tak harus kerepotan, mengasuh mereka yang telah sukses berkembang biak, memenuhi rumah hatiku, menjajah kuasa kewarasan.

Eh, tapi sepertinya aku butuh pertolongan. Kamu bersedia, kan?

November 03, 2010

Diam

3 comment
Aku ingin diam
Hirup pangkal malam
Kecup tubuh fajar
Malu-malu merapal rajukan
Mengeja kamu, kita, dan harapan

August 17, 2010

Kepada Pilot

9 comment
"Masih optimis kan?"

"..."
Aku takut...

"Halo, kok diem?"

"..."
Ah, kenapa airmata ini bandel sekali? Tissue, mana tissueku?

July 21, 2010

Kedai Empat Menu

14 comment
Setahun lalu, saya sedang menunggu.

Bersama segenap keyakinan dan pengharapan, acara pribadi berlabel 'Menunggu' ini saya habiskan di sebuah kedai sederhana berjarak beberapa meter dari rumah, ditemani secangkir teh hangat dan sepiring kacang rebus segar yang asapnya masih rajin membubung, menguapi dahi dan pipi. 

Teh dan kacang rebus sebenarnya bukan pasangan camilan kegemaran saya, terlebih kedai ini.  Bangunan berdinding kayu, berlantai tanah coklat padat dengan satu-dua rumput liar tumbuh di beberapa sudut ruangan, dan hanya memiliki empat macam menu -Kopi, Teh, Kacang Rebus, dan Pisang Goreng- juga bukan tempat favorit bagi tubuh saya. Alasannya klasik, kopi hanya akan menyiksa lambung, pisang goreng mengganggu kerongkongan, teh memaksa kantung kemih cepat penuh, sedangkan kacang rebus sangat berbakat memupuk jerawat di muka. Empat aneka ketidaknyamanan ini seolah bekerjasama membentuk formasi serang mematikan dengan menempatkan satu striker saja di muka saya, berupa interaksi berlebihan para pengunjung kedai yang seringkali melanggar garis batas urusan pribadi. Otak saya dibuat jengah. Ketika saya memejamkan mata, yang tampak hanya monster teh dan siluman kopi tampak ribut berebut kekuasaan dengan kurcaci kacang dan raksasa pisang goreng. Saya membayangkan mereka berempat tertawa-tawa angkuh, menyeringai kejam, saling berlarian, menangkap dan menghisap darah saya. Sungguh kacau dan gila.