Showing posts with label TuangPikir. Show all posts
Showing posts with label TuangPikir. Show all posts

June 22, 2015

Sebab Akibat

3 comment
Mungkin, pepatah legendaris yang harus segera ditinjau dan direvisi adalah pepatah : "Time is Money".

Gara-gara pepatah itu, hampir seluruh umat manusia bersemangat dan berlomba untuk mengonversi waktu yang telah mereka habiskan dengan sejumlah uang. Saya tidak sedang bermaksud mengatakan bahwa kecenderungan tersebut merupakan hal salah. Ndak kok. Uang tetaplah menjadi konversi yang paling masuk akal, wajar, dan manusiawi, utamanya bagi individu-individu yang sudah berkeluarga.

Kita membutuhkannya untuk membeli lauk-pauk dan sayur-mayur, diapers dan pembayaran SPP sekolah anak-anak. Kita juga memerlukannya untuk kelengkapan 'maju mundur cantik' nya si Istri, untuk mendukung 'tongkrongan' si Suami, angsuran rumah, bahan bakar kendaraan bermotor dan tabungan. Bahkan untuk sekadar menikmati wedang ronde dan keripik melinjo bersama keluarga di pedagang kaki lima, saat akhir minggu tiba.

Semua itu perlu alat tukar. Dan sayangnya, alat tukar yang disepakati saat ini adalah uang. Kecuali kita bisa membayar SPP anak-anak dengan 5 kilo beras. Itu mungkin agak menarik.

September 20, 2011

Jejaring Sosial, Dunia yang Berevolusi

5 comment
Dunia berubah. Tepatnya, diubah. Kita semua telah mengubahnya dengan penuh sukacita dan mungkin tanpa kesadaran yang genap. Dunia kita tampaknya sudah bukan lagi berupa dimensi ruang, dengan tanah sebagai tempat berpijak dan langit luas sebagai tempat menengadah, memompa harapan. Dunia kita juga tidak lagi mewujud sebagai sesuatu yang mampu kita kenali dengan enam macam panca indera. Dunia yang begitu detil dan rinci telah terlalu banyak direduksi menjadi terlalu mini.

Semakin hari, ia terasa seperti makanan cepat saji. Instan, kilat, dan mudah. Bahkan terlalu mudah. Bagi kita, cukuplah dunia  berupa deretan status rekan-rekan, album berisi ratusan foto di berbagai kesempatan, atau kicauan spontan teman-teman dan publik figur. Kita hidup di dalamnya dan setiap hal kecil dilaporkan, diperlihatkan. Skala kepentingan pun turut bertukar posisi. Sesuatu yang penting menjadi kurang penting, begitu pula sebaliknya. Ketidakpentingan justru mampu menempati posisi pertama dalam laporan-laporan kita disana. Kesannya, semakin tidak penting maka kita akan semakin populer, lucu, dan mengasyikkan.

Demikian, tampaknya dunia tiga dimensi telah lama terjajah oleh teknologi komunikasi bernama jejaring sosial.

August 03, 2010

Menjadi Bocah Kembali

4 comment
Mungkin, kadar kreatifitas individu sering berbanding terbalik dengan pertambahan usia. Artinya, semakin dewasa seseorang, kemampuan untuk menstimulasi otot atau syaraf kreatifnya akan semakin berkurang.

Konon, menurut beberapa guru saya, kreatifitas kita dapat diukur melalui seberapa sering kita melontarkan pertanyaan-pertanyaan di luar konteks pembicaraan, di luar kecenderungan, di luar bunyi pertanyaan yang itu-itu saja. Out of the box, istilah populernya. Ketika saya masih belajar di kelas satu sekolah dasar, kesabaran saya diuji oleh rumitnya pelajaran menulis halus. Kalian, sebaya saya pasti pernah mengalami perjumpaan dengan pelajaran ini. Saat dimana kita diwajibkan membawa Buku Tulis Halus, buku dengan lebar baris yang tidak sama, sebaris memiliki tebal satu sentimeter dan sebaris lagi setengah sentimeter, begitu seterusnya, lalu dengan sangat berhati-hati kita masih harus menuliskan sesuatu diatasnya persis sesuai dengan perintah guru, seperti : ‘Ini Budi’, ‘Budi sedang belajar’, ‘Ayah Budi sedang membaca koran’ , ‘Ibu Budi sedang memasak nasi’, ‘Adik Budi sedang bermain layangan’ dan sederet kalimat berbau ‘Budi’ lainnya. Waktu itu, sambil susah payah menulis tebal tipisnya aksara tegak bersambung, bermacam pertanyaan hinggap di otak saya : ‘Siapa sebenarnya nama ayah, ibu, dan adik Budi?’, ‘Mengapa harus Budi?’, 'Kemanakah gerangan kakak Budi?' ‘Untuk apa saya belajar menulis seperti ini?’, ‘Mengapa tidak menulis di buku kotak-kotak saja?’.

June 13, 2010

Sinless

4 comment
Entah apakah saya termasuk golongan pengajar berjiwa normal atau tidak. Tapi terkadang, saya merasa punya kecenderungan untuk kurang apresiatif pada siswa superior. 

