May 31, 2008

i had jasmine on my hand

2 comment
Hari sabtu yang heboh gila.

Beramai-ramai datang di nikahan temen seangkatan, Fadhilah. setelah berjam-jam nunggu smua pasukan ngumpul di kampus, akhirnya kita bisa berangkat juga. bayangin, bilangnya kudu standby jam 9 pagi, yang ada malah kayaknya mereka jam 9 baru manen belek di tempat tidur (kayaknya tuh belek mati satu tumbuh seribu deh, jadi gak ada abisnya. pantes nelat gak karuan :( ). gosong juga lho clingak-clinguk di kampus, dengan kegerahan yang sungguh nyata. udah gitu, giliran pada ngumpul smua masih aja mbulet gak cepet berangkat. heran, tambah gede, mo pada lulus, prasaan kok tambah menjelma jadi manusia-manusia gagal mental gini??!!

dua jam dari titik 09.00 yang bikin kepala mendidih, diakhiri dengan keberangkatan menuju Gresik. wow! gak tau knapa stiap denger kata 'Gresik' , rasanya nervous2 gak jelas :p (feelin' something weird...). lanjut, perjalanan relatif lancar, kebetulan aku numpang mobil Noswa. di dalamnya ada Noswa (yang katanya udah bedakan pake arang, of course), mukhlis (penunjuk jalan yang sedang mati2an nahan hasrat 'carsick'), oni (Noswa's wife), anin (kawan yang tak pernah kehabisan tawa), dan aku (rajin doa agar mukhlis tak sampai 'carsick' beneran atau kita semua bakal hilang, nyasar ke papua).

menyenangkan, satu setengah jam gak kerasa. and finally, WELCOME AT BUNGAH VILLAGE! artinya : mukhlis gak jadi muntah/pingsan, kita semua selamat!

ada hal menarik selama kita menyerang the groom's party. kalo kita sering nonton film2 barat bertema wedding dan sejenisnya pasti disana bakal ada adegan si pengantin ngelempar bunga ke arah undangan yang udah pada ngangkat dua tangannya (watchout! aku namai ini sebagai 'perang ketek'!). siapa berhasil nangkap tuh bouqete setelah berjuang di medan ketek katanya sih bakal gak lama lagi nyusul buat nikah. weisss, sebuah optimisme di balik kenelangsaan (what???!!!). gak penting.

nah, di acara tadi emang bukan ngelempar bunga sih, di jawa lebih akrab dengan 'ngambil rentengan bunga yang ada di tubuh pengantin. mitosnya mah sama, buat orang2 yang pingin kawin teramat segera. gapapa, asal jangan sampe ketauan si perias ato perenteng bunganya aja. mikir aja, tuh bunga udah dibela2in merem-melek direnteng sampe panjang dan tebal sama mereka, eh belakangan enak2an dijarah dengan brutal sama undangan. kalo aku jadi tukang rentengnya, gak bakal rela digituin. enak aja.

kayaknya akan lebih sopan kalo bunganya gak diambil, tapi sengaja diberikan oleh si pengantin, or something like that lah. dan yes, Fadhilah cukup mengerti dengan kemungkinan dia bakal kena rentengan maut si tukang renteng bunga, daripada mereka gak jadi doing the 'holy night' gara2 amukan tukang renteng, better dia ngasih2kan tuh bunga secara tertib dan teratur. aman. and..., guess what? aku salah satu penerimanya. o'oww...


what should i do with that jasmine??! gak tau knapa pas nerima tanganku gemeteran abis. anjrit! aku yang dari tadi cuek bebek sama acara bagi2 kembang yang mnurutku beraroma mistis, sama sekali gak ngarep kebagian tuh kembang, lho kok malah dikasih. hidup memang penuh misteri kawan! (pentingkah ini?). sekarang bunganya ada di kamar, jadi bau2 kamar pengantin. duh! Fadhilah telah menjerumuskanku ke dalam 'fatamorgana kepengantinan'. mamah, entaskan aku dari sini!!!

oiya, temen2ku, tetep. brutal dengan meyakinkan. mengendus dan memangsa segala suguhan disana. berjuanglah kawan...

tapi overall, semuanya berjalan lancar dan penuh makna. setidaknya, buatku :)

May 27, 2008

'Ini siapa???'

