Showing posts with label HanyaKata. Show all posts
Showing posts with label HanyaKata. Show all posts

November 22, 2013

Reuni

0 comment
sepertinya aku merindukanmu

kamu, kekasihku, yang tak seorang pun boleh cemburu
tak juga dia atau mereka

datanglah, aku menunggumu di tempat biasa
kita akan bertukar cerita atau sekadar duduk berdua
menikmati hari yang menua

melukisnya dalam kata

September 13, 2011

4 September

4 comment
Bersamamu adalah menjelajahi telaga 
membiarkan sampan kayu sederhana mencumbu airnya
membuat mereka berkecipak bahagia

Bersamamu adalah berbaring santai di tepi
memandangi para tebing bergelayut mesra pada langit
menyilakan rimbun ranting dan dedaunan menyaring sinar matahari
menjadikan ia menyembur tertib lalu memantul cantik di permukaan airnya

Bersamamu adalah menikmati gerimis bernyanyi lamat-lamat
mencandai rerumputan dan membuatnya beraroma
mengundang pelangi bertunas di palung tebing
untuk mengajarku tentang keindahan sinergi warna-warni

Bersamamu adalah sebuah kesederhanaan megah
 jernih yang tumpah ruah
hening yang senantiasa mewah

Selamat ulang tahun, Bi
aku mencintaimu
dan semoga Tuhan mengijinkanku tetap begitu
esok, lusa, kemudian seterusnya

Berbahagialah menapaki usia demi usia
lalu biarkan aku turut menua
saling menertawakan keriput di muka
namun tak juga jemu bertukar kecup mesra
mengabadikan kita
4 September 2011,
Regards

July 02, 2011

Duabelas Juni

5 comment
Ada sesuatu yang tak terpadankan aksara
ketika aku telah menjadi separuh dari kita

ketika jengkal di antara memupus, tiada
dan keentahan bahagia oleh percaya

11-12 Juni 2011

demikian, semoga kita menjadi cinta
yang bertumbuh menyusuri sungai masa
menjalari pepohonan usia

hingga kelak ketiadaan
mengantar kita, bertemu di taman surga

semoga.

Sebelas Juni

2 comment
Bismillahirrahmanirrahim,

Mama dan ayah yang sangat ananda sayangi dan hormati,
Sungguh, ananda adalah seorang anak yang demikian beruntung karena Allah telah menghadiahi ananda sepasang orang tua sempurna yang penuh cinta kasih, pengertian, dan pemaafan. Bagi ananda, hidup dan bertumbuh bersama Mama dan ayah telah menjadi suatu perjalanan hidup yang kaya pembelajaran, sebuah proses pendewasaan seorang bocah perempuan yang selalu menyenangkan sekaligus mengharukan.

Mama, Ayah,
Tidak ada keraguan sedikitpun, kalian merupakan pendamping yang memahami ananda lebih dari siapapun. Penegas segala keluh lemah ananda, pelembut setiap tingkah keras ananda, rumah teduh yang selalu ada, kapanpun hati ananda butuh beristirahat.

Mohon maaf Mama, mohon maaf Ayah,
Milyaran ucapan terimakasih dan permintaan maaf mungkin tidak akan pernah cukup membayar totalitas kalian dalam merawat dan menjadikan ananda tumbuh seperti sekarang. Ananda hanya mampu mempersembahkan bakti setulus-tulusnya dan membangun cita-cita setinggi-tingginya, sehingga setiap tetesan keringat dan air mata yang pernah keluar karena ananda dapat tergantikan oleh senyum kebanggaan dan kebahagiaan.

Mama, Ayah,
Semoga Mama dan Ayah tahu bahwa hari ini adalah bagian besar dari cita-cita ananda. Membangun sebuah keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, menjadi orang tua, melahirkan dan bersama-sama merawat anak-anak, serta berkarya di masyarakat seperti kalian, dengan seorang pria shalih yang dengannya ananda merasa nyaman terlindungi, persis sama seperti ketika ananda berada di samping Ayah dan Mama. Maka dengan segala tunduk patuh dan kerendahan hati, kepada Mama dan Ayah, ananda mohon ijin untuk dinikahkan, sehingga cita-cita ini segera menjadi nyata.