Ini bukan kebencian. Saya hanya kurang mampu tertarik oleh mereka yang dengan tangan selalu lebih dulu diatas daripada siswa lainnya memborong semua jawaban, dengan muka terlampau serius mengerjakan soal latihan hingga rekan sebangku dianggapnya tak hidup, dengan celetukan jawaban, selalu tak sabar memotong penjelasan saya atas kebingungan mayoritas anggota kelas, namun justru enggan berbagi ilmu bersama teman yang bahkan tidak pernah mengerti apa yang sedang ada di pikirannya.

Mereka yang selalu tersenyum tak simetris saat salah satu temannya bertanya : "Kenapa ya, dua dikurangi negatif lima hasilnya negatif tiga?"

April 24, 2010

Mimpi

8 comment
Salah satu siswa saya sangat ingin mempunyai pabrik tahu, suatu hari nanti.

Dia putra asli Kediri. Ini tidak terlalu mengherankan karena memang kota Kediri setahu saya telah dipenuhi oleh produsen tahu dan aneka olahannya, sejak dulu. Mimpi untuk menjadi bos tahu yang menguasai antero Indonesia atau bahkan Asia dia kemukakan pada saya dan teman-teman sekelasnya dengan senyum penuh kebanggaan.

"Ingin punya dua puluh orang karyawan, Bu," jawabnya cepat ketika saya mengejar detail rencana si Bos Tahu ini. Walaupun saya juga belum bisa membayangkan, kira-kira model pabrik tahu seperti apa yang digawangi oleh dua puluh karyawan. Mungkin dia juga menciptakan beberapa robot pengaduk dan pemeras ampas kedelai untuk meminimalkan tenaga manusia? mungkin saja. Perusahaannya pasti akan segera menjadi pabrik tahu high-tech pertama di Indonesia. Saya tak mampu berhenti tersenyum mendengarkan setiap inci kalimatnya.

Impian siswa saya lainnya, justru lebih ekstrem.

December 09, 2009

Happy December 9th!!!

0 comment
Mungkin ini adalah tentang hati
yang lampunya telah lama mati
hingga sang juragan masih harus meraba
ciptakan beribu kira, hindari putus asa

Mengapa tak coba nyalakan beberapa lampunya?
entah dengan satu petikan saklar atau mencari gantinya
jika memang sudah terlampau tua

sepertinya tak apa, demi tak meraba, demi tak mengira-ngira
demi tak lagi buta

Maka mari bersama benderangkan lampu hati
supaya tiap 'objek'nya mampu terpantul sempurna
lalu terbaca presisi, tanpa perlu bias lagi
oleh prasangka dan geliat diri

tanpa harus menggelinjangkan asa kesana-kemari

Mari berbicara 'saya dan kita'
untuk dapat menemukan 'dia dan mereka'
kemudian selalu berkarya, dengan rasa
tanpa putus asa...

Selamat 9 Desember
Selamat memaknainya,
k**up*i saya, kamu, dia, kita dan mereka


:)

October 29, 2009

Belajar-Diajar-Mengajar

0 comment
Mengajar itu memahami, bukan dipahami. Mengajar itu mendengar bukan didengar dan setidaknya bagi saya, mengajar itu belajar walaupun ternyata belajar memahami dan mendengar sekian puluh kepala dalam satu kelas bukanlah jalan yang baik dan terpuji menuju kedamaian jiwa. Yap! jiwa saya, bukan mereka.

Tiga bulan saya menceburkan diri di dunia pendidikan kejuruan-swasta (lembaga pendidikan swasta kejuruan, ngerti kan?), sudah mampu membanting setir jiwa saya ke berbagai arah, kadang terlempar kesana-kemari dan berakhir nol. Gak ngerti harus gimana. Saya yang sebenarnya individu setengah temperamen dan gak sabaran seringkali terbentur fakta lapangan bahwa anak-anak dihadapan saya ini cuma bisa melongo setiap kali saya pakai tiket express explanation dan bahasa ketinggian. 'Sudah bisa dipahami?' saya bertanya dengan berbinar karena sebelumnya cukup yakin penjelasan beberapa detik lalu dapat mereka cerna dengan baik. Kelaspun hening, ada yang gigit-gigit ballpoint, ngeraba2 kertas catatan, beradegan manggut2 tapi bukunya kebalik, pijet-pijet kepala hingga rambut jadi gak karuan, melototin papan sampe gak kedip dan terakhir, saking desperatenya mungkin ya, lebih memilih melongok keluar jendela, menikmati arus sungai lalu senyum-senyum sendiri. Saya berdoa semoga dia tidak sedang menikmati gadis mandi di sungai karena air dirumah sedang mati. Semoga saja.

Oh no, saya nyaris bikin anak orang jadi sinting!

September 10, 2009

1200 Hape untuk 1200 Pemakna Rindu

3 comment
Seminggu lalu terasa ramai sekali, efeknya hingga sekarang saya jadi eneg kalo harus ngeliat banyak orang. What a very crowded week I had!!!