0 comment


Weekend kemarin benar-benar melelahkan.
Dua hari menjelma menjadi something crowded, tak jelas, tak penting dan seperti saya tulis di posting sebelumnya, menguras habis kesabaran, huahh!

Ya, acara kumpul-kumpul keluarga besar Ayah. Gile bener, banyak personil tempurnya ternyata! Semua jenis manusia ada. Mulai dari sesepuh, pakde-bude, om-tante, sepupu-dua pupu, ponakan, ponakan sepupu, ah, bingung! Parahnya lagi, saya menemukan banyak sekali orang asing yang sama sekali tak terdeteksi memori, bahkan hanya untuk sebuah nama. Stress begitu ketemu. Kita bertatap muka, salaman, dan saya hanya bisa nyengir, sok kenal. Setali tiga uang, 'saudara tak dikenal' di depan saya sepertinya juga merasa asing.  Sungguh asing. Air mukanya bingung campur usaha keras mengingat-ingat. Yay! paling tidak saya tak sendiri.

May 14, 2008

Jika Saya

0 comment
(23 Mei 2008)
Huahh!
Akhirnya draft Bab II Tugas Akhir sudah dimajukan ke pembimbing. Entah kenapa wajah-wajah beliau (pembimbing saya ada dua orang) terlihat tidak terlalu excited. Sebel juga, capek-capek nulis, ngotot begadang sampe mimpi pun isinya nulis sambil nangis. Eh, sampai di tangan mereka hanya dibilang : 'Oh, sudah jadi ya? bentar, minggu depan kamu balik lagi sini,saya baca-baca dulu'. Bukannya dinasehati apa gitu, diwejangi petuah-petuah mencerahkan hati, ini kok malah diacuhkan mati-matian.

Saya diam di depan mereka sambil memainkan kepala, angguk-angguk saja. Terasa malas sekali untuk buka suara, daripada emosi. Saya jadi berpikir, enak sekali jadi dosen, kalau mood sedang turun mereka berhak menunda waktu kapan saja. Bagaimana kalau si mahasiswa yang pikirannya sedang njlimet? bolehkah minta waktu untuk sekedar 'lari' dari deadline?

May 08, 2008

Musuh Sudah Dekat, Jendral!

0 comment
Ada satu pertanyaan yang lumayan membuat saya terkadang suka mikir-mikir sendiri. Pertanyaan yang saya dapat dari obrolan nyantai dengan beberapa teman pas menjelang jam latihan karate di kampus. Mungkin tidak terlalu penting, mungkin juga hal-hal seperti itu juga sudah dipikirkan oleh banyak orang, tapi belum jadi sesuatu yang layak diusut lebih lanjut. Mungkin.

jadi gini, sore itu dojo (red : tempat latihan) kedatangan anak baru. Dia diajakin si Andrea, salah satu kohai (red : adek). Namanya siapa ya? saya lupa. Cowok, sudah alumni, alumni TekPal katanya, angkatan 2000, ITS juga. Jadilah kita ngobrol-ngobrol kesana kemari, yang harusnya itu waktu sudah kudu mulai latihan akhirnya terpaksa sedikit mundur karena acara welcome party kecil-kecilan buat si anggota baru.

Karena kebetulan dia sudah bekerja, jadi otomatis arah obrolan kita tidak terlalu jauh dari dunia kerjaan. Apalagi si Hendry (Hendry : anak PENS ITS, kawan yang top buat gila bersama, suka berlama-lama untuk setiap urusan dan kayaknya males ngomongin hal-hal serius, kecuali hanya untuk basa-basi), karena dia ketua unit nih, maka wajib bagi dia untuk berbasa-basi sama si anak baru ini. Standar aja sih nanyanya, kayak : "sudah kerja dimana mas?", "di bidang apa tuh kerjanya?", "sudah berapa lama kerja disana?", dan sederet pertanyaan-pertanyaan lain. Gila, jago juga ini anak menyambut tamu? Saya sih sok memperhatikan saja, sambil sesekali angguk jidat, makmum aja lah sama pak ketua.

