Showing posts with label Surat. Show all posts
Showing posts with label Surat. Show all posts

May 08, 2010

Natemi-Windarto IV : Kembang Gula

4 comment
Buat Mas,
di kebun nanas,

Maafkan jika surat ini membuatmu tak berkenan. Aku sudah menanam bibit rindu sejak berbulan-bulan lalu. Persis sepertimu yang rajin menanam bibit-bibit buah ekspor unggulan di kebun pulau seberang. Aku membenamkan biji demi biji, entah sudah berapa hektar lahan kusiangi, hingga tiba-tiba nona waktu seperti menyadarkanku, bahwa tampaknya mesti ada suatu proses perkecambahan supaya konteks menanam tidak perlu berubah menjadi mengubur. Tak tumbuh lagi.

Mengubur rindu, aku belum mau.

Kata ibu, mencintai adalah menghormati. Jadi, mungkin ini adalah bingkisan penghormatanku untuk keyakinanmu bahwa relasi lawan jenis tak selalu manis dan saling melingkupi. Kebersamaan akan tetap ada dan bergaransi dengan segel berlabelkan ‘Aku sayang kamu’ di awal kesepakatan lalu terpoles sesekali ketika kau sedang benar-benar tak ada kesibukan. Aku menghargainya, karena aku mencintaimu.

Pesan singkat yang saling kita lemparkan ke udara kemudian terbawa arus sinyal tak kasat mata, lambat laun membuatku gila. Kau tahu, seolah kita hanya dua makhluk hidup yang sedang saling mengisi kuisioner online suatu majalah keluarga. Aku mulai bosan dengan pertanyaan-pertanyaanku sendiri. Mereka semakin terasa bagaikan rumus deret aritmatika yang berpola. Jawabanmu, jawabanku, selalu sama. Sampai-sampai terpikir untuk merancang jawaban otomatis dari ponselku untukmu. Aku yakin, kau pun ingin begitu. Benar saja, pesan singkat, bagi kita sudah tak lagi sakti. Mereka telah sedemikian rupa kehilangan ruhnya.

Nah, sebab itulah suratku datang. Demi rindu akan kesaktian misterius yang mampu membenturkan partikel-partikel darahku, membiarkan jantungku terus memompa namamu.

January 30, 2010

Natemi-Windarto II : Wanitaku Tak Setipis Itu

0 comment
Buat Nata,
entah dimana.

Suratmu sampai. Dik Arsi tidak tahu dan tidak pula kuberitahukan padanya. Aku hanya bisa berdoa semoga suratmu tak meledakkan kubangan lahar miliknya lalu ia muntahkan menjadi magma di mukaku.

Aku malas meributkan sesuatu yang jelas akan mengantarku menjadi telur dadar gulung kornet di depan Dik Arsi. Aku jelas habis, tanpa sempat membacakan pleidoi, tanpa sempat naik banding. Lagipula aku malas terlihat buruk, maka hari-hari setelah suratmu tiba adalah hari penuh doa dan waspada. Tanganku gemetaran membuka dan membaca tulisanmu. Gemetar bahagia, cemas, takut atau campuran ketiganya, aku tak paham benar. Tapi aku gemetar. Segemetar-gemetarnya. Kau ini selalu ada-ada saja dan aku selalu tak berdaya untuk tetap tegar. Suratmu tak mampu kuacuhkan.

June 08, 2009

Natemi-Windarto I : Kentut, Upil dan Tembakau

0 comment
Untuk Win,
yang sedang membaca,

Hai,
semoga kau tidak terkejut melihat kertas bertuliskan tinta hitam ini tiba-tiba terselinap di kamarmu, di balik pintumu. Tenang saja Win, ini bukan nota tagihan bulanan dari induk semang kosmu. Eh, ngomong-ngomong apa kau masih saja gemar menunggak iuran kamar? dasar sok pelupa.

Sebelumnya, terimakasih telah bersedia menyentuh, membuka dan membaca ini. Aku menulisnya tengah malam, waktu ayah dan ibu sudah damai dalam tidur mereka. Ya, aku tahu informasi ini sama sekali tak penting. Biasanya selarut ini aku pasti sudah memeluk guling, tapi sekarang entah mengapa kelopak mataku terasa seperti terganjal oleh sebatang tusuk gigi restoran. Aku sudah banyak kehilangan waktu istirahat malamku Win, karenanya aku sangat berharap kau sudi menyediakan waktu sebentar saja untuk mengolahragakan dua bola penglihatan di wajahmu, membaca tulisanku yang katamu dulu tak terlalu baik. Walaupun kata orang, tulisan tak baik pasti berbanding terbalik dengan paras empunya tulisan. Terbukti, bukan?