Jadi ceritanya Sekolah tempat saya menggembala anak2 manusia dari berbagai penjuru malang dan sekitarnya sedang ngelaunching program baru, SMS Gateway katanya. Seluruh wali murid kelas X sebanyak 1200 kepala bakal dipinjami sebuah hape baru berikut kartu perdana selama anaknya 'bertapa' disitu (3 tahunan lah ato klo gak cepet dapet wangsit, bisa aja lebih :p). Acara dibagi menjadi 3 shift per harinya selama seminggu penuh, rata2 per shift bisa nyampe 80-100 wali murid yang berbondong2 dateng karena diiming2i hape baru. Ke depan, hape itu diharapkan bakal jadi perantara efektif antara orang tua dan guru wali/sekolah demi menunjang program penjinakan anak2 mereka yg notabene sumpah bikin kepala saya sering mendidih ngadepin brutalisme acak mereka. Semua undangan dan pemberitahuan surat peringatan juga akan dikirim via SMS, maksudnya mungkin mengurangi penggunaan kertas secara berlebihan. Good, pikir saya, blom pernah tau nih ada sekolah yang seniat ini bikin program. Sampe dibelain dan dimodalin segitu banyak.

Tapi kenyataan di lapangan membuat saya berpikir lain.

August 21, 2009

Tamu Ramadhan

0 comment
Facebook ramai dengan posting status kawan2 yang sedang menyambut bulan suci kami, BULAN RAMADHAN.

Kadang saya bingung, ini sebenernya kita yang menyambut, atau kita yang disambut? bukankah Ramadhan itu adalah suatu waktu, disediakan oleh Tuhan untuk umatNya. Bukankah dia (Ramadhan) tidak akan datang pada kita sebagai seorang tamu, melainkan kita lah yang menghampiri waktu itu dengan berbagai kesadaran (senang, biasa saja, benci, terbatasi, termuliakan, dsb). Lalu mengapa kita selalu saja sok mulia dengan mengatakan : 'Selamat datang Ramadhan'??!. Sok penting sekali kesannya, iya klo Ramadhan mau mampir ke tempat kita, lha kalau tak sudi?

Bukankah konsep Bulan Suci ini adalah konsep : 'siapa niat, dia dapat'. Dapat dalam hal ini berarti, yg bersangkutan insya Allah akan mendapat kemuliaan dan berkah di dalamnya. Sehingga barang siapa yang hanya berkata 'selamat datang!' namun dia tidak melakukan apapun untuk tamunya maka mungkin saja tamu itu hanya akan sampai di teras rumahnya lalu pergi tanpa pamit.

Maka mari kita bersama2 menjadi tamu kehormatan untuk sebuah Ramadhan, mempelajari setiap sudut bangunannya, memahami setiap jengkal petuahnya, menikmati jamuan keberkahannya dan mengambil tiket KEMENANGAN untuk hari suci berikutnya :)

Mari bertamu padanya, Semoga Tuhan mengijinkan :)

May 20, 2009

BANGKIT, INDONESIAKU!

0 comment
Saya tau, Indonesia bisa lebih baik. Masyarakatnya, pemerintahnya, sawah2nya, lautannya, cakrawalanya, pendidikannya, budayanya, karya2nya, keragamannya, SEMUANYA!

Saya tau, Indonesia bahkan MAMPU LEBIH BAIK dari negara manapun di dunia dan saya pikir kita semua yang sejak dilahirkan sudah ngirup udara dan aroma Indonesia wajib lah... punya mind set kayak gini.

Malaysia bukan apa2
Singapura apalagi...
Jepang juga pernah hancur lebih dari kita
Korea bahkan orang2nya masih kalah cakep2 dari orang2 kita ^_^
Australia bisanya cuma ngedompleng Amrik doank
China malah pernah diisolir dari pergaulan dunia
Amerika, hanya besar gara2 predikat -polisi dunia- yang saya juga gak tau siapa sih yang ngasih predikat itu? jangan2 orang sono sendiri yg ngasih??

See, kita punya modal untuk maju (punya banget!). Untuk apa ada HARI KEBANGKITAN NASIONAL kalo kita gak kunjung bangkit? Ayo dong, kita ini masih bangsa yang besar (setidaknya dari jumlah penduduk,haha!), maka tidak ada alasan untuk merasa menjadi kecil diantara mereka (bangsa2 aneh itu..).

Oya, saya rekomendasikan nih buku dari Emha Ainun Nadjib yang bisa ngebakar ghiroh kita (tssaahh... ghiroh!!!) : KAGUM PADA ORANG INDONESIA, pernah dibahas dibeberapa blog, dan di blog ini adalah salah satu yang ngebuat resensinya.

Nyindir abis bukunya, saya sih kadang ngerasa malu sendiri pas ngebaca beberapa bagian dari itu buku, kadang juga ngerasa 'ketampar', tergugah, dsb. Kayaknya mbaca itu jadi sering bergumam dalam hati : 'o iya ya...., iya sih bener juga..., hei.. kita gak buruk2 amat!!'

So, SELAMAT berHARI KEBANGKITAN NASIONAL, kawan2!
Indonesia pasti mampu berjaya oleh tangan2 kita, para pencintanya :)

March 13, 2009

Bukan Toga, Bukan Gelar, Bukan pula Ijazah

0 comment
Besok, saya bakal salaman sama Rektor, nerima ijazah. Saya bakal diwisuda.

Gak ngerti apa saya patut merasa gembira berlebihan ato tidak. Gimana2, saya hanya wisudawati dengan masa studi 5,5 thn, IPK gak sampe 3,00 dan nyaris tanpa prestasi akademis yang membanggakan :).

