Buat Mas,
di kebun nanas,
Maafkan jika surat ini membuatmu tak berkenan. Aku sudah menanam bibit rindu sejak berbulan-bulan lalu. Persis sepertimu yang rajin menanam bibit-bibit buah ekspor unggulan di kebun pulau seberang. Aku membenamkan biji demi biji, entah sudah berapa hektar lahan kusiangi, hingga tiba-tiba nona waktu seperti menyadarkanku, bahwa tampaknya mesti ada suatu proses perkecambahan supaya konteks menanam tidak perlu berubah menjadi mengubur. Tak tumbuh lagi.
Mengubur rindu, aku belum mau.
Kata ibu, mencintai adalah menghormati. Jadi, mungkin ini adalah bingkisan penghormatanku untuk keyakinanmu bahwa relasi lawan jenis tak selalu manis dan saling melingkupi. Kebersamaan akan tetap ada dan bergaransi dengan segel berlabelkan ‘Aku sayang kamu’ di awal kesepakatan lalu terpoles sesekali ketika kau sedang benar-benar tak ada kesibukan. Aku menghargainya, karena aku mencintaimu.
Pesan singkat yang saling kita lemparkan ke udara kemudian terbawa arus sinyal tak kasat mata, lambat laun membuatku gila. Kau tahu, seolah kita hanya dua makhluk hidup yang sedang saling mengisi kuisioner online suatu majalah keluarga. Aku mulai bosan dengan pertanyaan-pertanyaanku sendiri. Mereka semakin terasa bagaikan rumus deret aritmatika yang berpola. Jawabanmu, jawabanku, selalu sama. Sampai-sampai terpikir untuk merancang jawaban otomatis dari ponselku untukmu. Aku yakin, kau pun ingin begitu. Benar saja, pesan singkat, bagi kita sudah tak lagi sakti. Mereka telah sedemikian rupa kehilangan ruhnya.
Nah, sebab itulah suratku datang. Demi rindu akan kesaktian misterius yang mampu membenturkan partikel-partikel darahku, membiarkan jantungku terus memompa namamu.