Tapi lumayan ramah juga ini anak, dia menjawab semua pertanyaan dengan sabar dan telaten persis Bapak guru. Sampai dia melempar sebuah topik yang bikin saya 'ngeh' dan akhirnya benar-benar menyimak pembicaraan dia.

Apa itu?
Jadi dia ngomong kalau jaman sekarang mulai banyak perusahaan-perusahaan minyak dan tambang luar negeri yang membutuhkan employee di sini (red : indonesia). Bikin bloknya juga disini, main ngeruk-ngeruk saja itu bule-bule di tanah kita. Inovasi-inovasinya juga pada hebat semua, banyak tenaga ahli yang dilibatkan, etos kerjanya hebat, pokoknya sip lah smuanya.

Nah, masalahnya hal seperti itu tidak terjadi pada perusahaan dalam negeri. Dia bilang kalau kita masih jauh sekali sama mereka. Katanya karena perusahaan dalam negeri hanya merekrut tenaga-tenaga fresh graduate yang masih polos, belum punya skill dan pengalaman cukup. Jadilah sekarang -kalau boleh dibilang- kita semacam dijajah oleh bule-bule sana. Diambil saja gitu, tanpa timbal-balik sebanding.

Ngeri juga ya? klo itu benar, lalu bagaimana jadinya negara kita 10 atau 20 thn lagi? ngungsi aja sekalian ke negri bule, jadi warga negara sana. Daripada disini makin tidak jelas? Iya kan? sekarang coba, kita kuliah, digadang-gadang cepat lulus sama orang tua, udah lulus, diarep-arep untuk cepat kerja, cepat dapat duit, balik modal sama mereka. Benar tidak?. Otomatis pikiran kita, mencari tempat kerja yang nyaman, bonafid, meyakinkan, gitu kan, supaya apa? supaya dapat duitnya cepat, gak susah-susah lagi. Nah, ketersediaan itu smua kayaknya cuma perusahaan luar deh, dan supaya tidak jauh-jauh pisah sama orang tua dan pacar, kita memilih perusahaan luar yg bertempat disini.

After that, enough! kita sudah dapat kerja, gaji memuaskan, aman, karir menjanjikan. dijamin lah kita gak bakal mikir apa-apa lagi, kecuali : "wis, ndang kawin, nduwe omah, nduwe anak!".

That's the point. Saya jadi mikir: ''anjrit! kita egois bener! asal perut kenyang, orang tua senang, pacar happy, ok, smuanya sempurna''. kalau semua manusia di sini mikir gitu bagaimana? gak bakal ada pemikiran ke depan untuk memperbaiki sistem. Muluk memang, tapi apa benar harus begini?

Lalu apa gunanya tuh tanggal 17 agustus masih dirayakan? aneh. Ah, tapi ini cuma opini kok, bisa saja yang terjadi sebenernya tidak separah pikiranku.
well, kita masih harus berjuang! :)

Musuh sudah dekat, Jendral!

May 07, 2008

Si Chondro

0 comment
Chondromilessa Patella (CP), kira-kira begitu namanya-sorry kalau misalkan salah nulis, dengernya sih gitu-. Nama itu juga yang diucap dokter waktu saya nekat meriksain kaki yg nyeri-nyeri geli selama 2 minggu lebih.

Serem juga pertama kali dengar vonis dokter. Ampun, kirain macam penyakit apa gitu, sudah terbayang akan melakoni adegan dramatis di sinetron-sinetron jaman dulu dimana pemeran utama -biasanya cantik seperti saya- begitu terpukul ketika dokter menggeleng pelan lalu berkata : 'Waktu kamu sudah tidak lama, rajinlah berdoa'. Seketika itu pula si pemeran utama menutup mukanya dengan bantal, bunuh diri di hadapan si Dokter. Bingung, khawatir dituduh sebagai pembunuh pasien cantik, dokter pun serta-merta ikut bunuh diri, menelan bulat-bulat stetoskopnya lalu gantung diri dengan selang infus.