Yang saya tau, lulus adalah keniscayaan bagi setiap mahasiswa. Tidak ada yang istimewa pada sebuah kelulusan. 'Yes, aku lulus!', bagi saya itu lebih sebagai ekspresi kepuasaan dan kelegaan atas semua yg tertempuh selama kita kuliah, bukan sekedar kepuasan karena kita pake toga, punya gelar dan dapet ijazah. Bukankah ketiga hal itu hanya simbolisasi perjalanan kita? Dimana2 simbol adalah simbol, bukan intisari, bukan makna, bukan esensi.

Saya jadi nyadar kalo bagaimanapun embel2 kita pas wisuda besok, mau cumlaude lah, lulus 3,5 thn lah, IPK terbaik sekampus lah ato bahkan seperti saya pun, masing2 pasti punya rasa bangganya sendiri. Ya nggak?

Semua pasti berteriak bangga dalam hati : 'Aku berhasil !!!'.

Saya menghayati sepenuhnya proses yang sudah saya lewati. Saya mencintai proses itu, baik maupun buruknya, salah ataupun benarnya. Saya telah belajar, dan kebetulan pembelajaran saya akan diabadikan dalam sebuah upacara, yang lagi2 hanya saya pribadi yang berhak memaknainya, yang mengerti artinya. Saya yakin, wisudawan lain juga memiliki esok hari dgn beragam warna pemaknaan.

Saya pikir, disitulah letak kebahagiaan dibalik wisuda :).

Saatnya ngelanjutin proses itu, saatnya belajar kembali. Lebih luas, lebih acak, lebih detail, lebih complicated, lebih nyata. Semoga 5,5 thn kemaren mampu menjadi bekal. Amin...

March 08, 2009

Like A Baby

2 comment
Sejak dulu, saya suka anak kecil. Bayi ato Balita, sama saja. Sama lucunya. Menggemaskan :).

Saya suka ngamatin tingkah mereka. Gimana mereka ketawa, nangis, ngambek, merajuk, tidur, bangun tidur, bermain air saat mandi, mengacak-acak makanannya, ngelempar mainan ke seluruh sudut rumah, dan sejuta tingkah lain yang selalu membuat saya memilih untuk tersenyum walaupun mungkin beberapa tingkah mereka cenderung ekplosif dan menjengkelkan, but... yeah, they just babies, they just kids. Mau kita gampar ato kita mendelik sampe bola mata kluar juga gak bakal ngefek, yang ada mereka jadi tambah nangis gak karuan, lalu ngebenci kita :D.

Saya punya kesimpulan yang mungkin bener, mungkin juga salah. Jadi tolong ini jangan dijadiin patokan bagi ibu2 muda yang lagi kelimpungan ngadepin anak2nya, hehe!. Here we go :

  1. Bayi nangis tiba-tiba, waspadalah, berarti mungkin itu bayi lagi ngrasain sakit di badannya, ato bisa juga dia baru aja ngeliat pnampakan makhluk halus yang nyeremin abis.
  2. Bayi ketawa-ketiwi tanpa sebab, kata orang nih ya, mungkin aja dia lagi 'bcanda' sama makhluk lain, tapi gak nyeremin. Ato ada lalat yang nggelitikin keteknya sampe dia kegelian.
  3. Bayi ngambek gak jelas, ngelemparin smua barang di dekatnya, numpahin semua makanan yang kamu suapin ke dia, gak mau di ajak ngapa2 in, teriak2 histeris sampe mukanya merah nyeremin??! Klo menurut saya, kamu cuma perlu mbiarin itu bayi, tanpa nanyain 'kenapa nak??' ato 'mo minta apa sayang??'. Percuma. Cukup berdiri sejauh semeter/duameter dari dia, diliatin aja (perlu kesabaran ekstra emang, jangan keburu ikutan emosi dulu), sampe dia bener2 fokus ngelihat ke arah kamu, dan mengubah muka marahnya jadi muka melas. Itu baru...., you know what? dia cuma minta dipeluk. Satu pelukan, satu gendongan dan buaian. Dia bakal tenang. Percaya deh :).
Hey, ini mungkin sangat sotoy sekali, tapi kalian yang sudah punya baby, boleh nyoba cara saya. Saya belom sih, lha married aja blom. Cuma sejak kecil saya sudah terbiasa berinteraksi dengan bayi, hehe!.

Saya nggak tau, apa orang dewasa dihalalkan ato bakal terlihat lucu kalo melakukan hal2 like a baby does. Gak bisa mbayangin sih, dikira orang gila mungkin?

Yang saya tau, kadang kita, orang dewasa, punya keinginan untuk tidak menjadi dewasa pada suatu waktu. Sesekali, kita hanya ingin seperti bayi, yang dimengerti, yang dipahami, tanpa dihakimi :).

Just for a hug...

March 05, 2009

Jujur, Menjujurkan dan Dijujuri

0 comment
Bagi saya berita mengenai David dan dosen pembimbingnya adalah berita keren :)

Saya tidak akan fokus pada darah yang tercecer di lantai kampus, pada David yang sudah terkapar di taman (kabarnya terjatuh atau menjatuhkan diri dari lantai kesekian), pada si Profesor yang katanya masih belom juga baikan (hebat bener tuh profesor, udah udzur, ditikam anak muda, masih idup juga :D) atau sekalipun pada pers yang sibuk nge-blow up berita sehingga jadi semakin gak karuan ujungnya, saya jadi ngerasa berita David malah mirip berita infotainment yang isinya adalah pekiraan, dikira-kira dan mengira-ngira. 'Apakah...David benar-benaaarrr menikamm sang Prowfesorrr??, Pemirsaaa, sakhsikan invesshtigasi kami dalam SINGHLET!!!' (sambil bibir dimonyongin dan ujung mata dinaikin setengah tiang :p).