Semoga Mama dan Ayah berkenan memberi ijin, memaafkan, dan ikhlas membukakan jalan pelepasan untuk ananda menuju lembar kehidupan baru. Sembah bakti tulus ananda untuk Mama dan Ayah. Ananda mohon doa restu, sehingga nantinya, segala kebaikan selalu menyertai pernikahan kami.

Semoga kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan selalu terlimpah untuk Mama dan Ayah. Amin.


Malang, 11 Juni 2011

regards,

April 06, 2011

Primordial Pagi

0 comment

Aku ingin rebah di pangkuanmu
Pagi hari, sesaat setelah hujan semalam reda
Tepat ketika pelangi masih muda,
dan biru awan masih belia.

Aku ingin surut menciut, 
menyelinap di balik punggungmu, mengintip matahari
Menyimak perpisahan sunyi antara bulir embun dan para daun,
sembari menghirup aroma primordialmu dalam-dalam, 
hingga hidungku bosan

Aku ingin ada di setiap pagi,
mengisyaratkan semua aksara,
menghimpun bahasa tak berkosakata,
bercermin di matamu,
menyelesaikan rindu.

March 23, 2011

Ubin Langit

0 comment
Ubinku adalah langit, tempat dimana busa putih awan mesra menimang, ruang tanpa ruang dimana mata angin seringkali kesal kebingungan

Ubinku adalah langit, padang luas dimana bumi hanya tinggal sejumput titik dan garis, tanah lapang tembus pandang, kampung halaman para hujan

Ubinku adalah langit, ketakhinggaan dimana timur dan barat dipertemukan, sekat perantara hampa dan udara, rahim keniscayaan bayi gravitasi makhluk dunia

Ubinku adalah langit, tempat kubebaskan segala doa, mengiba pada Raja Semesta

Ubinku adalah langit, dimana tawa dan air mata dibiarkan suka-suka, tanpa harus punya makna.

March 18, 2011

Cerita Larung

0 comment
Suatu hari di masa lalu
Bertamu aku di bibir pantai
Tandas pilu menjadi biru
Surut air mata mengusir rinai

Samudera melahap kenyang
Aku melambai tenang
Terlarung damai mereka di lautan
Ketika langitku tak lagi merintik hujan

Wahai kamu,
Usah pelihara cemburu untuk cerita larungku
Hanya demi suatu hari di masa lalu

Kemari,
Bawa aku pergi

Biarkan makhluk malam menebar iri
Menyaksikan kita liar menari
Hingga lupa bagaimana cara bermimpi

January 13, 2011

Kepada Pilot (2)

0 comment
...


"Iya, jadi mungkin mereka yang mengerti akar masalahnya, sebaiknya mampu mengerti dan memaklumi pak Tifatul"

"Benar. Tapi pak Tifatul dan tim DepKOMINFO sudah sepatutnya membenahi mekanisme sosialisasi kebijakan. Beliau ini terlalu banyak melakukan gerakan yang tidak perlu"

November 19, 2010

Rindu Adalah

8 comment
Rindu adalah memandangi ratusan pesan di kotak masuk telepon genggam, membiarkan kedua mata menjelajah satu demi satu rangkaian kata, tepat sebelum gelap mengundang lelap

Rindu adalah menunggu sebait nada dering Keep On Trying milik Poco berbunyi dengan sebaris nama bertahta, berkedip-kedip manja

Rindu adalah memaksa jiwa berjalan kelelahan kemana-mana. Berpura-pura sibuk, hingga kantuk tega menyandera hati yang ingin bicara untuk sekedar menanyakan kabar tuannya

Rindu adalah memangku buku-buku tebal tanpa alasan. Membohongi diri sendiri dengan kedok keseriusan belajar atau mengerjakan soal-soal latihan

Rindu adalah duduk menyendiri di salah satu sudut kafetaria, menandaskan secangkir es krim blueberry coklat tanpa perlu peduli siapapun yang sedang berlalu-lalang di hadapan

Rindu adalah melangkah tenang menerobos gerimis dari awan, supaya tubuh basah kedinginan, lalu menggigil tak karuan dan terpaksa kerepotan menghangatkan badan

Rindu adalah menyesali bumi yang sedang kehujanan, sebab butir-butir airnya seolah turut menyuburkan ladang yang menumbuhkan satu bibit nama menjadi ribuan semak belukar tak beraturan