Oke, jujur saya sangat berharap si CP ini bukan benar-benar nama penyakit. Siapa tau sebenarnya ia adalah nama dokter muda, sedang dipromosikan untuk diicarikan pendamping? who knows kan. Mungkin ia juga dokter muda peranakan Yunani-Madura jadi punya nama unik begitu. Hhmm, sepertinya tampan. Saya bersiap menerima kabar gembira.

Tapi impian seringkali berlebihan. Kenyataan kerap menyedihkan. Si Chondro adalah valid merupakan nama penyakit tulang/persendian. Artinya, saya batal dapat jodoh dokter muda blasteran dua negara. Jadi ceritanya, there's something wrong with my left knee. Tulang rawan antara tempurung dan tulang paha atas aus. Ouch! Apa pula itu Dok?

Yap! aus saudara-saudara. Dia (red : tulang rawan) mencair atau membubur. Serem. Karena sudah mencair, gak ada lagi jaringan perantara atau bantalan yang melindungi gesekan antar tulang keras. I see, keausan itu kayaknya yang mendatangkan rasa nyeri lumayan hebat setiap kali saya menekuk lutut. Gak enak sekali rasanya.

Vonis CP menjadikan hari-hari saya berikutnya wajib bersanding dengan deker lutut, tanpa boleh lepas, kecuali mandi (ya iya lah!). Dilarang memperagakan gerakan menekuk lutut berlebihan dan atau semacamnya. Spontan saya jadi ingin bertanya : 'Trus Dok, nanti kalau saya pengen BAB gimana?'. Berhubung takut si Dokter frustasi lalu bunuh diri, saya urungkan pertanyaan jenius itu. Tapi jelas, karena saya individu kreatif, langkah pertama melintas di pikiran adalah mencari toilet yg punya WC duduk! hukumnya : wajib 'ain.

Oh ya, Mamah juga jadi heboh mendadak di telpon : 'Aduh, mamah gk bisa tidur Nak, mikirin sakitmu terus'. Ah, pasti beliau bingung bagaimana nanti saya harus BAB. Terharu. Jadi saya minta tolong nih ya, supaya ibu saya bebas dari tekanan batin seputar ketakbisaan lutut anaknya, mohon doakan tidak ada yang serius dengan lutut saya.

Mari berdoa,
selesai. Terima kasih, kawan-kawan :)

May 06, 2008

The Best Lyric Ever

0 comment
Sedang iseng, posting lirik lagu aneh. Pertama memang tidak punya info apapun seputar lagu ini. Jadi pas nonton Metro TV tiba-tiba ketemu acara 80-an, menampilkan band lawakan jadul, ada beberapa sih waktu itu, cuma ada satu lagu dari band PSP (Pancaran Sinar Petromak) yg bikin aku 'ngowoh' sambil khusyuk mendengarkan. Diamati dari nama band saja sebenarnya sudah cukup mencerminkan kalau ada kemungkinan ini band kreatif dan 'tidak biasa'

well, here it is :

Artis (Band): Pancaran Sinar Petromak (PSP)


Dateng di kampus bawa buku tebel-tebel
Dandanan nyentrik bergaye model professor
Ngaku di rume berangkat pergi kulieh
Sampe di kampus nyasarnye ke kantin juge

Nyari temen ngobrol sambil ngupi die paling doyan
Nyetanin temen ngajakin bolos kulieh
Kelar kulieh die juge ikut pulang
Belaga pilon kopinye lupe dibayar

Deket ujian die sibuk potokopi
Cari catetan colek sana colek sini
Waktu ujian houdingnye kayaknya ngarti
Ude dua jem kertasnya belon diisi

Giliran pengumuman ujian keluar
Angke-angkenye mere gak satu birunye
Kalau ditanye nape ancur ujian lu?
Jawabnya santai dosennya pade sentimen...ame gue...