Bukan, saya tidak akan fokus pada hal-hal seperti itu.

February 22, 2009

Ruang Untuk Kata

0 comment
Dunia maya dengan segala kurang dan lebihnya, kadang cukup mengasyikkan.

Saya mungkin satu dari sekian banyak orang yang bisa bertransformasi ke 'bentuk' saya lainnya waktu duduk di depan komputer, nyambung dengan internet. Saya sendiri memang lebih sering dan demen berpanjang lebar lewat media tulis ketimbang harus berkata dengan suara. Seneng aja, rasanya ada banyak ungkapan yang gak akan bisa keluar atau tuntas hanya dengan bicara. Bukan sih, saya juga bukan orang pendiem yang cuma bicara kalo ditanya (gak semisterius itu lah...), apa ya, asiknya berbeda, seperti satu tangan menggenggam sepotong meat lover pizza dan tangan lain juga sedang menguasai semangkuk ketan durian. Masing-masing punya sensasi sendiri, beda. Meski kadang saya lebih sering 'nyikat' pizza nya (dan olehnya ini badan terus memuai. Ok, gak nyambung).

I love both, dan itu sangat menghidupkan :)

December 24, 2008

Tidak Waras untuk Tetap Waras

0 comment
Kita yang telah tumbuh menjadi segede kingkong (hey, tapi aku gak segede kingkong jreng..!!!) ini kadang, pada beberapa waktu dan kesempatan seringkali menjelma sebagai individu complicated, ruwet, gak gampang dan bertingkah melelahkan diri sendiri.

sepertinya kita sudah lupa kalo dulu, 20 atau 25 tahun yang lalu kita pernah bayi, pernah anak-anak, pernah begitu ringan (bukan bobotnya lho...). Mo nakal, nakal aja gitu, palingan juga dicubit sama mamah. Mo berloncatan, beda dari lainnya, berlarian kesana kemari, monggoh saja. Gak enak ya bilang gak enak, suka ya bilang suka, marah ya teriak ato nangis aja sampe keinginan diturutin.

Asik, peduli apa sama orang lain.

Masalahnya adalah, waktu gak bisa diem. Kita pun mesti berputar seperti dia. Berubah. Bertemu dengan segala macam hal -gak penting tapi dianggap penting- yang kadang salah kita sendiri kenapa bisa bertemu dengan ketidakpentingan itu?? Mungkin itu kali ya yang bikin kita, para dewasa menjadi mendadak spaneng, tegang, kusut, ndak karuan sampe akhirnya rusak.

Ya, kebanyakan menelan aneka ragam kebingungan, pertimbangan, pertengkaran antar ego dan logika, terlalu ingin menjadi baik, ato bahkan terlampau hanyut dalam -apa yang dianggap salah-, kita rusak. Gak lagi jadi diri sendiri.

Beberapa hari ini, gak sengaja aku ngedengerin koleksi lagu-lagunya Sheila On 7 yg lama. Tau kan, jaman-jaman masih eSeMPe sampe eSeMA dulu. Aku ketawa sendiri. Apalagi pas dengerin ni lagu : 'Ketidakwarasan Padaku'. Simak deh liriknya, pertama rasanya lucu, dengerin lagi... sensasinya berubah jadi kontemplatif, lagi.... akhirnya aku berkata dalam hati : 'Ya, kadang kita perlu untuk menjadi tidak waras agar tetap waras' :)

dan aku pun mulai berbicara pada dinding kamar (hhhuaaaa............, untung gak ada temen kost yg liat, bisa dikira sinting beneran! ). Gak lah, dinding kamarku masih cukup waras untuk tidak mendengarkanku ngedumel seharian, hahaha! (kesian ya, sama dinding aja gak di gape...).

aku tulis disini ya liriknya, suka aja, siapa tau yang lain juga merasakan hal yang sama tiap dengerin ini lagu :) :

"Ketidakwarasan padaku, membuat bayangmu slalu ada
menentramkan malamku, mendamaikan tidurku

Ketidakwarasan padaku, membuat hidupku lebih tenang
aku takkan sadari, bahwa kau tak lagi disini

Aku mulai nyaman, berbicara pada dinding kamar
aku takkan tenang, saat sehatku datang...

Ketidakwarasan padaku, slimut tebal hati rapuhku
berkah atau kutukan, namamu yang kusebut

Luka hati akan mati, jika jiwa terus menari dan bermimpi..."

Jadi, saudara-saudara, jadilah tidak waras sewaktu-waktu untuk dapat mengamankan kewarasan anda jika nanti ia dibutuhkan. Siiippp???!!!