Rindu adalah bermusuhan dengan malam, menyuruhnya cepat pulang untuk lekas matahari disingsingkan

Rindu adalah berlari memutari lintasan terluar lapangan sepak bola. Membiarkan tubuh kebanjiran peluh, membiarkan nadi berdenyut dengan kecepatan penuh

Rindu adalah menggerutu pada telinga untuk setiap halusinasi gila yang bersikeras disampaikan kepada otak bahwa ia sedang menangkap sepintas gelombang suaramu, entah darimana

Rindu adalah menyusup pasrah ke dalam selimut merah tua, membuka mata di sebidang celah tak bercahaya, menemukan kamu disana

Rindu adalah aku, yang mengais setumpuk pelampiasan bodoh supaya kamu tak harus kerepotan, mengasuh mereka yang telah sukses berkembang biak, memenuhi rumah hatiku, menjajah kuasa kewarasan.

Eh, tapi sepertinya aku butuh pertolongan. Kamu bersedia, kan?

November 03, 2010

Diam

3 comment
Aku ingin diam
Hirup pangkal malam
Kecup tubuh fajar
Malu-malu merapal rajukan
Mengeja kamu, kita, dan harapan

August 17, 2010

Kepada Pilot

9 comment
"Masih optimis kan?"

"..."
Aku takut...

"Halo, kok diem?"

"..."
Ah, kenapa airmata ini bandel sekali? Tissue, mana tissueku?

June 26, 2010

Gincu Ungu

16 comment
Demi malam yang dinginnya mencegah pejam,
Aku sudah dimana-mana. Kau tak ada. Bahkan hanya untuk sebuah tanda. Dulu, alamat rumah terakhirmu adalah sebaris aksara : Cinta. 'Temui aku disana' begitu pesanmu bicara.

Aku bertamu. Rumahmu kini berpagar putih biru. Sepi. Hanya sepotong papan bertuliskan : Disewakan. Bersama kesal, aku pulang. Menggengam kunci kamar yang mungkin lupa pernah kau gandakan, untuk ku pinjam. Berjaga seandainya kau butuh teman.

Aku kembali datang. Memikul sekarung uang untuk menebus sewaan. Rumahmu telah punya taman dengan bunga mawar segar bermekaran. Rupanya aku keduluan, papan di depan pagar telah diturunkan. Bangunan sederhanamu telah resmi disewa orang.

Demi malam yang gelapnya menunda riang,
Mestinya kau tahu, aku hanya ingin mengambil gincu ungu di meja kamarmu. Benda mungil yang selalu kupakai untuk melumuri mukamu. Kubuat lukisan lucu di dahi, pipi, dan dagu. Sampai kau malu, membasuh muka buru-buru.

Hanya sebatang gincu ungu, jika memang rumahmu tak lagi tak berpintu, seperti dulu. Jika anak kunci di saku celanaku sudah tak layak bertemu kediamannya untuk bercumbu. Jika berpuluh anak kunci lain telah meniadakan probabilitasku menapakkan kaki di ubin kayu yang pernah merekam setiap derit langkah dua pasang kaki, aku dan kamu.

Demi malam yang diamnya meresahkan,
Aku sudah dimana-mana. Mencari sebuah rumah tak berpintu, beralamatkan sebaris aksara, seperti pesanmu. Sial, di depanku hanya ada rumah berpagar putih biru. Tiada tanda, gincu ungu, apalagi kamu.

June 24, 2010

Semoga Kamu Pria

4 comment
Semoga kamu pria

Bukan laki-laki remaja
yang mengiblatkan cinta mentah-mentah
pada petuah kawan lama
dan buku-buku agama

Semoga kamu pria

Bukan laki-laki setengah dewasa
yang menjunjung kopyah dan sajadah
namun tak lupa menebar mata
ke paha-paha indah

dengan alasan latah : "Ah, mereka yang salah"

May 23, 2010

Pelangi Obeng Besi

8 comment
Kamu tahu pelangi?

Aku ingin berpelangi lagi
seperti televisi yang didekati obeng besi
lalu hilang gambar tiba-tiba
hanya warna-warna ; merah sampai jingga
mengambil alih cerita



Kamu ingat pelangi?