Itulah die kisah seorang mahasiswe
Jangan diconto segala kelakuannye
Kalo pade mau tau oh.., pade mau kenal
Gak jauh jauh nih die, ai lah orangnye [2X]
--------
Ini baru karya kreatif. Original, kocak dan jujur. Saya benci digurui dan lagu ini cukup sempurna menggiring saya ke area kontemplasi tanpa harus menggurui. Menyenangkan. Saya tersenyum, tertawa, lalu diam merenung. Ingat tingkah serampangan saya selama kuliah. Ampun Tuhan...

May 04, 2008

TA ku sayang,TA ku malang...

0 comment
Benar kata orang, "mati satu, tumbuh seribu", "patah satu, hilang berganti".

Itu juga yang kejadian sekarang, jangan parno dulu, ini tentang Final Project saya, entah saya harus bangga atau nelangsa.

Bangga sih lumayan, dibangga-banggain tepatnya. Orang seperti saya begini yang mulai nyeprot lahir jadi mahasiswa semester 1 sudah sinis berlebihan sama diktat-diktat kuliah, mengacuhkan UTS, meremehkan UAS, berlanjut hingga semester 2,3,4,...,10 dan wow! ternyata bisa sampai juga di anak tangga (menjelang) kelulusan.

Gimana tidak bangga? teman-teman satu angkatan pun juga berekspresi hiperbola begitu mendengar pencapaian mutakhir saya. 'Wah.., Putri sudah mulai TA ya? wah,sukses ya!' (sambil mendelik-delik, sumringah). Sesungguhnya saya juga tidak paham benar apa mereka memang ingin mendoakan atau malah lebih bermaksud bilang kalau : 'Ya ampyun..., baru TA? kemane aje Bu?'.

Ya,
sepertinya kebanggaan mahasiswa tingkat akhir ada pada kemampuan dia mencapai dan mengerjakan Tugas Akhir dan saya sama sekali tak bisa mengelak mind set itu. Sehingga yang terjadi adalah celoteh diri sambil menyumpah-serapah dalam hati : 'Ini lho, saya bisa!'

Nelangsa, iya juga. Mengerjakan seonggok Tugas Akhir ternyata tak lebih mudah daripada membuat proposal kegiatan Buka Puasa Bersama atau Olimpiade Matematika sedunia. Dicerewetin sama banyak orang, mengejar dosen untuk minta tanda tangan, mulai jadi fans baru ruang baca jurusan, sampai berpanas-panas di jalan demi melengkapi data (yang banyak gagalnya daripada suksesnya), semua 'keributan' itu terbendahara menjadi agenda harian yang sering memprovokasi jiwa untuk tak lagi kenal dengan malaikat kesabaran. Tidak ada yg lebih pantas diperjuangkan selain Tugas Akhir, saya sudah seperti tentara kamikaze di Jepang, tak gentar cobaan apapun. Yosh! (Oh, maaf kalau jadi sedikit berlebihan).

Begitulah, tempo hari saya baru saja lolos seminar proposal. Saya katakan lolos karena rasanya memang belum layak untuk dibilang lulus, bagaimana tidak saudaraku, dosen yang hadir cuma 3 buah?! pertanyaan hanya 2 butir. Sungguh anugrah terindah. Tapi ternyata leganya cuma sebentar saja , sekarang ganti dipusingkan dengan pertanyaan bagaimana cara memenuhi bab 1 sampai bab 5, bagaimana cara menghadapi seminar TA lalu akhirnya sidang TA. Baiklah, mari menjadi kamikaze lagi!

Mamah kayaknya perlu lebih rajin berpuasa nih. Siapa tau dengan begitu anaknya ini akan dijatuhi wangsit, lalu tangannya bisa jalan mengetik sendiri, tanpa perlu berpikir terlalu ngoyo, hwehehehe!!!

Mah, berpuasalah, demi aku, anakmu.

Akhirnya, untuk semua yang sedang berada di tempat seperti saya, selamat berjuang kawan! semoga pintu kemenangan bisa segera kita temukan!
*Lagi, berlebihan*

Eh, trus apa hubungannya dengan pribahasa di awal tadi ya? bingung.