August 11, 2008

Tak Sesakit Itu

2 comment
pernah gak ngebayangin, gimana misal kita adalah manusia yang terlahir dengan ketidaktahuan untuk merasa sakit? baik itu secara fisik atau nonfisik, hati dalam hal ini (mmmhhh, berat ni klo udah nyangkut2 ati :p).


kita pasti tau lah, bayi ato anak kecil yang diyakini masih gak ngerti apa2, klo dicubit ato kejatuh pasti bakal nangis gak karuan, bahkan sampe bunyi nangisnya gak jelas, lebih mirip lengkingan2 tinggi tak beraturan (kok serem ya bayinya??). Semua telah mendefinisikan itu sebagai ekspresi kesakitan si bayi, aku pikir kita sepakat. Klo gak ntar pasti bayinya keburu tewas karena kita berpikir dia nangis bahagia. Ya, dia pasti mati dehidrasi, kehabisan air mata (gak keren...). Berlanjut terus saat tumbuh remaja, dewasa dan beranjak tua, tentu saja ia gak akan lagi menangis sejadi2nya hanya karena dicubit ato terjatuh, kecuali jatuhnya dari atas genteng, gak sempet nangis udah masuk UGD duluan. I mean, makin dewasa seseorang pasti makin berkembang juga kemampuannya dalam memberi porsi ekspresi pada tiap rasa sakit. Itu common sense aku pikir.

August 06, 2008

Smell Of The Blood!

0 comment
bulan2 kayak gini khas sekali baunya. antara juli-agustus, kalo kata temen2 di kampus, 'wis mambu getih!' (red:'sudah bau darah!'). serem emang, aku aja yg denger kadang merinding juga, tapi nyatanya emang gitu. at least, di tempatku, that kind of words bisa jadi sangat akrab di kuping smua mahasiswa :) SMELL OF THE BLOOD! (sudah kayak judul film2 mafia jaman dulu gak sih??)

as we know, MaBa (Mahasiswa Baru) sudah mulai berkeliaran di tiap kampus, aku yakin di kampus kamu2 smua juga gitu. tau kan, mereka yg dengan muka malu2 mau dateng lewat gerbang kampus, sambil narik2 tangan ayah atau ibunya, ato bagi yang lebih beruntung bisa juga dateng dengan jumawa dianter mobil mewah kinyis2 sambil clingukan kemana2. ya, MaBa, selalu saja jadi objek yang cukup dihebohkan, sama banyak orang malah : birokrat kampus, mahasiswa, pebisnis kos2an, pebisnis ATK, pemilik warung2 makan, pihak bank, ato bahkan calo!. gurauannya, MaBa yang lewat di depan kita pasti bakal ngeluarin bau darah yg ngebuat adrenalin muncak sampe ke ubun2 (ada gitu, adrenalin ke ubun2??!!). no hard feeling, cuma guyonan.

aku sendiri kadang ngerasa bosen tiap kali berada pada kondisi seperti sekarang. maba dimana2, mulai banyak aturan2 tertulis yg ditempel sama bapak2 penguasa kampus, orang tua yg nggandoli anaknya seakan takut banget mereka ilang ato diculik trus dimutilasi sama senior2nya (anjrit, kampus ato apaan??!!). bukan, bukan bosen ato sebel sama MaBanya, ngapain juga sebel sama orang yg belom ngerti apa2(hehe, sorry buat yg maba?!). justru aku annoyed sama tingkah para birokrat yg berlebihan dalam nge-treat maba, aku gak tau gimana di tempat lain, tapi disini keberlebihan itu sering memancing konflik panjang antara mahasiswa vs birokrat. gak pernah selesai ato hepi ending, malah makin lama makin gila, makin gak sehat dan mahasiswapun jadi sedikit desperado ngadepin ke'gila'an orang tuanya (red: bapak2 itu tuh...).

mereka jadi seperti emas yg haram disentuh oleh kakak2nya, ada kerumunan maba dikit aja (padahal kerumunannya karena ada acara makan pecel bersama) udah di bubarin sama intelejen kampus (yg sok teu), ada yg pake tanda pengenal agak gede udah disuruh nyopot cepet2, katanya sekarang udah gak musim yg gituan. ya iyalah gak musim, siapa juga yg mau nurutin musim?! klo ya, pasti tuh maba bakal kita suruh pake hotpants smua ato celana pinsil plus tanktop ngapret, mau??! lama2 pejabat kampus udah kayak pengintai kelas satu yg siap 'ngebunuh' siapa aja yg ngejamah MaBa. mereka gak sadar, smua perlakuan itu bisa ngebuat si anak baru semakin 'asing' di tempatnya dan parahnya, mereka mulai tumbuh jadi anak manja yg berdiri di belakang aksi garang si bapak.

lihat aja, kampus sekarang udah merem melek nyari nafas. i mean, dinamika kampus udah gak seromantis dulu lagi, dimana masih banyak tulisan2 kritis mahasiswa nempel di papan2 pengumuman, masih ramai diskusi2 isu sosial intern ato ekstern kampus, masih banyak ide2 kegiatan kreatif khas mahasiswa, semua seakan-akan terkikis pelan2, beralih ke pinggir, gak lagi jadi ruh kehidupan kampus. sebaliknya, udah beberapa tahun ini kampus malah jadi lahan subur buat ngadain konser2 musik dan sederet kegiatan hedonis lain. eneg...!!!