Aku berdoa semoga kau tak lupa
bagaimana mengacaukan layarnya
lalu menindaskan pelangi
dengan hanya sepucuk obeng besi
yang didekatkan suka-suka

Lihatlah,
Layarku mulai membosankan
dan kamu hilang lagi


*Gambar dipinjam dari sini

May 07, 2010

Joyeux Anniversaire! (2)

4 comment

Mei ke Mei

Setiap kelahiran patut dirayakan
menyelamati niatan
menghargai kesungguhan
menapaktilasi perjalanan

terimakasih semua lamunan
segala patah arang
setiap remuk redam
semua tawa riang
segala reda sesudah lara

terimakasih Tuhan maha penyembuh hati
dengan penuh kesengajaan merancang setiap pertemuan
yang menyempurnakan,
menumbuhkan lalu menyadarkan

Terimakasih untuk jiwa-jiwa yang selalu meramaikan
namun tetap menaruh hormat pada sunyi dan diam

Terimakasih semuanya,

Selamat Dua Tahun,
Sepuluh Jari :)


*Gambar dipinjam dari sini

April 05, 2010

Ikhlas

0 comment
"Aku ikhlas, semoga kau juga begitu"

      "Ya, aku ikhlas, ikhlas untuk tidak ikhlas mengikhlaskanmu"

"Semoga Tuhan pun ikhlas, menerima ikhlasmu dan ikhlasku"

      "Pasti, tapi aku pun ikhlas jika Dia tidak ikhlas dengan ikhlasku"

February 10, 2010

Ruh Ingin

0 comment
Aku tak pernah punya gentar
untuk sepotong keinginan

karena ruh bernama ingin
rajin menghunus pedang

dipupus ia, tak bersisa
menjadi tak bernama

entah kau?
yang seolah tegar dan bermantra sangar

December 09, 2009

Happy December 9th!!!

0 comment
Mungkin ini adalah tentang hati
yang lampunya telah lama mati
hingga sang juragan masih harus meraba
ciptakan beribu kira, hindari putus asa

Mengapa tak coba nyalakan beberapa lampunya?
entah dengan satu petikan saklar atau mencari gantinya
jika memang sudah terlampau tua

sepertinya tak apa, demi tak meraba, demi tak mengira-ngira
demi tak lagi buta

Maka mari bersama benderangkan lampu hati
supaya tiap 'objek'nya mampu terpantul sempurna
lalu terbaca presisi, tanpa perlu bias lagi
oleh prasangka dan geliat diri

tanpa harus menggelinjangkan asa kesana-kemari

Mari berbicara 'saya dan kita'
untuk dapat menemukan 'dia dan mereka'
kemudian selalu berkarya, dengan rasa
tanpa putus asa...

Selamat 9 Desember
Selamat memaknainya,
k**up*i saya, kamu, dia, kita dan mereka


:)

December 07, 2009

Kau Lelaki, Aku Wanita

11 comment
Kau lelaki, aku wanita,
mungkin akan bertemu pada suatu masa
di sebuah kedai kopi sederhana, saat senja merayap angkasa
atau di sepenggal deru hujan
yang memaksa dimensi ruang terpangkas demi hangati raga
atau pada muara waktu yang sama sekali tak istimewa
atau pada kelebat tatapan kesekiankalinya, yang dulu hanya biasa

November 04, 2009

Kita, Bulan

0 comment
Bulan itu indah
untuk sepasang mata bijaksana
yang tak mencampuri dekatnya

Bulan itu cantik
untuk decak ingin tau yang berdamai
dengan kecukupan hati

Bulan itu lucu
tanpa perlu terkecualikan
oleh celah-bilahnya andai tubuh ini dekat

Bulan itu selalu indah
tak perlu hadirkan jarak sebagai variabel
untuk sebuah kesimpulan hati : 'Kau memang indah'

Lalu kita?
Mungkin saja kita ini adalah bulan yang selalu layak diindahkan,
dicintai dan dikagumi
walau jarak tak lagi menjadi variabelnya

Dicintai saat jauh,
juga ketika sudah mendekat tanpa jengkal

dan mampukah kita melayakkan sebuah cinta,
memantaskannya tanpa kecuali, tanpa tetapi?

:)