aku yakin ini bisa jadi saling berkaitan, antara sikap overprotektif terhadap MaBa dengan menjelmanya kampus sebagai sarang pribadi2 hedonis, emoh bersentuhan dengan sisi2 kehidupan mahasiswa yg kudunya merakyat dan membumi. lama2 aku berpikir klo birokrat sudah sangat egois dgn selalu ngelonin aset barunya hanya demi nyenengin penyandang dana (apalagi dgn dibukanya jalur2 lain selain SPMB dan jalur normal lain). tau lah, orang tua pasti seneng klo anaknya bisa berkuliah dgn amat sangat aman dan nyaman di kampus mereka, artinya ortu bakal terus nempatin anaknya disana, artinya lagi duit spp yg segitu gedenya bakal trus ngalir. blum lagi klo si anak masuk lewat jalur kemitraan yang ayahnya adalah bos di sebuah perusahaan gede dan sedang berjoin proyek dengan pihak kampus , nah semakin lancar jalan si anak berkuliah maka semakin lancar pulalah proyek berjalan.

aku muak, pelarangan interaksi dengan MaBa sudah bukan murni lagi karena alasan semakin merebaknya isu kekerasan dan perploncoan! tidak sesederhana itu! dan parahnya, sudah tidak ada lagi ruang diskusi yang sehat untuk nyelesein masalah kayak gini. 100% aku yakin, ini terjadi di tiap kampus dan kejengkelan yg sama pasti dirasain oleh smua mahasiswa yang masih ingin berpegang pada nilai2 ideal (weiiihhh, sok mahasiswa?!!).

aku tau ini sifatnya subjektif, mungkin klo ada pihak birokrat yg nulis macem gini, mereka juga bakal bilang  'mahasiswa sudah gila!!!'. gpp, saling menggilakan kadang perlu, untuk ngerti siapa yg sebenernya lebih waras :)

mmm, ganti layout nih. ada beberapa yang baru, keren juga!:p. thanks buat Nurind yg berbaik hati memberikan 'tutorial' singkat mengenai cbox, ketauan ni klo pemula abis,mhuaahahaha!!! thanks juga buat Radith yg udah ngejawab pertanyaanku untuk progress film di blog dia, what a surprise!
hhhh!!!, udah segini aja.

QUE TO ME MANQUES...:)

July 31, 2008

Balada Pecandu

5 comment
kadang, aku kesian sama pecandu. ya, mereka yg kepalang basah tergantung (menggantungkan diri) dengan segala macem obat2 ajaib yang katanya terlarang.

kayaknya kita semua sudah ngerti lah, gimana getirnya (seehh... getir!!) dunia pecandu, sebenernya bukan bener2 dunia mereka yg getir tapi dunia orang lain/ dunia lain, surrounding them. ya orang tua,sodara, kawan2 (bagi yg concern), masa depan, pendidikan, karir dan lain sebagainya, kesemuanya (katanya nih) potensial untuk bertransformasi menjadi sesuatu yg buruk, meski jika mereka semua beruntung bukan gak mungkin akan ada transformasi oposisi untuk membalikkan pada kondisi semula, bahkan lebih baik.

July 11, 2008

What The H***?!

2 comment
Lama-lama, gak tahan buat gak ngomentarin kind of reality show di stasiun TV kita. acara yang biasanya muncul pas sore sampe menjelang maghrib dan didominasi sama orang-orang muda. Gaul abis.

Jika dilihat sepintas, sebenernya tayangan seperti ini cukup mampu menarik penonton, dengan jam tayang sore hari, memang waktu pas buat break dari kesibukan, pelajar khususnya. kemasan acaranya juga gak buruk-buruk amat, lumayanlah dari segi tampilan, person yang terlibat dan komponen lain, layak sekali untuk dilaunching.

aku sendiri, awalnya biasa saja dgn mereka. tapi rasa 'biasa' itu lambat laun berevolusi jadi sensasi 'eneg'. Ya, ke'eneg'an yang nyata dan kian memuncak. berikut aku tulis poin-poin yang dengan sukses menumbuhkan rasa 'eneg' ku atas keberadaan mereka (red:reality show remaja) :

  • Mari kita definisikan dulu, yg dimaksud dengan reality show disini adalah semua jenis tayangan yang temanya gak jauh dari ngobok-ngobok relationship dari 2, 3, atau lebih manusia, pasti tau lah judulnya, kayaknya gak perlu dipublish disini. Yang pasti aneh-aneh namanya, hampir gak ada yang pake bahasa baku. Tapi tidak aku sebut sebagai suatu yang kreatif, dan seperti yang dibilang diatas, gaul abis.

  • Mmm,aku gak tau apa dan gimana pendapat para remaja (karena kayaknya aku udah remaja coret ;p), tapi menurutku ni, acara-acara itu nanggung. menghibur gak, serius gak, ndidik juga gak (banget).

  • Penuh ketidakrealistisan, sangat jauh dari tataran logis. Nyadar gak sih, sangat kebaca kalo semua hal yang ada disana tuh absolutely set by design. jadi yang terjadi adalah sebuah kesengajaan yang ingin terlihat sebagai ketidaksengajaan para pelakunya.

  • Ok, taruhlah memang itu smua dah di set. aku bilang, amatiran sekali si sutradaranya?! dengan dialog yg sangat jauh dari natural, eksploitasi pada bahasa tubuh yg monoton, dan ini yang selalu ada di pertengahan acara ato di akhirnya : berantem. dan dgn jumawanya host akan bersusah payah utk melerai dua pihak yg udah 'terlihat' kesetanan. After that : iklan lewat (selalu tuh, perhatikan deh)

  • Atau andaikan memang acara gitu bener-bener real, gak di set dan pihak stasiun TV hanya fasilitator aja. apa sebegitunya realita yang ada di seputar relationship manusia? dan klo ya, orang macem apa yang rela privasinya di ubek, ditonton berjuta pasang mata? kayak apa reaksi keluarganya? asli, sampe disini aku bener-bener gak abis pikir. what the h***?!

  • Satu lagi, apa yang ada di otak para peserta reality show yang aneh ini? kenapa mereka dengan bangga dan meyakinkan memilih berseteru dengan sesama ce/co hanya buat berebut satu ce/co yang kadang juga gak jelas objek rebutan ini suka sama yg mana (sebuah ketololan yg makin mewabah saat ini, awas tertular!)
Finally, aku sampe pada kesimpulan ekstrem berikut :

  • SDM broadcasting kita kayaknya udah jauh dari kreatifitas. mereka hanya work by order ato mungkin udah jadi budak trend. jadi genre acara apa yang lagi rame ya itu dia yg bakal diproduksi gede-gedean. asalkan masukan iklan banyak dan rating menanjak tinggi, udah cukup bikin mereka puas

  • Kalo memang mereka riil, kayaknya anak muda sekarang termasuk golongan exhibitionism. gak rikuh nunjukin problem pribadinya ke khalayak ramai, gak risih mem-publish terang2an privasinya secara detail di hadapan umum.

  • Kalo mereka hanya set by design, aku bilang ternyata anak sekarang kurang kerjaan banget. bersedia dibeli untuk mem'bintang'i tayangan sepele macem gitu, tanpa esensi, tanpa ada proses belajar yang bisa diambil. (weeiisss, kumat lincipnya nih, hehe!)

  • Dan, kalo ini diterusin tanpa ada peningkatan konten acara, maka lama-lama kita bakal keracunan dengan nilai hubungan antar manusia yang dangkal, childish dan itu tadi, mengundang ke'eneg'an.
Ini hanya opini pribadi aja, itupun aku udah nahan-nahan setengah mati untuk gak nulis sebenernya. tapi aku pikir gak ada salahnya juga aku pajang disini, toh mereka juga udah gak peduli sama efek yang berlaku di masyarakat berkat karya 'dangkal' mereka ;p

Maaf buat yang akan tersinggung dengan ini (GeEr sekali ya? iya klo ada?!) hehehe!

July 04, 2008

Mengapa Harus Ada?

0 comment
Ada yang menarik dari berita di JAWAPOS-Metropolis, edisi Rabu 3 Juli08 :

Toleransi Waktu Cuma 30 Menit
Hari Ini, 25.840 Peserta SNM-PTN Jalani Ujian


''Ruangan tempat menyimpan soal telah digembok dan disegel. Ada tanda tangan dari beberapa rektor PTN. Jadi, tidak mungkin bisa dibuka sembarangan. Semua yang berjaga di sini adalah orang-orang tepercaya,'' ujar Budiadi.

Ruangan yang telah disegel tersebut baru akan dibuka pada pukul 02.30 dini hari tadi. Lima rektor dari Unesa, ITS, Unair, IAIN, dan Unijoyo akan menjadi saksi pembukaan ruang penyimpanan soal itu. ''Kalau kelimanya tidak bisa datang, tiga saja cukup. Biasanya hanya dari ITS, Unesa, dan Unair,'' jelasnya.

Setelah dibuka, soal-soal itu akan dimasukkan ke kotak-kotak yang telah disediakan sebelumnya sesuai dengan lokasi ujian. Di dalam kotak tersebut, juga dimasukkan perangkat seperti obat-obatan ringan, pensil, penghapus, bolpoin,
dan pembalut wanita.
-----------------
(!!??!), perangkat terakhir, beneran tuh ada?
gak sih, cuma kesian sama lembar soalnya aja, tidak adakah tempat lain untuk menyimpan 'perangkat' yang satu itu? tiba-tiba aku mbayangin gimana perasaan lembar per lembar soal yang kumpul kebo sama 'yang tak untuk diumbar' itu, ffiiiuhh...,semoga aja gak ada perubahan isi soal secara ajaib seperti tiba2 ada pertanyaan : 'pembalut manakah yang memiliki daya serap lebih tinggi?'
klo bener gitu, kesian peserta ujian cowok, pasti pingsan ngebacanya.

atau..., pas ada peserta yang kbetulan gak bawa penghapus, trus minta sama si pengawas. dengan bangga si pengawas membuka kotak ajaib dan...., keluarlah penghapus jumbo yang super duper lembut dan aman buwat kertas, uuppss...., bukan salah si pengawas, pastinya.

lagian, ngapain gitu pake nyertain barang itu di perangkat cadangan?! aneh! aku pikir itu sepenuhnya tanggung jawab peserta lah, berapa jam sih ujian per harinya? jauh dari skala prioritas, dan tempat nyimpennya itu lho..., mengundang keprihatinan.

hhhhaaahh...,whatever lah.
ini adalah posting paling iseng yang pernah aku tulis. out of mind ni..., hu huhu....

see u.